Sabtu, 15 Januari 2011

21-2010. SYAIR PESAN BUNDA

21-2010. SYAIR PESAN BUNDA

Oleh
Hamdi Akhsan



syair ini merupakan untaian mutiara yang lahir dari hati tulus seorang ibu. Dengan segenap keterbatasan penulis mencoba menyusun untaian itu menjadi sebuah syair. Kalaulah kurang tolong tambahkan,kalau salah tolong maafkan,kalau berguna silahkan dimanfaatkan. Moga jadi amal ibadah. Amien!

I
PENDAHULUAN
Inilah syair curahan hati,
dari ibunda yang dirahmati,
semoga didengar anakku nanti,
pesan terakhirku sebelum mati.

Zaman berubah musim berganti,
susah dan senang telah kulewati,
beratnya hidup telah kutiti,
bahagia derita telah kunikmati.

Kini diriku menjelang pulang,
tinggalkan engkau anakku sayang,
kepada Allah yang Maha Penyayang,
kupanjat doa malam dan siang.

II
Sebelum malaikat datang menjemput,
nyawa di badan akan dicabut,
kutulis syair pesan kusebut,
agar kutenang hadapi maut.

Mengapa pesan ini kubuat,
sebagai pedoman untuk wasiat,
supaya anakku bisa selamat,
hidup di dunia sampai akherat.

Tiada lain hanya pintaku,
bahagia sungguh engkau selalu,
baik sekarang atau dahulu,
sampai menghadap pada Yang Satu.

III
Anakku sayang permata ibu,
kini tulangku serasa ngilu,
nafas tuaku mulai memburu,
pertanda sudah dekatnya waktu.

Akupun sadar akan berakhir,
menghadap Allah sebagai fakir,
membawa semua yang telah diukir,
tuk dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Anakku sayang cumbuan bunda,
cintaku padamu tiada berubah,
sepanjang waktu sepanjang usia,
sampai akhir berpisah nyawa.

IV
Pesan pertama anakku sayang,
janganlah pernah tinggal sembahyang,
supaya Allah menjadi sayang,
dilindungi engkau malam dan siang.

Kalau engkau lupakan sholat,
jiwamu pasti akan berkarat,
walaupun kaya rasa melarat,
memberi sesama terasa berat.

Kalau sholat sudah  kau sia,
rumahmu akan tiada cahaya,
suami dan istri saling perdaya,
terhadap anak engkau aniaya.

V
anakku...
Kelak umurmu akan bertambah,
sholat dan doa tangkal musibah,
tenangnya diri takkan berubah,
terhadap coba kau akan tabah.

Dengarlah baik nasehat ibu,
sholat dan quran jangan ditabu,
berinfak shodaqoh janganlah ragu,
terhadap yang benar jangan ambigu.

anakku sayang belahan jiwa,
banyak menangis sedikit tertawa,
disaat berpisah jasad berpisah jiwa,
dijemput malaikat engkau wibawa.

VI
Pesan kedua bunda sampaikan,
anak dan istri jangan lalaikan,
istri yang baik kan menyenangkan,
suami yang sholeh kan diturutkan.

Didiklah anakmu berlemah lembut,
bagaikan tepung dipisah rambut,
kalau dibentak mereka terkejut,
kelak jiwanya mudah mengkerut.

Didiklah mereka untuk berkata,
kalimat yang baik lagi tertata,
indah dan berharga bagai permata,
enak didengar enak dimata.

VII
Anakku...
Nasehat ketiga  kan bunda cetak.
Didekat daku janganlah membentak,
kepada anak yang salah letak,
karena jiwanya kan mudahi retak.

dikala wajahmu terlihat masam,
karena diluar atau didalam,
karena yang pelik atau yang awam,
hatiku terasa menjadi kelam.

Teringat kalau bunda telah tua,
hidup sendiri tiada berdaya,
menjadi beban engkau seraya,
ingin diriku dipanggil Dia.

VIII
Teringat bunda masa kiwari,
ketika dirimu masihlah bayi,
menangis engkau didini hari,
bersegera engkau bunda susui.

Kalau tubuhmu tersentuh angin,
kupeluk engkau agar tak dingin,
sakit sedikitpun bunda tak ingin,
sejak dirimu berwujud janin.

anakku sayang cumbuan hati,
sakit lahirkan hidup dan mati,
tapi bahagia bunda dihati,
bagaikan mendapat hadiah jannati.

IX
Anakku sayang...
Ketika engkau mulai besar,
dunia bagimu terbuka lebar,
manja dan nakal kadang kau umbar,
tapi ibunda selalu bersabar.

Kalaulah ibunda harus cerita,
biayai sekolah kami menderita,
baju barupun sering tak bisa,
makanpun harus diatur tata.

Semua ikhlas bunda lakukan,
agar anakku tiada tertekan,
kirimi biaya tepat waktukan,
kebutuhanmu kan diperhatikan.

X
Setelah tamat engkau sekolah,
tinggalkan ayah tinggalkan bunda,
bangga dirimu bisa bekerja,
tangan sendiri mencari nafkah.

Datanglah sudah masa hidupmu,
membawa pendamping pilihan hatimu,
kami pun ikhlas menikahkanmu,
menangis bunda melepaskanmu.

Hati yang sedih bercampur haru,
serasa hari cepat berlalu,
baru kemarin kubangun dalu,
urus dirimu ngompol memulu.

XI
Keluar engkau dari rumah,
membentuk mahligai meraih rahmah,
seperti kala bunda dan ayah,
berpisah dengan orang tua.

Sengaja aku tidak mengadu,
engkau masih di bulan madu,
walaupun berat walaupun pilu,
kutahan didada terasa ngilu.

Sambil mengantar kepergianmu,
kuucap doa untuk dirimu,
moga bahagia rumah tanggamu,
menjadi tempat orang bertamu.

XII
Kadang ibunda sangat bersedih,
sepi dan senyap datang menindih,
mata katakku mulai memutih,
tak mungkin lagi kan bisa pulih.

Ketika rindu bunda kan datang,
walaupun kadang tidak kau undang,
jangan bertanya kapan kupulang,
bunda tersinggung hati meradang.

biarlah bunda datang berkunjung,
bersama cucu bagai disanjung,
asalkan mereka selalu terlindung,
dengan agama hati disambung.

XIII
Kelak dirimu seperti bunda,
menjadi tua tiada berguna,
menjadi beban tiada berdaya,
mudah tersinggung mudah merasa.

Disaat ini kau ingat daku,
anakmu akan bertingkah laku,
seperti engkau berkata padaku,
atau ketika kau merawatku.

Hati-hatilah dalam berkata,
janganlah sampai mengoyak luka,
atau membuat ibu berduka,
karena engkau bisa celaka.

XIV
Anakku...
Walaupun engkau salah bicara,
maaf ibunda seluas samudera,
tak ingin daku engkau didera,
ataupun Allah menjadi marah.

Dengar pesanku setelah tiada,
kirmkan terus doa yang ada,
janganlah jarang doa ananda,
biar disayang Allah ibunda.

Doamu selalu bunda harapkan,
pada saudara engkau rukunkan,
terhadap harta engkau infakkan,
yatim piatu jangan siakan.

XV
PENUTUP
Diakhir syair bunda berkata,
jalani hidup iman tertata,
berhati-hati dalam berkata,
bertingkah laku akhlak ditata.

Kalaulah bunda salah mendidik,
ataupun dulu pernah menghardik,
maafkan karena kurang terdidik,
atau ilmuku hanya setitik.

Anakku...
Malampun sudah semakin larut,
dingin menusuk tulang  mengkerut,
syairku ini tiada berlanjut,
daku kan tidur untuk tahajjud.

Diakhir salam bunda berdoa,
dilindungi Allah engkau kiranya
hidup bahagia dalam dunia,
bertemu kelak kita di Sorga.

Menjelang  malam.
Hamba Allah


Hamdi Akhsan.

0 komentar:

Posting Komentar