Sabtu, 15 Januari 2011

13-2010. SYAIR IDHUL FITRI

13-2010. SYAIR IDHUL FITRI
      
                 Oleh
                 Hamdi Akhsan.




I.
Kuawali syair dengan istighfar,
memohon ampun pada yang Ghoffar,
berharap bisa jadi i'tibar,
membuat hidup semakin sabar.

Wahai tuan sahabat hamba
,baik dikota atau dirimba,
baik anak-anak atau mbah-mbah,
yang penting sama Allah disembah.

Inilah lebaran dinegeri kami,
meriah bagai api jerami,
ramai bagai musim bersemi,
semua sibuk bersilaturahmi.

II.
Di negeri kami lebaran semarak,
berkilau di pamer emas dan perak,
mudiklah orang jauh dan parak,
macet total Surabaya ke Merak.

Ada pula yang suka pamer,
perhiasan disegala tempat bertengger,
kepada dihias kayak berjengger,
minuman dihidang berember-ember,

Ada yang pergi berjalan-jalan,
jalanan macet bergerak pelan,
sepanjang jalan banyak dagangan,
baik yang keren atau asongan.

III
Anak-anak berbaju baru,
takbir dan tahmid terdengar seru,
semua orang terharu biru,
keluarga bermaaf dengan terharu.

Inilah tradisi saat lebaran,
rakyat seluruhnya bertebaran,
kantor-kantor sepi bagai bubaran,
terserah tak perlu jadi fikiran.

Setelah lebaran semua habis,
bayar sekolah kantong dan tipis,
kepala pusing sampai meringis,
berfikir kemana harus mengais.

IV
Itulah tradisi di hari raya,
banyak yang habis berfoya-foya,
setelah itu tiada berdaya,
senang sebentar sifatnya maya.

Mari sahabat kita tafakkur,
marilah hidup dalam bersyukur,
sederhana watak sederhana tutur,
agar dimata-Nya kita tak kufur.

Orang beriman tunduk hatinya,
diajak baik cepat langkahnya,
ajaran Rasul diamalkannya,
perintah Allah dikerjakannya.

V
Lebaran meriah itu tradisi,
takbir kumandang disetiap senti,
suara mercon kagetkan hati,
bagai festival yang tiada henti.

Betapa baik kalau dirubah,
dana yang banyak akan barokah,
jadikan infak serta sedekah,
bertambah banyak diberi harta.

Lebaran ini penuh pesona,
bahagia hati jadi karena,
hidup di dunia berakhir fana,
akherat kelak kita panennya.

VI
Bagi mereka yang tlah tiada,
ziarah kubur sebagai tanda,
panjatkan doa beserta pinta,
agar terlepas darinya siksa.

Itulah syair saat lebaran,
sebagai bentuk sumbang fikiran,
bagi yang seang harap doakan,
yang tak setuju mohon buatkan.

Maafkan jika kata terlanjur,
tak bisa ubah nasi membubur,
kepada Allah hamba bersyukur,
Semoga jadi amal dikubur.

VII
Tradisi orang ditanah jawa,
sungken kepada orang tua,
tangan dicium doa dipinta,
jatuh mencucur air mata.


Orang tua duduk yang mantap,
anak datang ucapkan maaf,
ada pula yang sampai meratap,
menunduk takzim saat ditatap.

Walaupun ayah dan ibu renta,
doa yang baik tetap dipinta,
keluarga tentram juga ditata,
rezeki yang halal diminta serta.

VIII
Setelah sungkem restu didapat,
semua orang makan ketupat,
kalaulah sempat dibelah empat,
dicampur rendang rasanya mantap.

Siapkan juga lembar sudirman,
biar ponakan merasa nyaman,
supaya bisa beli mainan,
untuk dipamer sesama teman.

Ketika hari beranjak siang,
dari sembahyang semua dah pulang,
datangi tetangga orang per orang,
tebarkan cinta dan kasih sayang.

IX
Itu indahnya sebuah tradisi,
berlangsung lama tak pernah basi,
baik yang kere atau berdasi,
yang makan keju ataupun nasi.

Agar semua mendapat rahmat,
jaga lebaran dari maksiat,
jauhkan pula buruknya sifat,
niscaya berkah akan didapat.

Lebaran juga di lain tempat,
ramai semarak juga terdapat,
dihias rendang juga ketupat,
juga diseru puji makrifat.

X
Kumandang takbir sudah berhenti,
suasana ramadhan telah berganti,
berharap umur kan diberkati,
mendapat barokah diakhir nanti.


Sanak saudara sudah disapa,
isi dompetpun mulai hampa,
capek badanpun mulai lupa,
pulang kembali tanggal berapa.

Inilah tradisi setiap tahun,
lalu lintas pun harus disusun,
tinggallah lagi sanak didusun,
semoga tercipta keluarga yang rukun.

XI
Wahai sahabat mari renungkan,
hari berlalu apa habiskan,
ibadah mana di istiqamahkan,
amal yang mana kan diandalkan.

Kampung akherat sudah menanti,
jembatan halus akan dititi,
diperiksa kita dengan teliti,
sorga dan neraka pilihan nanti.

Bila teringat Maha Pencipta,
bercucur deras si air mata,
ampun dan rahmat selalu diminta,
diberi surga hendaklah serta.

XII
Rambutpun sudah mulai memutih,
kerja sedikit terasa letih,
dapat masalah batin merintih,
tanda dekatnya dunia disapih.

Habislah masa jadi musafir,
kembali pulang sebagai fakir,
catatan hidup telah terukir,
tak bisa sesal tak bisa mangkir.

Kepada diri hamba berpesan,
perintah Ilahi harus jalankan,
larangan Allah mari hindarkan,
moga berakhir di kebaikan.

XIII
Lebaran ini hamba berharap,
meningkat dikit hendaklah taraf,
ibadah sunnah semakin kerap,
zikir dan doa tetap digarap.

Wahai Ilahi junjungan hamba,
padaMu jua kami menghiba,
setelah ini akan berubah,
karena umur sudah bertambah.

Syairku ini untuk ingatan,
Bagai mutiara jadi untaian,
moga berguna jadi panutan,
untuk sahabat juga sertakan.

XIV

Kami lebaran ditanah jawa,
pulau manusia jutaan jiwa,
ada yang menangis juga tertawa,
ada yang muda ada yang tua.

Lebaran kini akan berlalu,
semoga tersapu hati yang pilu,
tiada lagi yang tersayat sembilu,
atau sesali yang telah berlalu.

Masa semarak berlalu sudah,
ke depan berjuang kita yang ada,
kuatkan tekad didalam dada,
agar ke depan nasib berbeda.

XV
Hari kedua di bulan syawal,
masa meningkat sudah diawal,
ibadah puasa mari dikawal,
jangan akherat jadi terjual.


Marilah tuan kita berlomba,
kerja akherat mari ditambah,
laku yang salah mari diubah,
agar sempurna jalannya taubah.

Hamba yang baik akan diuji,
bagi yang sabar akan terpuji,
terkena bala mari dikaji,
balasan amal akan tersaji.

XVI
Hari kedua berhari raya,
orang lebaran tetap gembira,
pagi dah ramai susun acara,
tuk pergi ke tempat gembira ria.

Inilah bentuk panggung sandiwara,
ada sedih juga gembira,
ada bahagia dan juga lara,
tergantung catatan sang Sutradara.

Panggung apapun akan selesai,
tawa dan tangis pastilah usai,
yang tinggal hanya sisa bengkalai,
bagai sisa setelah badai.

XVII
Hari lebaran hamba kan pulang,
pada ibunda sudah dibilang,
tak menjadi si anak hilang,
atau merasa diri terbuang.

Jangan ibunda merasa sedih,
rindu ananda tetaplah masih,
didalam jiwa takkan tersisih,
walaupun tulang sudah memutih.

Pada ibunda hamba meminta,
kirimlah doa senantiasa,
berilah restu yang hamba pinta,
lurus selalu jalan ditata.

XVIII
Lebaran kedua mulai sepi,
orang di kota mulai ke tepi,
desa dan dusun kan dikunjungi,
cari suasana senangkan hati.

Di desa lebaran berlangsung lama,
liburlah orang pergi ke huma,
semua berkunjung rumah ke rumah,
sambil berkunjung beramah-tamah.

Hari baik setahun sekali,
liburlah orang berjual beli,
bersama keluarga yang baru kembali,
sungguh senangnya tiada terperi.

XIX
Berbeda dengan di masa lalu,
orangnya bangun dimalam dalu,
panjatkan pinta sambil mengadu,
berharap akhir baik selalu.

Syawal kedua akan berakhir,
berharap hamba meningkat zikir,
bersih bagaikan bayi yang lahir,
tiada beban bagai sang fakir.

Pada-Mu jua hamba meratap,
beratnya jalan penuh perangkap,
ampuni hamba tak pernah lengkap,
agar didepan jalanku mantap.

XX
Usia kini bertambah sudah,
warna rambutku mulai berubah,
kerut diwajah terus bertambah,
itulah hidup terus dirambah.

Wahai Ilahi hamba mengadu,
pada-Mu ratap terucap sendu.
menangis hamba dengan tersedu,
pahitnya hidup bagai empedu.

Waktu berlalu bagaikan kilat,
tanpa terasa maut mendekat,
terkejut kelak datang malaikat,
mencabut nyawa secepat kilat.

XXI
Tantangan hidup semakin berat,
dimana-mana banyak yang subhat,
tinggallah kita pandai melihat,
dari murka-Nya kita selamat.

Hidup yang baik harus qonaah,
bersyukur dengan apa yang ada,
agar nikmat-Nya terus bertambah,
terhadap harta tidak menghamba.

Syairku ini bukan ratapan,
tapi dipakai tuk peringatan,
agar selalu dalam pantauan,
supaya hidup dalam ajaran.

XXII
Pada sahabat daku meminta,
jangan tersinggung membaca kata,
ambillah bila jadi permata,
buanglah jika dianggap dusta.

orang dahulu pandai bersajak,
menyusun kata sangatlah bijak,
berhati-hati dalam bertindak,
agar hubungan tak jadi rusak.

Hamba bermohon pada semua,
maaf yang tulus bila tersalah,
lapangkan bila tersempit dada,
agar diberkahi kita bersama.

XXIII
Itulah lebaran dinegeri kami,
bertahun sudah jadi tradisi,
yang muda datang yang tua mati,
tetap bertahan sampai ke nanti.

Syair ini jadi rekaman,
indahnya hati saat lebaran,
moga berguna untuk sekalian,
untuk cerita untuk kenangan.

Terakhir hamba memohon maaf,
atas segala salah dan khilaf,
atas laku yang pernah silap,
atas kelancangan pernah terucap.

Al Faqiir,


Hamdi Akhsan.

0 komentar:

Posting Komentar