Selasa, 12 Juni 2012

015-2012. Syair SNM-PTN

015-2012. Syair SNM-PTN

                   Oleh
                   Hamdi Akhsan


I
Pagi ini, enam ratus ribu kaum muda serentak gantungkan harapan.
Untuk menembus perguruan tinggi negeri demi masa depan.
Wajah-wajah optimis  pancarkan  teguhnya  kepercayaan.
Seleksi  yang  mereka  lalui  tidak  bercampur  kepalsuan.

Apapun hasilnya!sebuah gerbang penting kehidupannya.
Saat hampir seluruh sistem  dimanipulasi dengan serakah.
Masih ada segelintir manusia yang berfikir untuk bangsanya.
Walaupun ia tenggelam bagaikan batu yang dilempar ke samudera.

II
Betapa, ujian nasional  telah jadi sebuah  dagelan yang amat mahal.
Karena  kehilangan  relevansi  untuk  mengukur capaian akal.
Segala cara  dipakai tanpa  rasa bersalah atau menyesal.
Sungguh telah mati ketakutan pada Yang Maha Kekal.

Betapa, kemunduran bangsa ini akan terus terjadi.
Manakala yang dipakai menjadi ukuran adalah materi.
Jadi cemoohan yang nyatakan kebenaran  dengan berani.
Dan para pendusta yang pandai memutar lidah begitu dihargai.

III
SNMPTN, adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Sebuah proses membentuk calon pemimpin masa depan nanti.
Walau segala upaya meruntuhkannya datang dari kanan kiri.
Tapi tetap tegar dan kuat dipertahankan para akademisi.

Terima kasih padamu wahai para dosen yang bertahan.
Walaupun dikritik dengan berbagai kalimat sebagai alasan.
Doktor dan Guru Besarpun bangga dan bersedia menjaga ujian.
Pemandangan aneh para politisi dan birokrat yang bermental tuan.

IV
Percayalah, wahai putra masa depan yang gagah berani bertarung.
Sebuah proses yang adil dan sehat kini sedang berlangsung.
Banyak diantaramu kelak akan bangga dan beruntung.
Walau yang belum berhasil banyak kalau dihitung.

Dengan kerja keras dan doa majulah ke depan.
Gapailah cita-citamu dengan segenap harapan.
Dengan upaya dan doa, niscaya akan dikasihi Tuhan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 17 Agustus 2011

280-2011. Enam Puluh Enam Tahun Kemerdekaan!

280-2011. Enam Puluh Enam Tahun Kemerdekaan!

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Hari ini sebuah bangsa peringati enam puluh enam tahun kemerdekaan.
Sebuah rutinitas yang syarat dengan pesan dan peringatan.
Atas perjalanan sejarah masa lalu dan masa depan.
Dalam pilihan kehancuran atau kemenangan.

Merdeka?Bagai Rajawali  Sang Raja  Angkasa.
Yang mampu busungkan dada dan angkat kepala.
Yang menjadi teladan sebuah kebebasan sejak zaman purba.
Dan menjadi perlambang perjuangan tak kenal letih dari Sang Pencipta.

II
Merdeka, bukan hanya bermakna rakyat negeri bebas dari perbudakan fisik.
Sementara ekonomi, budaya, dan jati diri bangsa diobrak-abrik.
Rakyat menjadi budak pekerja para pemilik pabrik.
Dan terhadap kekuatan asing tak berkutik.

Di negeri merdeka rakyatnya hidup bahagia.
Dilayani oleh para pemimpin yang memegang amanah.
Yang tidak disibukkan menumpuk harta dan menebar janji dusta.
Dan terhadap penderitaan dan kesengsaraan rakyat mereka menutup mata.

III
Merdeka bukan bermakna dijajah oleh para pemimpin negerinya sendiri.
Namun rakyatnya hidup dalam kesejahteraan dengan harga diri.
Ada uang dan harta untuk hidup layak secara mandiri.
Dan mereka diberi kesempatan mencari rezeki.

Merdeka bukan hanya simbol untuk hiburan.
Namun semua bekerja keras secara berkesinambungan.
Memanfaatkan kekayaan alam dengan baik sebagai nikmat Tuhan.
Dan para pemimpin bersama rakyatnya bahu membahu mencapai kejayaan.

IV
Enampuluh enam tahun telah berlalu adalah usia yang begitu panjang.
Dalam periode kehidupan ibarat telah  memetik hasil dari juang.
Namun dihari ini kesulitan demi kesulitan kian menghadang.
Dan di negeri sendiri rakyat bagaikan telah terbuang.

Episode yang lalu hendaknya menjadi pelajaran bangsa.
Untuk hidup dalam  perjuangan harga diri bagaikan garuda.
Pelopor kebangkitan bagaikan tegaknya kepala sang raja angkasa.
Dan menjadi pusat peradaban yang dikenang manusia sepanjang masa.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Jumat, 17 Juni 2011

192-2011. Kemanunggalan Terpadu

192-2011. Kemanunggalan Terpadu

                 Oleh
                 Hamdi akhsan


I
Tahukah manusia unifikasi dalam penciptaan.
Manakala seluruh  rumusan fisika telah  dipadukan.
Menjadi sebuah formula tunggal yang mengagumkan.
Menyatukan empat interaksi  semesta  yang diramalkan.

Sungguh Interaksi  gravitasi  semesta adalah  karunia Ilahi.
Yang mengatur orbit  benda-benda  langit secara harmoni.
Yang  alirkan air dari ke tempat  rendah dari tempat tinggi.
Yang telah  mengokohkan akar pohon  tertancap  di bumi.

II
Adalah interaksi elektromagnetik memberi banyak kebaikan.
Membuat bahan logam dari dalam bumi bisa dimanfaatkan.
Membentuk ketinggian  teknologi canggih di peradaban.
Jarak yang jauhpun dengan mudah telah didekatkan.

Dengan gaya elektromagnetik angkasa dijelajahi.
Bumi  sampai  kedalaman tertentu dijelajahi.
Segala  penjuru  mudah  berkomunikasi.
Betapa banyak nikmat yang Ia beri.

III
Indahnya  interaksi lemah  lemah.
Yang ikat satu elektron dengan lainnya.
Jadikan antar atom terikat dan benda pun ada.
Dan wujud  benda nyata pun hadir di dalam jagat raya.

Andai antar elektron dijagat semesta ditiadakan Tuhan.
Tentu wujud yang ada saat ini akan terceraikan.
Tiada wujud fisik sebagaimana kelihatan.
Hanya gelombang  berseleweran.

IV
Betapa bergunanya interaksi kuat.
Karenanya  partikel  penyusun inti terikat.
Menjadi pusat pemersatu elektron pada tiap zat.
Dan bervariasilah benda  membentuk  perbedaan sifat.

Adalah Ilmu Ilahi yang maha tinggi  menciptakan keteraturan.
Manusia sebagai  khalifah di bumi  harus memanfaatkan ciptaan.
Manfaatkan akal dari-Nya sebagai wujud syukur dari pemberian.
Dalam keberhasilan itu taqwa pada-Nya haruslah dipertahankan.

V
Dalam tingginya pencapaian teknologi dalam peradaban terkini.
Tanpa  sadar ia telah menjadi  berhala yang  sangat dikagumi.
Lupa untuk  mengasah dan  memberi makanan pada ruhani.
Sehingga jiwanya jadi miskin dan pada Tuhan pun berani.

Kini, Rahasia kerumitan jagat raya  mulai terungkat.
Pada  Penciptanya  manusia  seharusnya dekat.
Karena  seluruh  keteraturan  begitu  hebat.
Untuk membuat hamba-Nya kian taat.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Senin, 02 Mei 2011

127-2011. Pendidikan Bohong-bohongan.

127-2011. Pendidikan Bohong-bohongan.
                  (Refleksi Hardiknas)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Betapa kemunafikan disertai kebohongan itu kini telah berjamaah.
Bagaikan sekumpulan burung nazar nikmati bangkai sebagai karunia.
Sakralitas sekolah sebagai lembaga pembentuk moral  hilanglah sudah.
Yang menghilang bersama datangnya target angka-angka yang dipaksa.

Sungguh bangsa besar ini telah terjerambab ke dalam hilangnya rasa malu.
Ketika pelajaran  bagaimana berbohong dan mncuri datang dari sang guru.
Ujian Nasional  telah menjadi  tempat praktek berbohong yang paling jitu.
Dan hati nurani untuk jujur dalam proses  pendidkan seolah membantu.

Mengapa tiada lagi pemimpin dan guru panutan yang bisa dipercaya.
Yang takut dicatat malaikat dan hadapi beratnya mahkamah Allah.
Yang lebih memilih sedikit berkorban tidak turuti kepala sekolah.
Dan meyakini bahwa taqdir hidup@matinya ditentukan telah.

II
Mengapa tiada muncul kesadaran atas harga diri.
Dan mendidik murid agar selalu percaya diri.
Berusaha dengan segala kekuatan diri.
Pasrah pada Sang Maha Pemberi.

Amatlah penting keteladanan dalam pendidkan.
Agar kejujuran dan harga diri  bisa dibangkitkan.
Bukan  ajarkan  bagaimana lakukan kecurangan.
apalah lagi  pelaku utama  yang  dikedepankan.

Bukan  menjadi  tugas sang guru.
Membuat kunci  jawaban  untuk ditiru.
Karena  yang  dilakukan  sesungguhnya saru.
Dan di padang Mahsyar nanti semua takkan berlalu.

III
Entah mengapa  bangsa ini semakin lama  semakin mundur.
Menutup mata dan telinga pada negeri lain yang semakin mashur.
Menepuk dada membanggakan diri sendiri diiringi sikap sombong takabbur.
Padahal dalam  percaturan dunia berada pada posisi  terhina menjelang dikubur.

Kini, segala sumber kekayaan alam telah dijual kepada orang asing yang datang.
Inginnya  dengan duduk santai  datanglah  bergepok-gepok lipatan uang.
Tak peduli nasib generasi penerus yang penting sekarang senang.
Kelak tinggal negeri yang sudah terkuras kering kerontang.

Berfikir bagaimana kehidupan generasi penerus kelak?
Tidak akan terfikir oleh penguasa yang tamak.
Yang penting kumpulkan emas & perak.
Dalam kesenangan terbahak-bahak.

IV
Sungguh suatu masa menyedihkan.
Generasi kini dulu dididik dengan teladan.
Namun mendidik penerus dengan kebohongan.
Maka akan menjadi apa negeri tercinta ini kemudian.

Pada  generasi muda  yang kini hadir kami  pesankan.
Kebohongan kami dalam pendidikan jangan lanjutkan.
Cukuplah  sampai generasi ini  kebobrokan dihabiskan.
Dan jadilah kalian pemimpin negeri yang dibanggakan.

Bermohon hamba pada-Nya yang Maha Pengampun.
Ampuni kesalahan kami dihari kelak saat dihimpun.
Karena semua amalan kami telah rapi tersusun.
Dan akan dibuka dipengadilan ribuan tahun.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 01 Mei 2011

126-2011. Syair HARDIKNAS!

126-2011. Syair HARDIKNAS!

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Inilah syair  tentang hardiknas,
jangan dibaca hati yang panas,
untuk pengingat supaya awas,
bukannya  pujian supaya puas.

Sekarang dunia sangatlah maju.
janganlah  sampai kita  tertipu,
kualitas rendah  dibanding lalu,
tak pernah bergerak dititik itu.

Pendidikan sudah dibuat pilar,
agar menjadi bangsa nan besar,
tapi masalahnya tak kelar-kelar,
bak benang kusut berpusar-pusar.

II
Dahulu kita bangsa yang hebat,
guru dikirim ke negeri hang jebat,
kini faktanya sudah terjulat,
anak negeriku kesana meloncat.

Belumlah lagi kualitas orangnya,
dipakai diluar cuma tenaganya,
menjadi buruh kebun sawitnya,
atas pembantu rumahtangganya.

TKI menjadi buruh bangunan,
otak tak perlu yang penting tangan,
bekerja berat mikirnya ringan,
itulah harga hasil pendidikan.

III
Hai...hai, anggaran pendidikan,
katanya kini telah ditingkatkan,
segala fasilitas telah dibangunkan,
segala program telah diluncurkan,

Bermacam pula itu namanya,
sekolah gratis amat disukanya,
bagaikan obral tentu mutunya,
tetapi senang orang padanya.

Belumlah lagi yang kebarat-baratan,
Bahasa inggeris yang diutamakan,
laboratoriumnya dianaktirikan,
latihan kerasnya kini ditinggalkan.

IV
Guru sekarang memakai dasi,
duitnya banyak dari sertifikasi,
bahkan ada bermercedes classi,
penuh pula kantong berisi.

Cara mengajar kini telah keren,
dibantu dengan alat moderen,
sambil dudukpun ia bisa eksen,
mengajar murid dengan telaten.

Muridpun sudah semakin maju,
bermacam model memakai baju,
kalaupun marah tak boleh ninju,
karena bisa dipenjara si guru.

V
Cara di barat kini ditiru,
dipakai banyak model yang baru,
membuat pusing pak dan bu guru,
hasilnya pun tetap juga itu-itu.

Sabaaaar!itu semua proyek besar,
supaya bangsa bertambah pintar,
dievaluasi terus tak kelar-kelar,
belumlah tuntas sudah dibubar.

Dibuat lagi proyek yang lain,
dana yang besar mengucur yakin,
padahal cuma negara miskin,
tapi memangnya mereka pikirin?

VI
Ujian nasional juga dibuat,
target nilai pun harus sepakat,
maka guru pun bikin mufakat,
supaya "suksesnya" bisa terlihat.

Murid-muridpun banyak yang tenang,
karena tim sukses telah dirancang,
saat ujian serentak diserang,
kertas kecil pun akan melayang.

Selain itu pensilnya tipis,
bisa dihapus untuk dilapis,
atau dibantu barang sebaris,
sungguh membuat kita miris.

VII
Kalaulah cara begitu hina,
Tuhan pun sudah tak diindahkannya,
wajarlah ijazah tiada berguna,
tak berkat pula yang diajarkannya.

Betapa sayang kalau terlibat,
karena guru bukan penjahat,
bukanlah pula ia pejabat,
tetapi mengajar yang perlu hebat.

Rusaknya jiwa jangan dibuat,
terhadap moral diri diikat,
berilah teladan dari yang dekat,
setelah mati tidak melarat.

VIII
Astaghfirullah, semua kini telah bertukar,
anak guru pun banyak tak pintar,
miskin teladan kini menyebar,
semoga bangsa segera sadar.

Di rumah guru miskin teladan,
anak belajar tak diiringkan,
ibu ayahnya sibuk tontonan,
di televisi yang melenakan.

Tradisi membaca jauh berkurang,
apalah lagi guru mengarang,
di kantor sibuk nyeritain orang,
sungguh yang baik semakin jarang.

IX
Jadilah kita pendidikan yang bangga,
karena berhasil membentuk jiwa,
yang jujur bekerja dengan perkasa,
membuat yang sulit menjadi bisa.

Tak ada yang hebat mudah didapat,
haruslah belajar keras dan kuat,
makanan dijaga supaya sehat,
ikhlas mengajar menjadi syarat.

Kepada siswa kita ajarkan,
ilmu yang berkah kan diberikan,
bila benar dan baik cara ajarkan,
dunia akherat dapat ganjaran.

X
Marilah kita banyak merenung,
masalah bangsa sebesar gunung,
dunia pendidikan membuat bingung,
semoga kelak kita beruntung.

Berhenti kita selalu berbohong,
nampak berisi padahal kosong,
kelak kita jadi bangsa tong,
bunyinya kuat isi melompong.

Segeralah semua menjadi sadar,
supaya petunjuk-Nya akan terpancar,
Menjadi kita bangsa yang besar,
ke segala penjuru harum menyebar.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Selasa, 05 April 2011

91-2011. Renungkanlah!

91-2011. Renungkanlah!

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Sebuah mata nan agung seluas ribuan tahun cahaya muncul diujung jagat.
Diatur dengan hukum-hukum rumit dan energi yang maha dahsyat.
Diciptakan dengan kecerdasan dan kekuatan yang maha hebat. 
Serta harmoni dalam ketundukan yang saling mengikat.

Dalam  hukum  penciptaan yang  rumitnya  luasbiasa.
Sungguh Ia telah berikan pada manusia matematika dan fisika.
Agar berfikir keras manfaatkan dan fikirkan ciptaan-Nya selagi bisa.
Yang untuk itu saja takkan mampu uraikan hukum-Nya sampai kelak binasa.

II
Di alam yang mikroskopik.
Prilaku partikel sungguh begitu eksotik.
Antara muatan berbeda akan saling tarik-menarik.
Dan elektron mengitari inti tidak berhenti walau sedetik.

Adalah inti atom dengan energi ikat yang kuat sulit dilepaskan.
Yang dengan diketahui rahasianya energi nuklir bisa dimanfaatlkan.
Dan karena ikatan elektron jasad makhluk berupa benda yang kelihatan.
Sungguh itulah wujud tinggi dan amat luasnya ilmu pengetahuan disisi Tuhan.

III
Belumlah lagi begitu rumitnya syarat batas bahagian tubuh makhluk yang ia atur.
Warna kulit dan ketebalan  berbeda ada  fungsi yang tidak saling membentur.
Diciptakan rambut dengan hukum dan fungsi berbeda yang begitu terukur.
Sungguh atas nikmat yang  berharga seorang hamba harus bersyukur.

Apatah lagi  nikmat pendengaran yang dilekatkan pada telinga.
Dan juga nikmat penglihatan yang dititipkan di kedua mata.
Ditambah titik-titik saraf dilidah untuk penghubung rasa.
Masihkan atas semua itu seorang hamba berdusta?.

IV
Belumlah lagi  penciptaan tumbuhan yang beragam.
Dari tanah yang pahit muncul rasa manis dan asam.
Buah merah, kuning, muncul dari tanah yang hitam.
Sebagai  karunia-Nya  yang  untuk makhluk di alam.

Pada hukum perputaran benda langit rasa hati Ia titipkan.
Tatkala malam  orang bersedih dan banyak lahirkan ratapan.
Agar disaat siang manusia mencari nafkah tanpa dihantui kepiluan.
Sehingga konsentrasi dan tenaga dalam bekerja tidak mendapat gangguan.

V
Ia sebarkan musim hujan tidak serentak diseluruh permukaan bumi.
Agar berguna dataran  dalam  musim hujan dan musim semi.
Namun manusia sering tak bersyukur dan tak memahami.
Ya Allah atas semua kealpaan itu mohon ampuni kami.

Berilah kami hati yang selalu bersyukur atas nikmat.
Jauhkan kami dari golongan yang Engkau laknat.
Bukalah hati  kami  untuk banyak  bertaubat.
Agar kelak selamanya selamat di akherat.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 30 Januari 2011

34-2011. Syair Palembang

34-2011. Syair Palembang

               Oleh
               Hamdi Akhsan.

Jembatan Ampera Ikon Kota Palembang

Pengantar
Even internasional yang kolosal dalam waktu dekat di Sumatera Selatan adalah Seagames dan even nasionalnya adalah Jambore Nasional di Teluk Gelam (Kabupaten OKI). Selain itu banyak pertanyaan tentang Palembang dari berbagai pihak. Syair sederhana ini mencoba memberikan gambaran tentang Palembang, walaupun banyak kekurangan semoga berguna untuk mereka yang mencari informasi tentang Palembang atau akan berkunjung ke Palembang. Terima Kasih!

I
Inilah syair tentang  Palembang,
ribuan tahun kota berkembang,
dikenal  negeri para  pedagang,
kini  menjadi  kota terpandang.

Diyakini  dulu  pusat Sriwijaya,
negara bahari pernah berjaya,
SwarnaBhumi jadi gantinya.
bumi emas makna katanya.

Di sungai banyak pencari emas,
dilimbang pasir sambil diawas,
didapat emas hatinya puas,
jadilah Palembang dikenal luas*.

II
Pernah ada Kesultanan berjaya,
Palembang Darussalam pasti namanya,
Simbur cahaya kitab rakyatnya,
dari agama sumber hukumnya.

Raden Fatah Sultan di Demak,
Dari Palembang ia menapak,
didukung walisongo ia serentak,
jadilah ia Sultan yang bijak.
Sultan Mahmud Badaruddin II
Terkenal seorang Pahlawan Gagah,
Mahmud Badaruddin II pasti namanya,
Ternate tempat pengasingannya,
disana pula tempat kuburnya.

III
Tempat wisata banyak tersebar,
setiap tahun berlomba bidar,
wisata kapal putri kembang dadar,
atau jalan-jalan sore untuk sekedar.
Benteng Kuto Besak
Kutobesak namanya benteng,
dekat ampera ia mentereng,
di Pulau kemarau ada kelenteng,
menyolok merah atapnya genteng.
Pulau Kemarau

Makam Sultan pulau tengkurap,
lokasinya dekat kampung arab,
Doa dilantun berkah diharap,
supaya makmur palembang tetap.

IV
Terkenal nama bukit siguntang,
dalam legenda Masa Sang Hiyang,
Berasal disana terus cemerlang,
Sriwijaya lama dulu berkembang.
Musium Balaputra Dewa

Jangan lupa ke musiumnya,
Balaputra Dewa nama lengkapnya,
dekat ampera lokasi tepatnya,
segala peninggalan ada didalamnya.

Diseberang benteng rumah kapitan,
tinggalandahulu di pecinaan,
berbaur mereka para peranakan,
bersatu damai tuk penghidupan.

V
Terkenal pula makanan khasnya,
ikan menjadi bahan dasarnya,
pempek palembang tentu barangnya,
enak dimakan dengan cukanya.
Pempek

Selain pempek dikenal tekwan,
bahan dasarnya bersumber ikan,
ditambah timun dicencang-cencang,
kuahnya enak tuk dihirupkan.

Selain dibuat pempek dan tekwan,
model juga tak kalah tuan,
dicampur kuah dengan cendawan,
makanan enak sungguh menawan.

VI
Janganlah lupa kerajinannya,
kain Songket itu namanya,
murah dan mahal macam harganya,
tergantung dompet sang pembelinya.

Kain songket jadi perlambang,
dibawa tujuh saat meminang,
dipakai resepsi hati kan senang,
momen yang indah terus dikenang.

Kalaulah anda ingin mencari,
ke Tangga buntung orang kan pergi,
atau sumbernya daerah OI,
jadikan kenangan ke Palembang dari.

VII
Wah, jangan pula lupakan pindang,
enak dimakan sedap dipandang,
ada yang langsung ada dipanggang
itulah ciri pindang palembang.

Ikan asap juga disuka,
di Musi dua dagang dibuka,
bikin sendiri tentu mereka,
segar terasa saat dibuka.

Ada pula pindang tempoyak,
durian diawet bentuknya loyak,
dihirup enak dimakan layak,
tradisi buatan para khalayak.

VIII
Itulah tradisi kota Palembang,
datanglah anda sambil bertandang,
dimana-mana bisa dipandang,
banyak tersebar sawah dan ladang.

Keluar palembang banyak dilihat,
danau Ranau tempat Istirahat,
Bukit Telunjuk ada di Lahat,
Gunung demponya di arah barat.

Ada pula air terjunnya,
di Muara enim tempat pastinya,
di Ulu Ogan gemuhak namanya,
indah sungguh pemandangannya.

Goa putri ada di OKU,
Bukit petir di MURA Ulu
Rumah Knockdown di Tanjung Batu,
di Pedalaman tersisa kubu.

IX
Ini sekelumit tentang Palembang,
Sumatera Selatan terus berkembang,
jadi Provinsi disegani orang,
apalah lagi masa sekarang.

Menjelang even yang besar tiba,
marilah kita saling menjaga,
tamu datang disambut ramah,
supaya harum dimana-mana.

Maafkan saya sudah berani,
walau ilmu belum mumpuni.
Menulis Madah sebagai seni,
Syairku habis sampai disini,

Inderalaya, 30/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

33-2011. SYAIR BATANG HARI SEMBILAN

33-2011. SYAIR BATANG HARI SEMBILAN

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Jembatan Ampera menghubungkan dua sisi sungai Musi di Kota Palembang

PENGANTAR
Propinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dialiri banyak sungai besar. Salah satunya, sungai Musi yang berhulu di gugusan Bukit Barisan dan bermuara di laut tepian pantai Timur Sumatra ini. Karena terdapat 8 sungai besar yang menjadi anak sungai Musi, maka Sumsel di sebut juga Tanah Batanghari Sembilan atau Tanah Sembilan Sungai.
Kesembilan sungai yang termasuk batanghari sembilan dari hulu hingga ke hilir adalah: 1. Sungai Musi, 2. Sungai Batanghari Leko, 3. Sungai Lalan. 4. Sungai Lakitan 5. Sungai Kelingi, 6. Sungai Rawas, 7. Sungai Lematang, 8. Sungai Ogan, dan 9. Sungai Komering.
Berikut syair batanghari sembilan. Semoga menjadi kenangan untuk generasi penerus kelak manakala sungai-sungai yang ada telah kering dan tidak lagi menjadi inspirasi budaya masyarakat Sumatera Selatan.

I
Syair berawal dengan Bismillah,
berkisah tentang ciptaan Allah,
Karena sungai tanah terbelah,
airpun mengalir lalui celah.

Sungai disini banyak gunanya,
untuk banyak keperluannya,
dari bangun sampai tidurnya,
tak lepas sungai dari hidupnya.

Ratusan kilo panjangnya sungai,
Awalnya gunung akhirnya pantai,
akhirnya bertemu di muara landai,
nama yang awal akan selesai.

II
Beribu tahun sungai bersaksi,
manusia hidup kemudian mati,
tempat pedagang berjual beli,
tempat orang  bertransportasi.

bagi penduduk disana mandi,
dipakai pula untuk mencuci,
bersiram-siram putra dan putri,
ikan mudikpun menari-nari.

Sawah yang subur kan diairi,
tanaman hijau berseri-seri,
rahmat Ilahi Maha Pemberi,
untuk penduduk seluruh negeri.

III
Airnya jernih sejuk mengalir,
dari yang hulu sampai ke hilir,
bunyi gemericik bagaikan zikir,
indah menawan bagaikan syair.

Ditanah tinggi sungai bermula,
Rimba yang lebat sumber airnya,
jernih mengalir pasti segarnyanya,
diminum langsung sehat orangnya.

Air menjadi sumbernya hidup,
sepanjang sungai tak pernah redup,
orang berdagang diperahu sungkup,
dari pagi sampai mentari redup.

III
Di nama sungai melekat suku,
ogan dan komering bagian hulu
ratusan tahun tinggal disitu,
hormati sungai hidup menyatu.

Ke ladang orang di subuh dalu,
lewati sungai dengan perahu,
susuri air hindarkan batu,
berharap rezeki sudahlah tentu.

Sungai ogan memelah OKU,
Muaraenimpun ada dilalu,
di Ogan Ilir pecah menyatu,
Bermuara di musi sejak dahulu.

IV
Demikian juga di rawas ulu,
tanahnya tinggi sungai berbatu,
airnya dingin jernih bermutu,
membuat sehat sudahlah tentu.

Penduduk hulu banyak bertani,
pergi ke huma setiap hari,
tatkala pulang kayuh kemudi,
terkadang sambil ikan dicari.

Sungai Rawas bergabung musi,
Jadi kabupaten nama lokasi,
berbatas Bengkulu dibarat sisi,
ke MUBA mengalir sepanjang hari.

Sungai Lakitan ada di Mura,
Sungai Kelingi juga disana,
sebagai nadi masyarakatnya,
untuk jalani aktivitasnya.

IV
Batanghari Leko ada di MUBA,
mendekat jambi arah wilayah,
Airnya mengandung minyak tanah,
mengkilap-kilap kena cahaya.

Di MUBA sungai tidaklah satu,
banyak berguna sudahlah tentu,
besar dan dalam juga berbatu,
seperti Sungai lalan ada disitu.

Alanya subur buminya kaya,
sawitnya banyak karet seraya,
sekarang jadi daerah yang jaya,
juga terpandang serta mulia.

V
Lahat dan enim mengalir sungai,
Lematang ia disebut ramai,
ikannya sungguh enak digulai,
laguinya indah cantik membelai.

Sungai Lematang mengalir jernih,
sampai sekarang segarnya masih,
untuk dimasak atau berbersih,
Berperahu ke pedalaman Prabumulih.

Semua berakhir di Sungai Musi,
lebarnya sungguh kedua sisi,
Sejak dulu tempat transportasi,
untuk manusia dan jual beli.

VI
sungai musi sungai yang besar,
di tepi sungai banyaklah pasar,
tempat berkumpul para saudagar,
melalui darat atau berlayar.

Musi bermuara ke selat bangka,
bercabang dulu kemana suka,
dibagian hilir terdapat palka,
bengkel dan tempat kapal dibuka.

Inilah syair batanghari sembilan,
dibuat untuk sanak kenalan,
dibuat sebentar diakhir bulan.
semoga berguna untuk tinggalan.

Inderalaya, 30/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan