Jumat, 21 Januari 2011

20-2011. Untuk anakku di Penjara (Ungkapan Pedih Ayah Seorang Koruptor )

20-2011. Untuk anakku di Penjara
                  (Ungkapan Pedih Ayah Seorang Koruptor )

                   Oleh
                   Hamdi Akhsan

I
Anakku...
Terkejut bagai petir menyambar,
ketika datang padaku kabar,
buktikan desas desus tersebar,
tentang kariermu yang sudah bubar.

Menangis daku dalam istighfar,
bermohon diberi hati yang sabar,
tak bisa lagi tersenyum lebar,
lunglai tubuhku kini gemetar.

Mengapa dulu tidak kau dengar,
nasehat ayah yang panjang lebar,
agar jalani hidup yang benar,
walaupun berat dan sangat sukar.

II
Tatkala dulu engkau sekolah,
ayah ke sawah tak pernah lelah,
keringat mengucur berkulah-kulah.
kumpulkan setiap keping rupiah.

Uang bertani mebawa berkah,
unggul dirimu tercapai cita,
kerja didapat tuk cari nafkah,
betapa bangga didada ayah.

Setiap bertemu ayah kan ceramah,
jagalah rezeki supaya rahmah,
untuk dibawa pulang kerumah,
jadi makanan untuk bersama.

III
Kulihat engkau hanya mengangguk,
tapi matamu terlihat ngantuk,
pertanda dihati engkau merutuk,
atau pun jenuh karena suntuk.

Cepatnya rumahmu berubah bentuk,
dari semula seperti gubuk,
ayah berkunjung kau tampak sibuk,
tiap kupandang engkau tertunduk.

Tak tahu ayah ada yang busuk,
korupsi namanya berbagai bentuk,
macam caranya berlekak lekuk,
tak tahu ayah hal itu buruk.

IV
Anakku...
Kini semua sudah telah berakhir,
dirimu menjadi buah bibir,
dimana-mana orang mencibir,
koruptor namamu sudah diukir.

Sering airmata ini mengalir,
sambil lantunkan ilir-ilir,
serasa masa kecilmu hadir,
merenung ayah bagai tersihir

Maafkan ayah sidang tak hadir,
tak sanggup lagi ayah berfikir,
tubuh rapuhku kini telah afkir,
mungkin hidupku akan berakhir.

V
Nak...
Kalaulah dulu ayah mengerti,
jalan salah yang engkau titi,
pasti kecegah setengah mati,
walau dicambuk dengan cemeti.

Tapi semua tiada berarti,
masa yang panjang akan kau titi,
di Penjara engkau terkurung besi,
sebagai akibat tak hati-hati.

Terimalah hukuman sepenuh hati,
jangan berbuat yang aneh lagi,
bisa membuat ayahmu mati,
atau bagaikan ditusuk belati.

VI
Rajinlah engkau untuk sembahyang,
ajaran agama sering kau ulang,
nasehat ayah sering juga kau kenang,
supaya hatimu bersih dan lapang.

Lihatlah dunia luas terbentang,
Larangan Tuhan jangan diterjang,
tiada arti ketika nyawa melayang,
harta yang banyak kubur tak lapang.

Sederhanakan dalam memandang,
sifat serakah segera ditendang,
malaikat maut kelak kan datang,
walaupun lari ke ujung padang.

V
anakku...
Kalaulah ayah mati dahulu,
tak sempat lagi kita bertemu,
maafkan semua kesalahanku,
tak mampu didikkan agama padamu.

Di Padang Mahsyar bantulah aku,
prilaku burukmu bukan dariku,
terjadi tanpa sepengetahuanku,
dan tak pernah dengan restuku.

Ampuni hamba wahai Tuhanku,
sadarkan juga hidup anakku,
supaya lurus kelak prilaku,
dalam bimbingan-Mu dia selalu.

Inderlaya, 21/1/2011
Al Faqir

Hamdi Akhsan.

0 komentar:

Posting Komentar