Jumat, 03 Agustus 2012

42-2012. Syair Rindu Untuk ayah (3)

42-2012. Syair Rindu Untuk ayah (3)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Ayah, duapuluh  lima tahun berlalu sudah  berlalu sejak kita berpisah.
Dipelupuk mataku selalu terkenang masa-masa yang begitu indah.
Ikuti sosokmu yang berwibawa berangkat mengajar ke sekolah.
Atau pandang wajah  letihmu di sore hari  pulang dari sawah.

Tiba-tiba, rentang jarak begitu jauh telah memisahkan.
Merantau anakmu untuk merajut cita dan harapan.
Berbekal doamu & ibu kujalani hidup dirantauan.
Berharap  kelak  pulang  bawa  kebanggaan.

II
Suatu siang, datang berita  kau  telah pergi.
Untuk selamanya dan tak akan pulang kembali.
Menghadap Tuhan kita Ilahi Robbi Yang Maha Suci.
Sebagaimana dahulu janji yang telah ada di alam azali.

Ayah, sungguh  berjuang sendiri  membuatku  kadang bersedih.
Kutahan kecengengan dan kerapuhan walaupun  membuatku letih.
Walau sering dada ini ingin meledak dan di dalam terasa begitu perih.
Dan diri ini  kembali kuat  manakala mengingat  semangatmu yang gigih.

III
Ayah, duapuluh lima tahun  bukanlah waktu yang  sebentar kita berpisah.
Kini jasadku pun mulai rapuh dan menua  sebagaimana dahulu ayah.
Banyak peristiwa yang membuatku hanya terdiam dalam resah.
Dan mulut ini  harus banyak  diam tak  tumpahkan amarah.

Maafkan anakmu yang terkadang lalai mengirim doa.
Ampuni anakmu yang masih sibuk dengan dunia.
Untuk sesempurnamu  dahulu diri ini tak bisa.
Karena kita memang hidup berbeda masa.

IV
Ayah, berbahagialah engkau disisi-Nya.
Anakmu berharap kelak kita bisa bersama.
Hidup disisi-Nya dalam  ampunan dan bahagia.
Sebagai hamba-hamba yang diridhoi dijalan Taqwa.

Hari ini, hanya doa manifestasi  rindu yang kusampaikan.
Kelak gejolak hidup ini pun akan  berakhir dengan kematian.
Sebagai akhir perjalanan  musafir  yang hidup dalam kefanaan.
Yang telah terlihat dalam  pandangan kala lalui  sunyinya kuburan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 17 Juli 2012

017-2012. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (5)

31-2012. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (5)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu,tetesan embun di dedaunan membawa ingatanku kembali ke masa silam.
Betapa sering rengekan manjaku membangunkanmu di tengah  malam.
Dalam letih langkahmu terseok ditemani cahaya lampu yang suram.
Dan barulah ibu tertidur lagi mana kala anakmu  telah terdiam.

Ibu, Jelang tujuh puluh tahun waktu telah berlalu.
Bagaikan kilat tanpa terasa masa yang telah tersapu.
Kini, ketuaan telah membayang di wajahmu  yang sendu.
Dan kelak di perjalanan anakmu pun akan menjadi seperti itu.

II
Aku ingin  seperti ibu. Yang  tenang bagai  permukaan telaga.
Jalani kehidupan yang sederhana, sabar,  dan bersahaja.
Tak pernah  terdengar keluh dan  saat  dalam tiada.
Dan pandai menahan  keperihan di dalam dada.

Ibu, malam ini anakmu teteskan air mata.
Teringat masa  yang hilang saat kita  bersama.
Bersamamu  dibakar terik  matahari pergi berhuma.
Mencari  tambahan  untuk  menyambung  hari-hari kita.

III
Kini, tak lagi anakmu  harus berbagi telur dengan saudara.
Tak lagi terdengar bujukanmu untuk makan apa adanya.
Namun keteladanmu  terhujam untuk hidup bersahaja.
Dan tak membanggakan diri dengan pemberian-Nya.

Ibu, kelembutan jiwa yang kau ajarkan begitu membekas.
Terhadap orang lain engkau tanamkan sifat yang ikhlas.
Tidak membangkil pemberian atau mengharap balas.
Serta mengikhlaskan kebaikan bak air didaun talas.

IV
Ibu, kini ketuaan kian tampak dalam kerut matamu.
Jalanmu pun mulai  tertatih tak lagi kuat seperti dahulu.
Namun cinta kasihmu tetap abadi seperti di masa yang lalu.
Bagai hantaman ombak sejak zaman purba di pantai nan bisu.

Ibu, kalau  kelak anakmu  pergi lebih  dahulu menghadap-Nya.
Mohon ikhlaskan segenap pengorbananmu sepanjang usia.
Maafkan anakmu  tak mampu  sampai akhir memelihara.
Semoga kelak kita bertemu dalam ridho dan surgaNya.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 11 Juli 2012

29-2012. Senandung Malam Seorang Hamba

29-2012. Senandung Malam Seorang Hamba

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Kekasih,
Masih layakkah bibir hamba-Mu lantunkan panggilan mesra itu?
Sedang jejak cinta jiwa ini tak lagi bak seruling rindukan rumpun bambu.
Malam-malam pun tak lagi terisi dengan tangisan Qais pada Laila yang penuh rindu.
Dan jiwa ini?telah terkotori bak seorang musafir lelah yang menempuh perjalanan penuh debu.

Bagaimana hamba akan pertangung jawabkan semua pemberian-Mu yang begitu berharga ini.
Bagaimana hamba membayar oksigen yang dengan cuma-cuma telah Engkau beri.
Bagaimana hamba harus bayar sifat lupa yang hapuskan kepedihan hati?
Dan bagaimana  hamba hitung semua pemberian-Mu sejak bayi.

II
Kekasih,
Ke hadirat-Mu seorang budak  tundukkan kepala dengan pasrah.
Ke hadapan-Mu datang dengan takut seorang petarung lemah yang kalah.
Ia terjatuh bangun berhadapan dengan musuh-musuh-Mu yang tak pernah menyerah.
Berharap kala dihadapan pengadilan-Mu kelak mendapat ampunan wahai Sang Maha Pemurah.

Kekasih, betapa lidah pemberian-Mu ini sering  berkata yang tidak sesuai dengan kehendak-Mu.
Telinga hamba  masih terus digunakan mendengar hal-hal yang tidak berkenan disisi-Mu.
Tangan ini masih digunakan untuk pekerjaan yang membawa amarah-Mu.
Sungguh hamba takut bagaimana nanti berhadapan dengan-Mu.

