Senin, 02 Mei 2011

127-2011. Pendidikan Bohong-bohongan.

127-2011. Pendidikan Bohong-bohongan.
                  (Refleksi Hardiknas)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Betapa kemunafikan disertai kebohongan itu kini telah berjamaah.
Bagaikan sekumpulan burung nazar nikmati bangkai sebagai karunia.
Sakralitas sekolah sebagai lembaga pembentuk moral  hilanglah sudah.
Yang menghilang bersama datangnya target angka-angka yang dipaksa.

Sungguh bangsa besar ini telah terjerambab ke dalam hilangnya rasa malu.
Ketika pelajaran  bagaimana berbohong dan mncuri datang dari sang guru.
Ujian Nasional  telah menjadi  tempat praktek berbohong yang paling jitu.
Dan hati nurani untuk jujur dalam proses  pendidkan seolah membantu.

Mengapa tiada lagi pemimpin dan guru panutan yang bisa dipercaya.
Yang takut dicatat malaikat dan hadapi beratnya mahkamah Allah.
Yang lebih memilih sedikit berkorban tidak turuti kepala sekolah.
Dan meyakini bahwa taqdir hidup@matinya ditentukan telah.

II
Mengapa tiada muncul kesadaran atas harga diri.
Dan mendidik murid agar selalu percaya diri.
Berusaha dengan segala kekuatan diri.
Pasrah pada Sang Maha Pemberi.

Amatlah penting keteladanan dalam pendidkan.
Agar kejujuran dan harga diri  bisa dibangkitkan.
Bukan  ajarkan  bagaimana lakukan kecurangan.
apalah lagi  pelaku utama  yang  dikedepankan.

Bukan  menjadi  tugas sang guru.
Membuat kunci  jawaban  untuk ditiru.
Karena  yang  dilakukan  sesungguhnya saru.
Dan di padang Mahsyar nanti semua takkan berlalu.

III
Entah mengapa  bangsa ini semakin lama  semakin mundur.
Menutup mata dan telinga pada negeri lain yang semakin mashur.
Menepuk dada membanggakan diri sendiri diiringi sikap sombong takabbur.
Padahal dalam  percaturan dunia berada pada posisi  terhina menjelang dikubur.

Kini, segala sumber kekayaan alam telah dijual kepada orang asing yang datang.
Inginnya  dengan duduk santai  datanglah  bergepok-gepok lipatan uang.
Tak peduli nasib generasi penerus yang penting sekarang senang.
Kelak tinggal negeri yang sudah terkuras kering kerontang.

Berfikir bagaimana kehidupan generasi penerus kelak?
Tidak akan terfikir oleh penguasa yang tamak.
Yang penting kumpulkan emas & perak.
Dalam kesenangan terbahak-bahak.

IV
Sungguh suatu masa menyedihkan.
Generasi kini dulu dididik dengan teladan.
Namun mendidik penerus dengan kebohongan.
Maka akan menjadi apa negeri tercinta ini kemudian.

Pada  generasi muda  yang kini hadir kami  pesankan.
Kebohongan kami dalam pendidikan jangan lanjutkan.
Cukuplah  sampai generasi ini  kebobrokan dihabiskan.
Dan jadilah kalian pemimpin negeri yang dibanggakan.

Bermohon hamba pada-Nya yang Maha Pengampun.
Ampuni kesalahan kami dihari kelak saat dihimpun.
Karena semua amalan kami telah rapi tersusun.
Dan akan dibuka dipengadilan ribuan tahun.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar