Selasa, 29 Maret 2011

88-2011. Kepadamu Wahai Putra Zaman.

88-2011. Kepadamu Wahai Putra Zaman.

               Oleh
               Hamdi Akhsan

I
Wahai putra zaman di masa kini.
Masihkan kau dengar jerit tangis mereka yang terzalimi.
Lihatlah! langit telah menghitam pertanda murka telah begitu dekat.
Dan Bumi yang telah rentapun menjelang datangnya sekarat.

Mutiara-mutiara peradaban yang berpijar cahaya kitab suci telah buram.
Para pencinta zikir malam merana bagai layunya bunga tulip ditaman surgawi.
Engkau yang dipundakmu tertumpu harapan masa depan kini kehilangan arah.
Terombang ambing bak kapal pecah diamuk badai samudera tak bertepi.

Lihatlah, tatkala tentara-Nya dari dalam bumi telah didatangkan.
Lautan menggelora menelan hasil teknologi yang sangat dibanggakan.
Kubur-kubur pun merekah,munculkan jasad membusuk.
Dan engkau tetap diam dalam jiwa yang pasrah dan lemah.

II
Mana generasi yang siap ambil estafeta sebuah peradaban jelang akhir zaman.
Sedang dirimu berpijak  diatas bunga bangkai indah penipu pandang.
Terperosok ke dalam pusaran gelap yang tanpa akhir.
Sampai datangnya awan hitam menyelubungi kefanaan diri.
Dan masa harumnya bunga akan berakhir layu dan gugur ke bumi.

Para pencinta yang datang dari tengah ganasnya gurun kini tinggal kenangan.
Pekikan yang menggentarkan berubah bak suara malu burung pipit.
Yang tak percaya diri munculkan kicau karena takut pada sang Elang.
Sungguh sebuah kebanggaan yang telah dirampas  dari hakiki seorang pencinta surga

III
Dari kesenjaan zamanku yang menjelang gelap kutulis harap.
Agar hijab keterlenaan diri bangkitkan kerinduanmu bagaikan rindunya Qais pada Laila.
Atau bagai cinta seorang Syah Jehan pada Mumtaz,
Yang bertahan ribuan tahun dalam sunyinya kesaksian angkasa raya.

Betapa banyak kambing muda yang tanpa sadar dininibobokkan srigala palsu.
Yang berpura baik namun menyimpang taring kebuasan.
Kelak, di masa tatkala rambut telah memutih engkau akan sadar.
Bahwa generasimu telah terperangkap dalam kelicikan yang berbungkus semangat liberal.

IV
Bagaimana Cahaya Timur akan bangkit bila semangat berfikir berbungkus barat.
Engkau, bagaikan mencuci baju bercampur air comberan.
Tak sadar bahwa bangunan yang engkau bentuk mengandung kontradiksi yang mendua.
Bagaikan ular yang kelak akan menerkam dirimu saat terlena

Sadarlah, selagi waktu masih ada.
Harga diri sang Elang takkan lahir dari cara hidup seekor ayam petelur.
Yang selalu menunggu limpahan dari sang majikan untuk digemukkan dan dipotong.
Tapi, harga diri hanya lahir dari perjuangan yang pantang menyerah.
Berjuanglah, sebelum datangnya sesal.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar