Minggu, 24 April 2011

114-2011. Inilah Tangan Kami?

114-2011. Inilah Tangan Kami?

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan
I
Anakku,
Dengarlah olehmu kisah tentang sebuah masa yang hilang.
Tatkala  kaki-kaki kecil berlari  menyelusuri pematang.
Tubuh-tubuh  menghitam  terbakar  terik  di siang.
Bawa obor ke mesjid saat maghrib menjelang.

Tiada yang ber kisah tentang Sains Saiya.
Tetapi   tentang  belut di  tengah  sawah.
Tentang berlari di kejar pemilik mangga.
Yang   diceritakan   penuh  canda  tawa.

Masa-masa nan indah itu kini telah hilang.
Sawah pun telah tergusur beton bertulang.
Tiada lagi pohon tempat burung bersarang.
Yang nampak  wajah  yang  rautnya  garang.

II
Kicau burung yang  indah dipagi  hari berganti dering.
Sungai-sungai kecil yang dulu jernih kini pun telah kering.
Gundulnya  hutan-hutan  telah  membuat  longsornya tebing.
Dan musnah sudah binatang indah seperti kijang dan trenggiling.

Dahulu wajah-wajah  kami di desa cerah  karena segarnya udara.
Tidak pucat karena polusi  industri yang membuat sengsara.
Atau kena penyakit aneh karena tekanan yang mendera.
Atau  masuk ke  rumah sakit jiwa  karena  duka lara.

Di masa itu gotong royong  menjadi kebiasaan.
Akan bersyukur mereka yang berkecukupan.
Pagar rumah pun  tidak saling  meninggikan.
Dan hidup bersama pun tercipta kedamaian.

III
Kini, alam dan  manusia  tidak lagi  bersinergi.
Segala diluar manusia diabdikan  untuk materi.
Bahkan  orang miskin akan sengsara disaat mati.
Karena kubur harus disewa agar mayat tak diganti.

Sungguh ironis kehancuran budaya atas nama kemajuan.
Orang tua tidak lagi dianggap berkah namun menjadi beban.
Mereka hanya bisa menangis menahan perih dalam sedu sedan.
Dan  perlakuan pada orang tua  ini dianggap anak sebagai teladan.

IV
Tanda-tanda  peradaban  Dajjal  yang durhaka  kini semakin nyata.
Pembangkangan pada Perintah  Ilahi telah hadir didepan mata.
Terhadap  larangan-Nya manusia  seakan-akan  telah buta.
Maka  tunggulah  penderitaan dan  azab pasti akan tiba.

Dalam masa kehidupan  pendek  yang  diberikan-Nya.
Dan keluarga dan harta sebagai amanah titipan-Nya.
Sebagai hamba mari kita tunduk pada  aturan-Nya.
Agar kelak selamat dalam sidang  pengadilan-Nya.

Ilahi, betapa banyaknya  dosa dan pelanggaran.
Betapa  tulinya  hamba-Mu  dengan peringatan.
Ampunilah kami  sebelum  datangnya kematian.
Dan rahmatilah kami  kelak disaat kebangkitan.

Ilahi, hanya Engkau lah tumpuan harapan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar