Minggu, 05 Juni 2011

68-2010. Kidung Pencinta Surga Menjelang Ajal

68-2010. Kidung Pencinta Surga Menjelang Ajal

               Oleh
               Hamdi Akhsan.

I
Kekasih...
Betapa indahnya cahaya surga yang Engkau tampakkan didepan mataku,
diiringi indahnya senyum tujuh puluh bidadari yang menyambutku,
dan manisnya sungai-sungai susu bercampur madu,
pelepas segenap penat dan dahagaku.
jelang datangnya kematianku.

II
Tapi di hari ini..
Betapa banyak kudengar cibir terhadap para pejuang yang tak tersohor,
bumi Afghan diduduki untuk merampok minyak yang dibajui pemberantasan teror.
Setelah musuh tersenyum puas membunuh ratusan ribu rakyat Iraq dengan bom fosfor.
Sebuah konspirasi  akhir zaman para musuh dengan cara-cara yang sangat kotor.

Sedang di belahan bumi yang terbentang luas untuk para khalifah,
para hamba-Mu yang seiman hanya sibuk berkeluh- kesah,
terpaku dengan berita televisi yang telah direkayasa,
seolah para pembela negeri lah yang salah.
Musuhpun puas dan tertawa gembira,
karena kita berputus asa,
dan kalah.

III
Kekasih,
Dalam  kehinaan akhir zaman ini,
Para pencintamu tak lagi percaya pada kebenaran Ilahi.
Tentang sebuah transaksi yang bisa melepaskan mereka dari kepedihan insani,
dengan  menjual diri pada-Mu memenuhi  panggilan menuju  sebuah pengorbanan suci.

Tiada lagi Usamah dan Jakfar dengan kerinduan berlari menyongsong ratusan sayatan mata pedang.
Menggetarkan hati musuh-musuh Tuhan dengan takbir dan tasbih yang berkumandang,
Renggut sanggurdi kuda perang, walaupun ratusan ribu musuh menghadang.
Tinggallah mereka yang sibuk habiskan masa muda dengan berdendang,
dan tak peduli dengan kehinaan dan kehancuran yang datang.
Bagaikan buru nuri yang manjang didalam kandang.

IV
Kekasih...
Puluhan tahun daku mengembara ke berbagai negeri,
tuk buktikan kerinduan pada kesyahidan sebagai pengorbanan suci,
dihari ini,darah harumku mengalir dibawah senyuman malaikat yang memberkati,
dan dari ketinggian Jannatul Ma'wa dengan tak sabar telah menunggu tujupuluh bidadari.

Inilah bukti,
sebuah janji Ilahi yang yang tak pernah berubah dalam gempita zaman sejak datangnya sang Nabi.
Tentang pengorbanan suci yang hantarkan kejayaan Kordova dan Penaklukan Romawi.
Bahkan...Padamkan Api abadi di negeri Parsi.
sebuah keindahan dalam Ridho Ilahi.

V
Kekasih...
Kurindukan pena-pena para pemuda di zaman ini akan mengalir bagaikan sungai darah.
Yang mampu tegakkan kepala dengan gagah mengusung bendera,
bendera-Mu, yang dengannya tertoreh tinta emas sejarah,
dan cahaya-Mu pun bersemu merah.

Kurindukan mereka gigih menjadi pejuang-pejuang keluarga yang berpeluh dalam nafkah,
susuri hutan lebat dan lembah-lebah untuk mencetaknya menjadi sawah-sawah,
dan dari tanah yang subur tumbuh bulir-bulir padi yang membawa berkah.
agar tegak harga diri dari-Nya yang Maha Pemurah.

VI
Kurindukan semangat-semangat muda yang tekun menggali kebenaran Ilahi yang tersebunyi di alam,
Bagaikan bersinarnya Ibnu Sina, Ibnu Rusd, Imam Al-Ghazali di masa silam.
Bangun meratap pada-Mu di waktu malam,
dan tekun membuka kalam.

Aku  pun merindukan  mereka yang  menjadi saudagar yang berdiri atas iman.
Guru-guru yang tebarkan ilmu pada murid bagaikan mekarnya bunga ditaman.
Kalaulah itu ada, niscaya kejayaan perlahan akan pulih di penghujung zaman.
Bagaikan bau bunga mekar yang menyebarkan  harumnya  jauh dari halaman.

VII
Kekasih..,
nafasku perlahan melemah namun mengapa dada ini begitu lega,
Kulihat Lazuardi berwarna-warni melengkung di sudut cakrawala,
dan alam  bernyanyi  bagaikan  kidung Daud  yang  begitu indah,
iringi kepergianku tinggalkan pedihnya dunia,
kekasih, hamba pasrah.

Al Faqir

Hamdi Akhsan.

0 komentar:

Posting Komentar