Rabu, 19 Januari 2011

36-2010. SYAIR BUJANG BIMBANG (BUJANG TUA)

36-2010. SYAIR BUJANG BIMBANG (BUJANG TUA)

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan

in action mengawasi gadis dan janda yang lewat

PENDAHULUAN
Sebuah syair yang dibuat dengan nuansa satire dan jenaka. Syair ini bukan bersifat pesan,tapi deskripsi situasi.Moga bisa menghibur!
I
Inilah kisah si bujang bimbang,
kalau berjalan hidung mengembang,
kesana kemari bagaikan kumbang,
kalau menyanyi suaranya sumbang.

Usia kini sudah limapuluh tahun,
nyeberang jalan ingin dituntun,
kalaulah bisa oleh si atun,
tapi sayang ?hanya mendapat getun! (getun=kecewa,jawa)

Belumlah lagi gunjingan orang,
kadang membuat hatinya berang,
ingin rasanya membawa parang,
tapi sayang...itu dilarang.

II
Kalau teringat muncullah sesal,
dihati juga terasa mengkal,
mengapa dulu wataknya nakal,
sering pula jahat akal.

Waktu muda sangatlah tampan,
pacarnya banyak disimpan-simpan,
ketika serempak muncul didepan,
kagetlah ia...bagai disengat lipan!

Orang kata buaya darat,
rayuannya membuat rindu berat,
gayanya kaya padahal melarat,
rambutnya pirang kayak orang barat.

III
Rambut kelimis di oles minyak,
licin mengkilap bagaikan sayak,
bajunya ketat baga mau koyak,
assesoriesnya aduuuuh sungguh banyak.

Mata ditutup kaca yang riben,
biar tampil dianggap keren,
celana baru dibeli kemaren,
waaaahhh...mirip tu dengan duren.

Kalau berjalan matanya liar,
ke kanan kiri berbinar-binar,
seperti selebritis yang sudah tenar,
alaaaa maaaaak...yang benaaaar!

IV
Orang dikampung tersenyum simpul,
melihat aksinya waktu berkumpul,
rokoknya mahal asap mengepul,
tapi kalau makan...sungguh gembuuulll.

Kalau bicara suaranya nyaring,
bagaikan pecah bunyinya piring,
berebut benar ia paling sering,
sampai ada yang bilang.....berotak miring.

Senang hatinya orang bertepuk,
dikira kagum sedang menumpuk,
padahal didalam orang mengutuk,
dasar.....kerjanya bikin orang suntuk.

V
Ketika umur makin bertambah,
laku tak juga bisa berubah,
gadis pun takut kalau diraba,
jandapun melapor kepada abah.

sialnya nasib si bujang bimbang,
tak ada gadis mau di bambang,
jandapun takut digunjing orang,
wah....kasihan betul nasib si abang.

Tanpa terasa badan menua,
kawan sebaya dah anak dua,
ada yang sudah jadi mertua,
sedangkan diri...masih begitu-begitu jua.

VI
Ai,...kasihan juga si bujang bimbang,
gadis tak mau jandapun kurang,
setiap hari hanya berdendang,
setiap pagi setiap petang.

Entahlah kapan nasibnya mujur,
mendapat jodoh walau ngelantur,
agar tidurnya bisa mendengkur,
serta makannya jadi teratur.

Kalaulah tidak susahlah orang,
semakin tua makin pemberang,
mudah tersinggung kalau dilarang,
dan sangat pelit terhadap barang.

VII
Inilah syair yang sederhana,
jadi fikiran boleh karena,
untuk lelaki bujang namanya,
segera nikah cari jodohnya.

Semakin lama makin tak laku,
anehlah pula punya tingkahlaku,
habislah masa bujang berlaku,
awas nanti....membatu kaku....hahaha.


Wassalam

Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar