Minggu, 17 Juli 2011

255-2011. SYAIR RAMADHAN (2)

255-2011. SYAIR RAMADHAN (2)

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan



I
Inilah syair Ramadhan dua,
berisi kisah tawa dan canda,
tentang prilaku bulan puasa,
banyak terjadi di setiap masa.

Laku manusia bermacam-macam,
ada yang indah ada yang seram,
kalau terkena janganlah dendam,
kalau tak suka mendingan diam.

Syair dibuat bentuk guyonan,
baik tuk jadi pembelajaran,
kalau berguna ambil silahkan,
jika tak baik usah dulikan.

II
Ada yang aneh dikala pagi,
merokok santai itu lelaki,
padahal badan besar dan tinggi,
sebesar jempol ia punya gigi.

Ditanya mengapa tidak puasa,
katanya tak sanggup pada hausnya,
tak kuat ia pada laparnya,
padahal besar-besar ototnya.

Ternyata, ia begitu lemah,
puasa sedikit kena sakit mah,
Badan yang besar jadi percuma,
karena imannya sebesar remah.

III
Ada puasa anak-anak,
selalu bayangkan buka yang enak,
masih pagi sibuk bertanak,
sepanjang siang tidurnya nyenyak.

Matanya selalu melihat jam,
sedikit-sedikit ia terpejam,
menunggu mentari jelang tenggelam,
untuk menyantap panggang ayam.

Ehem, biarlah anak puasa begini,
yang penting latihan sejak dini,
agar puasa kan diimani,
melatih taat pada Ilahi.

IV
Ada pula puasa keluang,
tidur kerjanya sepanjang siang,
baru bangun buka menjelang,
laparnya bukan alang-kepalang.

Matanya sibuk kian kemari,
mencari lauk mencari nasi,
kayaknya sudah tak tahan lagi,
semua ingin segera habisi.

Haha, itu puasa menahan lapar,
sukanya marah jarang kelakar,
sepanjang hari bawaan sangar,
mata melotot mau keluar.

V
Ada yang puasa seperti ayam,
mulutnya berkotek tak mau diam,
yang dikatakannya macam-macam,
kalau marah tampaknya seram.

Padahal amalan bisa dibuat,
membaca Quran, Zikir, dan sholat,
menambah catatan amal malaikat,
dosa diampun diterima taubat.

Sempatkan juga untuk berfikir,
begitulah laparnya mereka yang fakir,
basahi lidah untuk berzikir,
jauhkan laku orang yang kafir.

VI
Ada baiknya banyak sedekah,
amalan begitu yang Allah suka,
palingkan mata tundukkan muka,
agar terjauh beratnya murka.

Baiknya lidah ditahan-tahan,
karena tak baik banyak ocehan,
bacalah selalu kitab Alquran,
niscaya pahala Tuhan berikan.

Jauhkan juga laku mubazir,
karena kesiaan akan mengalir,
ataupun batal puasa hampir,
karena siang sibuk pelesir.

VII
Kalaulah tidak mau puasa,
tetaplah harus bertenggang rasa,
jangan membuat orang lain susah,
sembunyilah makan selagi bisa.

apalah lagi para perokok,
jangan terlihat begitu menyolok,
nanti menjadi bahan olok-olok,
keluar sindiran begitu menohok.

Jangan lupa bayar fidiyah,
bagi yang tak mampu tuk berpuasa,
berikan pada orang duafa,
ataupun pada peminta-minta

VIII
Di malam hari pergi tarawih,
janganlah sibuk memadu kasih,
dilihat orang tentulah risih,
amalan puasa jadi tersisih.

Jangan lupakan baca Alquran,
Tadarus namanya yang diberikan,
tak perlu keras pakai mik-mikan,
karena timbulkan bangga perasaan.

Menjelang sahur waktu yang baik,
berdoa sampai air mata menitik,
lantunkan harap sambil berbisik,
agar disayang oleh Sang Khalik.

IX
Kalau puasa iringi sholat,
usahakan waktu selalu tepat,
agar iman semakin terpahat,
terkikis habis sifat yang jahat.

Diakhir puasa bayarlah zakat,
supaya harta bawa maslahat,
terhindar dari azab mudharat,
badan dan jiwa selalu sehat.

Syair puasa berhenti disini,
mengingat kerja disaat pagi,
bermohon ampun pada Ilahi,
bermohon maaf alpanya diri.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

0 komentar:

Poskan Komentar