Senin, 24 Januari 2011

53-2010. SYAIR CINTA SANG PENGEMBARA III

53-2010. SYAIR CINTA SANG PENGEMBARA III

Oleh
Hamdi Akhsan


PENGANTAR
Bagian ketiga dari tetralogi  ini berisi perjalanan, kepedihan sang guru pengganti, peradaban kekinian yang membelenggu, serta harapan ketika maut menjemput. Moga kelak lahir seorang murid baru yang bersedia untuk menjalani proses transformasi menjadi sang guru generasi selanjutnya. Amien!

I
Dihari ini, mata rabunku tak mampu lagi menatap tajam ke langit ditengah teriknya mentari.
Atau menikmati kerlipan  bintang-bintang di jagat raya nan luas yang melahirkan cucuran air mata atas kekerdilan diri.
Jasad telah tersandera oleh mutiara-mutiara kecil yang memaksaku untuk tak lagi mampu teguh bagai Ibrahim mengorbankan Ismail yang masih suci.
atau...mengembara dengan hanya membawa pakaian ditubuh dengan dihantarkan tenaga sesuap nasi susuri langkah demi langkah dalam kehinaan  manusiawi.
Sungguh,mutiara dalam jiwa ini mulai redup dimakan ganasnya kehidupan, bak runtuhnya baghdad ditengah lautan darah yang diratapi.

Wahai guru,andai kau masih ada,
daku takkan gentar untuk hidup dalam gelapnya kubur yang membuat pisang yang keras menjadi lembut dalam hitungan waktu yang singkat,
atau merasa ngeri dengan moncong cacing-cacing tanah yang siap menanti daging segar yang akan ditimpa nisan dan batu-batu berat,
Dengan doamu akan kutaklukkan kehidupan bagaikan si kecil Talut melontarkan batu-batu padas menghantam raksasa jalut setiap saat.
Tapi...yang ada hanya sosok wajahmu yang memacarkan cahaya ketegaran,kukuh bagaikan pantai karang yang ribuan tahun dihantam ombak samudera yang menderu demikian kuat.
guru...anakmu rindu.

Kini peradaban telah berubah bagaikan mentari yang terbit di barat,
tak ada lagi suluh yang disulut para pencinta yang datang ke surau untuk kumandangkan nyanyian indah tentang taqdir dan qudrat,
Juga tiada suara nyaring dimalam dingin menembus kegelapan berlomba dengan nyanyian zikir jangkrik yang bertasbih dengan suara yang membangkitkan kidung para malaikat,
guru...kini zaman telah sekarat.

II
Kalaupun daku menangis, semua tiada guna.
Tiada guna airmata darah Qabil menetes menyesali pembunuhan Habil karena memperebutkan Iqlima atas nama cinta.
Daun-daun segar karena tetesan embun telah menghitam karena tetesan polusi keserakahan manusia,
kini suraumu telah sepi,dindingnya telah rebah. Hancur bersama hilangnya mutiara kita.
Dan aku telah gagal dan patah.

Dalam pencarian sejati,tak kutemukan murid yang mampu menangkap rahasia perkataan dan kias,
Mereka adalah anak zaman yang di kurunnya materi merupakan sumber tertinggi alat pemuas,
Ruhaninya kering,tak mampu bertahan terhadap gelombang cobaan angin seperti sehelai kapas,
dan...mutiara ruhani kita satu persatu telah lepas.

Mutiara kita telah  pergi bersama perginya kerlip bintang gurun pasir yang berganti dengan terangnya listrik ribuan watt,
Ia menghilang bersama tangisan masa lalu padang arafah yang telah tertutup tanaman hijau di seluruh tempat,
mutiara kita ...telah pergi dari kaki-kaki kecil yang dulu berjalan dibawah panasnya terik mentari dan buramnya sinar rembulan malam yang lewat,
guru...kini mutiara kita telah berkarat.

III
Tentara Ilahi  berupa Tsunami, ledakan gunung, angin dan badai telah dimaknai sebagai kekuatan Alam,
bukan kekuatan Sang Pencipta Alam yang sanggup membuat seluruh jagat tenggelam.
Guru...andai engkau masih ada, engkaupun akan menangis tatkala cinta yang dianugrahkan berubah makna menjadi "bercinta" yang dianjurkan.
Seperti katamu dulu ; setelah aku tiada,manusia tinggal sedikit, yang ada hanya keledai-keledai,kuda-kuda yang meringkik birahi ditengah padang kehidupan,
Bagaikan kerbau yang bekerja memeras tenaga membajak sawah dan pulang ke kandang memakan rumput-rumput hijau untuk menggemukkan tubuh dan memenuhi hasrat birahi yang dipertuhankan.

Atas nama zaman,para pencinta telah bergelimang harta dan kesohoran diri,
begitu mudahnya gravitasi syahwat membawa manusia turun menjadi pencinta seonggok daging, bagaikan mudahnya kaum musa di bujuk Samiri,

dan guru...hewan-hewan pencinta Ilahi yang dulu sering kita dengar zikirnya di pagi dan malam, kinipun telah menghilang, tak sanggup mereka bersama manusia.
Bahkan konon Iblis pun hampir menyerah.

IV
Guru...
Masaku pun telah mulai senja, sedang para pencinta telah pergi,
Mutiara makrifatmu kini telah terkapar dalam buku-buku murah kaki lima menjadi pembungkus kacang dan terasi ,
Bagaikan tongkat Musa yang perkasa menjadi ular raksasa yang menakuti tukang sihir dan mampu membelah laut merah...kinipun tiada lagi,
guru...semua telah pergi bagaikan perginya sinar mentari di malam sepi.

Kalau kelak engkau bertanya, pernahkah aku mencoba mencari murid seorang pencinta yang berbakat?
akan kujawab :
pernah wahai kekasih, tapi tulang-tulangnya rapuh menahan dinginnya malam pekat,
dagingnya tak mampu menahan kerasnya papan kasar yang kita gunakan untuk tidur agar tubuhnya kuat,
juga ia tak mampu menangkap hadirnya para malaikat di daun-daun hijau dan hembusan angin di daun buluh yang menyanyikan kidung suci dengan dada tercekat.
guru...aku tidak mampu mendidik mereka seperti dirimu yang hebat.

V

Dalam kelam dan rentanya peradaban yang kian menggila,
daku takkan berhenti mencari murid yang ingin menjadi pencinta,
Pencinta-Mu Wahai yang Maha Agung Allah Azza wa Jalla,
Pencinta kebenaran hakiki yang tiada tunduk pada nikmatnya kesenangan raga,
guru!walau daku terkadang patah, aku takkan menyerah,
sampai kelak maut mempersatukan kita.

Murid


Hamdi Akhsan.

1 komentar:

  1. subhanallah,,, mentari pun trharu mndengar kata "guru",,inspirasi wktu kecilku,,hgga kini pun Qtlah mjdi guru, tpi blm mmpu sprti guruku dulu,, mksh shbtku,,, slm redupnya,,,

    BalasHapus