Kamis, 23 Juni 2011

203-2011. Surat Anak Rantau


203-2011. Surat Anak Rantau
            Oleh
            Hamdi akhsan

 










I
Ibunda.
Kutulis surat ini dengan mata berkaca-kaca.
Langkah anakmu tertatih lalui segala peristiwa.
Dalam sendiri kujalani tangis dan tawa.
Kepedihan dan penderitaan harus kusimpan rapi dalam jiwa.

Sungguh telah kering airmata ini.
Dalam kesendirian semua kujalani.
Pesan ayah dahulu, tataplah hidup dengan berani.
Hanya mereka yang tegarlah akan mampu jadi pemenang sejati.

II
Kala kepedihan sering teringat bunda.
Senyum tulusmu menguatkan ketegaran dalam dada.
Pesan-pesan indahmu bagiku adalah permata.
Yang akan kubawa sampai kelak menutup mata.
...
Ibu,
sungguh benar petuahmu tentang kehidupan.
Sering aku terkejut kala temukan beda kata dan perbuatan.
Di wajah yang bak malaikat tersembunyi tujuan syaitan.
Dan sering sulit diduga niat sesungguhnya yang tersimpan.

III
Ibu, dalam tangis tersimpan kulalui hari-hari panjang.
Ingin aku berteduh dalam pelukmu bak berlindung di pohon rindang.
Tatap samudera kasihmu kala memandang.
Sungguh dalam dirimu ada jutaan kasih sayang.
...
Sesenggukan sendiri kala bersedih.
Kututup airmata dengan bantal agar tersembunyi perih.
Hidup akan kuhadapi walau sering tertatih.
Doakan anakmu kelak menjadi kuat setelah berlatih.













IV
Ibu,
Dalam diam menahan sendiri segala rasa.
Dan kenangan indah bersamamu yang luar biasa.
Kupegang kuat pesan-pesan tulusmu selama bisa.
Dan kubawa kelak sampai jasad rapuh ini binasa.

Ibu, ternyata hidup bukan sebuah fatamorgana.
Kenyataan yang harus dijalani kadang membuatku merana.
Kumohon terus doa tulusmu jauh disana.
Dan kelak kita dipersatukan lagi dalam surga nirwana.

V
Ibu...
Dalam usia yang sudah lampaui separuh masa.
Dalam hidup yang masih berbuat dosa.
Dalam kekerdilan diri di tengah kebesaran sang Pencipta.
Terima kasihku padamu sepanjang masa.

Waktu berlalu.
Anakmu tak pernah mampu hilangkan rasa rindu.
Kupanggil namamu di
kesunyian malam dalu.
Dan mengingat kebersamaan kita di masa lalu.

Ibu,
anakmu rindu.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

1 komentar: