Rabu, 19 Januari 2011

40-2010. SYAIR NUZULUL QURAN

40-2010. SYAIR NUZULUL QURAN

      Oleh
      Hamdi Akhsan

Mukjizat sepanjang zaman
Syair Nuzulul Quran ini ditulis sebagai manifestasi kerinduan pada Allah yang telah menurunkan petunjuk melalui hamba-Nya Muhammad SAW pada seluruh umat Islam, Moga manfaat.

I

Disuatu malam dimasa silam,
tatkala bulan sedang temaram.
Semesta bertasbih dalam diam,
Turunlah rahmat semesta alam.

Alquran itu awal mukjizat,
Penempa iman selalu kuat.
Jadikan jiwa selalu sehat,
Jadikan prinsip teguh dan liat.

Awalnya turun suruh membaca,
Rasul gemetar mata berkaca.
Dituntun malaikat tiada cerca,
Jiwa tenang tanya membuncah.

II
Wahyu pertama ayatnya lima,
belum benomor belum bernama,
namun isinya sangat utama,
perintah baca dengan ber-asma.

Pada ilahi teruslah zikir,
pencipta dari setetas air,
supaya kesadaran selalu mengalir,
kemana hidup akan berakhir.

Awal membaca dengan ta'awuz,
ditata rapi ke dalam juz,
biar jangan nafsu ambisius,
tamatkan bacaan sekaligus.

III
Selain belajar dengan menghafal,
renungkan maknanya dengan akal.
niscaya akan menambah bekal,
lemahkan nafsu berbuat nakal.

hafiz adalah Penghafal quran,
jiwanya bersih dari kotoran.
mudah terpanggil oleh seruan,
kata dan laku harus sepadan.

Isi alquran terbagi dua,
berita ancaman dan bahagia.
mari amalkan sambil berdoa,
kiranya kita diberi surga.

IV
Quran itu memang mukjizat,
sebagai penenang sebagai obat,
walau jumlahnya ribuan ayat,
Banyak yang hafal tanpa tersilat.

Mari sahabat kita berduyun,
baca alquran boleh dialun,
setelah itu jadikan penuntun,
bekal kelak atau sekarangpun.

Rangkaian ini adalah syair,
bukan puisi dan pantun terakhir.
berharap nanti kan bisa hadir,
agar nasehat saling diukir.

V
Wahai sang hamba berbual kata,
dekatkan engkau pada pencipta?
sudahkah ada bukti kau cinta?.
dimalam sunyi asyik bersuka?

sudahkah quran sering dibuka?
fikir dan zikir dimana suka,
dengar nama-Nya hilanglah duka,
takut siksa-Nya kelak di neraka?

ataukah engkau cuma pendusta,
memutar lidah bermain kata.
seperti buaya si air mata,
bertentang pula amal dan kata?

VI
Wahyu pertama di gua hira,
turun kepada hamba yang wara,
sifatnya mulia tak hura-hura,
akhlaqnya bagai intan mutiara.

Dialah Rasul si anak yatim,
Sifatnya amanah didaulat hakim,
Senang menyambung silaturahim,
Lembut jiwanya bersifat rahim.

Usia muda sudah berjuang,
Ikut pamannya pergi berdagang,
Tak ada cacat tak ada sumbang,
Semua sahabatnya sangatlah senang.

VII
Diberi wahyu ia gemetar,
Merasa diri baca tak pintar,
Diberi amanah yang sangat besar,
Keringat mengalir basah keluar.

Datanglah juga wahyu kedua,
siarkan agama secara terbuka,
Istri dan anak diajak serta,
Kaum kerabat dihimbau pula.

Beratnya tantangan didepan mata,
Jiwa ditempa sabar ditata,
Untunglah ada istri tercinta,
Selalu dampingi walau dinista.

VIII
Turunlah perintah surat Mudatsir,
Jalankan dakwah di padang pasir,
sampaikan ayat walau diusir,
itulah riwayat nabi terakhir.

Alquran turun jadi mukjizat,
Didengar Umar ia bertubat,
Dengkinya lawan semakin hebat,
Menjadi musuh sanak dan kerabat.

Perintah datang untuk bertauhid,
Ada pengikut walau sedikit,
Diancam bunuh disiksa sakit,
Tak gentar walau ditindih bukit.

IX
Itulah Rasul pembawa alquran,
Pusaka abadi umat pilihan,
Takkan berubah sepanjang zaman,
Tak lekang panas tak lapuk hujan.

Jadikan alquran sebagai imam,
Isinya mulia bak mutiara manikam,
Rajin membaca akan terekam,
Didalam jiwa yang paling dalam.

Alquran kitab yang pasti benar,
Jadikan ia pautan tegar.
Diakhir nanti akan bersinar,
Bagai cahaya menjelang fajar.

X
Inilah syair Nuzulul Quran,
Ditulis hamba dalam renungan,
Moga berguna untuk sekalian,
Supaya hidup disayang Tuhan.

Puasa telah lewat tujuh belas,
Inginnya hamba kan naik kelas,
Lapar dan haus harap membekas,
Diakhir nanti mendapat balas.

Kututup syair hari besar Islam,
Dengan kalimat dan untai salam,
Berakhir sudah berarti khatam.
Selamat puasa selamat malam,

Inderalaya, 17 Ramadhan 1431 H,
                    28 Agustus 2010

Hamba Allah


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Poskan Komentar