Kamis, 16 Agustus 2012

51-2012. Syair Mudik (2)

51-2012. Syair Mudik (2)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Setahun sudah waktu hampir berlalu,
kudengar dendang kerinduan seorang anak,
mengenang cinta ayah dan bunda dimasa kecil,
Rindu, kicau burung desa menembus embun pagi.

Pergi merantau membawa mimpi sering tak seindah realita.
Kadang hati nurani harus dibunuh agar mampu bertahan.
Ketakutan akan terasing membuat idealisme patah.
Dan tinggallah perjalanan hidup tanpa makna.

II
Mudik, sesaat  melepas letihnya beban hidup.
Mencari setetes ketulusan yang tersisa dalam keluarga.
Berharap senangkan orang tua selama nafas masih ada,
atau menatap kubur sunyi dalam lantunan doa.

Adalah kerinduan kadang tak sesuai harapan.
Rencana berbahagia di kampung jadi penderitaan.
Taqdir menghendaki terjadi kemalangan dalam perjalanan.
Tinggallah air mata yang menetes dari sanak keluarga.

III
andai saja, biaya mudik diinfaqkan untuk kaum duafa.
Mungkin negeri ini telah menjadi negeri yang kaya raya.
Tak ada lagi yang tadahkan tangan jadi peminta-minta.
Sebagai bagian dari upaya jadikan umat bangsa nan jaya.

Tapi harapan itu hanya lintasan kosong dari angan-angan.
Betapa sulit mereka yang berpunya ulurkan tangan.
Apa lagi kebanyakan  manusia takut kemiskinan.
Dan dari kecil sifat memberi tidak dibiasakan.

IV
Lebaran menjelang, BBM habis berjuta liter.
Jalan-jalan penuh sesak berdebu oleh kendaraan.
Uang yang dibelanjakan ratusan milyar untuk makanan.
Setelah itu memulai lagi untuk modal mudik tahun depan.

Lingkaran itu bermakna dalam menggerakkan roda ekonomi.
Namun hanya  pada tingkat terendah berbentuk  konsumsi.
Para pemilik modal mengambil keuntungan genjot produksi.
Dan bangsa ini kembali jadi objek pengusahal luar negeri.

Sebuah kerinduan kampung halaman yang begitu mahal.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 26 Juli 2012

37-2012. Renungan Ramadhan (1)

37-2012. Renungan Ramadhan (1)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Mengapa di keindahan Ramadhan tiba-tiba ada kesedihan melanda jiwa .
Ia datang bak singa gurun yang muncul dari gelapnya debu sahara.
Menghujam dalam  membelah kembali  rapinya tautan luka.
Jadikan diri bagai seekor domba dalam intaian singa.

Kesendirian batin dalam gempita kehidupan.
Berpacu dengan dalamnya kesedihan.
Bak musafir yang tersesat di jalan.
Pada kesucian yang dirindukan.

II
Cakrawala nan bisu adalah saksi.
Bagi  perjalanan  insan tiap generasi.
Segala peradaban yang datang dan pergi.
Dan hanyalah Sang  Pemilik Jagat yang abadi.

Mengapa kebenaran Ilahi  kini tertutup awan hitam.
Para pemegang kebenaran dipandang dalam keganjilan.
Seolah berpegang pada jalan-Nya adalah  suatu kesalahan.
Sedang pelanggaran atas perintahnya kian menjadi kebiasaan.

III
Ramadhan  tiba, menjadi masa   merebut  keuntungan dunia.
Kesempatan  menumpuk pundi harta  sebanyak-banyaknya.
Harga-harga  kebutuhan perut  dinaikkan  sesuka-suka.
Dan kaum duafa yang ada menjadi kian menderita.

Ramadhan hanya jadi tradisi menahan lapar.
Tidak habis keserakahan yang mengakar.
Atau  kembalikan jiwa  yang kesasar.
Tiada perubahan yang mendasar.

IV
Adalah suatu renungan kesedihan.
Saat melihat kemewahan hari lebaran.
Seakan ramadhan hanya tinggal kenangan.
Yang telah berlalu sebagai sebuah keterpaksaan.

Mengapa?Substansi yang demikian indah lantas ternoda.
Kembali terulang di segala tempat prilaku yang berlumur dosa.
Tinggallah kenangan bulan ramadhan penuh rahmat di relung jiwa.
Dan kembali manusia kepada  prilaku akhir zaman yang gegap gempita.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Kamis, 19 Juli 2012

32-2011. Ratapan Seorang Musafir Tua

32-2011. Ratapan Seorang Musafir Tua

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Kekasih,
Kini diakhir perjalanan mata jiwaku nan gelap telah terbuka.
Cahaya-Mu datang bak kerinduan Musa pada-Mu di lembah Tuwa.
Kerinduan yang hancurkan angkara nafsu keangkuhan seorang hamba.
Yang telah jelang akhir pengembaraan menuju perbatasan duka dan bahagia.

Airmataku! pertanda diri telah  menyerah dalam  pertarungan  sejati duniawi.
Nestapa jiwa dalam kehampaan tutupi keangkuhan diri yang tak disadari.
Kaki tak lagi mampu  melangkah  untuk  bangkitkan  kesejatian diri.
Hanya pasrah ikuti aliran ombak ke samudera luas tak bertepi.

II
Kekasih,
Betapa agung cahaya yang Engkau tampakkan dalam rahasia.
Cahaya-Mu yang mampu mengobati kerinduan nan abadi dalam jiwa.
Cahaya-Mu yang agung telah getarkan bisik kerinduan milyaran manusia.
Cahaya-Mu yang mampu hancurkan beratnya godaan Iblis sang raja angkara.

Kini, hanya kepasrahan  dalam nafas menderu  jelang kematian kuhadapkan.
Bait demi bait nyanyian rindu yang tak bertepi bisa hamba haturkan.
Betapa perjalanan yang meletihkan ini telah di batas tujuan.
Penuhi panggilan-Mu sebagaimana dahulu perjanjian.

III
Kekasih,
Mengapa langit menjadi gelap dan tiada lagi matahari?
Perlahan cahaya mata ini makin redup dari pesona duniawi.
Hanya tertinggal detik demi detik perlahan nyawa ini akan pergi.
Tinggallah kelak diri hamba bersama para penghuni kubur yang sunyi.

Mengapa amat kurang syukurku atas pemberian yang kini menghilang.
Dahulu dunia begitu indah bagai hijaunya gunung yang menjulang.
Tapi kini hanya beratnya nafas memburu penghantarku pulang.
Sungguh terlambat  sesal ini kala mentari  jiwa telah petang.

IV
Ingin kuteriakkan pada para penyair pemuja keindahan nafsu.
Tak guna pemujaan  yang lahirkan setumpuk kebanggaan palsu.
Pekikan demi  pekikan yang memukai, kelak akan  dianggap angin lalu.
Sedangkan jiwa manusia yang terbawa dalam gelap kelak menjadi sekutu.

Kekasih,dalam asa yang begitu lemah bak pasrahnya domba di mulut singa.
Dalam genggaman malaikat maut-Mu yang menunggu di depan mata.
Dalam penyesalan yang membuat tak berhenti alirkan airmata.
Berilah hamba ampunan walau bagai debu di jagad raya.

Kekasih, hanya padamu kusandarkan asa.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Jumat, 06 Juli 2012

021-2012. Syair Cinta Seorang Pengembara (6)



021-2012. Syair Cinta Seorang Pengembara (6)

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan

I
Guru, senja usia jelang mentari tenggelam kini telah hadir di depan mataku.
Kala dinginnya fajar telah mendekat tulang-tulangku mulai terasa ngilu.
Lintasan peristiwa demi peristiwa datang dari  jauhnya masa lalu.
Dan hari-hari kehidupan makin dekat ke kubur sunyi nan bisu.

Sedang kini, peradaban akhir zaman kian menggila.
Mereka  yang lemah  menjerit  tidak  berdaya.
Maksiat  dan dosa kini  makin merajalela.
Dan Kekuatan iblis makin berkuasa.

II
Dominasi ruhani kian terpinggirkan.
Agama dianggap masa lalu peradaban.
Kalaupun ada ia telah banyak dikomersialkan.
Yang dihargai dan dikaitkan dengan larisnya iklan.

Kesederhanaan dan kerendahan hati? jadi cemoohan manusia.
Harta dan kekuasaan menjadi indikator kesuksesan yang memperdaya.
Tak peduli bagaimana diperoleh dan bagaimana mempertanggungjawabkannya.
Sungguh jelang kiamat ini  peradaban dajjal yang  menyesatkan sudah begitu dipuja.

III
Kini,pejuang suci yang tinggalkan kesenangan duniawi menjadi pihak yang disalahkan.
Suara pemegang panji kebenaran dianggap pekik yang mengganggu pendengaran.
Kehidupan manusia, hanya habiskan umur  dengann  permainan  mengasyikkan.
Dan masa emas waktu muda pun berlalu tanpa ada karya yang dibanggakan.

Guru, tak sanggup lagi  muridmu angkat  kepala atas ketakberdaan diri.
Tangis dan  sedanku tertahan  melihat  kerusakan  hebatnya bumi.
Tinggal  sedikit  pembawa  obor kebenaran  dan pencinta Ilahi.
Dan para murid yang tekun pun satu per satu telah pergi.

IV
Guru, dalam masa yang tersisa murid akan berupaya.
Untuk  dapatkan seorang  pengganti yang gagah perkasa.
Yang matanya tajam bak elang pemburu di tingginya angkasa.
Yang tak mengenal takut pada sesama makhluk dimanapun berada.

Murid berdoa dan berharap akan ada seekor rajawali ditengah ribuan ayam.
Dengan pekiknya  membelah angkasa membuat jiwa penghuni bumi tercekam.
Yang dengan ketajaman sinar matanya sanggup tembus pekat dan gelapnya malam.
Dan sanggup menjadi  pemimpin agung seperti  Salahuddin Al Ayubi bak di masa silam.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 14 Juni 2012

018-2012. Untuk Saudaraku di Rohingya

018-2012. Untuk Saudaraku di Rohingya

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Saudaraku, hari ini kembali terdengar kebiadaban yang hampir tak bisa dipercaya.
Ribuan muslimin telah dihina, dibantai dan diusir dari rumahnya di Rohingya.
Jerit tangis dan ratapan kaum ibu serta kumandang takbir menggema.
Hadapi kezaliman penguasa bersenjata yang amat semena-mena.

Ribuan mereka terkatung dalam perahu menahan haus dan lapar.
Diberbagai tempat bergeletakan mayat saudara muslim yang terkapar.
sedang di negeri kami, duaratus juta saudaramu asyik dengan pesta akbar.
Tanpa peduli kepadamu yang hidup terhina dalam ketakutan,tangis dan lapar.


II
Inikah persaudaraan sejati, segolongan asyik menonton bola dan lainnya mati?
Inikah iman, kala dengan kekejian terhadap  saudara tak tersentuh hati.
Atau memang penghinaan yang sama harus terlebih dulu dialami.
Barulah  merasuk rasa persaudaan iman di dalam  sanubari.

Wahai anak cucu singa gurun pasir arabia!engkau dimana?
Dimana kini para pengembara surga yang dulu begitu perkasa?
Yang rindukan kebahagiaan Ilahi dalam indahnya Jannatul Ma'wa.
Dan hanya memilih jalan kemenangan atau kesyahidan di medan lagi.

III
Manalah para Rajawali yang bila mengaum akan menggetarnya musuh.
Atau kini mereka telah terbiasa dengan kehidupan burung puyuh.
Yang tak lagi berani gertakkan gigi berjuang memeras peluh.
Serta terhadap penghinaan harga diri tak lagi tersentuh.

Rohingya?sebuah bukti baru mengapa banyak bencana.
Karena umat selamat telah memilih jalan yang begitu terhina.
Menyerahka kehormatan muslimah dan anak-anak tanpa pembela.
Untuk dijadikan bahan tertawaan musuh tanpa keberanian sedikit saja.

IV
Mengapa,kehilangan kepercayaan diri seperti kehancuran Bagdad dahulu.
Bak Khawazin yang gemetar hadapi  kecongkakan  pasukan Hulagu.
Biarkan pembantaian dan bersekutu dengan musuh tanpa malu.
Sungguh, tiada rahmat dan  pertolongan Ilahi  apabila begitu.

Saudaraku di Rohingya, berjuanglah dengan iman kuat di dada.
Walau di negeri Ratusan juta saudaramu tak peduli engkau dianiaya.
Yakinlah dengan iman dan kesabaran kekuatanmu akan berlipat ganda.
Dan kehormatan kalian akan diperoleh dengan kebanggaan para syuhada.


al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 13 Juni 2012

016-2012. Surat Seorang Anak TKW pada Ibunya

016-2012. Surat Seorang Anak TKW pada Ibunya

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu!Sayup-sayup  teringat olehku kata-kata itu pernah  terucap belasan tahun yang silam.
Kata-kata yang kurengekkan dengan dengan manja dalam pelukanmu ditengah malam.
Tanganmu yang lembut merengkuh membuatku tidur begitu nyenyak dan nyaman.
Itulah  keindahan  yang terekam  kabur  dalam benakku yang  timbul  tenggelam.

Ibu, di hari itu terakhir engkau memelukku begitu erat dan dadamu tersedan.
Engkau tahan airmata mengalir deras membuat sampai terguncang badan.
setelah itu tidak lagi  kurasakan pelukan  hangatmu yang diiringi belaian.
Hanya ada kidung doa nenek menimangku sampai terlelap kecapaian.

II
Hari  berganti  minggu, bertahun sudah berlalu tanpa  terasa.
Terasa aneh diri saat mulai  bermain dengan teman seusia.
Mengapa ayah dan ibunya masih begitu kuat dan muda.
Sedang nenek yang  kupanggil ibu sudah begitu tua.

Sering, nenek berikan telepon genggam ditelingaku.
Aku tidak  mengerti  mengapa ada suara isak  tersedu.
Barulah berbilang tahun aku mengerti bahwa itu suara ibu.
Yang pergi sangat jauh mencari nafkah untuk masa depanku.

III
Sebenarnya anakmu tidak tahu mengapa ibu harus pergi begitu jauh.
Di kanan kiri rumah  anak dan orangtua berkumpul dalam keluarga utuh.
Walau hidup mereka  sederhana dan harus  bekerja keras memeras peluh.
Tapi di malam hari terdengar canda yang diiringi gelak tawa yang begitu riuh.

Sedang aku! sering  merasa ada yang hilang & kosong dari jiwa yang terdalam.
Termenung sendiri hadapi setumpuk mainan yang tiap tahun engkau kirimkan.
Aku ingin  dininibobokkan dan bermain  dengan ibunya  seperti teman-teman.
Tertidur pulas dalam pelukan dan tatatan hangat matamu yang menyejukkan.

IV
Ibu, entah apa yang terjadi  dengan masa kecilku yang  sering  menyendiri.
Menahan  airmata dan menghayalkan bertemu denganmu dalam mimpi.
Rindukan ibundaku yang telah bertahun-tahun bekerja diluar negeri.
Yang kata  nenek padaku  sebentar dan  sebentar lagi  kembali.

Ibu, pulanglah. Cukup  tempe dan tahu asal kita bersama.
Biarlah kita bersama  tinggal di rumah yang sederhana.
Asalkan kita saling berbagi dalam duka dan bahagia.
Ibu kembalilah, Tuhan akan mencukupkan kita.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 09 Februari 2012

002-2012. Musafir Senja.

002-2012. Musafir Senja.

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Hari ini mentari telah tergelincir lewati masa puncak seorang insan.
Bak kuntum bunga, pelan mulai layu ditelan gempita zaman.
Bermula tiada, sebentar lagi kembali dalam kefanaan.
Tinggalkan dunia dan hiruk-pikuk kehidupan.

Usia empat puluh dua tahun ini akan berlalu.
Begitu cepat bagaikan kilat berlalunya sang waktu.
Sedang jasad rapuh telah terkotori oleh banyaknya debu.
Dan di depan kubur yang sempit dan sunyi dengan setia menunggu.

II
Wahai diri yang kerap terlena oleh kehidupan dunia yang mempesona.
Sesungguhnya hidup ini hanya berisi tangisan dan gelak tawa.
Simetri pasti antara hadirnya kesedihan dan bahagia.
Yang tidak lebih bagai panggung sandiwara.

Apalah arti kegagahan dan kecantikanyang sedikit.
Ukurannya hanya dipengaruhi keriput dan kencangnya kulit.
Apalah makna keindahan jasad bila diperolah dengan rasa sakit.
Sedang dosa dan kelalaian makin menggunung lebihi besarnya bukit.

III
Waktu makin dekat, seorang pencinta akan pergi jumpai Sang Kekasih.
Membawa wajah  tertunduk harap ampunan Sang Maha Pengasih.
Berharap kembali seperti kala datang dengan fitrah yang putih.
Serta terjauh dari azab Sang  Pemilik yang  begitu perih.

Hari telah senja lalui  separuh jalan  musafir  kehidupan.
Begitu lelah lalui banyaknya peristiwa dan segenap kejadian.
Walau terus melangkah, namun ia tahu telah dekat ujung jalan.
Kembali pada-Nya sebagaimana janji saat masih dalam kandungan.

IV
Sungguh segala fenomena yang ada secara hakekat  telah terbuka.
Karena hukum-hukum-Nya selalu berlaku sepanjang masa.
Membebaskan insan untuk memilih  sesat atau taqwa.
Yang  kelak akan membawa implikasi di alam baqa.

Kini, banyak yang hanya tersimpan dalam sanubari.
Mencoba melangkah ke depan untuk lebih berhati-hati.
Menyeimbangkan perjuangan hidup duniawi dan ukhrowi.
Dan diri bersiap menyambut kedatangan kematian yang pasti.

Al Faqiir
Jelang 43 tahun usia


Hamdi Akhsan

Senin, 26 Desember 2011

305-2011. Ibu, Dengarlah Tangisan Jiwaku (2)

305-2011. Ibu, Dengarlah Tangisan Jiwaku (2)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu, malam telah semakin larut dekati waktu pertengahan.
Mengapa  airmata  ini tak mampu jua untuk kutahan.
Kuratapi kepedihan jiwaku dalam sesenggukan.
Bak Pahlawan yang  hancur dalam  kekalahan.

Ibu, anakmu hilang semangat yang membaja.
Tak mampu tegakkan kepala seorang kesatria.
Kerja keras sepanjang waktu seolah tiada berguna.
Dan semua  yang kubangun  menjadi hambar dan hampa.

II
Ibu, maafkan atas jiwa kanak-kanakku yang begitu rapuh.
Betapa ingin mengadu  padamu  sambil bersimpuh.
Sampaikan segenap lelah hidup memeras peluh.
Untuk permata  jiwaku yang  sedang  tumbuh.

Tapi ibu, mengapa anakmu tak bisa percaya.
Atas  ungkapan dan  kefasihan  menyusun kata.
Karena mata batin dan ketajaman  hatiku berkata.
Bahwa dalam kalimat masih banyak  tersimpan dusta.

III
Ibu, Maafkan anakmu kalau harus pergi dan menyerah.
Dalam hidup ini diriku  tak sekuat dan setegar ayah.
Jasadku sekarang begitu ringkih dan mudah lelah.
Hadapi gempuran  yang buat ketegaranku kalah.

Maafkan anakmu tak sanggup emban amanah ini.
Karena  tahu segala  yang terjadi petang dan pagi.
Namun  kusembunyikan  dalam pedihnya  relung hati.
Dan menjadi luka yang kelak akan kubawa sampai mati.

IV
Ibu, maafkan anakmu yang tak sanggup beri kebahagiaan.
Apabila daku harus pergi dengan membawa kekalahan.
Merintis  jalan baru untuk  jalani taqdir  kehidupan.
Dan  berharap  didalamnya  ada  kebahagiaan.

Tahanlah airmatamu atas taqdir yang kujalani.
Walau di usia telah senja semuanya harus kumulai.
Semoga didalam kesulitan ada  kebahagiaan dari Ilahi.
Atau biarlah semua berakhir tatkala kelak datangnya mati.

Ibu, maafkan anakmu yang kurang berbakti.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Kamis, 22 Desember 2011

302-2011. Surat Terbuka Kepada Seorang Hamba Allah*

302-2011. Surat Terbuka Kepada Seorang Hamba Allah*

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Masa kita bersama telah jelang tahun keduapuluh.
Kuemban amanah hidupku dengan ikhlas tanpa mengeluh.
Tak peduli  jasad ringkihku kesakitan  dan lelah memeras peluh.
Karena perjuangkan masa depan buah hati kita yang masih begitu jauh.

Tapi hari ini jiwaku  begitu hancur dan airmataku mengalir dalam diam.
Kutahan kepedihan yang sangat dan dadaku bagai dipalu godam.
Rasanya bumi yang luas ini banjir dan asaku tenggelam.
Dan cahaya harapku lalui masa gelap dan suram.

II
Sungguh,banyak nikmat Ilahi yang ingin kusyukuri.
Tidak seperti mereka yang untuk makan petang dicari pagi.
Atau mereka yang hanya mampu makan dengan garam campur nasi.
Wahai Allah, jadikan hamba tidak kufur atas semua nikmat yang Engkau beri.

Diberi-Nya diri ilmu yang bisa dijadikan  mereka yang  lemah sebagai  rujukan.
Dalam hal tertentu begitu banyak orang yang kagum dan berteladan.
Tetapi harusnya semua hal itu bukan dijadikan kebanggaan.
Karena pada sisi yang lain tiap diri ada kekurangan.

III
Mengapa, tanpa angin dan petir tiba-tiba hujan.
Tiba-tiba saja mempermainkan hal yang jadi rahasia Tuhan.
Latihan bertahun-tahun yang berat luluh dan tak mampu dipertahankan.
Sehingga berubah dari pribadi yang beriman menjadi senang dengan kebohongan.

Manusia, dalam ketawakkalan akan bersyukur dengan apa yang telah Tuhan beri.
Tak ingin lagi  mengembara bagaikan kuntum muda mengejar mimpi.
Karena kenyataan tak pernah seindah apa yang sedang dihadapi.
Seperti pepatah mengharap hujan air yang ada ditumpahi.

IV
Biarlah, mungkin taqdir Ilahi harus lalui jalan yang berliku.
Biarlah segenap kebaikan dan kenangan menjadi bagian masa lalu.
Silahkan menempuh jalan yang memang telah dimpi-impikan sejak dahulu.
Karena jalan hidup setiap hamba telah ditentukan oleh Allah  Yang Maha Satu.

Hidupku, adalah jalan seorang anak yatim yang berjuang diatas harga diri.
Ayahku dulu mengajarkan ketegaran untuk menjadi seorang lelaki.
Akan kupasrahkan hidup pada-Nya sampai datangnya mati.
Wahai Allah, jadikan hamba-Mu miliki kebesaran hati.

Dahulu daku datang sendiri, jalani kepedihan sendiri, dan kelak menghadap-Nya juga sendiri.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

*Atas permintaan seseorang.

Sabtu, 10 Desember 2011

303-2011. Elang Gurun Yang Kesepian

303-2011. Elang Gurun Yang Kesepian

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Pekikan elang gurun yang getarkan sahara berubah jadi nyanyian sunyi.
Lemah diguncang badai pasir yang datang mendera tiada henti.
Sayapnya patah 'tuk rindukan  kematian di taman surgawi.
Sebagai seorang pencinta yang bertransaksi pada Ilahi.

Matanya hampa  menatap mentari jelang tenggelam.
Seolah tiada harapan bagi inspirasi di jiwa terdalam.
Redup dan sendiri dalam gelap dan sunyinya malam.
Seolah  menunggu taqdir  dari Sang Penguasa Alam.

II
Mengapa berputus asa?tiada keabadian dalam duka.
Dan tiada pula setia  kegembiraan dan bahagia.
Simetri taqdir Ilahi telah tertulis dalam qadha.
Sebagai  wujud  kasih sayang dan cinta-Nya.

Betapa tinggi  angan dalam kehidupan fana.
Menebar mimpi  bak indahnya fatamorgana.
Namun  tanpa terasa  senja usia  telah tiba.
Menuju  akhir  yang  disana  tiada  nestapa.

III
Dalam  kehampaan  kupandang  cakrawala.
Renungkan waktu yang berlalu dan sisa usia.
Merenungi masa yang  telah lalu tanpa terasa.
Yang telah memendam segala macam peristiwa.

Air mata elang?tak ada airmata dalam kesendirian.
Hanya lelah menahan badai dan  beratnya kehidupan.
Berharap ada tempat  berpaut dalam menata kesunyian.
Dan bersatu padu untuk hadapi hebatnya segala tantangan.

IV
Tapi dinamika waktu akan percepat kelemahan dan ketuaan diri.
Kaki yang kukuh dan tajam kini terasa perih bila terkena duri.
Tatapan sayu menahan pedih dan luka  yang begitu nyeri.
Agar mampu bertahan untuk lalui sedikit sisa hari-hari.

Lazuardi di langit  telah menghilang bersama cahaya.
Tiada sesal dan keputus asaan lalui  hari-hari hampa.
Berharap kelak ada elang baru yang getarkan angkasa.
Sebelum dia fana dan  kembali pada  Sang Maha Kuasa.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 08 Desember 2011

293-2011. Di Pusaran Waktu

293-2011. Di Pusaran Waktu

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Di pusaran waktu aku tergugu menatap masa silam.
Goresan luka  kesendirian  muncul timbul tenggelam.
Dalam  genangan airmata ia tersimpan begitu dalam.
Sampai kelak pergi menghadap sang Penguasa Alam.

Mengapa airmata ini tak bisa  muncul kala hadir duka.
Mengapa sebagai insan tak bisa nikmati rasa gembira.
Mengapa semua pilihan seakan tampak tiada berbeda.
Apakah  semua  sebagai wujud  dari jiwa yang hampa.

II
Kadang waktu berhenti tampakkan  masa kanak-kanak.
Segenap  keindahan melintas indah bak awan berarak.
Membuat sisi masa kecil yang terpendam menghentak.
Hadirkan  kerinduan yang  tiba-tiba datang menyeruak.

Kupandang  cakrawala  luas  berkelip  bintang-bintang.
Asah diri renungkan kuasa-Nya di semesta terbentang.
Betapa ingat sedikitnya bekal diri menuju jalan pulang.
Menunggu  kematian  yang  kelak  pasti  akan datang.

III
Betapa dalam goresan demi  goresan luka masa  itu.
Biar terpendam bak hantaman ombak di karang bisu.
Menunggu  hari yang telah  dijanjikan  sejak dahulu.
Terpendam  di kubur sunyi  berlapiskan  nisan batu.

Mengapa kehampaan begitu akrab dalam hidup ini.
Hanya kebisuan yang jiwa begitu  setia menemani.
Kesakitan dan perih dirasakan dan ditelan sendiri.
Sampai  berakhir dengan  datangnya  suatu hari.

IV
Inikah kesunyian dalam keramaian manusia?
Inikah jiwa tak mampu lalui  belenggu dosa?
Inikah sebuah jiwa yang terbelenggu masa?
Dan yang telah  mengalami  kematian rasa.

Wahai,kapan pemutus kesedihan akan tiba.
Hilangkan  segenap ikatan  pada  manusia.
Hilangkan segala pernik kehidupan di dunia.
Dan  kembali  pada Ilahi  Yang  Maha Kuasa.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Sabtu, 12 November 2011

294-2011. Makna Sebuah Pesta (Refleksi Sea Games)

294-2011. Makna Sebuah Pesta (Refleksi Sea Games)

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Di Negeri ini sedang berlangsung sebuah pesta amat meriah.
Yang menurut berita habiskan dana Ratusan Milyar Rupiah.
Yang membuat  dada mereka  yang terlibat  membuncah.
Dan Ribuan  atlet dan official  berdefile dengan gagah.

Begitu banyak komentar dari seluruh penjuru negeri.
Banyak yang mendukung, banyak  pula yang apriori.
Pada pembukaan hadir Presiden serta  Para Menteri.
Betapa ramai pembukaannya bak keramaian kenduri.

II
Di Lebak dekat jakabaring seorang petani kecil berkata.
Mengapa hujan yang di nanti-nanti tak juga kunjung tiba.
Rencana menanam bibit padi yang banyak menjadi tertunda.
Dan dalam masa menunggu hujan tiba lagi  ia akan makan apa.

Seorang hamba Allah juga membuka  sebuah wacana renungan.
Apakah untuk sebuah pesta harus begitu banyak pengorbanan.
Kendaraan truk pengangkut  sembakopun dilarang  lewati jalan.
Sungguh sebuah pesta   bertabur  begitu  banyak  kemewahan.

III
Api, sebagai perlambang penyembahan tertua dalam sejarah.
Di arak keliling negeri lewati selat dan pulau  berbagai wilayah.
Disambut disemua perbatasan dengan cara-cara yang megah.
Walau masih sangat banyak rakyat miskin yang begitu payah.

Inikah wujud dari antroposentisme peradaban akhir zaman?
Kala manusia dipesona  teknologi berorientasi kesenangan.
Yang menjadu ukuran bukan  lagi ketaqwaan pada Tuhan.
Namun prestasi akal dan duniawi dalam bentuk kekuatan.

IV
Adakah yang didapat dari rasa bangga menjadi juara.
Kecuali  hanya  tepukan tangan  dan pujian  semata.
Ketika tak  berprestasi lagi  dibiarkan  hidup duafa.
Seperti yang terlihat pada siaran-siaran berita.

Begitu banyak kesenangan pada sebuah pesta.
Walaupun demi itu  begitu banyak yang menderita.
Orang-orang yang tak mampu hanya cucurkan airmata.
Dan akhir dari pesta yang begitu mahal hanya kumpulan cerita.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 13 Juli 2011

251-2011. Senandung Pagi (3)


251-2011. Senandung Pagi (3)
        Oleh
        Hamdi Akhsan

I
Kicau burung menembus dingin terdengar merdu beraneka nada.
Embun pagi berarak naik menuju mega.
Seakan pergi bersama malam yang menyimpan rahasia.
Menyambut hari baru dengan optimis dan gembira.

Duka? pergi bersama kegelapan malam.
Ada kesedihan dan kisah yang jadi bagian masa silam.
Ada yang tersimpan di lubuk hati terdalam.
Itulah aneka rasa yang diciptakan Ilahi Sang Penguasa Alam.

II
Malam berlalu, hari baru tiba dengan segenap garisan taqdir-Nya.
Bersyukur manusia ditutupi yang akan terjadi di masa depannya.
Sehingga selalu optimis dan berusaha ubah nasibnya.
Walau sesungguhnya telah ditetapkan ketentuan-Nya.

Dalam pagi tersusun berbagai rencana.
Untuk mencari nafkah atau lakukan pekerjaan dunia.
Tergantung keadaan iman yang berbeda.
Baik-buruknya jalan yang akan ditempuhnya.

III
Di dalam pagi tersimpan harapan.
Setelah bangun pagi masalah hidup jadi lebih ringan.
Rencana baru pun disusun lebih mapan.
Agar hasil yang lebih baik akan didapatkan.

Betapa ruginya sebahagian manusia.
Yang merancang pagi dengan rencana nista.
Yang akan membuat orang lain berduka.
Atau karena dia orang lain menderita.

IV
Ada yang menyambut pagi dengan kesyukuran.
Tatkala sakit dimalam hari telah dihilangkan.
Semula mengerang dan merintih kini telah dipulihkan.
Sungguh berharganya nikmat sehat dari Tuhan.

Adalah rutinitas membuat manusia kurang mensyukuri.
Atas segala nikmat yang telah Tuhan beri.
Berupa kesehatan dan iman atau pun materi.
Yang dinikmati makhluk-Nya sebelum mati.

V
Dari berulangnya pagi ada banyak kejadian didalamnya.
Yang semula muda perlahan-lahan menjadi tua.
Yang tadinya sedih perlahan-lahan menjadi lupa.
Maka hidup pun akan kembali penuh dinamika.

Sungguh banyak nikmat Ilahi.
Sebagai manusia harus selalu syukuri.
Agar ditambah lebih banyak lagi.
Dengan kebaikan kelak setelah mati.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 12 Juli 2011

250-2011. Sebuah Renungan (2)


250-2011. Sebuah Renungan (2)
          Oleh
          Hamdi Akhsan

I
Anakku,
Dengarlah kisahku tentang hakekat kehidupan.
Diriku bagai pengembara yang telah letih berjalan.
Mencoba tegar dalam menahan kesakitan.
Dan mencari hikmah dibalik semua cobaan.

Dalam perjalanan yang telah lebihi paruh waktu.
Berpesan daku padamu wahai generasi penggantiku.
Jadikan hidup sebagai perjuangan yang membanggakanku.
Gertakkan langkah dan singsingkan lengan baju.

II
Lihatlah apa yang terjadi di sekelilingmu.
Betapa banyak wajah polos yang menyimpan tipu.
Banyak juga mereka yang beda kata dan perbuatan tak malu.
Ke kiri lain dan ke kanan beda yang mereka seru.

Percayalah, hidup ini adalah perjuangan.
Betapa mudahnya menjadi musuh yang semula teman.
Anggaplah dirimu hanya sendiri agar kau nyaman.
Dan serahkan segalanya pada keadilan Tuhan.

III
Lihatlah seekor ayam kampung tiada ayah bunda.
Mengais sendiri untuk pertahankan hidupnya.
Segala tempat dikunjungi untuk mengisi perutnya.
Mereka pun bisa berbangga dengan perjuangannya.

Betapa banyak yang hidupnya kurang beruntung.