III
Kekasih,
Lidah ini masih berputar dalam kemubaziran yang hampa makna.
Jerit dan ratap permohonan beriring airmata hanya muncul dalam derita.
Hari-hari pengembaraan yang pendek di dunia ini masih banyak diisi gelak tawa.
Sedang tangisi betapa berat kelak himpitan tanah kubur makin hari semakin terlupa.

Betapa kulit hamba pelan-pelan mulai mengeriput bak bunga mekar menjelang layu.
Cahaya mata?yang dulu berbinar-binar indah mulai suram, letih dan, kuyu.
Sendi-sendi hamba kala pekatnya malam telah datang terasa ngilu.
Pertanda malaikat maut pun semakin dekat di depan pintu.

IV
Bekal apa yang akan hamba bawa pulang sebagai musafir?
Tak ingin hamba menghadap-Mu  sebagai pedagang yang faqir.
Izinkan hamba untuk kumpulkan bekal amal-amal yang terus mengalir.
Untuk modal hamba kelak ketika harus hadapi mahkamah-Mu di Yaumil akhir.

Kekasih, izinkan hamba  untuk miliki lidah yang senantiasa syukuri nikmat-Mu.
Rahmatilah hamba jiwa yang cepat kembali manakala lalai dari jalan-Mu.
Tanamkan rasa takut terhadap beratnya siksa karena murka-Mu.
Dalam  kelemahan ini, Ridhoilah untuk menjadi hamba-Mu.

Wahai Allah, tiada tempat hamba bersandar.Kecuali hanya pada-Mu.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Kamis, 14 Juni 2012

017-2012. Syair Nasehat Anak (5)

017-2012. Syair Nasehat Anak (5)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Syairku ini sebagai nasehat,
pada anakku penuh semangat,
jasadmu kokoh dan masih sehat,
tulang ototmu kencang dan kuat.

Engkau adalah harapan umat,
pelopor kelak agar selamat,
ingatlah selalu sebelum terlambat,
di saat tua telah mendekat.

Jadikan ini sebagai alat,
tempuh jalanmu yang cukup berat,
agar karyamu besar dan hebat,
sepanjang masa orang kan ingat.

II
Wahai anak,
Masa mudamu bagaikan kumbang,
harum mewangi seperti kembang,
elok wajahmu sedap dipandang,
takjubkan hati semua orang.

Tapi semua ada kadarnya,
menjadi layu lewat masanya,
kumbangpun mati tinggal jasadnya,
bunga pun layu tinggal putiknya.

Karena itu janganlah lupa,
bekerja sungguh sekuat tenaga,
modalkan selalu semangat baja,
agar dirimu bisa dibangga.

III
Di masa muda ingatan tajam,
hasil belajar kuat menghujam,
memancar bagai mutu manikam,
tumbuh dan subur bila disiram.

Tapi bila dirimu lalai,
masa mudamu jalani santai,
gerakmu lamban lemah gemulai,
tugas mudamu tidak selesai.

Pastilah kelak engkau menyesal,
mengapa tidak diasah akal,
ditambah dengan sifat yang nakal,
sulit jalanmu pastilah bakal.

IV
Belumlah lagi waktu terbuang,
karena suka bersenang-senang,
lakukan salah serta dilarang,
engkaulah pastilah dibenci orang.

Nasehat baik jangan ditentang,
yang diberikan karena sayang,
resapkan dalam sampai ke tulang,
niscaya sukses akan membayang.

Aturlah nafsu supaya tenang,
jangan dilanggar apa dipantang,
tegakkan selalu wajib sembahyang,
agar terhindar nasib yang malang.

V
Hematlah hidup dan hati-hati,
apa yang ada silah syukuri,
kalau tak ada jangan memaki,
bersikap kasar apalah lagi.

Terhadap saudara haruslah rukun,
keluarga jauh mesti dihimpun,
pada yang tua berlaku santun,
kata yang baik harus disusun.

Syairku sampai disini dulu,
yang baik-baik silah ditiru,
yang salah anggap angin berlalu,
semoga berguna untuk jalanmu.


Al Faqiir


Hamdi akhsan

Jumat, 08 Juni 2012

011-2012. Syair Nasehat Anak (4)

011-2012. Syair Nasehat Anak (4)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Dengan Bismillah daku bermadah,
padamu anakku titipan Allah,
sebagai bahagian dari amanah,
sebelum jasadku berkalang tanah.

Jadikan ini sebagai pegangan,
jalani hidupmu penuh godaan,
apabila baik buatlah pedoman,
jikalau tidak silah campakkan.

Madahku ini beragam tujuan,
tentang bekalmu 'tuk kehidupan,
yang kelak pasti temui kematian,
hadap Ilahi Pemilik Keabadian.

II
Duhai anak,
engkau terlahir bersih dan suci,
sebagai amanah Robbul Izzati,
kepada kami telah diamati,
beban yang berat sampai ke nanti.

Kelak ayah akan ditanya,
sejauh apa didik agama,
tuntun dirimu pada jalan-Nya,
arahkan dirimu jadi hamba-Nya.

Pabila amanah kami tunaikan,
balasan baik 'kan didapatkan,
pabila agamamu kami lalaikan,
siksa yang berat 'kan dihadapkan.

III
Wahai anak,
Amanah pertama tentang ibadah,
sudahkan kami jadi pengarah,
sehingga tetap hidupmu arah,
menjadi hamba yang cinta Allah.

Pabila ibadah engkau lakukan,
hidupmu pasti kan diarahkan,
baik dan senang engkau dapatkan,
diberi bahagia sebagai balasan.

Bila ibadah engkau lalaikan,
hidupmu temui banyak kesulitan,
jalan rezekimu 'kan disempitkan,
nafsu jahatmu 'kan dikedepankan.

IV
Duhai anak,
lihatlah mereka yang terdahulu,
hartanya terserak bagaikan batu,
tetapi yang terjadi setelah itu,
anak turunan saling seteru.

Begitu pula yang berkuasa,
hanyut seperti air berbusa,
dikalhkan oleh jalannya masa,
tinggal kenangan sebagai sisa.

'Pabila ilmu kau utamakan,
di masyarakat dimuliakan,
orantua pun dapat bagian,
doa dan ampun sebagai kiriman.

V
Jadikan ibadah kesenanganmu,
ucapan yang baik lekat padamu,
wajah yang ramah pembawaanmu,
menuntut ilmu kebiasaanmu.

Pabila semua engkau jalankan,
niscaya engkau kan dikenangkan,
selama hidup kan diperlukan
setelah mati kan ditangiskan,

Nasehat ayah sampai disini,
masukkan semua ke dalam hati,
sebagai warisan di hari nanti,
kala jasadku terbaring mati.

Duhai anak, jadilah hamba Robbul Izzati


Al Faqir


Hamdi Akhsan

Selasa, 13 Desember 2011

305-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (4)

305-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (4)

Oleh
Hamdi Akhsan


I
Ibu, malam ini telah begitu larut.
Bintang-bintang berkilau indah bak mutiara jabarrut.
Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas rasa gelisah dan takut.
Kalau kelak tak sempat bersimpuh didepanmu kalau datang malaikat maut.

Dalam kesendirian dan  sepi kurasakan indahnya  masa saat kita bersama.
Kesederhanaan dan ketulusanmu begitu membekas dalam jiwa.
Kutemukan kasih selalu terpancar di pandangan mata.
Yaang menguatkan jiwaku di saat menderita.

II
Tapi ibu, sebahagian jiwakumengikuti ibu.
Mampu menyimpan begitu dalam rasa sakit dan pilu.
Walau jasad sedikit demi sedikit lemah bak disayat sembilu.
Namun nampak biasa dimakan oleh perstiwa dan fananya waktu.

Dalam  jiwa ini tetap  terpendam  kerinduan yang  begitu dalam.
Untuk pergi  lagi bersamamu  menangis di tanah haram.
Lantunkan pinta pada Ilahi Sang Penguasa Alam.
Agar kasihmu bernilai bak mutu manikam.

III
Ibu, anakmu begitu lelah jalani semua ini.
Tak ada lagi sisi kehidupan dunia yang ingin kutangisi.
Akan kujalani hidup dengan tegakkan prinsip dan jati diri.
Walau untuk itu semua prinsip  itu harus kubawa  sampai mati.

Kadang saat berjumpa ingin kusampaikan semua keluh kesah.
Namun tak ingin aku membuat batinmu kembali lelah.
Tak ingin mulutku berkata membuatmu gelisah.
Biarlah semua bagimu baik dan indah.

IV
Ibu, maafkan anakmu yang banyak diam.
Kutahan gejolak jiwa ini walau didalam remuk redam.
Biarlah nampak olehmu apa yang kujalani semuanya tentram.
Bagai samudera di permukaannya  rata namun  bergolak didalam.

Di sisa usia ini, hanya doa dan keridhoanmu yang kupinta.
Tak ingin lagi aku  melihatmu cucurkan air mata.
Tak ingin lagi anakmu melihat ibu menderita.
Sampai Ibu menghadap Sang Pencipta.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 11 Desember 2011

304-2011. Taqdir Masa (2)

304-2011. Taqdir Masa (2)

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Seorang  pengembara ucapkan  kalimat dalam senjakala perjalanan.
Betapa hakekat dibalik peristiwa demi peristiwa telah diperlihatkan.
Bahwa  yang terjadi  pada  tiap tahap hidup adalah  keseimbangan.
Sebagai wujud sifat Sang Pencipta  yang  memiliki  kesempurnaan.

Dalam fase kehidupan kanak-kanak jasad dan organ masih rapuh.
Hingga tak  dilekatkan-Nya beban berat  yang membuatnya luluh.
Bagi mereka proses hidup adalah  kesenangan yang  tiada keluh.
Tak pernah terbayangkan harus berjuang  keras memeras peluh.

II
Masa muda, bak bunga mekar tebarkan harum nan mempesona.
Betapa ingin diraih semua mimpi  dan kebanggaan hidup di dunia.
Segala igin dilakukan dengan proses yang cepat dan tergesa-gesa.
Yang  terkadang ia tak peduli  jalan itu akan  membawanya  celaka.

Masa muda, mata tajam bak sorot rajawali diangkasa menatap bumi.
Puncak ketajaman  berfikir  dan kecepatan  bertindah telah  Tuhan beri.
Tinggal  bagaimana ia berusaha  maksimalkan  perjuangan sepanjang hari.
Untuk mendapatkan  kemuliaan hidup dunia atau bertransaksi di jalan Ilahi.

III
Kala usia seorang hamba lebih dari empat puluh batinnya akan berubah.
Akan muncul sifat bijaksana dan kematangan jalani kehidupan di dunia.
Ia tahu bagaimana cara  yang mudah  mencari  nafkah  bagi hidupnya.
Namun jasad telah mulai merasa malas dan lelah untuk menjalaninya.

Kalaulah memang ada kemuliaan duniawi usia ini adalah puncaknya.
Jalan-jalan hidup yang sulit  bukanlah merupakan  halangan baginya.
Namun dalam jiwa iman harus dipelihara agar tidak dihinakan-Nya.
Seperti yang telah terjadi pada para pendurhaka di akhir hidupnya.

IV
Usia tua, terbagi menjadi dua jalan hidup yang bertolak belakang.
Ia akan  memetik  benih dari  perbuatannya  dahulu saat  sekarang.
Disia-siakan  hidupnya  oleh anak keturunan dan disepelekan orang.
Atau menjadi tempat  bersandar kaum  muda bak  kukuhnya karang.

Sungguh,perjalanan usia insan adalah sebuah  keseimbangan dari Ilahi.
Agar  manusia  ingat t erhadap  cobaan dan  nikmat  yang  Tuhan beri.
Bahwa saat lahir kedunia dirinya sangat lemah dan tak  mampu berdiri.
Sehingga sepanjang usia hanya Ridho-Nya lah yang akan selalu dicari.

Ya Allah, berilah hamba hidup yang diridhoi.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 06 Desember 2011

301-2011. Taqdir Masa

301-2011. Taqdir Masa

                  oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Hari ini, kudengar keluhan dari seorang istri.
Mengapa suaminya pergi pagi dan pulang telah dini hari.
Bekerja keras siang dan malam lupakan segenap sakit dan nyeri.
Tangan dan kaki dilangkahkan harapkan rahmat Ilahi Sang Maha Pemberi.

Dengan bijak sang suami mengucapkan kalimat sederhana secara perlahan.
Setiap masa memiliki karakteristik yang didalamnya keistimewaan.
Pada tahapan usia tertentu ada aktivitas yang didahulukan.
Sebagai bagian Sunnatullah bagi setiap insan.

II
Kelak, bila kita diberi Allah usia yang panjang.
Aku akan berada disisimu tiap saat tak pernah menghilang.
Engkau akan bosan karena tak sempat berpisah seperti sekarang.
Sampai diantara kita nanti dijemput malaikat  maut  tanpa  diundang.

Setiap  masa Tuhan telah memberikan karakteristik pada hamba-Nya.
Yang didalamnya terkandung perintah-perintah dan larangan-Nya.
Yang masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya.
Yang berlaku di bumi untuk semua penghuninya.

III
Masa kecil,  tatkala hati dan fikiran dibuai mimpi .
Hanya ada gelak tawa, wajah bahagia dan ketulusan hati.
Tiada kelicikan berfikir dan kecurangan hidup yang tersembunyi.
Hanya ada dunia indah yang didalamnya kasih sayang yang tak bertepi.

Masa muda, tatkala tubuh  perkasa bak kepakan sayap  burung garuda.
Bibir mampu  lontarkan kalimat yang  menggetarkan bagai singa.
Ingin segera meraih segala kemuliaan dan genggam dunia.
Dan jadi pengukir tonggak sejarah peradaban manusia.

IV
Ada suatu  masa kala beban seorang ayah begitu berat.
Dalam keadaan apapun segalanya harus dijalani dengan kuat.
Memimpin anak-anaknya sebagai amanah kelak ditagih di akherat.
Dan  menjaga mereka  agar tak terjerumus  ke dalam jurang maksiat.

Tapi, terbalik kelak kala usianya telah beranjak ke senjakala kehidupan.
Tinggallah diri menuai apa yang telah diberikan dan dicontohkan.
Pastilah takkan tumbuh padi dari rumput yang ditanamkan.
Dan kesenangan atau kesedihanlah sebagai balasan.

V
Setelah  insan tiada, ada yang tetap hidup dalam hati manusia.
Mereka yang tinggalkan jejak cemerlang  dalam  kehidupannya.
Atau mereka yang meninggalkan genangan dosa perbuatannya.
Yang lahirkan pujian atau caci maki  bagi generasi sesudahnya.

Setiap masa  selalu ada dua sisi  kehidupan  yang berhadapan.
Yang melekat sampai sang hamba dijemput malaikat kematian.
Hidup yang bahagia atau penuh penderitaan abadi disisi Tuhan.
Itulah hukum-Nya  yang tetap  sebagaimana  telah difirmankan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 02 November 2011

292-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (3)

292-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (3)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu, sebentar lagi lebaran idhul adha hampir tiba.
Teringat masa kecilku saat datang  merengek manja.
Tanyakan baju baru untuk pergi  silaturahmi ke tetangga.
Serta pergi jalan-jalan dengan teman diselingi tawa dan canda.

Tatkala malam  pergi ke mesjid dengan teman-teman takbiran.
Mikrofon dan pemukul beduk selalu jadi bahan rebutan.
Rasanya begitu bangga mendengar irama pukulan.
Sungguh  masa kecil yang membahagiakan.

II
Ibu, menetes deras air mataku kala teringat.
Kala lebaran kau pakai baju yang telah lama dibuat.
Demi bahagia anakmu berbaju baru pun ibu tak sempat.
Sungguh perjuangan yang berhiaskan tangisan dan keringat.

Tiada duka dan kesedihan di wajah teduhmu yang terpancar.
Tapi sorotan  mata tulusmu  tak mungkin  menghindar.
Dan beningnya air mata kelopak mata yang tergetar.
Kala ziarahi ayah yang tak iringi kami sampai besar.

III
Ibu, Lebaran idhul adha tahun ini kita tak bersama.
Tapi untuk akan selalu nanda panjatkan untaian doa.
Agar ibu diberi usia  panjang dan kesehatan yang prima.
Dan selalu berada dalam kehidupan penuh iman dan taqwa.

Maafkan anaku yang terkadang lalai dalam kasih sayang.
Dalam jiwa terdalamku ibunda tak pernah hilang.
Ibunda selalu ada dan setiap saat terbayang.
Di tengah sepinya malam ataupun siang.

IV
Ibu, teringat kala takbir berkumandang.
Menangis aku kala mengenang masa yang hilang.
Bersamamu  jalani hari-hari dari masa kecil yang panjang.
Sampai anakmu hadapi tantangan hidup yang luas terbentang.

Ibu, maafkan daku selama ada waktu untuk ucapkan kata itu.
Ikhlaskan segenap perjuanganmu menjaga hidupku.
Berikan doa dan restu agar selalu lurus jalanku.
Moga kelak di dalam ridho-Nya kita bersatu.

Ibu, anakmu rindu.

Al Faqiir
 
Hamdi Akhsan

Selasa, 01 November 2011

291-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (2)

291-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku (2)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu,
Tahun-tahun kehidupan kita akan segera berganti.
Namun kenangan indah yang membekas dalam jiwa tetap abadi.
Tatapan nan lembut penuh kasih sayang darimu tetap warnai hari-hari.
Sungguh sebuah keindahan tiada tara yang kelak akan kubawa sampai mati.

Di kerentaan usia yang semakin sepuh langkahmu mulai gemetar dan tertatih.
Rambutmu yang dulu begitu hitam kini telah dipenuhi uban memutih.
Suaramu lembutmu yang begitu kurindukan kini semakin lirih.
Dan sering kudengar nafasmu telah mulai terdengar jerih.

II
Ibu, dalam tidur nyenyakmu kadang kudengar sedan.
Maafkan anakmu kalau terkadang masih hampirkan kesedihan.
Daku tak tahu keperihan apa yang begitu rapi engkau sembunyikan.
Yang tak pernah kau ungkap  pada anakmusampai nyawa berpisah badan.

Maafkan daku kalau tak tahu bagaimana cara untuk membuatmu bahagia.
Maafkan daku mana kala tanpa sengaja  salah dalam kata-kata.
Maafkan daku tak mampu sembunyikan kepedihan dimata.
Sebagai  jendelamu untuk  tahu anakmu  berdusta.

III
Ibu, dalam rentang tahun tatkala daku makin menua.
Betapa kusadari banyaknya hal yang harus ditahan dalam dada.
Betapa kesepian dan kesendirian hidup harus dijalani oleh setiap jiwa.
Sampai kelak  setiap insan harus  menghadap-Nya  kembali ke alam baqa.

Ibu, tahun-tahun  kehidupan yang kulalui mulai  menuju ke  masa senja.
Betapa sering kurasakan goresan bagaikan duri tajam didalam dada.
Membuatku teringat padamu saat dalam diam keluar air mata.
Dan sesenggukan dalam kesendirian sebagai manusia.

IV
Ibu, maafkan anakmu yang kurang berbakti dimasa tua.
Beban hidup yang kulalui membuat diri sibuk dengan dunia.
Kewajibanku membuat anakmu siang  dan malam harus bekerja.
Karena tanggungjawab yang dibebankan pada anakmu sebagai ayah.

Di senja usiamu, tetap kumintakan tanganmu tertadah dalam doa.
Agar anakmu diberi Allah  keselamatan di akherat  dan dunia.
Dianugrahkan-Nya  jalan kebaikan orang-orang yang mulia.
Serta menghadap-Nya sebagai hamba yang bahagia.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Senin, 31 Oktober 2011

290-2011. Dengarlah!

290-2011. Dengarlah!

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Tatkala engkau bertanya mengapa daku tak lagi hadir?
Tidakkah kau rasakan pesan-pesanku yang dibawa angin semilir.
Tidak engkau rasakan airmata itu dibawa gemericik air yang mengalir.
Dan tidakkah begitu banyak pesan terdahulu di hatimu telah terukir.

Dahulu, daku datang tiba-tiba padamu bagai angin ditengah kegelapan.
Kutumpahkan kata-kata indah untuk-Nya sebagai wujud kerinduan.
Kugoreskan kepedihan hati dalam dada beriring sedu sedan.
Berharap ada jiwa yang sambut pesan-pesan ketulusan.

II
Kalau kini yang dahulu tiada menjadi ada lantas menghilang.
Sesungguhnya ia hanyalah sebutir buih d i tengahdahsyatnya gelombang.
Yang tertatih jatuh dan bangun sendiri dalam jiwa rapuh yang kadang bimbang.
Yang kadang tersesat bak hewan ternak tatkala gelap pulang ke kandang.

Adalah kegembiraan dan kesedihan hanyalah fatamorgana dalam waktu.
Tawa dan tangis dalam kehidupan begitu cepat datang dan berlalu.
Ada luka yang begitu dalam dan kuat bagaikan goresan sembilu.
Dan hanya pada-Nya jiwa rapuh ini akan menuju.

III
Semua akan berakhir fana dalam ketakabadian semesta.
Kematian akan datang bagai barisan prajurit yang gegap gempita.
Menghadap kembali pada-Nya dengan kepala tertunduk atau tengadah.
Menjadi sang budak yang menyesali diri atau berbahagia dalam rahmat-Nya.

Dalam kegelapan dan kesunyian perjalanan seorang hamba berkata.
Telah kutitipkan kerinduanku pada kaum muda perindu surga.
Telah kusampaikan pesan-pesan pada mereka yang perkasa.
Agar hidup dalam harga diri dan rasa bangga.

IV
Kala panggilan kekasih-Ku datang menjemput.
Dan titipan jiw pada jasad fana ini tercerabut.
Berharap hanya  nama-Mu  jua akan  kusebut.
Dan mendapat kebaikan sebagai pengikut.

Semua akan berakhir fana.
Kelak tiada duka dan bahagia.
Tiada lagi benci dan tiada cinta.
Yang ada, hanya balasan taqdir-Nya.


Musafir


Hamdi Akhsan

Kamis, 18 Agustus 2011

282-2011. Wahai anak, Dengarlah Pesanku ini

282-2011. Wahai anak, Dengarlah Pesanku ini

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Kukisahkan padamu tentang perjalanan panjang yang telah kulalui.
Tentang segala kebahagiaan dan  kepedihan yang  telah kutemui.
Tentang hakekat dibalik  sesuatu yang  dahulunya  tersembunyi.
Dan kini  telah terbuka  bagaikan benderangnya sinar mentari.

Wasiat pertama tentang hidup di dunia yang berakhir fana.
Kebahagiaan  duniawi yang dikejar hanyalah fatamorgana.
Karena masa depan  setiap insan telah  pasti bagiannya.
Tinggallah  bagaimana  cara ia akan  mendapatkannya.

II
Ada manusia yang mempertuhankan dunia materi.
Ia mengira akan  mendapatkan  kebahagiaan hakiki.
Padahal  tiada yang dibawa tatkala dirinya kelak mati.
Kecuali amalan baik  yang mendapat  balasan dari Ilahi.

Ada pula manusia yang memimpikan kesenangan jabatan.
Dengan segala cara apa yang dicitakan haruslah didapatkan.
Tak peduli jalan yang halal dan haram telah dicampuradukkan.
Yang penting diperoleh keinginan hawa nafsu yang diharapkan.

III
Belum lagi segolongan yang halalkan segala cara dapatkan harta.
Tak peduli membuat orang lain terzalimi dan cucurkan airmata.
Tak peduli karenanya orang terusir dan hidup terlunta-lunta.
Segala cara dipakai walau  harus  gunakan  sumpah dusta.

Lihatlah, betapa sejarah telah  memberikan pelajaran.
Tentang  para  penguasa  yang   menantang  Tuhan.
Di akhir  hidupnya keadaan mereka Dia hinakan.
Dan di  akherat rasakan pedihnya pembalasan.

IV
Wahai anak, betapa  banyak pendusta agama.
Yang  membiarkan anak yatim  hidupnya terhina.
Yang  menggusur  mereka  yang  tak  punya rumah.
Bersikap sewenang-wenang pada mereka yang lemah.

Adalah masa lebih dari cukup  untuk dijadikan pelajaran.
Mereka yang dulu begitu gagah kemudian dilemahkan.
Yang semula berharta banyak kemudian dimiskinkan.
dan yang dahulu berkuasa  kemudian dipenjarakan.

V
Itulah garis besar permainan kehidupan disetiap kurun.
Hukum-hukum yang tak berubah selama ribuan tahun.
Untuk itulah adanya  agama agar  kehidupan tersusun.
Dan semua  dibawah kendali Ilahi  Maha Pengampun.

Anakku, semua kemuliaan duniawi hanyalah kepalsuan.
Yang kelak berharga disisi-Nya hanya  amal kebaikan.
Hiduplah  selalu  dalam  tuntunan  dan  naungan Tuhan.
Agar kelak  setelah  mati tiada tangis  dan  penyesalan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Sabtu, 23 Juli 2011

266-2011. Syair Untuk Kekasih (9)

266-2011. Syair Untuk Kekasih (9)

                


I
Kekasih,
Malam-malamku sepi bagai tangisan qais di tengah gurun sunyi.
Laila telah pergi membawa luka dan kepedihan yang menyayat hati.
Hanya air mata dan desiran angin gurun yang setia dan abadi menemani.
Dan kepasrahan jiwa yang patah  menunggu datangnya panggilan janji Ilahi.

Cinta pada-Mu?Sebuah ungkapan indah  yang telah berkarat  diterpa waktu.
Tiada lagi ratapan kasih di tengah  dinginnya  malam-malam yang  berlalu.
Pasrah ikuti  taqdir  bak karang dilamun dahsyatnya ombak nan bisu.
Dan  perlahan jasad pun menua dalam perihnya  rintihan rindu.

II
Kekasih,
Kemana wajah yang berlumur debu akan hamba sembunyikan.
Kemana pekatnya hati dalam dusta pada-Mu akan hamba adukan.
Kemanapun diri pergi segala kekuatan-Mu selalu Engkau nampakkan.
Sungguh mengalir airmata manakala teringat hari pertanggungjawaban.

Lailaku pergi karena cinta dihatiku menipis oleh hebatnya godaan dunia.
Ia pergi ke hati para pencinta-Mu yang jalani hidup dengan sederhana.
Yang ungkapkan  kerinduan dan cinta  sebagai budak-Mu yang hina.
Dan tiada  tergoda oleh gemerlapnya  dunia  yang  mempesona.

III
Adalah kerinduan ini bagai terpenjara dalam kokohnya karang.
Di senjanya waktu yang kian dekati  akhir ia kembali mengerang.
Bak merontanya prajurit yang dahulu begitu gagah dalam berjuang.
Dan berharap kelak akan kembali pada-Mu sebagai pemenang perang.

Kekasih, maafkan kelalaianku keterbatasan iman dan godaan duniawi.
Ampuni hamba atas segala pelanggaran terhadap yang tak direstui.
Bimbinglah  hamba agar jalan ini  tak  menyimpang lebih jauh lagi.
Dan sadar bahwa kematian adalah sesuatu yang memang pasti.

IV
Dalam cucuran air mata dan wajah tertunduk karena bersalah.
Berilah hamba hati yang selalu kuat dan istiqamah untuk berubah.
Agar dikubur dan akherat nanti hamba terjauh dari pedihnya musibah.
Serta diberi  ampunan  atas semua  pelanggaran selama  hidup di dunia.

Kekasih, kurindukan laila-ku akan kembali  jelang masa  senja kehidupan.
Teguh dalam cinta bagai qais yang nikmati cinta dalam kesendirian.
Berharap jiwa akan berbahagia dalam cinta dan ridho Tuhan.
Sebelum kelak dihadapkan semua amal ini di pengadilan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

265-2011. Surat Seorang TKW jelang Ramadhan

265-2011. Surat Seorang TKW jelang Ramadhan

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Anakku,
Air mata ini menetes teringat Ramadhan akan tiba.
Berbilang tahun sudah engkau puasa  jauh dari bunda.
Inginnya ibu membangunkanmu sambil  memeluk di dada.
Namun antara kerinduan dan kenyataan hidup jauh berbeda.

Di Negeri jauh kulantunkan doa untukmu menjelang Ramadhan.
Dalam ratapan lirih ibu bermohon pada Ilahi bersedu sedan.
Berharap  kuat  iman kita dalam  sedihnya  perpisahan.
Dan kita saling merindu walau jauh berpisah badan.

II
Anakku,
Tinggal sebentar lagi Ramadhan  kembali datang.
Kalimat-kalimat puja pada Ilahi akan berkumandang.
Di dalam  jiwa ini  betapa  sangat  ingin  ibunda  pulang.
Tapi ribuan kilometer jarak dan perjanjian jadi penghalang.

Betapa  dahulu ibu  bermimpi  tentang  kemuliaan  duniawi.
Punya harta dan hidup terpandang ternyata hanya mimpi.
Namun ternyata hanya kepahitanlah hari-hari kulalui.
Sampai keluar negeri lah hal yang harus dijalani.

III
Tahun-tahun berlalu,ibu hanya bisa  dengar suaramu.
Air mataku  mengucur  bayangkan  pertumbuhanmu.
Sering rasa bersalah karena tak bisa mendampingimu.
Namun semua harus kulalui demi  cari biaya untukmu.

Ibu tak akan salahkan ketakmampuan ayahmu menafkahi.
Karena di negeri ini semuanya serba sulit untuk difahami.
Tidak ada  kepastian  masa depan walau sekolah tinggi.
Karena  begitu  banyak raja kecil  baru di era otonomi.

IV
Walau banyak kesedihan dan penderitaan ibu rasakan.
Namun pilihan yang begitu berat ini  harus ibu tunaikan.
Berharap suatu  saat kelak kita  bersama rayakan lebaran.
Dan dalam keadaan sulit engkau takkan lagi ibu tinggalkan.

Anakku, dalam sekian tahun masa  kita tidak bertemu.
Ibu  berharap  ayahmu  bisa  amanah  menjaga dirimu.
Agar kelak predikat anak sholeh akan melekat padamu.
Dan  kebanggaan  akan ku dapat menjadi  ibu bagimu.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

260-2011. Ibu, Anakmu Rindu Pulang

260-2011. Ibu, Anakmu Rindu Pulang

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu
Ingin kuadukan padamu tentang beban yang sesakkan jiwa.
Ingin kuadukan semua letihku jalani  hidup  jelang masa tua.
Ingin kudatang  padamu mencari kesejukan teduhnya mata.
Sungguh  nasehat  tulusmu  jadi  obat hati yang menderita.

Ibu, dalam  rapuhnya  ketegaran jiwa  anakmu ingin pulang.
Mencari kekuatan cahaya matamu yang penuh kasih sayang.
Memacu semangat hidup dan membuat  kuat tulang-tulang.
Di dalam  jiwamu  tersimpan cinta  yang tak  pernah  hilang.

II
Ibu.
Kurindukan cintamu yang  sanggup belah ganasnya samudera.
Kurindukan doa mustajabmu yang bak kilat membelah udara.
Kuteladani hidupmu yang demikian tegar hadapi sengsara.
Kukagumi hangatnya jiwamu yang lebihi panasnya bara.

Ibu, dalam kerinduan padamu sering aku tersedu.
Teringat keindahan kala  bersama  di masa lalu.
Rindukan tembang teduhmu ditengah dalu.
Sungguh, engkaulah  mutiara  hidupku.

III
Dalam kesendirian sering daku teringat.
Betapa kini  matamu telah rabun melihat.
Tapi jiwa  tulusmu  begitu  tegar  dan kuat.
Cinta kasih pada anak-anakmu begitu terpahat.

Ibu, kau ajarkan ketulusan melalui  kesederhanaan.
Tentang indahnya mendidik anak melalui keteladanan.
Selalu menjaga diri dengan satunya kata dan perbuatan.
Dan bekerja  keras diiringi  tawakkal kepada  taqdir Tuhan.

IV
Ibu, hari ini kesadaran akan wajibnya baktiku makin terbuka.
Betapa mulia  kasih seorang ibu yang dilandasi rasa ikhlasnya.
Tanpa  pamrih  ia  besarkan  anak-anaknya  sampai  dewasa.
Sungguh  sebuah tugas  kehidupan yang  begitu  luar biasa.

Dalam lelahnya jalani hidup betapa sering aku merindukanmu.
Ingin  kudengarkan lagi  nasehat-nasehat  sederhana darimu.
Mencari pautan  erat dalam  samudera  pandangan  kasihmu.
Dan berharap  kelak bersama  dalam kasih Ilahi kita bertemu.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Jumat, 22 Juli 2011

264-2011. Nasehat Cinta Seorang Ayah Untuk Kaum Muda.

264-2011. Nasehat Cinta Seorang Ayah Untuk Kaum Muda.
                 (Jelang Hari Anak Nasonal 23 Juli 2011)

                 Oleh
                 Hamdi  Akhsan


I
Anakku.
Betapa luasnya bumi terbentang untuk  gelora jiwa mudamu.
Kau, bak bunga mekar yang tebar pesona pada zamanmu.
Jadi pelopor peradaban tuk angkat harkat generasimu.
Harapan sebuah perubahan tertumpu dipundakmu.

Tataplah ke depan dengan mata berkilat bak mata rajawali.
Taklukkanlah olehmu  segala tantangan  yang  menghalangi.
Jangan cuma sibuk memuji  keindahan  bulu bak burung nuri.
Taklukkan kerasnya  zaman dengan kekuatan yang Tuhan beri.

II
Tiada kemuliaan dan harga diri yang didapat  dengan berdendang.
Tuhan telah sediakan bagimu langit  dan bumi yang luas terbentang.
Tataplah tiap kesempatan dengan teliti dan waspada bak mata elang.
Niscaya ribuan tahun kelak setelah tiada  dirimu selalu  akan dikenang.

Fahami  olehmu hakekat hidup yang telah digariskan bagi kita manusia.
Tuhan telah bebankan kepada kita beratnya amanah sebagai khalifah.
Yang mewakili-Nya  atur kehidupan bumi  bersama makhluk lainnya.
Sungguh  derajat yang  tinggi dan kepercayaan  yang  begitu mulia.

III
Anakku, lihat singa  raja hutan yang  hidup dalam  kemuliaan.
Yang  sanggup menahan lapar  bila tak dapat  hewan buruan.
Haram  baginya  memakan  bangkai busuk  yang  ia temukan.
Sungguh  sebuah  harga diri yang  memberikan  kebanggaan.

Tak  sudi ia menuruti  cara  hidup  hewan  pemakan  bangkai.
Atau  burung pipit  mencari makan  dengan  mencuri  kejelai.
Baginya, hidup  adalah  perjuangan  yang tak p ernah selesai.
Sampai kelak  jasad fananya  berhenti bernafas  dan terkulai.

IV
Anakku, lihatlah keemasan masa lalu yang pernah hadir.
Betapa kaum muda lah yang  membuat  tinta emas terukir.
Yang mempelopori  penguasa yang korup  dan zalim tersingkir.
Dan bisa membuat  kesewenang-wenangan pada rakyat berakhir.

Gapailah cita-cita dan mimpimu dengan semangat pantang menyerah.
Jadilah dirimu putra sejati yang sanggup untuk tegar hadapi derita.
Jadikan  generasimu  membuat  kami semua  menjadi bangga.
Dan bangsa ini  akan bangkit  menjadi  bangsa yang jaya.

Al Faqiir

Hamdi akhsan

263-2011. Wahai Anak Dengarlah Pesanku Ini!

263-2011. Wahai Anak Dengarlah Pesanku Ini!
                 (Untuk Hari Anak Nasional 23 Juli 2011)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Wahai anak.
Dengarlah pesan ayah untuk kehidupan.
Di zaman yang kini telah pertuhankan kebendaan.
Di masa  kala hati  nurani manusia  tak lagi  didengarkan.
Dan pada saat peringatan agama Langit tak lagi diperdulikan.

Aku berpesan padamu dengan membawa kepedihan nurani.
Tentang telah porak-porandanya kebaikan suatu negeri.
Yang  hampir seluruh  rahmat kekayaan Tuhan beri.
Namun terhadap semua mereka tak mensyukuri.

II
Anakku, engkau akan hidup di masa yang susah.
Tatkala yang  tertinggal di negerimu hanya sampah.
Tidak ada lagi  kekayaan untukmu yang melimpah ruah.
Yang tersisa  hanyalah beban pembayaran hutang semata.

Engkau semua kelak akan hidup  dimasa yang  amat  berat.
Tatkala akibat salah urus negara sudah dalam menjerat.
Tatkala  negeri yang  indah ini  telah begitu  sekarat.
Kala semua kekayaan sudah diperas negara barat.

III
Anakku, kau hidup dimasa kala  rimba telah habis.
Tatkala kekayaan alam didalam bumi  telah  terkikis.
Yang tertinggal hanyalah sesal disertai ratap dan tangis.
Sungguh aku kasihan  nasib generasimu yang begitu tragis.

Nyanyian merdu burung rimba di pagi hari tak lagi terdengar.
Menyambut pagi tak  lagi rasakan sejuknya  embun segar.
Tak kau saksikan  anggrek hutan  yang  sedang mekar.
Di zamanmu, segenap  malapetaka  telah  menyebar.

IV
Di negerimu bumi telah luka karena keserakahan.
Generasi  kami tunjukkan  keteladanan  menjijikkan.
Bertentangan selalu antara manis kata dan perbuatan.
Tak  perlu  engkau  jadikan  pahlawan  yang  diidolakan.

Wahai anak, jadilah seperti bangsa-bangsa besar di dunia.
Mereka rebut kemajuan dengan kehebatan bagai naga.
Bekerja keras dan berjiwa  jujur tak  kenal menyerah.
Dan tekun menguasai ilmu dengan  metode ilmiah.

V
Dibentuk pemerintah yang bersih dan berwibawa.
Hukum  ditegakkan dengan  keadilan  untuk  semua.
Para pejabat bekerja keras untuk bawa rakyat sejahtera.
Rakyatnya tekun dengan profesi dan tak pernah menyerah.

Wahai anak, jadilah engkau bagai putra elang yang perkasa.
Yang menggentarkan hati musuh tatkala ada diangkasa.
Sesulit apa tantangan tak pernah cucurkan air mata.
Serta mampu mengukir tinta emas dalam sejarah.

VI
Anakku, sadarlah bangsamu dijurang kehancuran.
Hampir seluruh pemegang  amanah tak ingat Tuhan.
Menumpuk harta untuk anak turunan bermilyar-milyaran.
Tak peduli betapa akan beratnya nasib generasi masa depan.

Berjuanglah mengembalikan bangsamu menjadi bangsa besar.
Jadikanlah  agama  dan ilmu  pengetahuan  sebagai dasar.
Jadilah teladan rakyat  manakala jadi engkau pembesar.
Agar kelak selamat dalam Pengadilan di hari Mahsyar.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 17 Juli 2011

258-2011. Kepada Saudaraku di Negeri Jauh

258-2011. Kepada Saudaraku di Negeri Jauh
                 (Untuk Para TKI di Mancanegara)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Saudaraku,
Ramadhan akan datang dan kita semua akan berpuasa.
Sedangkan  dirimu  jauh entah  di negeri mana berada.
Kami serahkan  keselamatanmu  pada-Nya Yang Kuasa.
Agar diberi kekuatan pertahankan iman dan jauhi dosa.

Daku tahu betapa dalam dadamu tersimpan sedu sedan.
berpisah jauh dari keluarga lalui beratnya puasa Ramadhan.
Hari-hari berat engkau lalui ditengah mereka yang asyik makan.
Sementara engkau bekerja keras menguras tenaga sekujur badan.

II
Saudaraku, disetiap  tetes  keringatmu terkandung  banyak  pahala.
Karena engkau lalui daratan  dan samudera luas mencari nafkah.
Karena di negerimu sendiri mereka yang miskin tetap ternista.
Dan engkau  harus pergi  berjuang walau  berurai  airmata.

Aku tak tahu, apakah imanmu  terjaga di  negeri orang.
Atau  hancur bak debu  seperti api membakar arang.
Semoga ia tetap kukuh bagai  seperti batu karang.
Dan tetap terjaga dari perbuatan yang dilarang.

III
Saudaraku, aku tahu airmatamu akan mengalir kala takbir bergema.
Teringat  anak, suami, ayah dan bunda  sedang berkumpul dirumah.
Rindukan sholawat dan salam  saat tarawih begitu syahdu bergema.
Dan anak-anak kecil yang bergembira dibawah sinar bulan purnama.

Bersabarlah hidup mencari nafkah di negeri jauh.
Tadahkan tangan dan pada Ilahi engkau bersimpuh.
Mohonkan perlindungan agar iman  selamat dan utuh.
Serta  diridhoi-Nya  jalan  yang kini  terpaksa  ditempuh.

IV
Saudaraku, latihlah  ketajaman jiwa dengan  bangun  malam.
Resapi firman-Nya yang  tak pernah berubah  sejak masa silam.
Niscaya terhadap  kesedihan yang  menimpamu Dia  tak kan diam.
Karena tiada  satu pun makhluk  lebih kuat dari-Nya di seluruh alam.

Kalaulah memang iman dalam  dadamu sangat  berat untuk terjaga.
Cukuplah  bagimu pergi ke negeri jauh mencari nafkah sekali saja.
Hematlah uang  untuk kelak mencari  nafkah dengan wiraswasta.
Karena di segala penjuru rezeki Ilahi akan senantiasa tercurah.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

256-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku!

256-2011. Ibu, Dengarlah Kerinduanku!

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Ibu, sekarang ini bulan puasa hampir tiba.
Terkenang daku masa kecil yang sangat bahagia.
Dengan mata mengantuk bujuk rayumu lembut menyapa.
Bangunkan anak-anakmu agar dari kecil belajar untuk berpuasa.

Teringat daku merengek kehausan  karena letih  main layangan.
Senyum lembutmu membuat rasa ingin minum terlupakan.
Disertai  kisah  tentang  pahala  yang diberikan.
Jadilah lapar haus sampai sore bertahan.

II
Ibu,Ramadhan Telah datang menghampiri.
Titip rindu buat ayah didalam kubur yang sunyi.
Sampaikan  pada beliau  pesan  ayah  selalu  dihati.
Dan akan ananda  pelihara sampai  kelak fana jasad ini.

Ini Ramadhan yang  kesekian puluh kita  tidak bersama.
Sejak daku  pergi merantau  jauh tinggalkan rumah.
Bagaikan anak elang yang terbang ke angkasa.
Tak pernah kembali lagi ke sarang induknya.

III
Kala rindu, kupandangi  cakrawala nan bisu.
Airmata menetes bayangkan masa-masa kecilku.
Jalani hari-hari dalam  kesendirian jiwa sejak dahulu.
Yang sebagai anak laki-laki terlalu lembut seperti katamu.

Ibu, walau separuh jalan hidup yang panjang telah kulalui.
Kata-kata dari mulutmu tak pernah kubuang dari hati.
Bekal jalani  hidup  sebagai  seorang  anak lelaki.
Dan yang membuat langkahku selalu berani.

IV
Anakmu tahu, betapa terjal jalan di depan.
Jauh langkah yang harus ditempuh di perjalanan.
Beratnya hidup yang dijalani dalam menanggung beban.
Untuk itulah seorang ayah karena kerja kerasnya dimuliakan.

Dalam usia yang mulai dekati senja masa kehidupan di dunia.
Bermohon  anakmu doa  dan  keridhoan  dari ibunda.
Agarb jalanku dalam kasih bdan bimbingan Allah.
Sampai kelak menghadap-Nya di alam baqa.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Senin, 11 Juli 2011

242-2011. Syair Untuk Kekasih (7)

242-2011. Syair Untuk Kekasih (7)

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Aku kembali datang pada-Mu dengan membawa hati yang pilu.
Sungguh lidahku tak sanggup ucapkan pinta karena malu.
Diri telah tercampak dari golongan yang Engkau rindu.
Dan tak lagi berharga walau hanya sebutir debu.

Rindu ini  belumlah  rindu yang  telah teruji.
Betapa nafsu begitu kuat mempengaruhi.
Sering perintah suci-Mu hamba khianati.
Hanya demi untuk mencari sesuap nasi.

II
Hamba takut  meminta  terlalu  banyak.
Melihat nikmat-Mu yang  telah terserak.
Ingin diri ini  menangis  sampai  berteriak.
Karena tak patuh  sebagai seorang budak.

Aku tahu, pintu ampunan-Mu selalu terbuka.
Walaupun seorang hamba telah berlumur dosa.
Walau telah sebesar gunung lakukan  yang salah.
Sungguh bimbinglah daku wahai Sang Maha Pemurah.

III
Dalam kebingungan mencari bekal untuk kelak kembali.
Betapa banyak perbuatan salah yang hamba sesali.
Namun  mengapa dosa  yang sama  terulang lagi.
Berilah hamba-Mu kekuatan  wahai  Ilahi Robbi.

Hamba tahu  kesalahan  telah  bertimbun.
Kepada siapa lagi hamba mohon ampun.
Mohon  di maafkan  di hari  berhimpun.
Dan diberi kebaikan sepanjang tahun.

IV
Ampunilah daku yang berlumur dusta.
Banyak  nikmat-Mu tapi terus  meminta.
Tak mampu halau godaan di  depan mata.
Dan terkadang buyar iman yang telah ditata.

Kekasih, berilah  hamba waktu untuk  bertaubat.
Sebelum datang janji dahulu  dijemput oleh malaikat.
Berilah hamba  iman yang  istiqamah, kokoh, dan kuat.
Untuk mencintai-Mu sampai datang ketentuan  diakherat.

Kekasih, Sungguh Engkau Maha Melihat.


al Faqiir


Hamdi Akhsan