Rabu, 19 Januari 2011

38-2010. Syair Negeri Bencana

38-2010. Syair Negeri Bencana

               Oleh
               Hamdi Akhsan

I
Kumulai syair dengan istighfar,
memohon ampun pada yang Ghoffar,
memohon pada-Nya kuat dan sabar,
terhadap musibah yang kian menyebar.

Kutulis kisah di zaman ini,
tatkala dunia telah terdzalimi,
tatkala bencana melandai bumi,
akibat agama tak diimani.

Banyaklah nyawa tersia-sia,
akibat nafsu serakah manusia,
tak pandang pangkat serta usia,
Ya Allah, dibalik ini apa rahasia?

II
Tersebut sudah dalam alquran,
musibah kolektif bentuk hukuman,
supaya manusia sebagai insan,
sadar terhadap keterbatasan.

Kalau peringatan tiada digubris,
musibah datang jadi berlapis,
harta dan nyawa dibabat habis,
Ya Allah...betapa hamba ingin menangis.

Ketika musibah telah melanda,
banyaklah wanita menjadi janda,
jerit dan tangis seiring senada,
tiada lagi tawa dan canda.

III
Berawal dari bencana besar,
Gempa Tsunami datang menyebar,
Hebatnya membuat tubuh gemetar,
melihat gelombang berputar-putar.

Betapa banyak jiwa yang hilang,
harta dan benda tiada terbilang,
ratusan ribu nyawa melayang,
Ampuni kami Wahai Yang Maha Penyayang.

Ribuan anak menjadi yatim,
Hilanglah juga tempat bermukim,
Sungguh Allah telah jadi hakim,
atas laku manusia yang zalim.

IV
Betapa manusia tiada lupakan,
dahsyatnya gelora ombak lautan,
kapal yang berat telah didaratkan,
gedung yang kokoh telah dihancurkan.

Dalam bencana yang sangat dahsyat,
ada manusia ambil manfaat,
biaya rekonstruksi jadi berlipat,
Ya allah...jangan jadikan kami pengkhianat.

Kasihan pula rekyat kecil,
jatah rumah tak dapat diambil,
hidup berpindah pakaian dekil,
Memohon mereka pada Allah yang Adil

V
Pedihnya aceh masih melanda,
terjadi gempa ditanah sunda,
jerit dan tangis ramai melanda,
anak kehilangan ayah dan bunda.

Ribuan rumah roboh dan hancur,
airmatapun habis mengucur,
banyak orang yang bertafakkur,
apakah musibah karena kufur.

Para sahabat orang beriman,
mari bersama kita renungkan,
musibah yang datang berketerusan,
mengapa tiada ambil pelajaran?

VI
Gempa di padang terbilang hebat,
gedungpun hancur dan rusak berat,
terpisah keluarga serta kerabat,
ya Allah...pada-Mu jua kami bertaubat.

Betapa kita harus mengingat,
didalam quran sudah tersurat,
gempa diberi karena maksiat,
mari kembali sebelum terlambat.

Banyaklah pakar ngomong ilmiah,
karena letak negara Indonesia,
atau karena sesar berpindah,
atau karena retakan berubah.

VII
apa di bumi ciptaan Allah,
laut merahpun bisa dibelah,
gunung yang tinggi bisa dipilah,
sebagai hukuman karena  salah.

Wahai Allah yang Maha Rahman,
mengapa musibah berketerusan,
apa karena maksiat tuman,
ataukah kami tiada beriman.

Marilah kawan mari  sahabat,
merenung kita sebelum terlambat,
Mayoritas kita muslim yang sholat,
tapi mengapa berhambur maksiat.

VIII
Dalam tulisan diatas kertas,
korupsi kita ada diatas,
hukum dibeli diatur berkas,
manipulasi dianggap pantas.

Terhadap syahwat diumbar-umbar,
pakaian wanita tak cukup selembar,
tutup yang penting tak cukup lebar,
apatah lagi mau bercadar?

Teringat hamba maksiat syahwat,
kaum nabi luth halalkan liwat,
dibalik negeri sedemikian kuat,
demikian alquran beri nasehat.

IX
gaul sejenis sudah biasa,
padahal itu sangat berdosa,
penyebab hancurnya bangsa,
membuat umat bergelimang dosa.

Banyaklah orang yang diperbodoh,
sebelum nikah dianggap jodoh,
hidup bersama seperti kebo,
sungguh syaitan telah menini bobo.

Bayipun banyak yang tanpa ayah,
dijual kepada orang kaya,
dengan alasan tiada biaya,
sungguh...manusia telah aniaya.

X
sex bebas bukan dianggap remeh,
hubungan sejenis tidak nyeleneh,
bermunculanlah penyakit aneh,
azab Ilahi karena dumeh (dumeh=sombong,jawa)

Itulah penyebab Ilahi murka,
ayat-ayat-Nya banyak dilangkah,
tafsirkan alquran sesuka-suka,
sungguh banyak yang telah durhaka.

Mari menoleh pada sejarah,
betapa banyak umat didera,
merekapun hancur berduka lara,
atau dibakar neraka membara.

XI
Para sahabat orang beriman,
bertaubat kita pada yang Rohman,
supaya didunia hidupnya aman,
diakherat dapat surga bertaman.

Belumlah lagi banjir yang datang,
akibat hutan habis ditebang,
tiada lagi tempat binatang,
ataupun tempat bersawah ladang.

Petani kecil menangis seorang,
habislah padi disawah ladang,
rumah tersapu harus smenumpang,
tuk bangkit lagi harus berhutang.

XII
Berbeda  para pembalak hutan,
didepan berpura sedih kelihatan,
uang mereka masih ratus jutaan,
Hatinya sudah dikuasai syaitan.

Rangkaian musibah datang melanda,
Bertanya orang itu mengapa,
apakah karena Allah yang murka,
atau karena sedang dicoba.

Cirinya bangsa sedang dicoba,
musibah datang segera berubah,
yang khianat kembali jadi amanah,
yang lupa istighfar memohon taubah.

XIII
Gempa dahsyat landai mentawai,
rakyat yang lemah rubuh terkulai,
anak piatu tiada yang belai,
di pengungsian makan tak ada gulai.

Jerit tangis dimana-mana,
harta dan keluarga sudahlah musnah,
hidup sendiri jadi merana,
inginnya mati berkalang tanah.

Sungguh bencana sudah terjadi,
di tempat wisata maksiat menjadi,
agama sudah tak dipakai lagi,
Larangan Tuhan dianggap sepi.

XIV
Belumlah hilang terkejut kita,
lahar merapi mulai muntah,
daging dan kulit terbakar mentah,
Ya Allah...ampuni kami yang gelap mata.

Kasihan sungguh mereka yang kecil,
hidupnya susah tempat terpencil,
musibah datang jasad menggigil,
lemah tubuhnya kotor dan dekil.

Betapa berat perih terasa,
kulit terbakar berbusa-busa,
terkuras habis si air mata,
ratapi sedih ratapi duka.

XIII
Tapi kalaulah tiada berubah,
musibah  sesaat membuat iba,
setelah itu kembali berlomba,
buat maksiat kumpulkan harta.

Betapa banyak pengkhianatan,
Anti korupsi dikriminalkan,
hukum yang ada diperdagangkan,
bahkan...musibahpun di proyekkan.

Ingatlah wahai para pemimpin,
Padang Mahsyar tempat yang yakin,
kalaulah tidak santuni yang miskin,
dihantam malaikat sudahlah mungkin.

XIV
Seorang pemimpin akan ditanya,
uang yang ada dikemanakannya,
segala maksiat yang tak dilarangnya,
segala urusan yang dilalaikannya.

Pemimpin beriman yang sederhana,
pikirkan rakyat ia karena,
didalam dadanya takut merana,
menghadap Allah di alam sana.

kerjanya bukan bermegah-megah,
urusan negara dicampur keluarga,
keputusan dibuat berdasar praduga,
Dikelilingi mereka yang membangga.

XV
Ingatlah kuasa akan berakhir,
baik dan buruk telah kau ukir,
hukum dan amanah yang dipelintir,
kan dipertanggungjawabkan di yaumil akhir.

Kalaulah memang sudah berhasil,
mengapa banyak yang masih bangkil,
janji disaat rakyat dipanggil,
untuk sejahterakan rakyat kecil.

Ingatlah selalu kepada janji,
karena malaikat mencatat rapi,
rakyat pun selalu kan mengingati,
jadilah pemegang amanah yang terpuji.

XVI
Kepada Allah hamba berdoa,
semoga dihindar dari bencana,
diberi kekuatan para pemimpinnya,
tuk jalannya amanah -Nya.

Wahai Ilahi yang Maha Kasih,
bergelimang dosa hamba-Mu masih,
iman dan amal sering tersisih,
namun merasa sudahlah bersih.

Hamba memohon dengan tangisan,
berilah kami belas kasihan,
jauhkan musibah yang memedihkan,
ingatkan kami Engkau punya pesan.

PENUTUP
Diakhir syair kumohon maaf,
pada pemimpin bila tersilap,
pada Allah jua kita kan hadap,
berbuah siksa ataupun nikmat.

Ya Allah, Ampuni kami yang selalu lalai dalam tunaikan perintah-Mu,
yang tiada takut melanggar larangan-Mu,
yang sering menganggap enteng peringatan-peringatan-Mu.
yang jarang bertaubat cucurkan airmata ke hadirat-Mu


Al Faqir


Hamdi Akhsan


0 komentar:

Poskan Komentar