Rabu, 18 Mei 2011

155-2011. Kidung Sunyi Untuk Pahlawan Reformasi

155-2011. Kidung Sunyi Untuk Pahlawan Reformasi
                 (Jelang 21 Mei 1998-21 Mei 2011)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

Moses Gatut Kaca Pahlawan Reformasi
I
Hari ini aku  menangis saksikan hasil  benih yang engkau tanam.
Cita-cita mulia yang dahulu engkau perjuangkan kini tenggelam.
Di tangan mereka yang  menjadi petualang  politik ia terbenam.
Dan  keinginanmu untuk  bahagiakan rakyat telah makin suram.

Dulu cita muliamu harus ditebus dengan aliran darah dan airmata.
Ayah dan bundamu meratapi kepergian anak mereka tercinta.
Berharap agar  kematianmu  jadi  penebus tercapainya cita.
Namun kini harapan itu telah menyimpang jauh ternyata.

II
Darahmu yang suci dikhianati mereka yang bernama politisi.
Habiskan  uang pajak  rakyat  pergi  berbelanja keluar negeri.
Sibuk  kumpulkan uang  berbagai sumber  untuk  mencalon lagi.
Bahkan memikirkan bagaimana dalam partai ciptakan sebuah dinasti.

Hari ini keadilan untuk mereka yang tak berpunya jadi barang mahal.
Bagi mereka yang kaya hukum bisa disiasati dengan seribu akal.
Sebagai narapidana kehidupan  istimewa bisa didapat bakal.
Sungguh tragis kala hukum dikuasai mereka yang nakal.
Para pejuang hati nurani

III
Hari ini cita-citamu untuk  membasmi KKN telah kandas.
Keluarga para politisi telah membentuk  dinasti secara jelas.
Jabatan-jabatan penting dan strategis tak mungkin akan dilepas.
Tinggallah rakyat kecil yang kesulitan dan hanya bisa menghela nafas.

Betapa sedihnya, tatkala negeri yang kaya raya  menjadi tak berdaya.
Sumber  alam bukan  dikelola malah  diserahkan  pada penyewa.
Rakyatnya pergi menjadi kuli dan pembantu di mancanegara.
Dalam penghinaan dan menjadi sapi perah sumber devisa.

IV
Pahlawan  Reformasi, inilah negeri  yang dulu kau citakan.
Dimana-mana mewabah korupsi yang ingin dulu kau habiskan.
Otonomi ciptakan raja-raja kecil  yang hidup dalam kemewahan.
Dan mereka pun mengelola pemerintah bagaikan sebuah kerajaan.

Kalaulah engkau bisa bangkit dari kubur dihari ini kau akan terkejut.
Melihat penentang korupsi angkatanmu dulu kini jadi pengikut.
mungkin  mereka  memang  terdesak  atau  karena takut.
Namun yang jelas tujuan mulia semula kini tercerabut.

Dan bunga pun berguguran
V
Kutuliskan  kidung sunyi  untukmu  yang  telah pergi.
Memberitahukan  padamu  bagaimana  kini wajah negeri.
Agar segala pengurbanan darahmu dahulu tidak engkau sesali.
Karena kelak akan datang generasi yang menggugat sepertimu lagi.

Sungguh  malang, negeri yang  di dalamnya  bertumpuk  kekayaan.
Namun lemahnya kepastian penegakan hukum dan pemerataan.
Semoga atas semua kedurhakaan ini tidak ditenggelamkan.
Dan datang suatu masa yang membawa kesejahteraan.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar