Jumat, 17 Agustus 2012

50-2012. Refleksi 67 tahun Kemerdekaan


50-2012. Refleksi 67 tahun Kemerdekaan

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Dahulu di tanah kami pernah muncul para pejuang samudera yang menggetarkan.
Dengan perahu cadik mereka taklukkan angkuh dan ganasnya samudera luas.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun dijelajahinya seluruh negeri.
Kukuhkan  keperkasaan dan jati dirinya sebagai bangsa bahari.

Tanah nan subur menjadi rahmat yang tak dimiliki bangsa lain.
Para raja busungkan dada hadapi  penjajah yang memperbudak rakyat.
Tak akan diserahkan lahan subur dan hutan rimba sejengkalpun pada musuh.
Walau segenap bujuk rayu mengatasnamakan industri dan perdagangan antar negara.

II
Tapi kini, negeriku telah menjadi  sebuah barak besar yang  menjadi kuli para investor.
Jutaan kuli bekerja di perkebunan yang sahamnya dimiliki asing melalui bursa.
Jutaan lainnya berangkat menjadi babu dan kuli di berbagai negara.
Yang dengan kepedihan tinggalkan anak bayi dan keluarga.

Begitu banyak yang bangga bila berhasil datangkan pemodal.
Hutan-hutan sumber oksigen dan tempat hewan pun hancur lebur.
Debu, bahan kimia, dikompensasikan dengan sedikit uang untuk hidup.
Sedang keuntungan yang banyak diangkut tanpa sedikitpun yang tersisa.

III
Kelak, tinggallah tanah-tanah gersang dan rusak untuk  generasi penerus.
Negeri yang subur hanya tinggal  kenangan dan cerita sejarah yang manis.
Kebekajatan & sampah budaya,menjadi biasa dan tak lagi dianggap kanker.
Dan tanah-tanah yang terluka karena dizalimi pun akan berikan balasannya.

Negeri ini, telah terjual dalam kebanggaan sesaat yang menyesatkan jatidiri.
Bak perahu yang tiap penghuninya membuat lubang puaskan keserakahan.
Hanya menunggu saat-saat akhir untuk tenggelam dalam kegagalan.
Dan yang tersisa hanya kesedihan dan penyesalan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 29 Juli 2012

38-2012. Syair Untuk Angga di Limbang Jaya

38-2012. Syair Untuk Angga di Limbang Jaya

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Tersebut dengan sebuah negeri,
yang gemah ripah loh jinawi,
ditopang oleh demokrasi,
terjadi peristiwa yang ngeri.

Di bulan ramadhan penuh berkah,
Limbang jaya pun mengalir darah,
terkena tembakan kepala pecah,
gugurlah anak yang tak bersalah.

Mengapa marah seperti itu,
padahal syaitan telah di belenggu.
mengapa nurani jadi membatu,
dan memperturutkan hawa nafsu.

II
Sedih, tiada kata yang kan terucap,
tatkala semua menjadi kalap,
tak lagi tersentuh tangis dan ratap,
pengaruh syaitan telah menancap.

Apakah terfikir oleh mereka,
sungguh Allah tak pernah buta,
dibalas adil kecuali tanpa,
segala laku segala kata.

Kalau tak sekarang pastilah nanti,
semasa hidup ataupun mati,
di dunia resah selalu hati,
disempitkan pula pintu rezeki.

III
Angga, kelak tagihlah keadilanmu,
di padang mahsyar pasti bertemu,
segala alasan takkan berlaku,
di mahkamah-Nya fakta menang dirimu.

Walaupun engkau anak yang miskin,
puasa selalu pastilah yakin,
meninggal dirimu bak mujahidin,
surga bagimu pastilah yakin.

Ibu dan ayahmu pastilah sedih,
tangis dan sedan beriring rintih,
kehilangan dirimu yang masih putih,
menghadap Allah Maha Pengasih.

IV
Angga, semoga darahmu tak sia-sia,
akan di kenang di Indonesia,
menjadi korban nafsu manusia,
yang menjadi kuat karena kuasa.

Biarlah sejarah menjadi saksi,
tatkala keadilan bertangan besi,
catatan Ilahi tak pernah basi,
terpelihara disisinya begitu rapi.

Untukmu, untuk rakyat yang lemah,
tadahkan tangan kepada Allah,
supaya selalu tegar dan gagah,
serta tak kenal kata menyerah.

V
Kepada Ilahi hamba meminta,
berilah semua hati terbuka,
agar selesai semua sengketa,
menjadi baik  semua kita.

Amarah dan kuasa tiada berguna,
semua jabatan kelak kan sirna,
di akherat kelak akan merana,
dibalas derita laku durjana.

Ya Allah, ampuni kami yang banyak dosa,
berilah kesempatan selagi bisa,
supaya negeri aman sentosa,
sejahtera sampai akhir masa.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 08 Juli 2012

24-2012. Kepada Para Pendusta

24-2012.  Kepada Para Pendusta

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan



I
Engkau katakan pada kami semua ribuan janji.
Yang dari mulutmu sampai  bersumpah demi Ilahi.
Namun seiring waktu perkataan itu tidak engkau tepati.
Sungguh engkau tak takut pada pengadilan di akherat nanti.

Lidahmu  berputar-putar  begitu  fasih  ucapkan  janji dusta.
Seolah  malaikat suci yang  mencatat janjimu itu tiada.
Begitu fasih lidahmu mengatur indahnya bahasa.
Membuat terbuai fikiran  sesama manusia.

II
Apalah lagi jelang engkau butuhkan suara.
Ke semua tempat kau tebarkan senyum dan tawa.
Sosokmu seolah tampil bak calon pemimpin  berwibawa.
Padahal akhirnya rakyat kecil akan tertipu dan kembali kecewa.

Betapa daku tak habis fikir! alangkah  mudah janji engkau ukir.
Mulutmu sesumbar manis bagaikan madu yang mengalir.
Pidatomu  membuat  rakyat  terpukau dan tersihir.
Engkau tak peduli kelak tuntutan Yaumil  Akhir.

III
Manakala engkau  telah  dapatkan  kekuasaan.
Di matamu rakyat  kecil tak lebih hanyalah beban.
Yang tidaklah jadi amanah berat untuk disejahterakan.
Karena  programmu adalah  kumpulkan  harta  kekayaan.

Dosa! hanya sayup-sayup muncul saat sendiri jelang tidur.
Lama-kelamaan hati nurani dan  iman makin  mengendur.
Keserakahan menguat dan  menghilangkan  rasa syukur.
Serta makin kuat hawa nafsu yang diiringi sifat takabur.

IV
Mengapa engkau tak sadar atas akhir kehidupan insani.
Betapa banyak  penguasa di masa  silam terkubur di bumi.
Hartanya yang begitu banyak diperebutkan orang disana sini.
Sedang dikubur ia sibuk  bertanggungjawab pada malaikat Ilahi.

Sungguh sejarah telah mengajarkan buah akhir dari keserakahan.
Tiada yang  dibawa  ke dalam  kubur  lebih dari tiga  lapis kafan.
Begitu beratnya beban  yang dibawa kala  menghadap Tuhan.
Yang bahkan belum masuk liang kubur telah ditampakkan.

V
Wahai  penabur dusta, berhentilah bermain dengan dosa.
Waktu hidup kita di dunia ini hanya sebentar dan sedikit saja.
Ingatlah selalu beratnya pengadilan Ilahi yang  tiada pengacara.
Kecuali  amalan-amalan baik  sebagai perisai dan  pembebas siksa.

Mata, tangan,kaki, telinga, semua akan menjadi saksi setiap insan.
Semua menjadi pemberat atau peringan sesuai amal perbuatan.
Untuk  penentang-Nya  semua akan berakhir dengan siksaan.
Bagi yang takut pada-Nya akan dibalas dengan kebahagian.

Wahai Ilahi ampuni kami yang telah tersimpang jalan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Minggu, 24 Juli 2011

216-2011. Pedangku Hanyalah Kata

216-2011.  Pedangku Hanyalah Kata

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan



I
Kepadamu para pencinta kebusukan dan kezaliman  kutuliskan pesan.
Betapa bangkai-bangkai busuk yang menebar aroma telah dibukakan.
Kami sudah muak dengan  manisnya kata-kata yang dijadikan alasan.
Dan mereka  yang tertindas  dalam ketidak adilan  butuh pembuktian.

Mana dahulu janji-janji manismu yang katanya berlumur madu.
Kini terhadap suara-suara derita kalian hanya membisu.
Seolah-olah  tak mendengar dan  juga tak tahu.
Bagaikan manusia  telah putus urat malu.

II
Kudengar kini  berkembang aji mumpung.
Pemegang amanah  menumpuk harta segunung.
Tahu bahwa kelak ia jadi beban berat yang ditanggung.
Dan disisi Ilahi pasti akan dipertanggungjawabkan dan dihitung.

Di hari ini, suara-suara kebenaran  hanya dianggap  angin yang berlalu.
Para pencuri berdasi yang ada adalah penyuara kebenaran dimasa lalu.
Mengapa kini berbalik mengamalkan semua yang dahulu dianggap saru.
Sungguh  rakyat di  negeri yang  demikian tentulah  akan  bernasib pilu.

III
Mengapa kini rakyat kecil kehilangan kepercayaan.
Mengapa pemegang amanah sibuk menimbun kekayaan.
Mengapa   suara-suara  kebenaran  kini tak  lagi didengarkan.
Yang dihormati adalah mereka yang hidup bergelimang kemewahan.

Isyarat langit berupa  peristiwa alam makin hari  makin tak didengar.
Kehidupan dilalui dengan rutinitas  kesenangan hingar bingar.
Ditebas  segala pantangan dan  larangan dengan sadar.
Sungguh kebusukan moral hidup telah menyebar.

IV
Agama?hanya menjadi hiasa dalam upacara saja.
Dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian saja berguna.
Dalam aktivitas lainnya dipakai dan dilepas sesuai dengan selera.
Diperlakukan seperti orang yang memegang api dalam panasnya bara.

Inilah kata,  senjata  yang  dimiliki orang  yang tak  memegang  kuasa.
Yang dalam  kehidupan sehari-harinya  hanya merupakan  orang biasa.
Yang  mencoba  memberikan  peringatan   sebelum  negerinya  binasa.
Dan kelak terlepas  dalam pertanggunjawaban pada-Nya di akhir masa.


al Faqiir

Hamdi Akhsan

Kamis, 21 Juli 2011

262-2011. Andai Kalian Masih Punya Hati !

262-2011. Andai Kalian Masih Punya Hati !

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Andai saja kalian  masih  punya hati.
Takkan kau biarkan anak-anak miskin ini mati.
Takkan ada  anak-anak  yatim piatu terdampar di panti.
Dan tiada mereka yang terzalimi dalam ketidakadilan yang diratapi.

Setiap hari engkau bertemu  dengan pengusaha di hotel mewah.
Begitu mudah membagi proyek trilyunan sambil tertawa.
Seakan telah mati hati nuranimu didalam jiwa.
Lecehkan Tuhan dengan sikap jumawa.

II
Orang miskin peras keringat dan airmata untuk cari makan sehari.
Sekali korupsi habis engkau foya-foyakan belanja ke luar negeri.
Penghasilan rakyat  sepuluh tahun habis olehmu dalam sehari.
Sungguh  terhadap  perilaku  rakusanmu kami  semua ngeri.

Apakah engkau  tak sadar  hakekat dari  kesementaraan.
Begitu berani engkau langgar larangan-larangan Tuhan.
Seolah engkau tak akan bertemu pedihnya kematian.
Dan akan kebal terhadap sakitnya berbagai siksaan.


III
Andai dalam dirimu masih tersimpan rasa malu.
Tentu  kau akan  mundur  dari  posisimu itu.
Kau akan mohon taubat dari kesalahanmu.
Dan tadahkan tangan pada-Nya tersedu.

Tapi  sayang nuranimu  telah  membatu.
Peringatan Kitab suci kau anggap angin lalu.
Untuk  jujur dalam  berkata  pun lidahmu kelu.
Sungguh tak lagi engkau rindu kasih-Nya yang satu.

IV
Airmataku jatuh melihat kalian sibuk dengan kebohongan.
Dihadapan ratusan juta manusia  kedustaan kalian  nyatakan.
Masing-masing mengatakan  dirinya bersih dan suci dari kotoran.
Tapi percayalah kelak di pengadilan Ilahi kebenaran akan dibukakan.

Aku tak habis fikir,mengapa kalian begitu tega merampok hak rakyat.
Puluhan juta  rakyat  di negeri ini  harus  terpapar  hidup melarat.
Banyak yang sakit menunggu mati kaena tak mampu beli obat.
Sungguh negeri ini  sampai pada  masa datangnya  sekarat.

V
Mengapa engkau tega hidup mewah diatas derita.
Pada segala penderitaan  rakyat engkau tutup mata.
Kau kumpulkan pundi-pundi  uang dan emas permata.
Yang mungkin semua itu berasal dari darah kaum duafa.

Sungguh kasihan dengan apa yang ada dalam jiwamu.
Tatkala syaitan sudah menjadi Raja didalam dirimu.
Yang  membuat  lemah  iman dan  hati nuranimu.
Yang tanpa kau sadari sukses memperdayamu.

Segeralah sadar dan kembali pada Tuhanmu.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 28 Juni 2011

216-2011. Pedangku Hanyalah Kata

216-2011.  Pedangku Hanyalah Kata

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Kepadamu para pencinta kebusukan dan kezaliman kutuliskan pesan.
Betapa bangkai-bangkai busuk yang menebar aroma telah dibukakan.
Kami sudah muak dengan  manisnya kata-kata yang dijadikan alasan.
Dan mereka  yang tertindas  dalam ketidak adilan  butuh pembuktian.

Mana dahulu janji-janji manismu yang katanya berlumur madu.
Kini terhadap suara-suara derita kalian hanya membisu.
Seolah-olah  tak mendengar dan  juga tak tahu.
Bagaikan manusia  telah putus urat malu.

II
Kudengar kini  berkembang aji mumpung.
Pemegang amanah  menumpuk harta segunung.
Tahu bahwa kelak ia jadi beban berat yang ditanggung.
Dan disisi Ilahi pasti akan dipertanggungjawabkan dan dihitung.

Di hari ini, suara-suara  kebenaran  hanya dianggap  angin  yang berlalu.
Para pencuri berdasi yang ada adalah penyuara  kebenaran dimasa lalu.
Mengapa kini berbalik mengamalkan semua yang dahulu dianggap saru.
Sungguh  rakyat di  negeri yang  demikian  tentulah  akan  bernasib pilu.

III
Mengapa kini rakyat kecil kehilangan kepercayaan.
Mengapa pemegang amanah sibuk menimbun kekayaan.
Mengapa   suara-suara  kebenaran  kini tak  lagi didengarkan.
Yang dihormati adalah mereka yang hidup bergelimang kemewahan.

Isyarat langit berupa  peristiwa alam makin hari  makin tak didengar.
Kehidupan dilalui dengan rutinitas  kesenangan hingar bingar.
Ditebas  segala pantangan dan  larangan dengan sadar.
Sungguh kebusukan moral hidup telah menyebar.

IV
Agama?hanya menjadi hiasa dalam upacara saja.
Dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian saja berguna.
Dalam aktivitas lainnya dipakai dan dilepas sesuai dengan selera.
Diperlakukan seperti orang yang memegang api dalam panasnya bara.

Inilah kata,  senjata  yang  dimiliki  orang  yang  tak  memegang  kuasa.
Yang dalam  kehidupan sehari-harinya  hanya merupakan  orang biasa.
Yang  mencoba   memberikan  peringatan   sebelum  negerinya  binasa.
Dan kelak terlepas dalam pertanggunjawaban pada-Nya di akhir masa.


al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 05 Juni 2011

15-2011. Gugatan Sang Demonstran

15-2011.  Gugatan Sang  Demonstran

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan
I
Wahai Tuan...
Kelak di depan Mahkamah Ilahi engkau akan tertegun.
Kami akan menagih uang yang engkau kumpulkan bejibun,
Kami akan tuntut darah saudara kami yang ditembak dengan tentara satu garnisun,
dan menuntut segala kebohongan yang dengan rapi telah engkau susun.

Kami muak...
Dengan kata-kata indah berselimut dusta,
Pergi kesana kemari habiskan ratusan milyar uang negara.
Bungkus kegagalan demi kegagalan dengan menyalahkan situasi dunia,
dan mempermainkan nilai mata uang sehingga menjadi semakin tak berharga.

Belum  lagi, hebatnya  korupsi  makin hari makin besar laksana  tumor ganas.
Menghisap darah rakyat kecil dengan sangat rakus dan trengginas,
Masuk ke rekening mereka yang rakus melebihi binatang buas.
Dan atas semua jeritan kaum papa yang selalu tergilas.
Kelak di akherat engkau akan dibalas.
dan...pasti impas.

III
Tuan...
Didesaku begitu banyak  perempuan yang menjadi  tenaga kerja wanita  ke luar negeri,
Karena dengan gaji dan kemewahan  fasilitasmu, lapangan kerja tidak bisa engkau beri,
Pintar benar engkau, arahkan media dan pakar sibuk dengan penganiayaan yang bikin ngeri.
Sedikit yang tahu kalau itu cara yang paling murah untuk keluar dari ketakmampuan diri.

Tuan...
Katanya negeri tuan adalah negeri orang-orang yang taat ibadah.
Bahkan kadang  secara menyolok orang bersama-sama istighosah,
Setiap tahun ratusan ribu haji dan jutaan yang pulang dari umrah,
Rumah ibadah dari segala  agamapun tumbuh  bagai  air tercurah,
Tapi mengapa kehidupan semakin sulit dan rakyat makin sengsara.

Tuan...
Suaraku sudah serak dari tadi  tak henti teriak-teriak  sampaikan  apa yang jadi kehendak.
Dibelakangku hanya  mereka yang memang berani atau belum kebagian kue yang banyak.
Sebahagian besar kawan-kawanku telah dibeli dan  sekarang ikut  juga mengkoyak-koyak.
Dan percayalah...sebentar lagi aku akan diambil dan dituduh telah berbuat yang tak layak.
Tuan...
Sebelum aku beranjak  pergi,
terakhir kusampaikan satu kalimat lagi,
Sehebat-hebatnya dirimu, kelak pasti akan mati,
dan dituntut ratusan juta orang didepan Mahkamah Ilahi.

Inderalaya, Februari 2011
al Faqir

Hamdi Akhsan. 


Rabu, 18 Mei 2011

156-2011. Deklarasi Untuk Partai Politik 2014

156-2011. Deklarasi Untuk Partai Politik 2014
                 (Kilas Balik Reformasi 21 Mei 1998)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

Kepada Merekakah negeri ini kita serahkan?
I
Hari ini kepada mereka yang punya hati nurani daku serukan.
Kekayaan negeri tanpa merasa bersalah telah dibagi-bagikan.
Begitu banyak  mereka yang diberi amanah tak menjalankan.
Tinggallah  rakyat jadi  objek dan  hidup dalam  kemelaratan.

Empat belas tahun  sudah reformasi  terjadi kami   bersabar.
Menunggu  janji-janjimu manismu akan datang baiknya kabar.
Tatkala pemilu segala janji mensejahterakan engkau umbar.
Dan sampai hari ini sekecil  apapun  realisasinya  tiada kabar.

Rencana Gedung baru DPR 1,6 Trilyun
II
Betapa  angkuhnya  kata-katamu kala  bicara melukai rakyat.
tak sadar bahwa apa yang engkau  sembunyikan kami  lihat.
Habiskan uang pajak jalan-jalan keluar negeri  untuk maksiat.
Sungguh pembangkanganmu pada Ilahi sudah begitu hebat.

Lihatlah, sebentar  lagi  gedung yang  akan engkau bangun.
Terperangah kami  lihat tahu anggarannya lebihi satu trilyun.
Padahal tiap bulan puasa rakyat miskin antri berduyun-duyun.
Sungguh kelak  kau akan disula  dengan rantai besi berayun.

III
Kami tak tahu lagi harus bicara pada siapa dan berkata apa.
Sekuat  apapun  teriakan engkau   tetap menutup telinga.
Sehebat  apapun kritik tidak  membuat prilakumu berubah.
Maka  satu-satunya  jalan adalah  perlawanan  harus ditata.

Kini,kami telah kehilangan kepercayaan sepenuhnya padamu.
Tak akan lagi  kami pilih apapun  janji dan darimana partaimu.
Selama ini  ada yang  seolah memang  bersih  padahal semu.
Tak akan mempan lagi segala pendekatan dan bujuk rayumu.

Disinilah kami yang kalian wakili tinggal

IV
Kepada rakyat yang selama ini hanya dijadikan permainan.
Di hari ini gerakan anti partai mari kita deklarasikan.
Adalah hak rakyat untuk tak memperdulikan.
Biarlah nanti keputusan Tuhan berikan.

Rakyat sudah jera dengan dusta-dusta.
Tidak  ada yang berubah dengan kata-kata.
Jangan mau lagi hanya dijadikan objek penderita.
Mari bersatu tinggalkan partai membangun negeri tercinta.

Pahlawan Reformasi yang dikhianati
V
Tak ada  guna  lagi  perbaikan- perbaikan  yang  dijanjikan.
Karena semua permintaan nanti hanya untuk diproyekkan.
Mengisi  pundi-pundi  untuk pesta  pemilihan lima tahunan.
Setelah terpilih lagi mengeruk modal yang telah dikeluarkan.

Wahai rakyat negeri, jangan pernah mau diperbodoh lagi.
Cukuplah  tiga kali  pemilu  lontarkan  manisnya  janji-janji.
Kenyataannya bertolak belakang dengan apa yang terjadi.
Sungguh kehancuran kini sudah merata di seluruh negeri.

VI
Kami bukanlah rakyat yang begitu bodoh untuk mengerti.
Segala  kekayaan alam  di negeri ini telah Tuhan beri.
Tapi mengapa rakyat  susah mencari sesuap nasi.
Sungguh sebuah ketak adilan yang sakiti hati.

Kemana kami  akan  pergi menjual  hasil alam.
Jalan-jalan kami rusak parah hanya ditambal sulam.
Sedang wakil kami hidup bak dalam kisah 1001 malam.
Sungguh ketdkberdayaan seperti ini yang lahirkan dendam.

VII
Kepada siapapun yang berada dalam partai kami tidak percaya.
Anak-anak  kamilah yang saat  reformasi kurbankan darah.
Sedang kalian saat itu entah  sedang berada dimana.
Sekarang hidup mewah & bergaya pahlawan pula.

Hari ini kunyatakan selamat tinggal partai politik.
Melalui ujung pena daku takkan berhenti mengeritik.
Sampai cita-cita saat reformasi dahulu dapat kembali balik.
Dan rakyat pemilik negeri ini kelak diperlakukan dengan baik.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

155-2011. Kidung Sunyi Untuk Pahlawan Reformasi

155-2011. Kidung Sunyi Untuk Pahlawan Reformasi
                 (Jelang 21 Mei 1998-21 Mei 2011)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

Moses Gatut Kaca Pahlawan Reformasi
I
Hari ini aku  menangis saksikan hasil  benih yang engkau tanam.
Cita-cita mulia yang dahulu engkau perjuangkan kini tenggelam.
Di tangan mereka yang  menjadi petualang  politik ia terbenam.
Dan  keinginanmu untuk  bahagiakan rakyat telah makin suram.

Dulu cita muliamu harus ditebus dengan aliran darah dan airmata.
Ayah dan bundamu meratapi kepergian anak mereka tercinta.
Berharap agar  kematianmu  jadi  penebus tercapainya cita.
Namun kini harapan itu telah menyimpang jauh ternyata.

II
Darahmu yang suci dikhianati mereka yang bernama politisi.
Habiskan  uang pajak  rakyat  pergi  berbelanja keluar negeri.
Sibuk  kumpulkan uang  berbagai sumber  untuk  mencalon lagi.
Bahkan memikirkan bagaimana dalam partai ciptakan sebuah dinasti.

Hari ini keadilan untuk mereka yang tak berpunya jadi barang mahal.
Bagi mereka yang kaya hukum bisa disiasati dengan seribu akal.
Sebagai narapidana kehidupan  istimewa bisa didapat bakal.
Sungguh tragis kala hukum dikuasai mereka yang nakal.
Para pejuang hati nurani

III
Hari ini cita-citamu untuk  membasmi KKN telah kandas.
Keluarga para politisi telah membentuk  dinasti secara jelas.
Jabatan-jabatan penting dan strategis tak mungkin akan dilepas.
Tinggallah rakyat kecil yang kesulitan dan hanya bisa menghela nafas.

Betapa sedihnya, tatkala negeri yang kaya raya  menjadi tak berdaya.
Sumber  alam bukan  dikelola malah  diserahkan  pada penyewa.
Rakyatnya pergi menjadi kuli dan pembantu di mancanegara.
Dalam penghinaan dan menjadi sapi perah sumber devisa.

IV
Pahlawan  Reformasi, inilah negeri  yang dulu kau citakan.
Dimana-mana mewabah korupsi yang ingin dulu kau habiskan.
Otonomi ciptakan raja-raja kecil  yang hidup dalam kemewahan.
Dan mereka pun mengelola pemerintah bagaikan sebuah kerajaan.

Kalaulah engkau bisa bangkit dari kubur dihari ini kau akan terkejut.
Melihat penentang korupsi angkatanmu dulu kini jadi pengikut.
mungkin  mereka  memang  terdesak  atau  karena takut.
Namun yang jelas tujuan mulia semula kini tercerabut.

Dan bunga pun berguguran
V
Kutuliskan  kidung sunyi  untukmu  yang  telah pergi.
Memberitahukan  padamu  bagaimana  kini wajah negeri.
Agar segala pengurbanan darahmu dahulu tidak engkau sesali.
Karena kelak akan datang generasi yang menggugat sepertimu lagi.

Sungguh  malang, negeri yang  di dalamnya  bertumpuk  kekayaan.
Namun lemahnya kepastian penegakan hukum dan pemerataan.
Semoga atas semua kedurhakaan ini tidak ditenggelamkan.
Dan datang suatu masa yang membawa kesejahteraan.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 17 Mei 2011

153-2011. Hentikanlah Dusta Itu (Kepada Pemimpin)

153-2011. Hentikanlah Dusta Itu (Kepada Pemimpin)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Berhentilah bermain-main dengan amanah yang diberikan padamu.
Karena ia akan membakar habis sampai ke tulang-tulangmu.
Yang akan membawa penderitaan nan abadi untukmu.
Dan tiada seorangpun kelak  akan menolongmu.

Berhentilah bermain kata untuk alihkan masalah.
Berhentilah  bersilat lidah  tutupi program  yang salah.
Karena lidah yang berbohong itu kelak akan berlubang disula.
Dan yang tinggal hanya penyesalan dalam perihnya siksa di neraka.

II
Berhentilah  engkau  menganggap  enteng  firman-firman  Tuhan.
Kelak  engkau akan  menyesalinya  setelah datang  kematian.
Tatkala tiada lagi kebenaran yang bisa kau sembunyikan.
Tatkala nanti terbuka semua buruknya perbuatan.

Berhentilah  bermewahan  ditengah  penderitaan.
Karena Tuhan sangat tidak suka  dengan ketidakaadilan.
Setiap rakyatmu yang kelaparan  kelak akan ajukan tuntutan.
Yang bagimu kelak pasti akan menimbulkan sangat banyak kesulitan.

III
Pemimpin, berhentilah pura-pura simpati dengan datangnya musibah.
Kau lapis wajah dengan bedak  pucat apabila terkena cahaya.
Rambutmu sengaja dibuat kusut seolah-olah merasa iba.
Dan di depan televisi rakyatmu menjadi terkesima.

Pemimpin, kalau engkau  memang  takut akherat.
Mengapa tak sungguh-sungguh engkau tunaikan amanat.
Bekerja keras mengunjungi dan santuni rakyatmu yang melarat.
Daripada  sibuk mencari muka  berkunjung  ke negara-negara barat.

IV
Pemimpin, hentikanlah  dusta  dengan  memanipulasi  angka-angka.
Karena negara yang bersih distribusi pendapatan cukup merata.
Tidaklah dalam jurang menganga antara si miskin dan kaya.
Dan hukum pun tidak berpihak kepada yang berpunya.

Apapun katamu.Hanya bisa menipu fikiran sedikit orang.
Mereka yang tahu hanya mengelus dada tanda keperihatinan.
Di negeri yang amat kaya dan subur rakyat hidup dalam kemiskinan.
Walaupun telah  bekerja sekuat  tenaga  tetap dalam  ketakberdayaan.

V
Pemimpin, tahukah engkau mengapa kebusukan sampai ke level bawah.
Apapun perintahmu untuk menegakkan hukum tak ada wibawa.
Itu karena anak  buahmu diam-diam  semuanya  tertawa.
Atas perintah yang tidak selaras perbuatan dan kata.

Pemimpin, kalau engkau  ingin dihormati  dan ditaati.
Mulailah semuanya dari dalam diri dan keluargamu sendiri.
Jadilah pemimpin yang sederhana yang rajin pergi silaturahmi.
Tak perlu membawa pengawal tinggi besar dan pasukan se kompi.

VI
Pemimpin,sehebat-hebatnya dirimu. kematian kelak akan datang.
Semua penjilat  di sekelilingmu  semuanya  akan menghilang.
Datanglah  malaikat Ilahi yang tak  perlu engkau  undang.
Menuntut tanggungjawab jabatan yang kau sandang.

Belumlah terlambat bagimu untuk memulai perbaikan.
sebagaimana dahulu khulafaur  Rasyidin diamanahkan.
Siang  dan malam  kepedihan rakyat  mereka fikirkan.
Hasilnya  kemakmuran  dan keadilan yang didapatkan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 03 Februari 2011

41-2011. Demontran Bayaran

41-2011. Demontran Bayaran

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Demonstran pendukung mubarak ; tegap,rambut cepak, dan terampil
 
 
I
Inilah kisah  zaman  sekarang,
diseluruh dunia dipakai orang,
para demostran yang garang-garang,
untuk bertahan atau menyerang.

Pemimpin zalim ingin bertahan,
dicari tenaga dipukul tahan,
siap pula pura-pura ditahan,
untuk tipu manusia dan lawan Tuhan.

Uang ditabur tentu seraya,
dengan menghitung unsur biaya,
tak apa karena mereka kaya,
supaya penonton bisa diperdaya.

II
Rakyat tak tahu memang tertipu,
ada pendukung pemimpin begitu,
bentrokan berdarah terjadi tentu,
padahal pendukung semua palsu.

Yang nyamar bisa juga petugas,
lihat badannya gagah dan tegas,
wajahnya terlihat pada beringas,
pakaiannya nampak ringkas-ringkas.

Kalau mereka dari swasta,
ada lembaga tempat meminta,
setelah nego demo ditata,
sesuai dengan pesanan kita.

III
Itulah kita harus waspada,
demontran murni dipukul sudah,
berdoa kita didalam dada,
supaya kisruh segera mereda.

Pemimpin zalim akalnya licik,
yang benar jadi salah terbalik,
kumpulkan uang emas sebilik,
kelak disiksa sampai mendelik.

Pada mereka yang kena bayar,
ingatlah selalu dosamu besar,
membela mereka yang sudah kesasar,
memukul rakyat seenak pusar.

IV
Itulah madah tentang demonstran,
ada yang bayaran ada beneran,
tak perlu kita menjadi heran,
karena zaman sudah keteteran.

Pada mereka yang lurus hati,
berharap moga berhati-hati,
terhindar dari lecutan cemeti,
ataupun luka setengah mati.

Pada pemimpin yang rakyat benci,
jantanlah jangan seperti banci,
padahal kotor masih sok suci,
sungguh terhina bagai kurcaci.

V
Jadilah pemimpin yang tidak pekak,
tahu hak dan kewajiban letak,
amanah emban janganlah retak,
supaya dicinta rakyat yang banyak.

Bekerjalah engkau secara adil,
jangan biasa gunakan bedil,
pasti dikabul doa rakyat kecil,
sengsara engkau dicabut izrail.

Madahku selesai sampai disini,
moga berguna dan dimengerti,
Bermohon hamba pada Ilahi,
moga diampun salahnya diri.

Inderalaya,
Al Faqiir

Hamdi Akhsan.