Senin, 25 April 2011

118-2011. Anakku, Sadarilah!

118-2011. Anakku, Sadarilah!

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Anakku...
Akan ayah ceritakan padamu sebuah kisah sebagai ibarat.
Semoga menjadi renunganmu sebelum  datangnya sekarat.
Dan menjadi tuntunan bagimu hadapi kehidupan yang berat.
Serta  peringatan untukmu sebelum  mentari terbit dari barat.

Engkau  hidup di suatu masa yang didalamnya penuh keganjilan.
Tatkala majunya ilmu pengetahuan dan teknologi dipertuhankan.
Ketika ajaran suci para nabi dan Rasul perlahan  telah dipinggirkan.
Dan tangan-tangan  rahasia sekutu syaitan  mengatur peradaban.

II
Sadarilah, begitu banyaknya  tatanan suci yang kini telah berubah.
Syaitan dan sekutunya menguras banyak  waktumu yang tersedia.
Melalui  media tontonan dan hiburan  yang hampir  tidak berguna.
Kecuali hanya habiskan waktu dan membuatmu sejenak tertawa.

Sedang  disana, sekutu syaitan  mengerahkan  semua keahlian.
Pada permainan  olahraga ditanamkan  cinta dan kefanatikan.
Segala upaya, metode serta biaya yang banyak dikeluarkan.
Agar main-main yang  ada nampak  sebagai sungguhan.

III
Lihatlah agama baru yang dianut manusia bumi.
Sepakbola telah menunjukkan banyak ciri.
Korban harta  dan biaya orang  berani.
Demi klub favoritnya yang dicintai.

Kemiskinan dimana-mana.
Yatim piatu merana.

IV
Ada  yang mencibir.
Atas  suaraku yang fakir.
Atau karena rasa  tersindir.
Tapi cobalah  kembali  berfikir.

Betapa Tuhan beri  waktu terbatas.
Baiknya manusia bekerja dengan keras.
Memanfaatkan waktunya  dengan  jelas.
Agar  yang  dikerjakan   akan  membekas.

V
Dalam  tajamnya ruhani mata yang terbuka.
Syaitan  menggunakan  begitu banyak cara.
Agar waktumu  yang akan banyak  tersia-sia.
Untuk hanya bermain-main dan berleha-leha.

Disana mereka sibuk kembangkan teknologi.
Untuk  meraup  banyak  kekayaan  materi.
Dan yang tersisa darimu hanya sedikit lagi.
Hanya sedikit namun merasa tercukupi.

VI
Beruntung yang berhati tajam.
Memahami hakekat  didalam.
Renungkan  perilaku alam.
Agar tidak tenggelam.

Anakku,
Dalam waktu yang masih tersisa.
Bermohon ayah  pada Yang Kuasa.
Jadikan anak-anakku tak berputus asa.
Dan bangkitnya generasi  yang  perkasa.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar