Selasa, 28 Agustus 2012

58-2012. Kepadamu Yang Tak Mencintai Keluarga Rasulullah*


58-2012. Kepadamu Yang Tak Mencintai Keluarga Rasulullah*

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Hari-hari terakhir kudengar sekelompok manusia mengaku sebagai pemilik kebenaran.
Dengan bangganya pekikkan takbir hancurkan makam seorang hamba Tuhan.
Atas nama amarah berkata bahwa itu adalah sumber kemusyrikan.
Tanpa diikuti oleh kebijaksaaan yang jadi ciri orang beriman.

Tahukah engkau hai saudaraku?jasad siapakah di kubur itu?
Disitu terbaring jasad IMAM ABDUSSALAM AL AHMAR Radiyallahu anhu.
Cucu dari cucu seorang hamba yang paling dicintai Allah sejak 800 tahun yang lalu.
Dia lah, cucu Imam Hasan bin Ali, sang cucu kecintaan Rasulullah yang telah kalian ganggu.

II
Mengapa penghancuran Makam Kakeknya Hassan  kalian Ulangi lagi setelah 86 tahun masa*
Tidak cukupkah Hadits  sesungguhnya keduanya pemuka para pemuda ahli syurga.
Tidak cukupkah nasab mulia mereka melembutkan amarahmu didalam dada.
Sampai kepada jasad mereka yang terbujur kaku kalian semena-mena.

Terhadap Firaun yang Zhalim pun Allah berpesan kepada Musa yang mulia.
Agar bersikap baik dan lembut dalam menyampaikan kebenaran lewat kata-kata.
Saudaraku, adakah engkau lebih mulia dari Musa sehingga pada Cicit Rasul kalian tega.
Ataukah keyakinan nafsu sebagai pemilik kebenaran sejati yang telah terpatri didalam jiwa.

III
Saudaraku, tengoklah jauh ke masa silam dalam relung waktu sejarah keemasan peradaban.
Para Mujahid Besar Pembela adalah sufi yang hidup dalam iman dan kesederhanaan.
Salahuddin Al Ayubi menghadap Ilahi tanpa uang untuk biaya penguburan.
Sedang kalian saat ini hidup dalam limpahan minyak karunia Tuhan.

Belajarlah dari sisi hitam Dinasti Abassiyah yang di awal pendirian.
Tatkala Makam-makam Penguasa Daulah Umayah di Syiria dihancurkan.
Dan dalam perjalanan akhir dinasti mereka pun dihinakan dan dipermalukan.
Itulah bagian proses sejarah yang melalui berbagai kejadian telah Tuhan ajarkan.

IV
Saudaraku, bacalah lembaran sejarah tentang Imam Sanusi, Al Mahdi, dan lainnya.
Ikuti kisah perjalanan Mujahid Agung Ibnu Taimiyah dan ulama sesudahnya.
Mereka itu pencinta malam yang senantiasa berzikir cucurkan airmata.
Bersikap tegas terhadap kekufuran dan kasih sayang pada sesama.

Berhentilah bangga dengan pemahaman sepihak tentang kebenaran.
Karena kebenaran hakiki dan mutlak kesempurnaannya hanya milik Tuhan.
Kecerdasan dan kemampuan yang kita miliki semuanya hanyalah sebuah titipan.
Dan kelak saat  menghadap-Nya semua hamba  akan diminta pertanggungjawaban.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

* Syair ini dibuat atas keperihatinan terhadap penghancuran makam Imam Abdus Salam Al Ahmar,
   cicit Rasulullah di Libiya, dihari penghancuran makam Imam Hasan di Baqi 86 tahun yang silam.

 http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/di-hari-penghancuran-kuburan-baqi-wahabi-ratakan-kuburan-cucu-imam-hasan-as-di-libya?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-1%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_m7UK&p_p_lifecycle=0&p_p_state=normal&p_p_mode=view&p_p_col_id=column-1&p_p_col_count=3

Sabtu, 18 Agustus 2012

53-2012. Selamat Idhul Fitri 1433 H


53-2012. Selamat Idhul Fitri 1433 H

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Besok adalah hari nan fitri,
berharap puasa kan dibalasi,
diberi ampunan setelah mati,
Selama hidup dijalan Ilahi.

29 hari kita berpuasa,
menahan lapar serta dahaga,
menjaga lidah dalam berkata,
menjaga hati terjauh dosa.

Kepada sahabat dan handai taulan,
setulus hati daku ucapkan,
maafkan diri atas kesalahan,
ampuni segala yang terlalaikan.

II
Berharap diri hidup bermakna,
menjadi satu kata dan amalnya,
jadi teladan anak-anaknya,
dapat di contoh masyarakatnya.

Kepada diri hamba berpesan,
sadarlah diri sebagai insan,
amal yang baik mari kumpulkan,
yang salah-salah mari jauhkan.

Dunia ini hanya hiasan,
kelak sendiri menghadap Tuhan,
hanya berbungkus kain kafan,
yang kan berguna hanya amalan.

III
bulan ramadhan telah berakhir,
segala amal moga terukir,
menjadi modal saat berakhir,
tatkala datang masanya taqdir.

Hidup di dunia tidaklah lama,
Amalan baik harus dijaga,
nafsu diatur sekuat tenaga,
supaya kelak berbuah surga.

Wahai diri, kelak akan berakhir fana,
kumpulkan bekal oleh karena,
supaya bahagia di alam sana,
di akherat kelak tidak merana.

IV
Kepada sahabat hamba ucapkan,
selamat idhul fitri hamba sampaikan,
semoga rahmat Allah berikan,
menjadi baik kita ke depan.

Anak dan keluarga diperhatikan,
sholat yang wajid diutamakan,
akhlak yang baik diteladankan,
yang buruk-buruk mari jauhkan.

Pada Ilahi hamba meminta,
jauhkan diri dari derita,
jauhkan juga maksiat dosa,
berilah ridho nikmatnya surga.


al Faqiir

Hamdi Akhsan

Jumat, 17 Agustus 2012

52-2012. Syair Lebaran (2)

52-2012. Syair Lebaran (2)

               Oleh
               Hamdi Akhsan



I
Inilah syair tentang lebaran,
yang akan datang habis ramadhan,
ditunggu-tunggu orang beriman,
setelah puasa selama sebulan.

Hari ini hari bahagia,
setelah jalani masa puasa,
terdengar banyak canda dan tawa,
serta  maaf ucapan kata.

Banyak orang merasa menang,
lapar dan haus menjadi hilang,
anak dirantau berangkat pulang,
senagnya hati bukan kepalang.

II
Tetapi terbalik hakekat puasa,
harusnya bertambah iman didada,
bertambah pula sifat sederhana,
sebagai wujud meningkat taqwa.

Kasihan sungguh apa terlihat,
sebagian lebaran campur maksiat,
yang tidak boleh tetap dilihat,
yang dilarang-Nya tetap dibuat.

Ada pula yang pamer harta,
untuk belalakkan semua mata,
segala perhiasan dibawa serta,
seakan malaikat sudah buta.

III
Kasihan sungguh yatim piatu,
sedih hatinya sudahlah tentu,
tiada berayah tiada beribu,
tiada pula orang membantu.

Menetes air mata mereka,
melihat sebaya gembira ria,
kian kemari di hari raya,
seperti hidup tiada derita.

Alangkah baik bila teringat,
berilah mereka infak dan zakat,
terhibur tentu akan terlihat,
dicacat pahala oleh malaikat.

IV
Rezeki dibagi pada yang miskin,
dilipatgandakan pastilah yakin,
bertambah kelak harta semakin,
itulah janji Robbul Alamien.

Setelah ramadhan datanglah sawal,
Puasa sebulan jadikan bekal,
'tuk kendalikan nafsu dan akal,
modal menghadap Yang Maha Kekal.

Ibadah wajib mari tingkatkan,
yang sunnah-sunah mari kerjakan,
amal yang buruk mari tinggalkan,
supaya bahagia menghadap Tuhan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 15 Agustus 2012

50-2012. Syair Kubur (3)

50-2012. Syair Kubur (3)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Syair kuburku akan berlanjut,
berharap diri semakin takut,
tatkala kelak datangnya maut,
segala nikmat akan tercabut.

Setelah jasad insan ditanam,
mulai berubah akan menghitam,
muncullah bau luar dan dalam,
sungguh kejadian begitu seram.

cantik dan gagah akan menghilang,
Begitulah setelah hari berbilang,
meluluh daging meluluh tulang,
berlalu pagi berlalu petang.

II
Malam Pertama membusuk badan, 
dimulai  perut dan kemaluan,
dua yang selalu jadi tujuan,
selama hidup seorang insan.

Rugilah manusia yang tiada takut,
tuhankan kemaluan beserta perut,
semua kan luluh serta mengkerut,
hijau dan hitam warna terliput.

Semua perhiasan tiada guna,
jasad membusuk tiada pesona,
tinggallah diri akan merana,
penuh derita di kubur sana.

III
Malam Kedua membusuk limpa,
hati pun ikut berbau pula,
lambung berair bau sempurna,
paru-paru pun begitu juga.

Hati yang hidup didalam iman,
membuat jasad menjadi nyaman,
diakherat ia kan aman,
dikaruniai tempat surga ditaman.

Lambung manusia akan berguna,
pabila halal dimasukkannya,
dijaga rezeki datang padanya,
dibatasi pula nafsu makannya.

IV
Hari Ketiga semua berubah,
anggota tubuh membengkak sudah,
ada yang membesar seperti gajah,
tak ada lagi yang tampak indah.

Jasad yang gagah sudah berbau,
kalau dilihat pasti kan malu,
sendi-sendi pun menjadi kaku,
mulut terkunci seperti gagu.

Binatang tanah mulai mendekat,
cacing-cacing pun mulai menggeliat,
dengan serakah bangkai dilihat,
untuk disantap begitu nikmat.

V
Setelah seminggu mata pun hancur,
pipi berair tak guna pupur,
lidah si mayat tampak terjulur.
wajahnya seperti hancur lebur.

10 hari sesudah mayat ditanam,
anggota tubuh hancur menghitam, 
semuanya terlihat begitu seram,
itulah taqdirnya hukum alam. 

Masa 2 Minggu Rambutpun rontok,
mata pun kosong kayak tercolok,
habis semua wajah yang elok,
itulah terjadi di hari esok.

VI
15 Hari kemudian sungguh tak nyaman, 
jarak limakilo bau di penciuman,
ulat-ulat pun kan berdatangan,
menyantap mayat jadi makanan.

Jasad yang ada akan berkurang,
sebagian menjadi ulatnya sarang,
sebahagian hitam seperti arang,
sungguh tak lagi seperti orang.

Semakin lama semakin habis,
semua daging kian menipis,
organ dalam pun akan terkikis,
sungguh terlihat begitu menggiris.

VII
Bila sudah 6 Bulan berlalu,
Yang tersisa tulang dan kuku,
beserta rambut saksi yang bisu,
kiamat kelak akan menunggu.

Masa berlalu tanpa terasa
25 Tahun berlalu sudah,
tinggallah secuil tulang yang ada,
ajbudz dzanab (tulang ekor) ia bernama.

Kiamat kelak kan dibangkitkan,
tulang ekor yang dicirikan,
bagai disiram biji tanaman,
jasad kan bangkit sebagai insan.

VIII
Wahai sahabat sesama hamba,
jangan jadikan umur tersia,
manfaatkan baik waktu yang ada,
agar tak sesal dihadapan-Nya.

Semua kelak dipertanggungjawabkan,
waktu yang ada dikemanakan,
harta untuk apa dimanfaatkan,
kesehatan kemana dipergunakan.

syairku ini sampai disini,
moga berguna tuk direnungi,
selama umur masih diberi,
agar bahagia setelah mati.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Senin, 13 Agustus 2012

47-2012. Di Akhir Bulan Ini


47-2012. Di Akhir Bulan Ini

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Moga diakhir ramadhan ini tak ada badai yang akan menyapu kerinduan ini.
Kasih abadi kan terukir bak cinta Qais pada Laila di tengah sepinya gurun.
Harapanku, harumnya  bunga ini akan taburkan bibit  ke penjuru bumi.
Terbang bersama angin dan kelak tumbuh di tanah baru yang subur.

Kelak ketika  cahaya bulan pucat  sinari bibit baru  yang tumbuh.
Dan bianglala pagi berikan energi  padanya tuk menatap dunia.
Seekor burung kecil akan berkicau riang karena ada harapan.
Tempat berhenti kala nafas tak sanggup lanjutkan langkah.

II
Ada hari yang datang dan pergi  dengan segala peristiwa.
Embun pagi menghilang dan esok kembali membawa sejuk.
Seribu tahun, seribu peristiwa  berlalu dalam pusaran  waktu.
Dan manusia datang dan pergi bak butir debu di semesta raya.

Kekasih, izinkan hamba untuk sejenak melepas kepenatan duniawi.
Jasad ini telah begitu ringkih dalam pusaran purnama lima ratus bulan.
Izinkan sejenak hamba pejamkan mata 'tuk mengingat sunyinya kubur.
Agar tertahan segenap duka dan goresan sebelas bulan hilangnya masa.

III
Kini mayang telah berada di tengah jelang masa jadi sendahyang runtuh.
Nafasku telah berada di tepian  waktu dekati  gelapnya tanah hitam.

Kembali ke rumah tanpa jendela dan dinding pulalam yang indah.
Kecuali berteman cacing dan suara jangkrik sambut purnama.

Kekasih, hamba akan layu dan tunas baru akan tumbuh.
Tidur nan abadi  jelang datang dan tiada lagi namaku.
Akan hilang segala lelah menatap semua peristiwa.
Bak  elang gurun  tercabut sayap dan musnah.

IV
Tertinggal di belakangku sebuah generasi baru.
Bak tumbuhnya pohon di bekas pohon tumbang.
Kelak, akan bersinergi dengan kicau burung-burung.
Menatap dinamika  harmoni taqdir  yang harus dijalani.

Kekasih, telah  kuhirup hikmah di balik  banyak  peristiwa.
Hanya permainan badai yang datang dan pergi dalam sunyi.
Ada tawa, pekik, kegembiran, dan airmata sebagai pelengkap.
Dan akhirnya kembali dalam harumnya bau tanah disapu embun.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Senin, 06 Agustus 2012

45-2012. Surat Terbuka Kepada Seorang Hamba Allah (2)

45-2012. Surat Terbuka Kepada Seorang Hamba Allah (2)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Saudaraku...
Di hari ini kudengar lagi keputusanmu yang dikuasai oleh amarah di hati.
Aku tak tahu mengapa seolah tiada lagi kesempatan yang engkau beri.
Atas kesalahan terhadapmu yang dirinya sendiri pun tak mengetahui.
atau memanggilnya untuk disampaikan hal yang tak engkau setujui.

Saudaraku...
Mumpung hari ini Tuhan masih memberi kesempatan buat kita.
Mumpung lidah kita masih belum  kelu untuk sampaikan kata.
Mumpung kalimat yang dapat diungkap belum terbata-bata.
Marilah kita saling  melapangkan sebelum  tertutup mata.

II
Saudaraku...
Manatahu hidup kita yang fana ini tiba-tiba berakhir.
Tak guna lagi harta begitu banyak yang mengalir.
Tak guna lagi  jabatan dan  prestasi yang diukir.
Semua kelak pasti akan diadili di yaumil akhir.

Beri maaf selama  kesempatan masih ada.
Sebelum nafas  tersengal di dalam dada.
sebelum malaikat tiba membawa gada.
Sebelum sesal diri berguna pun tiada.

III
Saudaraku...
Hari ini jelang sepuluh terakhir puasa.
Mengapa  amarahmu  tak luntur di dada.
Mengapa tak kau beri waktu untuk berkata.
Seolah hanya salah saja yang di depan mata.

Di hari baik ini  kusampaikan  kata-kata nasehat.
Pembunuh saja ada batas  hukuman  yang di buat.
Hakim buruk pun ada waktu bela diri  sang penjahat.
Atau engkau tidak takut kezaliman berbalas di akherat.

IV
Saudaraku...
Kekuasaan duniawi yang diberikan Allah hanya titipan.
Ia pun akan pergi  sebelum nyawa lepas dari badan.
Harta yang banyak pun akan habis dan diwariskan.
Dan tinggal  berbungkus kain menghadap Tuhan.

Mengapa masih menyimpan amarah begitu lama.
Tidakkkah membuat dada terasa tidak nyaman saja.
Mari kita saling memberi maaf  dan melupakan semua.
Agar kelak disisi-Nya kita mendapat kebaikan dan pahala.

Ya Allah, maafkan kami yang akan berakhir fana!

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Sabtu, 04 Agustus 2012

44-2012. Syair Nuzulul Quran (2)

44-2012. Syair Nuzulul Quran (2)

Oleh
Hamdi Akhsan


I
Kekasih,
Tujuh belas Ramadhan Seribu Empat Ratus Tiga Puluh Tiga tahun yang silam.
Gemetar seluruh penghuni langit dan bumi kala menyambut datangnya kalam.
Seorang hamba-Mu yang  bertafakkur di gunung sunyi hanya mampu terdiam.
Menerima firman suci untuk  menuntun  kehidupan yang  diridhoi dan tentram.

Betapa beratnya amanah yang Engkau embankan di pundak lelaki pilihan itu.
Ia ketakutan, ia merasa  sendiri, ia tak  sanggup dan  menangis tergugu.
Tiada pembela dan tempat berpaut bagi  seorang putra yatim piatu.
Yang harus berhadapan dengan kuatnya kecongkakan membatu.

II
Ia muncul emban misi sebarkan firman suci di alam raya.
Membawa kembali kejalan-Mu mereka yang teperdaya.
Sadarkan umat akan tak abadinya  kesenangan dunia.
Dan membawa  mereka merindukan  indahnya surga.

Firman-Mu yang agung hancurkan peradaban syaitan.
Segala kekuatan dan kesombongan akali ia hancurkan.
Menata  kehidupan  dunia  ciptakan  sebuah peradaban.
Dan cinta pada-Mu lah yang menjadi inti segala kekuatan.

III
Dari lidahnya yang suci, terucap firman serukan umat manusia.
Yang perintah agungnya telah getarkan seluruh padang pasir arabia.
Yang  didikan qurani di madrasahnya telah lahirkan para mujahid perkasa.
Dan para putra gurun sederhana itu hancurkan kecongkakan rumawi dan persia.

Lebih tujuh ratus tahun  peradaban bersendi firman ilahi terangi segala penjuru.
Di segala penjuru bumi  tinggalan arsitektur dan  sains menjadi saksi bisu.
Segala akal dan pengetahuan dibaktikan pada agama Ilahi Yang Satu.
Sebelum datang masa gelap  dan moralitas  jahili seperti dahulu.

IV
Kini, peradaban bersendiqurani dilemahkan tentara syaitan.
Para pencinta-Mu menjadi asing dan seolah terpinggirkan.
Sebahagian masih  berjuang upaya sebuah  kebangkitan.
Yang  telah  Engkau janjikan  akan tiba  di akhir  zaman.

Di segala  penjuru, para pejuang-Mu  hadapi kezaliman.
Segala pintu ditutup rapat &diisolasi bak buasnya hewan.
Walaupun sedikit mereka dianggap hebat dan menakutkan.
Karena yang  mereka  cari hanya kejayaan dan ridho Tuhan.

V
Seribu empat ratus tahun berlalu, firman-Mu akan kembali jaya.
Di hari ini para pemuda yang  sadar telah lakukan berbagai upaya.
Untuk kembalikan  peradaban Ilahilah di muka bumi agar bercahaya.
Dan dengan keseimbangan materi dan ruhani kehidupan akan bahagia.

Kekasih, kerinduan akan bersihnya bumi  sebagaimana  dahulu kiat kuat.
Dengan ridho-Mu, generasi qurani berjuang dibawah lindungan malaikat.
Kejayaan niscaya akan datang sekali lagi sebelum datangnya hari kiamat.
Dan kebenaran-Mu akan menyelamatkan umat manusia di dunia akherat.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Senin, 23 Juli 2012

35-2012. Senandung Malam (4)

35-2012. Senandung Malam (4)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Mentari siang nan terik telah tenggelam di ufuk barat.
Sungguh kehidupan di bumi datang dan pergi begitu cepat.
Ada manusia yang berpacu mengejar kebahagiaan kelak diakherat.
Namun sebahagian besar baru  menyesali  hidupnya  setelah terlambat.

Adalah  kehidupan duniawi  yang fana membuat  jiwa manusia  terlena.
Tak sadar  kelak hidup yang  sementara  berjalan  entah kemana.
Lupa kalau aktivitasnya dipertanggunjawabkan di alam sana.
Tinggallah kelak jadi insan yang bahagia atau merana.

II
Tahun lalu, bersama teman ada gelak tawa ramadhan.
Tapi ramadhan ini ia telah tiada sesuai janji kepada tuhan.
Tahun kemarin ia masih begitu merdu kumandangkan takbiran.
Sekarang hanya senandung doa keluarganya yang terdengar pelan.

Semua berakhir fana dalam ketak abadian makhluk sebagai hamba.
Sebagai musafir, terkadang bekal tak mencukupi untuk dirinya.
Di perjalanan hanya pahit getir dalam kepedihan jiwanya.
Yang tiada guna lagi disesali untuk selama-lamanya.

III
Wahai kehidupan dunia yang berlangsung tak abadi.
Mengapa perjalanan singkat tak diisi dengan bekal ruhani.
Sepanjang usia disibukkan dengan pemenuhan hasrat jasmani.
Yang semuanya akan ditinggalkan manakala tiba sebuah janji suci.

Sering dalam  perjalanan  mengantar sesama saat sakaratul maut.
Tampak matanya hampa menahan sakit sampai dahi mengkerut.
Dadanya bergelombang  menahan rasa sakit beriring takut.
Menunggu saat-saat genting manakala nyawa dicabut.

IV
Wahai insan, hanya kebaikanlah yang abadi disisi-Nya.
Infaq shodaqoh akan berguna  lapangkan kubur nantinya.
Bacaan Alquran mempetajam lidah jawab tanya malaikat-Nya.
Dan amalan baik membantu kelak dalam beratnya pengadilan-Nya.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 18 Juli 2012

31-2012. Lailatul Qodar

31-2012. Lailatul Qodar

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Kekasih,
Betapa kerlap kerlip bintang di cakrawala begitu indah malam ini.
Kebisuan alam  semesta seakan  berikan isyarat kepada hati.
Bahwa malam ini layak bagi seorang hamba tuk meratapi.
Karena ada berjuta rahmat ditebar para malaikat Ilahi.

Dedauan diam dalam zikir semesta ketundukan.
Hewan malam pun tafakkur dalam kesunyian.
Pertanda kepatuhan diri pada kehambaan.
Serta pasrahkan hidup mati pasa Tuhan.

II
Ada malam  dipenuhi rahmat-Nya.
Malam seribu  bulan ganjarannya.
Tiada pinta yang ditolak oleh-Nya.
Sebagai  bukti kasih  sayang-Nya.

Malam yang dirindukan milyaran Insan.
Ditunggu para pencinta sepanjang zaman.
Yang tadahkan pinta beriring sedu dan sedan.
Agar di dunia akherat mendapatkan keselamatan.

III
Adalah  malam  tatkala jutaan  malaikat turun ke bumi.
Intai hamba yang bermunajad dan tangis di malam sunyi.
Harapkan  kemuliaan  beriring  ridho-Nya Yang Maha Abadi.
Serta dapat husnul khotimah kala kematian menjemput nanti.

Malam tatkala angin pasrah dalam penyatuan energi jagat raya.
Malam tatkala  Manusia dan Jin beriman  hadapkan segala pinta.
Malam, ketika tiada satu pun tak berharap makhluk yang melata.
Malam yang jadi titik harapan  keadilan mereka yang menderita.

IV
Mereka yang hatinya telah  bersatu dalam kerinduan ukhrowi.
Jadikan  kedatangan Lailatul Qodar bak kekasih yang dinanti.
Dada berdegup  kencang menunggu datangnya cinta sejati.
Yang dengannya bagai akan diikat teguhnya sebuah janji.

Malam kerinduan, malam yang mulia seribu bulan.
Padanya  tertumpuk segala macam  harapan.
Diampuni  segala  dosa  dan kesalahan.
Serta dapatkan Ridho dari Tuhan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 11 Juli 2012

26-2012. Selamat Datang Wahai Bulan Penuh Rahmat!

26-2012. Selamat Datang Wahai Bulan Penuh Rahmat!

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Detik-detik datangnya bulan ramadhan yang dirindukan para hamba jelang tiba.
Berdebar, bagaikan seorang Qais yang tak sabar menunggu  berjumpa laila.
Bak kerinduan burung pengembara antar benua kembali ke sarangnya.
Yang letih terbang sepanjang musim arungi dinginnya angkasa raya.

Kini, engkau akan hadir lagi melatih milyaran pengikut jalan Ilahi.
Langsingkan tubuh-tubuh yang sebelas  bulan jadi hamba nasi.
Redakan keangkuhan jasad-jasad yang merasa berbalung besi.
Dan sadarkan  para  pemilik harta  kekayaan akan  hakekat diri.

II
Betapa, seringnya kelucuan muncul tak sengaja di depan mata.
Tatkala di bulan suci orang besar tinggi  ternyata tak kuat berpuasa.
Terkulai bagai seekor gajah yang tumbang karena tiada dedaunan muda.
Atau mereka terkapai lunglai bagaikan harimau perkasa yang kehilangan tenaga.

Sungguh menggelikan, manakala para pemilik suara menggelegar terkulai lemah.
Begitu hebatnya puasa  menjadi psikiater yang mampu redakan amarah.
Betapa murahnya biaya yang diperlukan untuk obati penyakit magh.
Dan tidak perlu seorang dokter yang hebat obati usus yang lelah.

III
Ramadhan datang, dan terbelenggulah iblis dan balatentaranya.
Diberi kesempatan para hamba untuk  kembali melatih imannya.
Apakah akan naik derajat  menjadi  hamba  yang dirindhoi-Nya.
Ataukah tetap  jadi mereka tak  malu menumpang di bumi-Nya.

Adalah  perut yang jadi salah  satu sumber  kesenangan duniawi.
Ia jugalah yang menjadi salah satu sumber pelanggar larangan Ilahi.
Dan kesenangan demi kesenangan makan  memperhebat nafsu birahi.
Sehingga menjadi  terlupakan prinsip dan  aturan makan  yang diberkati.

IV
Terima kasih ya Allah. Engkau  beri waktu mulut ini istirahat mengunyah.
Engkau telah  malaskan nafsu ini untuk  mengumpat dan berghibah.
Engkau telah karuniakan ramadhan  sebagai bulan penuh berkah.
Engkau telah beri waktu untuk istirahatkan jasad musafir lelah.

Begitu banyak kebaikan bulan penuh berkah ini dari sisi-Mu.
Tubuh yang  terkapar kenyang harus bangun di malam dalu.
Renungkan sebentar begitu banyaknya nikmat Allah dimasa lalu.
Dan bayangkan kelak kala jasad ringkih ini telah terbujur membeku.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Jumat, 06 Juli 2012

022-2012. Ya Robbana, Izinkan Kami Untuk Berpuasa


022-2012. Ya Robbana, Izinkan Kami Untuk Berpuasa

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan

I
Kekasih, kehadirat-Mu hamba ucapkan syukur yang tak terhingga.
Atas kasih sayang-Mu kesehatan dan kesempatan ini masih ada.
Masih Engkau beri kesempatan bertaubat atas salah dan dosa.
Dan belum Engkau  panggil kami untuk  kembali ke alam baqa.

Kekasih, terima kasih atas  segala nikmat yang Kau beri.
Bersyukur  kami atas masih adanya iman di dalam hati.
Diberi kesempatan hamba-Mu nikmati sejuknya pagi.
Berharap diri  kasih-Mu untuk taubat sebelum mati.

II
Wahai Allah, berilah  kami  hati yang takuti  dosa.
Jadikan kami bermunajad dengan cucuran air mata.
Berilah kami iman yang  berharap dan  rindukan surga.
Dan jadikan kami mengigil dalam takut pada siksa neraka.

Ya Allah, berilah kami kesempatan untuk berpuasa karena-Mu.
Bersihkan perut kami yang begitu kotor karena perturutkan nafsu.
Sehatkan kembali organ tubuh kami yang banyak dipaksa hingga lesu.
Dan tambahkan kesadaran betapa beratnya hidup seperti diawal dahulu.

III
Wahai Allah,  banyak makhluk-Mu  yang rela berpuas a untuk kemuliaan.
Bak ulat yang dijijiki banyak orang jadi kupu-kupu penuh keindahan.
Atau baki ular yang lemah dikuliti jadi perkasa dan ditakuti lawan.
Sungguh dari mereka manusia belajar hikmah dalam kehidupan.

Kekasih, izinkanlah kami berpuasa dalam kesadaran insani.
Sadari  bahwa semua  berakhir  dalam  hidup tak abadi.
Tak mampu menolong disisi-Mu harta,anak dan istri.
Kecuali  menghadap-Mu  membawa  amal sendiri.

IV
Wahai Allah, betapa kami malu dengan perut ini.
Gendut berlemak tanda  nafsu yang tak terkendali.
Sedang banyak yang tak mampu  mencari sesuap nasi.
Sedang dirumah kami banyak makanan yang terbuang basi.

Ampuni kami yang banyak lalai mengingat banyaknya nikmat.
Hari-hari pendek kehidupan diisi banyak dosa dan maksiat.
Melihat kelebihan orang timbul iri dan prasangka jahat.
Dan amalan-amalan  baik begitu  sedikit diperbuat.

Kekasih, tuntunlah kami agar selamat di akherat.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 04 Juli 2012

020-2012. Syair Untuk Kekasih (15)

020-2012. Syair Untuk Kekasih (15)

                   Oleh
                   Hamdi Akhsan


I
Kekasih,
Serasa ingin hamba menangis atas ketaksyukuran diri ini.
Kesempatan hidup di dunia telah engkau tambah setahun lagi.
Dalam kurangnya  ibadah betapa  banyak nikmat  yang Engkau beri.
Moga waktu yang Engkau berikan dapat  menambah kuatnya iman di hati.

Mata ini, tangan ini, lidah ini, dan telinga ini telah berlumur dosa dan maksiat.
Betapa jalan-jalan yang ditempuh dekati kegelapan sunyi dan pekat.
Hati semakin membatu 'tuk dengarkan hikmah dan nasehat.
Serta sedikitnya bekal 'tuk hadapi siksa kubur nan berat.

II
Ramadhan kini hampir tiba dalam ketakabadian masa.
Betapa ingin jiwa ini tunduk pada-Mu sebagai hamba.
Tadahkan tangan gemetaran dalam takut dan pinta.
Berbisik lirih panjatkan doa beriring cucuran airmata.

Kekasih, dalam  redupnya cahaya bak pelita malam.
Rindunya hamba jalani Ramadhan bak dimasa silam.
Habiskan  hari- asah iman  agar bersinar  bak pualam.
Bercahaya  terang di tengah  kebenaran  yang suram.

III
Banyak hamba-Mu yang sambut datangnya ramadhan.
Munajad di bibir mereka  penuh khusuk  beriring harapan.
Agar Engkau ampuni dosa mereka sebanyak buih di lautan.
Dan di akhir ramadhan mendapat  kasih sayang & ampunan.

Ramadhan tahun ini, sebahagian saudara kami tiada lagi di dunia.
Di sebahagian  keluarga telah hilang  kegembiraan dan gelak  tawa.
Karena  orang yang mereka kasihi  telah  pergi dahulu ke alam baqa.
Sebagai bagian dari janji  tatkala  mereka akan dilahirkan ke alam fana.

IV
Kekasih, kini jasad hamba perlahan mulai menua dalam perjalanan waktu.
Ingatan dan panca indra pun kian menurun bila dibandingkan dahulu.
Bak musafir, yang dulu begitu bersih kini  penuh kotoran dan debu.
Dan kelak kamiakan kembali pada-Mu penguasa abadi yang Satu.

Dalam kekurangsyukuran dan kelalaian pada-Mu kami meminta.
Berilah kami kesempatan untuk jalani ramadhan sebagai pencinta.
Agar setelah tiada kelak kami selamat dari neraka yang penuh derita.
Dan mendapat kasih sayang dan rahmat-Mu kala kelak menutup mata.

Kekasih, hanya Ridho dan ampunan-Mu yang menghapus segala nestapa.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Jumat, 29 Juni 2012

019-2012. Senandung Taubat (2)

019-2012. Senandung Taubat (2)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Kekasih, masihkah bermakna air mata yang mengalir dalam ketakutan ini?
Masihkah bermakna disisi-Mu tangan  gemetar memohon pertaubatan diri?
Masihkah ada tempat disisi-Mu untuk hamba yang berbuat dosa setiap hari?
Masihkah akan Engkau bukakan pintu rahmat kelak di kehidupan yang abadi?

Sedang tanda-tanda yang Engkau tunjukkan masih membutakan mata insani.
Onggokan mayat membusuk  bertebaran tiada menggetarkan kerasnya hati.
Begitu asyik  dengan buaian  syahwat yang membuat  syaitan  menari-nari.
Sedang waktu cepat berlalu berpacu menuju sempitnya kubur yang sunyi.

II
Mata ini, tangan ini, telinga ini, hati ini! semua kelak akan berbicara.
Menjadi penolong atau pemberat hamba dihadapan mahkamah-Nya.
Karena tiada satu pun rekaman peristiwa yang terhapus dari sisi-Nya.
Yang akan memutuskan nasib dalam kehidupan abadi setelah di dunia.

Kekasih, hamba takut! tapi perbuatan dosa masih senantiasa  terulang.
Padahal petikan dawai kematian dipelupuk mata  seakan telah datang.
Ganasnya cambukan malaikat kubur seakan telah meretakkan tulang.
Dan bengisnya sang  penjaga neraka seakan telah menatap garang.

III
Sedang hamba, masih begitu asyik di panggung duniawi yang semu.
Sibuk  mengejar angin dan cahaya  mentari esok  yang  pasti  berlalu.
Dari hari ke hari kehidupan semakin redup dengan siraman cahaya-Mu.
Menuju sebuah kepastian  sumpah yang telah diikrar pada masa dahulu.

Kekasih, masih adakah maaf untuk para  hamba yang membangkang ini.
Masihkan tersedia  kasih sayang dan  kesempatan  untuk kami kembali.
Tolonglah kami untuk mempertajam telinga agar tidak bebal dan tuli.
Dan beri kami kesempatan untuk  bersihkan kerasnya kotoran hati.

IV
Kekasih, janji-Mu terhadap kehidupan abadi adalah pasti.
Bahagianya surga dan perihnya neraka-Mu adalah pasti.
Keadilan mahkamah-Mu untuk setiap hamba juga pasti.
Siksa kubur dan pertanyaan malaikat-Mu pun itu pasti.

Ampuni Kami Ya Robbi.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Selasa, 26 Juni 2012

018-2012. Insan Yang Fakir.

018-2012. Insan Yang Fakir.

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Syair ditulis insan yang faqir,
yang sering lalai dalam berzikir,
terhadap dunia selalu berfikir,
padahal hidup akan berakhir.

Hidup bagaikan air mengalir,
dari hulu hingga ke hilir,
rasakan senang dan pahit getir,
bagaikan roda terus bergulir.

Datang ke dunia di saat lahir,
sebagai makhluk berjasad zahir,
baik dan buruk akan diukir,
kelak ditanya di yaumil akhir.

II
Wahai insan, semua kelak berakhir fana,
berbuat baik mari karena,
jauhi segala sifat durjana,
supaya kelak tidak merana.

Dicatat malaikat dengan pena,
di padang mahsyar kelak terpana,
bagi pendosa akan terhina,
jagalah amal jangan terlena.

Jadikan hidup musafir kana,
sebelum kembali ke alam sana,
ingatkan diri akan kemana,
dalam tuntunan Allah Robbana.

III
Kepada diri hamba berpesan,
jadikan dunia "tuk perhiasan,
pada akherat janganlah bosan,
supaya bahagia diri sang insan.

Ibadah amal jalani serasan,
berbuat baik jangan ditahan,
sakiti sesama mari jauhkan,
bantu manusia dibiasakan.

Janganlah iri yang dimunculkan,
rezeki manusia tak disamakan,
rasa yang syukur terus tumbuhkan,
rasa tak puas mari pinggirkan.

IV
Sebagai insan haruslah ingat,
pada pencipta haruslah taat,
berupaya diri jauhi maksiat,
supaya kelak dapat selamat.

Mari belajar pada pelaknat,
disaat nyawa sudah tercekat,
tubuh mengejang menggeliat-geliat,
disaat usia menjelang tamat.

Jauhkan hamba siksa yang berat,
jauhkan hamba dari melarat,
jangan jadikan hati berkarat,
lindungi dari buruknya kodrat.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Rabu, 20 Juni 2012

017-2011. Syair-Syair Malam (3)

017-2011. Syair-Syair Malam (3)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Seorang anak kecil merengek di tengah malam dalam pelukan ibunya.
Ia mengigau curahkan  kepedihan yang terpendam  dihati kecilnya.
Rindukan sosok ayah tempat bermanja seperti teman-temannya.
Impikan harapan sederhana tentang utuhnya sebuah keluarga.

Tapi adalah taqdir dalam rapatnya keghaiban belum ia fahami.
Tanpa kasih seorang ayah ia akan songsong masa depan mandiri.
Dengan  kekuatan jiwa ia yang terlatih ia akan perkasa bak rajawali.
Tegakkan jati diri mencari  kemuliaan hidup di atas  bumi ciptaan Ilahi.

II
Adalah manusia, dilahirkan dalam kerangka metamorfosis kehidupan.
Sebahagian kecil bergelimang kemewahan bak seorang pangeran.
Hidupnya bak  burung pipit yang dibawakan induknya  makanan.
Tiada tetes airmata menahan perihnya perut karena kelaparan.

Namun sebahagian besar harus bergulat dengan ketiadaan.
Lapar, haus, dan  pengusiran  akrab  dengan  keseharian.
Tiada  tempat  curahkan  pinta  kecuali  kepada Tuhan.
Karena terhadap penguasa telah hilang  kepercayaan.

III
Terlihat  mata yang sinis  terhadap  kaum duafa.
Seakan terhadap nikmat Ilahi merekapun lupa.
Sehingga  kekayaan yang diberi jadi berhala.
Yang dengan semua itu pasti kan bahagia.

Padahal harta bak musim yang berganti.
Setiap saat bisa hilang  yang telah dimiliki.
Sebagai titipan dari-Nya Sang Pemilik Abadi.
Yang akan  diberikan pada yang dikehendaki.

IV
Hamba-Nya yang fana bukanlah pemilik keabadian.
Semua kesenangan terputus kala datang kematian.
Yang dibawa ke kuburnya hanya  tiga lapis kain kafan.
Yang itupun dalam  waktu tak lama hancur berceceran.

Dunia!begitu indah bagi para pencinta kesenangan mata.
Harta!menjadi  ukuran seseorang agar dipandang mulia.
Kekuasaan!akan membuat pemegangnya dipuja-puja.
Tinggallah yang  abadi  mengejar yang  sementara.

V
Rajawali yang  perkasa kelak akan  tumbang.
Harimau yang gagah hanya tinggal belang.
Manusia  mulia dan hina akan  dikenang.
Setelah tiada bak gugurnya kembang.

Mengapa mengejar yang akan sirna?
Sekuat  tenaga  cari yang akan  fana?
Lalai dengan kehidupan di akherat sana.
Yang  abadi dalam  bahagia atau merana.

Dengan kasih-Mu, ampuni kami Ya Robbana!


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 10 Juni 2012

012-2012. Syair Sakaratul Maut

012-2012. Syair Sakaratul Maut

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Dengan Bismillah diri bersyair,
berharap hati di dalam zikir,
dipelihara-Nya saat berfikir,
sampai kelak hidup berakhir.

Madahku ini tentang maut,
yang buat diri merasa takut,
hati yang sombong jadi mengkerut,
nafsu duniawi pun menjadi kalut.

Matinya hamba adalah pasti,
Sebagai janji alam azali,
hukum yang tetap dari Ilahi,
supaya ingat selalu diri.

II
Ingatlah sakaratul maut 'kan tiba,
menetes air deras si airmata,
tak sanggup lagi berkata-kata,
ingin meratap tapi tak bisa.

Tubuh bergetar menahan sakit,
tak sanggup lidah untuk menjerit
rasa ditarik daging dan kulit,
wahai sungguh berat dan juga sulit.

Belumlah lagi didepan mata,
siksa yang nampak berlipat ganda,
tak guna semua apa dibangga,
tergambar semua salah dan dosa.

II
Anak dan istri hanya bersedih,
Teman setia akan menyisih,
pengganti jabatan siap dipilih,
yang ada hanya sakit dan perih.

Otak tak lagi mampu berfikir,
segala diucap hanya mengalir,
mata pun hampa senyumpun getir,
itulah sesal di saat akhir.

Kepada diri hamba berpesan,
ingatlah selalu sebagai insan,
sakaratul maut selalu ingatkan,
agar tak rugi di penghabisan.

III
Adalah indah si hamba Allah,
pabila dapat husnul khotimah,
disaat akhir tidaklah kalah,
terhadap syaitan tidak menyerah.

Tatkala mati ia dijemput,
nyawa dibawa bukan dicabut,
ia bahagia bukannya takut,
manusia terpuji ia disebut.

Orang menangis karena sayang,
terasa berat ia menghilang,
amalan baiknya tiada terbilang,
sampai mati pun tetap terpandang.

IV
Berbeda mereka yang banyak dosa,
di saat mati berputus asa,
diancam dengan beratnya siksa,
sakit bak diiris pisau selaksa.

Kubur yang panas telah menanti,
dihimpit kubur hanya sendiri,
cacing dan ulat menari-nari,
dihantam malaikat sampai berdiri.

Begitu pula yang dtinggalkannya,
berebut harta ahli warisnya,
tak ada kiriman doa anaknya,
hanya sendiri tanggung siksanya.

V
Marilah kawan mari sahabat,
kita semua selalu bertaubat,
sebelum semua jadi terlambat,
tatkala mata putih terjulat.

sakaratul maut pastilah datang,
tak perlu pinta tak perlu undang,
siapkan diri menjelang pulang,
hadap Ilahi Maha Penyayang.

Madahku ini sampai disini,
moga manfaat lembutkan hati,
mendapat ridho Robbul Izzati,
menjadi pahala setelah mati.

Ampuni kami wahai Ilahi.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 06 Juni 2012

010-2012. Senandung Senja

010-2012. Senandung Senja

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Mentari terik telah memerah tenggelam di ufuk barat.
Sungguh kehidupan di bumi datang dan pergi begitu cepat.
Ada manusia yang berpacu mengejar kebahagiaan kelak diakherat.
Namun sebahagian besar baru  menyesali  hidupnya  setelah terlambat.

Dunia, sungguh dipenuhi fatamorgana yang memabukkan penghuninya.
Tanpa sadar usia kehidupan sang hamba berkurang begitu cepatnya.
Serasa baru kemarin masa kecil dan masa muda yang dijalaninya.
Kini telah begitu  ringkih dan bergetar sendi-sendi tulangnya.

II
Ufuk merah di barat isyaratkan pergantian sebuah generasi.
Datanglah generasi baru dan mereka yang terdahulu pun mati.
Demikianlah kehidupan makhluk dan pergantian yang harus dijalani.
Sebagai bahagian dari kehendak dan hukum dari Ilahi Yang Maha Suci .

Adalah  kehidupan duniawi  yang fana membuat  jiwa manusia  terlena.
Tak sadar  kelak hidup yang  sementara  berjalan  entah kemana.
Lupa kalau aktivitasnya dipertanggunjawabkan di alam sana.
Tinggallah kelak jadi insan yang bahagia atau merana.

III
Adalah kehidupan ini merupakan sebuah permisalan.
Bak sebutir biji yang tumbuh kemudian muncul dedaunan.
Tumbuh, berkembang, dan berbuah menghasilkan kesenangan.
Kemudian rebah menjadi pupuk bagi bumi sebagai sebuah kenangan.

Tak sebentar lagi mentari akan redup dan kegelapanpun akan datang.
Bak kegelapan kubur gelap tanpa cahaya saat maut menghadang.
Tiada teman dan sahabat atau penolong yang dapat diundang.
Hanya kebaikan selama hidup yang akan membuat senang.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 05 Juni 2012

008-2012. Syair Tawakkal

008-2012. Syair Tawakkal

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Awali syair dengan Bismillah,
bermohon ridho kepada Allah,
memohon ampun bila tersalah,
dinaungi saat langit terbelah.

Syairku ini sebagai pengingat,
di zaman penuh dengan maksiat,
semoga diri sempat bertaubat,
sebelum diputus segala nikmat.

Hamba yang fakir akan bermadah,
tentang perkara disebut mudah,
namun diamal begitu susah,
karena dipakai disaat kalah.

II
Madahku ini tentang tawakkal,
yang sering tiada masuk diakal,
untuk dibuat sebagai bekal,
menghadap Allah yang Maha kekal.

Di dalam kitab telah disuruh,
Untuk bekerja memeras peluh,
selalu semangat tanpa mengeluh,
walau dapatnya hanya separuh.

Usaha itu bentuk syariat,
supaya tidak jadi melarat,
menjaga badan selalu sehat,
larang dan suruh selalu diingat.

Bila semua telah dikerja,
pada Ilahi serahkan saja,
jadilah hamba bernyali baja,
terjauh dari malas dan manja.

III
Didalam kitab Tuhan sebutkan,
taqdir manusia Dia tentukan,
manusia hanya mengusahakan,
sebagai bagian dari kewajiban.

Hidup haruslah banyak bersyukur,
supaya jauh sifat yang kufur,
pabila sukses tidak takabbur,
pabila gagal tidaklah hancur.

Terkadang upaya haruslah gagal,
jangan menjadi sedih dan kesal,
Bila berhasil jadikan bekal,
tingkatkan iman dan ilmu akal.

IV
Betapa banyak orang yang sesat,
tak takut rezeki campur maksiat,
bila berhasil merasa hebat,
pabila gagal mengumpat-umpat.

Apabila akal telah di tuhankan,
Segala jalan kan diupayakan,
cara yang salah ia benarkan,
maksiat pasti dia kerjakan.

Beruntung bila si hamba sadar,
disisi Allah semua qodar,
walau difikir sampai kelengar,
tak akan kalah sang Maha Pintar.

V
Sebab itu hamba sampaikan,
tawakkal Allah untuk pegangan,
jalani hidup yang disuruhkan,
jauhi larangan yang disebutkan.

Kalau semua telah dijalankan,
niscaya bahagia kan diberikan,
rasa syukur kan ditambahkan,
akherat kelak kan diselamatkan.

Madahkan ini akan berakhir,
waktu berlalu kian mengalir,
semoga jadi renung dan fikir,
sebelum fana jasad yang zahir.

Inderalaya 6 Juni 2012
Al Fafir

Hamdi Akhsan

007-2012. Syair Ulang Tahun (2)

007-2012. Syair Ulang Tahun (2)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Sahabat...
Pertama Bismillah daku ucapkan,
hanya pada-Nya diri sandarkan,
nasehat yang baik daku berikan,
atas kurang usia duabelas bulan.

waktu berlalu tidak terasa,
telah berkurang jatah usia,
tahunpun sudah berganti masa,
jasadpun makin dekat binasa.

Taqdir yang lalu silih berganti,
susah dan senang telah dilewati,
nikmat yang datang mari syukuri,
musibah didapat kita renungi.

II

Sahabat...
Renungan pertama fardhu ibadah,
ia berkurang atau bertambah,
kalau berkurang sungguh rugilah,
bila bertambah Alhamdulillah.

Ibadah itu adalah modal,
kala menghadap Sang Maha Kekal,
kala tak guna hebatnya akal,
kala diganjar segala nakal.

Kalau ibadah makin berkurang,
dilanggar terus apa dilarang,
itu pertanda lalainya orang,
terhadap Tuhan Maha Penyayang.

III
Renungan kedua terhadap harta,
apakah ia lalaikan kita,
membuat silau si biji mata,
membuat diri sampai berdusta.

Kalaulah harta membuat lalai,
menyesal kelak setelah terkulai,
airmata pun jatuh berurai,
setelah nyawa jasad bercerai.

Harta yang baik membahagiakan,
asal dapatnya diperhatikan,
zakat dan infak dikeluarkan,
fakir dan miskin kan dijatahkan.

IV
Renungan ketiga terhadap turunan,
apakah amanah telah ditunaikan,
ajaran yang baik telah ditanamkan,
ibadah dan amal telah dibimbingkan.

Dunia akherat sama pentingnya,
agar turunan tak jadi bebannya,
setelah mati kan membantunya,
disaat hidup membanggakannya.

Kalaulah turunan tidak dididik,
masihlah hidup sudah menghardik,
setelah mati semakin pelik,
dituntut diri sampai mengkirik.

V
Wahai...
Sungguh hidup bagaikan kilat,
usia yang lalu bagai sesaat,
sadarlah diri terhadap maksiat,
jauhkan dari laku yang jahat.

Mari gunakan sisa yang ada,
menambah iman di dalam dada,
tadahkan tangan kita kepada,
Ilahi rabbi sebelum tiada.

Pada sahabat daku ucapkan,
renungi segala yang Tuhan berikan,
bertaubat diri mari kerjakan,
sebelum jadad berbalut kafan.


Indralaya, 5 Juni 2012
Al Faqir


Hamdi Akhsan

Senin, 05 Maret 2012

005-2012. Kepada Penghuni Kubur Yang Menangis Daku Bertanya


005-2012. Kepada  Penghuni Kubur Yang Menangis Daku Bertanya
                
                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Kutatap kubur sunyi yang berderet di tengah kesunyian malam.
Entah siapa mereka itu yang pernah hadir hiasi masa-masa silam.
Ada yang hidupnya bergelimang harta  berhiaskan mutu manikam.
Ada diantaranya penguasa yang tangannya begitu bengis dan kejam.

Kemana mereka semua kini berada?di kedalaman tanah tak bertuan.
Bahkan kadang hanya sendirian saja menjadi hiasan  taman-taman.
Decak kekaguman dan ketundukan para punggawa tinggal impian.
Dan anak turunannya saling berseteru memperebutkan warisan.

II
Kejayaan duniawi? hanya impian  kosong yang tak bermakna.
Setelah didapat, bak untai  mutiara yang kehilangan pesona.
Dalam kubur yang sunyi hanya menangis dan sesal merana.
Karena sadar  telah ditipu oleh mainan & kepalsuan dunia.

Daku bertanya padamu?kemana sorot matamu yang dulu begitu licik?
Dimana otakmu  yang dahulu begitu pintar menebar fitnah dan intrik?
Mana kefasihan lidahmu sehingga  kebenaran yang ada di bolak-balik?
Mana tumpukan uangmu yang dahulu selalu kau hitung dengan asyik?

III
Jadi apa kini airmata  mereka yang  dahulu engkau zalimi.
Mendapat balasan apa  janji-janji yang tidak engkau tepati.
Memperoleh ganjaran apa amanah-amanah yang dikhianati.
Dan memberimuv kebaikan apa mereka yang telah kau sakiti?

Kini dikubur sunyi,  tak kulihat beda  pengemis  dan penguasa.
Sama pula kubur para penyeru  kebenaran dan para pendosa.
Bila telah berbuat kebaikan, akan dikenang orangsegala jasa.
Namun  keburukan dan kejahatan  selamanya selalu dinista.

IV
Kepada diri sendiri, seorang hamba yang lemah berpesan.
Bahwa  segala yang indah  di mata hanyalah  sekedar hiasan.
Yang berguna setelah terbaring di kubur sunyi  hanya kebaikan.
Sebagai  bekal kelak di alam kekal yang  sungguh tiada kefanaan.

Berhati-hati dengan kekuasaan yang didalamnya penuh amanah.
Apalah lagi berbuat zalim kepada mereka  yang tidak bersalah.
Membuat yang lemah jadi  menangis berurai airmata darah.
Karena kelak mereka akan menuntut keadilan disisi Allah.

Wahai diri, Sadarlah.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan