Rabu, 27 April 2011

120-2011. Sebuah Tamsil

120-2011. Sebuah Tamsil

                 Oleh
                 Hamdi akhsan
I
Di hari kulihat sekelompok rusa aneh yang tak lagi suka dengan rimbunnya rimba.
Dan taring-taring harimau yang tumpul karena tak lagi koyak daging domba.
Serta singa-singa muda yang tanggalkan gelar raja hutan seperti simba.
Atau bagai piranha yang lebih memilih hidup malas dalam keramba.

Sungguh rajawali  kini telah  berprilaku sebagai burung pipit.
Bak rusa jantan pesolek yang dekati betina yang genit.
Tiada lagi yang  sanggup berjuang  atasi rasa sakit.
Agar  kelak  kokoh dan tegar  bagaikan bukit.

II
Generasi yang tangguh menghilang.
Tak bermakna bagai  rumput ilalang.
Hidup manja tak sanggup ditantang.
Dan  tiada  perkasa  bagaikan elang.

Sejarah hanya  merupakan bacaan yang saja.
Tidak memberikan semangat pelopor sekuat baja.
Dan kenikmatan duniawi membentuk jiwa yang manja.
Untuk dapat kekayaan yang banyak dengan sedikit bekerja.

III
Tiada  kepedulian yang  tinggi atas akan  hancur  binasanya  negeri.
Atau mereka yang memilih perjuangkan ketidak adilan dengan berapi-api.
Torehkan harumnya nama dalam  perjalanan hidup walau harus berakhir mati.
Dan guncangkan kemapanan yang busuk bagai kuda jantan lepas dari sanggurdi.

Zaman kelak akan buktikan betapa salahnya pilihan piranha hidup dalam keramba.
Atau tak sadarnya singa terhadap ejekan kera karena berhenti menjadi raja.
Atau ayam jantan yang  hanya sibuk  menata  keindahan bulunya saja.
Seperti seorang putra raja yang menunggu hidangan diatas meja.

IV
Zaman ini, segala jalan telah dibuat untuk kesenangan.
Betapa kabur pemisah kejahatan dan kebaikan.
Menjadi kuat dan perkasa  sebuah pilihan.
Agar kelak berharga di mata Tuhan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar