Sabtu, 10 Desember 2011

302-2011. Senandung Musim Penghujan

302-2011. Senandung Musim Penghujan

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Awan tebal bergelayut tebal  menghadang cakrawala.
Simpan kerinduan pada hijaunya daun yang hiasi lebatnya rimba.
Sebentar lagi, hujan  turun sirami dataran dan penuhi luasnya samudera.
Sungguh itulah hukum dan curahan rahmat Ilahi Sang Pemelihara Alam Semesta.

Sebagian hamba-Nya memandang ke langit dengan cahaya mata yang bersyukur.
Berharap dengan  siraman hujan padi-padi di sawah  akan tumbuh subur.
Lahan tanam yang mengering saat kemarau berubah jadi lumpur.
Betapa banyaknya nikmat Ilahi yangsulit untuk  diukur.

II
Penghuni air ungkap  kebahagiaan  menyambut hujan.
Sepanjang malam tak letih senandungkan berbagai nyanyian.
Sebagai manifestasi rasa  syukur atas segala  nikmat yang diberikan.
Itulah ketaatan sebagian makhluk yang pasrah dengan hukum-hukum Tuhan.

Air, hujan, sungai, dan danau menjadi bagian nikmat yang tak terpisahkan.
Dengan pemberian ini  makhluk Allah dapat melanjutkan kehidupan.
Dengannya masa aktif dan istirahat penghuni bumi digilirkan.
Itulah hak hidup untuk hamba-Nya  diseimbangkan.

III
Namun sebahagian manusia lupa untuk mensyukuri.
Yang menjadi ukuran baginya hanyalah kepentingan pribadi.
Nikmat hujan yang diberikan-Nya dianggap kesusahan menghalangi.
Sehingga mereka pun terjauh dari ketenangan dan ketajaman mata hati.

Bahkan ada yang sebahagian menganggap hujan adalah sumber malapetaka.
Memunculkan genangan dan banjir yang hadirkan banyak duka lara.
Padahal karena dihalanginya jalan resapan air ke dalam tanah.
Dan banyaknya manusia menimbun sawah dan rawa.

IV
Sungguh betapa perlu manusia banyak merenung.
Betapa telah terjadi kerusakan hebat di laut dan gunung.
Ketak seimbangan  alam membuat air bah datang  menggulung.
Lahirkan duka dan air mata bagi mereka yang hidupnya tak beruntung.

Datangnya hujan, membawa rahmat dan kebaikan di bumi sejak dahulu.
Namun bisa pula lahirkan musibah yang tanamkan kenangan pilu.
Musibah dan rahmat berdampingan dalam kejadian itu.
Sebagai wujud kuasa dari Ilahi Yang Satu.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 13 November 2011

295-2011. Renungan Musim (Hujan)

295-2011. Renungan Musim (Hujan)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Adalah hukum-Nya yang telah terjadi sejak bumi dicipta.
Simetri penciptaan makhluk  selalu terbagi menjadi dua.
Pasangan yang diberi untuk pria adalah seorang wanita.
Disisi beratnya  kesedihan Dia  sandingkan rasa gembira.

Adalah musin berganti Dia datangkan  secara bergantian.
Setelah berakhir  musim kemarau  datang  musim hujan.
Semua bermanfaat bagi manusia, tumbuhan dan hewan.
Sungguh betapa  ilmu Ilahi dalam segala  kesempurnaan.

II
Dalam musim hujan begitu banyak makhluk yang diberkati.
Bijian-bijian tumbuh merekah bersama bersinarnya mentari.
Telur ikan menetas dan kodok keluar dari tempat sembunyi.
Dan para petani tersenyum karena  mulai bisa bertanam padi.

Namun sebahagian manusia kehilangan rasa syukur atas nikmat.
Akibat keserakahan  hutan-hutan  penyimpan air habis dibabat.
Terjadi  banjir yang  melanda  setelah datangnya  hujan lebat.
Dan terjadilah musibah dan  penderitaan  yang begitu hebat.

III
Airmata dan ratapan terdengar dari mulut rakyat biasa.
Tatkala  banjir membuat  sawah ladang  rusak binasa.
Halangi terjadinya  penebangan liar mereka tak bisa.
Mereka hanya mampu mengadu pada Yang Kuasa.

Kepada  alam harusnya  ada prinsip keseimbangan.
Penebangan hendaknya diiringi dengan penanaman.
Sungai-sungai  dijaga agar sampah  tak buat kebajiran.
Tanah-tanah tidak ditutup beton agar tetap ada resapan.

IV
Dalam hujan betapa banyak  makhluk yang beruntung.
Tumbuhan berbuah jadi makanan bagi burung-burung.
Pucuk-pucuk  tumbuhan  muda  jadi makanan  lutung.
Banyak  sekali nikmat  Ilahi yang tak  mungkin dihitung.

Hujan membawa air yang bersih susuri kegelapan tanah.
Muncul memercik jernih dari mata air ke dataran rendah.
Menjadi  pembersih  bagi mereka  yang  suka beribadah.
Jadi penambah iman terhadap ciptaan Yang Maha Indah.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Jumat, 29 Juli 2011

268-2011. Senandung Pagi (10) di Musim Kemarau

268-2011. Senandung Pagi (10) di Musim Kemarau

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Pagi yang berhias jernihnya embun kini berganti.
Sapaan  kabut nan basah  sementara  tak menemani.
Hanya debu, yang mengabut terbang di permukaan bumi.
Dan kesejukan haripun berganti panas bak dekat cahaya api.

Pagi musim kemarau kini datang serentak dengan bulan puasa.
Sepertinya bumipun ada periode istirahat dalam putaran masa.
Ada musim tatkala biji benih tumbuh di tanah subuh nan basah.
Namun ada  masa kering  yang diciptakan dengan tujuan beda.

II
Dalam perjalanan waktu bumi memberikan banyak isyaratnya.
Sebagai bahagian dari pengaturan  periode penciptaannya.
Dalam tiap kejadian tersimpan hikmah dan rahasia-Nya.
Agar insan senantiasa  sadar akan  keterbatasannya.

Pada kemarau tersimpan  hikmah untuk berhemat.
Tubuh mengurangi kerja keras agar usus istirahat.
Seperti jasad  berpuasa  tuk kuras  zat yang jahat.
Itulah hal  yang tersembunyi  dibalik  yang terlihat.

III
Di musim  kemarau hendaknya  manusia bersabar.
Ajarkan rasa  syukur akan  nikmat air yang tersebar.
Ingatkan manusia terhadap keterbatasan harus sabar.
Agar amal kebaikan yang dibuat  tidak hangus terbakar.

Musim  kemarau  istriahatkan  beberapa  jenis   hewan.
Mereka bertapa  dalam tanah sampai tiba musim hujan.
Sebaliknya ada jenis lain yang  bertapa di musim hujan.
Begitu adilnya hukum Ilahi  dalam mengatur pergantian.

IV
Dalam masa hidup insan kadang ada kemarau rezeki.
Hendaklah sabar dan tawakkal atas ketentuan Ilahi.
Sambil terus bekerja keras saat  petang dan pagi.
Agar mendapat kebaikan yang tersebar dibumi.

Sungguh begitulah  penciptaan dalam dua sisi.
Agar   keseimbangan  terjaga  secara  simetri.
Sebagai bentuk kesempurnaan dalam dua sisi.
Sampai kelak datangnya suatu hari yang pasti.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Minggu, 03 Juli 2011

228-2011. Untuk Sahabat Masa Kecil (2)

228-2011. Untuk Sahabat Masa Kecil (2)

                   Oleh
                   Hamdi Akhsan


I
Sahabat,
Kini usia kita telah lalui angka empat puluh tahun.
Kenangan indah masa kecil kita begitu rapi tersusun.
Kadang aku tersenyum sendiri bila ingat saat melamun.
Ada kerinduan dijiwa ini untuk kelak masih bisa berhimpun.

Kurindukan kaki-kaki telanjang berlari pulang dari sekolah.
Susuri jalan-jalan kecil sambil berceloteh dan bercerita.
Terkadang terdengar serentak riuhnya derai tawa.
Sungguh  masa kecil begitu  indah  tanpa dosa.

II
Sahabat, ingatkah engkau saat lari di pematang.
Dikejar  pemilik kolam  terjatuh  tunggang langgang.
Sorenya ke surau dan  membawa  obor untuk penerang.
Dan saling menceritakan kelucuan yang terjadi disaat siang.

Di tengah  kicauan burung  kita pergi  membawa perangkap.
Sambil menepak nyamuk menunggu ada yang tertangkap.
Disiul-siulkan mulut agar  burungnya tertipu &  hinggap.
Dan  setengah  hari hanya  bawa  hampanya harap.

III
Teringat  saat membuat api unggun batok kelapa.
Menjadi tradisi di kampung setiap jelang akhir puasa.
Bertadarussan sambil berlarian ganggu  orang dewasa.
Sungguh begitu kuatnya  kurindukan  lagi hadirnya masa.

Belumlah lagi anak-anak bermain dibawah sinar rembulan.
Sambil  bermain gobak sodor  sembunyi dan berlarian.
Terdengar teriakan  melengking karena dikejutkan.
Sungguh sebuah masa yang tiada kemunafikan.

IV
Kini, bulan tak lagi  bersinar indah dimalam hari.
Dikalahkan oleh terangnya cahaya listrik menyinari.
Dijalanan  kecil  tak  terlihat lagi  anak-anak  berlari-lari.
Semuanya telah berubah atas nama kemajuan dan industri.

Buah-buahan  lokal yang sehat  menghilang dari  peredaran.
Karena bunga tak berbuah akibat kelelawar dimusnahkan.
Ditambah lagi dengan  banyak buah impor  digalakkan.
Jadilah  negeri yang  kaya alam  tinggal kenangan.

Dan masa kecil kita hanya tinggal sebagai keindahan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Sabtu, 02 Juli 2011

225-2011. Kepada Pantai Aku Bertanya

225-2011. Kepada Pantai Aku Bertanya

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Engkau ditaqdirkan jadi pertemuan darat yang diam dan laut yang menggelora.
Di tepimu jutaan tahun ombak tak henti menerpa.
Pasir putih terhampar menyejukkan mata.
Hutan bakau terbentang luas lindungi tepian dengan kukuhnya.

Hewan-hewan laut kecil hidup dalam pasirmu.
Burung camar terbang diatasmu.
Lambaian daun kelapa percantik panoramamu.
Sungguh begitu indah penciptaanmu.

II
Kini,kemana bakau tempat bertelur udang-udang.
Dimana tempat menggelayut kelelawar yang menyerbuk putik buah dan kembang.
Dimana siluet mentari di pasir putih tatkala petang.
Tak tahu,kemana semua menghilang.

Kepada pantai aku bertanya.
Apakah orang tak berbusana menginjak-injakmu engkau suka.
Apakah terhadap punahnya bakaumu engkau tak murka.
Dan apakah kehancuranmu jadi penyebab prahara.

III
Kepada pantai yang menghitam karena polusi aku bertanya.
Apakah matinya orang karena tertelan arus karena taqdirnya.
Apakah menghilangnya burung camar karena punah.
Apakah semua terjadi karena murka-Nya.

Kepada pantai yang menderu aku tanyakan.
Apakah perbuatan manusia tak menyenangkan.
Apakah harmoni antara makhluk telah dirusakkan.
Sungguh manusia bumi ini telah kelewatan.

IV
Betapa kini,pantai bukan lagi jadi tempat yang menyenangkan.
Di banyak lokasi aurat manusia sering dipamerkan.
Keindahan penciptaan Ilahi tertabir oleh pandangan badan.

Pantai yang dicipta kini telah berubah.
Di segala tempat banyak terjadi musibah.
Malapetaka banyak terjadi ditempat yang indah.
Sungguh manusia telah lalai pada sang pencipta.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Senin, 27 Juni 2011

209-2011. Iklim Yang berubah

209-2011. Iklim Yang berubah


                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Kini,perubahan cuaca dak lagi bisa diprediksi.
Musim hujan dan kemarau tak teratur lagi.
Tak nampak lagi embun bahasi dedaunan di hari pagi.
Iklim telah berubah tanpa mampu diperbaiki.

Adalah kebuasan dan keserakahan penyebab perubahan.
Nafsu yang tak terbatas tak lagi tertahankan.
Dosa demi dosa tak lagi dipedulikan.
Sungguh kehidupan menjelang kehancuran.
II
Tanah merekah, bukit runtuh, laut menggelora.
Peringatan demi peringatan Ilahi tetap tak diindah.
manusia yang hidup dalam penderitaan tidak mengetuk hatinya.
Itulah akhir zaman sebagai pertanda.

Tatkala suara alam tak lagi didengar.
Kehidupan dilalui dengan segala hingar bingar.
Bila diberi peringatan jawabannya akan sangar.
Sungguh manusia berani menentang Ilahi yang Maha Besar.

Bumi makin tak ramah karena disakiti.
Manusia yang diberi amanah melecehkan perintah Ilahi.
Tak ingat bahwa saat lahir tiada sesuatu dibawa diri.
Kecuali rezeki dari Allah yang Maha Pemberi.

III
Masa pun berlalu, bumi kian tua,
Manusia tak sadar kehancuran bumi akibat serakah.
Tak peduli akibat yang muncul bumi pun di ekspoitasinya. 
Tinggallah bagi anak cucu ribuan malapetaka.

Iklim telah berubah ekstrim.
Tak lagi disiplin pergantian musim.
Badai, gempa, dan taufan pun kini dikirim.
Tinggallah kelak manusia berhadapan dengan Sang Hakim.

Hanya kesadaran akan keseimbangan yang bisa memperbaiki.
Hutan tidak ditebang semena-mena agar tidak erosi.
Banjir bisa dicegah asal hutan dibuat lestari.
Dan nafsu serakah yang tak ada habisnya dibatasi.
IV
Saatnya telah tiba untuk sadar.
Sebelum azab dari angkasa menggelegar.
Sehebat apapun manusia akan terlantar.
Dan bertanggungjawab pada Ilahi Yang Maha Besar.

Iklim berubah, kehancuran didepan mata.
Mari keseimbangan antar makhluk kembali ditata.
Sebelum tak guna kita berpinta.
Dan bumi yang indah hancur dan rata.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan
 

Minggu, 26 Juni 2011

209-2011. Iklim Yang Berubah

209-2011. Iklim Yang Berubah

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan



I
Kini,perubahan cuaca dak lagi bisa diprediksi.
Musim hujan dan kemarau tak teratur lagi.
Tak nampak lagi embun basahi dedaunan di hari pagi.
Iklim telah berubah tanpa mampu diperbaiki.

Adalah kebuasan dan keserakahan penyebab perubahan.
Nafsu yang tak terbatas tak lagi tertahankan.
Dosa demi dosa tak lagi dipedulikan.
Sungguh kehidupan menjelang kehancuran.

II
Tanah merekah, bukit runtuh, laut menggelora.
Peringatan demi peringatan Ilahi tetap tak diindah.
manusia yang hidup dalam penderitaan tidak mengetuk hatinya.
Itulah akhir zaman sebagai pertanda.

Tatkala suara alam tak lagi didengar.
Kehidupan dilalui dengan segala hingar bingar.
Bila diberi peringatan jawabannya akan sangar.
Sungguh manusia berani menentang Ilahi yang Maha Besar.

Bumi makin tak ramah karena disakiti.
Manusia yang diberi amanah melecehkan perintah Ilahi.
Tak ingat bahwa saat lahir tiada sesuatu dibawa diri.
Kecuali rezeki dari Allah yang Maha Pemberi.

III
Masa pun berlalu, bumi kian tua,
Manusia tak sadar kehancuran bumi akibat serakah.
Tak peduli akibat yang muncul bumi pun di ekspoitasinya.
Tinggallah bagi anak cucu ribuan malapetaka.

Iklim telah berubah ekstrim.
Tak lagi disiplin pergantian musim.
Badai, gempa, dan taufan pun kini dikirim.
Tinggallah kelak manusia berhadapan dengan Sang Hakim.

Hanya kesadaran akan keseimbangan yang bisa memperbaiki.
Hutan tidak ditebang semena-mena agar tidak erosi.
Banjir bisa dicegah asal hutan dibuat lestari.
Dan nafsu serakah yang tak ada habisnya dibatasi.

IV
Saatnya telah tiba untuk sadar.
Sebelum azab dari angkasa menggelegar.
Sehebat apapun manusia akan terlantar.
Dan bertanggungjawab pada Ilahi Yang Maha Besar.

Iklim berubah, kehancuran didepan mata.
Mari keseimbangan antar makhluk kembali ditata.
Sebelum tak guna kita berpinta.
Dan bumi yang indah hancur dan rata.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Sabtu, 25 Juni 2011

207-2011. Kepada Sungai dan Rawa


207-2011. Kepada Sungai dan Rawa
            Oleh
            Hamdi Akhsan

 









I
Sungai.
Mengapa kini engkau coklat dan penuh bisa.
Mengapa jernihmu tak lagi menyedapkan mata.
Mengapa luapanmu lahirkan tangis derita.
Dan mengapa iramamu tak lagi indah bak alunan kata.

Dulu, engkau mengalir di segala musim.
Patuh pada aturan Ilahi tentang perubahan iklim.
Menjadi tempat suku pengembara sungai bermukim.
Dan rahmat-Nya berupa ikan melimpah dikirim.

II
Sungai,
Kini dasarmu penuh noda dan lumpur hitam.
Permukaanmu berkilat polusi beracun yang tampak seram.
Gemericik bunyimu tak lagi indah di waktu malam.
Dan disegala tempat erosi telah membuatmu tak lagi dalam.

Sungai, sebahagian kini telah kering.
Tanah-tanah runtuh karena gundulnya tebing.
Aliran tak lagi deras karena tertutupnya hilir yang miring.
Sungguh karena keserakahan kesimbangan jadi genting.

III
Kemana kini ikan-ikan sungai yang kaya protein.
Semua dirampas manusia serakah dengan peralatan mesin.
Tak peduli nelayan tradisional yang hidupnya miskin.
Sungguh pasti kehancuran yang terjadi sudah yakin.

Kemana harus bertanya.
Rawa pun kini banyak yang musnah.
Menjadi tempat hunian setelah ditimbun tanah.
Dan ikan-ikan pun kehilangan rumah.

IV
burung pemakan ikan Yang terbang cepat tak lagi terlihat.
Air sungai dan rawa pun kotor seperti berkarat.
Ditepi sungai tumbuh rumah-rumah kumuh simbol hidup melarat.
Sungguh kehidupan kini makin sekarat.

Mereka yang berpunya?
Menebang hutan dan timbun rawa untuk bisnisnya.
Banjir dan erosi tidak jadi fikirannya.
Yang penting makin bertambah timbunan kekayaannya.

V
Sebentar lagi.
Sungai-sungai kecil hilang dari bumi.
Sungai-sungai besar tak bisa dilayari.
Ikan-ikan sungai pun tinggal cerita penghibur hati.
Sungguh kehidupan pun tak lagi dirahmati.

Moga kesadaran keseimbangan segera datang.
Sebelum bumi yang tua makin kering kerontang.
Berbagai musibah tiap saat datang.
Karena banyaknya manusia pada Ilahi sanggup menantang.

Bandung, Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Sabtu, 18 Juni 2011

194-2011. Kepada Samudera Yang Menggelora aku Bertanya?

194-2011. Kepada Samudera Yang Menggelora aku Bertanya?

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Kepada samudera yang menggelora  aku bertanya?
Mengapa  kini  sahabat Tsunamimu  sering marah.
Mengapa dibalik keindahanmu tersimpan petaka.
Mengapa  dibalik  tenangmu  tersimpan murka.

Mengapa  biru indah mu kini  berubah coklat.
Mengapa kilau permukaanmu kini memucat.
Mengapa  tanpa  aba apa kau  sapu darat.
Mengapa  dimusim biasa  badaimu hebat.

II
Kutanyakan padamu wahai samudera yang bergemuruh.
Mengapa  badai dan praharamu kini tak lagi menyentuh.
Mengapa pada  pemilik-Nya kini  sang budak  tak patuh.
Dan mengapa  tak takut pada hari tatkala langit runtuh.

Pada laut nan bisu ditengah cahaya bulan aku bertanya.
Mengapa kedahsyatan energimu tak lagi  getarkan jiwa.
Apakah  karena manusia  telah  kehilangan  jiwa taqwa.
Ataukah kemajuan  teknologi telah  membuat jumawa.

III
Kepada laut  yang  kaya  aku bertanya.
Dimana isi kandunganmu yang melimpah.
Apakah telah  dikuras habis umat manusia.
Dan apakah hilang  disapu  oleh malapetaka.

Kemana  kini  ikan-ikan yang  dahulu  beragam.
Kemana tiram-tiram yang berisi mutiara manikam.
Mengapa kini kilapan permukaanmu tampak suram.
Kemana warnamu yang biru kini tampak menghitam.

IV
Kepada laut yang  menyimpan  misteri  aku bertanya.
Dimana debur ombakmu yang merdu saat purnama.
Dimana mereka yang mati tenggelam hanya nama.
Kemana burung  camar yang dulu bercengkrama.

Pada laut yang jadi  tentara-Nya aku bertanya.
Mengapa petaka kini  sering datang tiba-tiba.
Mengapa  tiada  peringatan  sebagai  tanda.
Apakah memang  manusia  telah  durhaka.

V
Padamu wahai samudera yang dititipi energi yang besar.
Padamu yang  memiliki  ombak  gemuruh  menggelegar.
Didalammu yang  karunia Ilahi  begitu  banyak  tersebar.
Semua  pertanda  kekuasaan  Allah Tuhan  yang Akbar.

Kepada Laut yang ikhlas tunduk pada-Nya aku bertanya.
Adakah  bertambah iman  hamba  yang  gunakan  mata.
Adakah  dahsyatnya Tsunami  dekatkan ke jalan Taqwa.
Ataukah makhluk  manusia di bumi kini semakin durhaka.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 02 Juni 2011

36-2011. Bumi Yang Merana

36-2011. Bumi Yang Merana

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Dengarlah olehmu ratapan sebatang  pohon di rimba.
Yang berkisah tentang apa  yang telah disaksikannya.
Melihat kerakusan tak  tertahankan di dunia manusia.
Yang  memetik banyak  malapetaka  karena  ulahnya.

Ia pun berkisah,dahulu hutan ini segalanya seimbang.
Di pohon-pohon tinggi burung burung bersarang.
Namun  tiba-tiba pohon  menjadi  tumbang.
Karena tanpa dipilih lagi ia pun ditebang.

Ketika pepohonan rimbun tiada.
Burung-burung  berpindah.
Tanah kering merekah.
Dan banjir pun tiba.
Habiskan segala.

II
Kini, tatkala  hujan  datang air mengalir sangat keruh.
Tanpa  penghalang air  bah pun  datang  bergemuruh.
Menjadikan rumah,  sawah, dan ladang  hancur luluh.
Dan alam yang baik pun kini berubah menjadi musuh.

Sungguh rakus.
Rimba  diberangus.
Simetri alam   terputus.
Hilang juga sifat yang halus.
Oleh serakah  yang  membius.

Manakala  keseimbangan  terganggu.
Keindahan  hutan  jadi  bagian  masa lalu.
Suara alam pun hilang dan kini diam membisu.
Menjadi  musuh  manusia  dengan  aturan   kaku.

III
Tinggallah kini generasi yang kehilangan pijakan.
Yang habiskan biaya menata hutan  buatan.
Hutan yang  tersisa pun tak  dilestarikan.
Sungguh keanehan membingungkan.

Petaka  di hari ini  terus terjadi.
Karena alam tak ramah  lagi.
Terjadi petang atau pagi.
Rahmat Ilahi tlah pergi.

IV
Ingatlah!  tatkala  hukum  Ilahi  telah  terganggu.
Akan muncul padang  pasir  dan tanah  berbatu.
Kesejukan dan Kesuburan akan hilang dari situ.
Ampunilah  kami  wahai  Pemelihara Yang Satu.

Bumi  yang  diberkati kini  tinggal  dongengan.
Hutan yang hijau lestari tinggal kenangan.
Binatang liar dihutan tinggal  pajangan.
Sungguh berat akibat keserakahan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 29 Mei 2011

173-2011. Kepada Sungai, Gunung, dan Lembah

173-2011. Kepada Sungai, Gunung, dan Lembah

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan

I
Kepada sungai yang kini kering dan keruh aku bertanya.
Kemana  dahulu airmu yang  jernih  dan melimpah.
Dimana dulu ikan-ikan yang sering bercanda.
Kemana perginya batu-batumu yang indah.

Kemana  perginya rakit-rakit tempat mandi.
Pohon ara yang dahulu rindang kini tiada lagi.
Burung-burung pemangsa ikan pun kini telah sunyi.
Keseimbangan alam yang harmoni pun kini telah berganti.

II
Kepada  lembah yang  jadi padang tandus  aku bertanya.
Pohon-pohon pendingin udaramu pergi kemana.
Tak terdengar lagi adanya raja di rimba raya.
Dan kicau burung dipagi hari sepilah sudah.

Tiada lagi riuhnya lomba kodong bernyanyi.
Atau suara jangkrik memecah malam nan sepi.
Atau suara burung hantu  bikin bulu roma berdiri.
Sungguh indahnya rimba raya tak mungkin terwujud lagi.

III
Kepada gunung yang masih menjulang tinggi aku bertanya.
Air terjun yang jernih dan indah dulu pergi kemana.
Jurang-jurang yang dalam dulu ditutupi siapa.
Dan tanah  runtuhi pemukiman karena apa.

Dimana kini karang-karang kokoh bagai paku?
Apakah dimusnahkan seiring perjalanan waktu.
Kemana lereng indah dan menghijau yang ada dulu.
Dimana  burung elang yang dahulu bersarang dipuncakmu?

IV
Mengapa kalian hanya  diam dan seolah sinis bila kutanya?
Apakah karena  hanya ada satu  jawaban pastinya.
Akibat nafsu manusia dengan keserakahannya.
Hancurkan keseimbangan tanpa disadarinya.

Sungguh  bahaya keserahan dipertuhankan.
Bukan diambil  sebatas perlu namun dihabiskan.
Untuk keseimbangan dan generasi nanti tak difikirkan.
Yang penting nafsu yang tak terbatas dapat dilampiaskan.

Ampuni kami wahai Tuhan, atas semua keserakahan!


al Faqiir


Hamdi Akhsan

Senin, 09 Mei 2011

140-2011. Nak, Desamu Telah Hilang

140-2011. Nak, Desamu Telah Hilang

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Sungai-sungai dan rawa di desamu kini telah mengering.
Tiada lagi siulan kepodang kecil yang  hinggap di ranting.
Di sawah-sawah pun kini tiada lagi padi yang menguning.
Dan pergi ke surau  untuk mengaji kini  sudah jadi asing.

Nak, Desamu kini telah berubah  karena keserakahan.
Lenguh kerbau berganti knalpot yang memekakkan.
Setiap keluarga sibuk cari materi dan kemewahan.
Dan sulit engkau cari adanya keramahtamahan.

II
Wajah-wajah ramah yang memancarkan keteduhan kini sudah langka.
Yang tersisa hanyalah kepongahan  sambil menegakkan kepala.
Bangga dengan melimpahnya kepemilikan  harta-benda.
Tanpa peduli harus dikeluarkan zakat dan Sedekah.

Nak, Di desamu  sekarang budaya malu makin tipis.
Pakaian  barat yang tonjolkan aurat digemari para gadis.
Kesucian sebelum pernikahan tidak lagi dianggap hal yang magis.
Serta terhadap peringatan agama banyak orang yang memandang sinis.

Minggu, 08 Mei 2011

138-2011. Tinggal Kenangan (Syair Lingkungan)

138-2011. Tinggal Kenangan (Syair Lingkungan)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Alam negeri yang subur telah  sekarat menjelang mati.
Generasi zaman ini tak tahu  lagi dengan kayu meranti.
Tak tahu kayu tembesu yang  kerasnya bagaikan besi.
Pohon-pohon  cendana  yang harum  tak tampak lagi.

Kelak, kicau burung pungguk yang menghias malam telah menghilang.
Bagai kini di angkasa luas tak terdengar lagi pekikan burung elang.
Atau siulan  indah burung  murai  menyambut  datangnya siang.
Sungguh alam telah hancur luluh akibat nafsu manusia jalang.

II
Tak  terdengar  lagi pekikan rimba  siamang  di tebing-tebing.
Ataupun kodok bernyanyi sambut berakhirnya musim kering.
Dan   menyambut pagi melompat-lompat  burung  Srigunting.
Kini  telah  hilang  keseimbangan  alam yang  begitu  penting.

Adalah  kebodohan  memindahkan  hewan ke taman-taman.
Jadikan manusia yang  mulia berubah  menjadi pelayan hewan.
Pada  makhluk yang lebih rendah derajatnya  kita memberi makan.
Sungguh  sebuah  perilaku aneh dan tak  rasional yang  menyesakkan.

III
Kalaulah hewan dan tumbuhan bisa bicara.
Mereka akan tertawakan kebodohan manusia.
Hutan yang gratis dibabat habis  sampai musnah.
Setelah itu buat hutan lagi keluarkan banyak biaya.

Tebing-tebing dihancurkan dan sungai pun mengering.
Habiskan  segalanya dan musnahkan tempat trenggiling.
Tiada lagi embun pagi nan sejuk disaat fajar menyingsing.
Sungai-sungai besar pun mengecil tak  lebih seperti siring.

IV
Pergantian musim jadi kacau dan tak harmoni seperti dulu.
Para petani  yang tak berdaya  hanya bisa  menangis pilu.
Tanda-tanda alam untuk awali aktivitas sudah tak tentu.
Musibah yang datang pun sudah tak mengenal waktu.

Semua terjadi  karena keserakahan umat manusia.
Yang tak mendengar firman dan bijaknya kata.
Yang lupa  bahwa mereka akan menderita.
Akibat perbuatannya yang sesuka-suka.

V
Dalam masa yang tidak lama lagi yang tinggal hanyalah kenangan dan cerita.
Tentang pemandangan alam yang  seimbang pernah ada di suatu masa.
Tentang aneka  hewan dan tumbuhan yang menjadi penyejuk mata.
Yang dahulu lama bertahan karena semua dengan kitab suci ditata.

Kini, disaat bangun pagi pekatnya  udara  polusi langsung terasa.
Serangga yang bertahan adalah yang beracun & kebal pestisida.
Hewan-hewan yang  bertahan adalah  mereka yang lemah raga.
Bumi makin  panas dihiasi gedung tinggi  dibuat dengan bangga.

VI
Berhati-hatilah manusia bumi kala  kesimbangan  menghilang.
Makhluk-makhluk ciptaan Allah juga yang bernasib malang.
Hukum Ilahi pun  dilanggar dan  lakukan apa yang dilarang.
Kelak hanya tinggal bumi yang sekarat kering kerontang.

Peringatan demi  peringatan  Ilahi telah  didatangkan.
Sebagaimana kaum dahulu sebelum dimusnahkan.
Betapa  mudah  bagi  Allah  menenggelamkan.
Karena negeri kita ini dikelilingi oleh lautan.

VII
Adalah saatnya untuk kembali.
Patuhi  seruan  dari  kitab suci.
Sebelum  datangnya  janji hari.
Ketika taubat tak diterima lagi.

Dan yang  tinggal  hanya  sesal.
Di kehidupan akhir yang kekal.
Betapa  ratap  tak  guna bakal.
Karena  semuanya sudah  final.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Minggu, 27 Maret 2011

85-2011. Dan Mereka pun Menghilang (Isyarat Alam)

85-2011. Dan Mereka pun Menghilang (Isyarat Alam)

               Oleh
               Hamdi Akhsan

I
Anakku,
Di masa kecil kami sungai-sungai mengalir jernih dari hulu jauh ke muara.
Ikan-ikan pun bermigrasi ke hulu setiap tahun dengan suka ria.
Di pinggir anak-anak kami bisa nikmati manisnya buah ara
hujan dan kemaraupun silih berganti dengan setara.

Kicau burung hutan ikut membentuk indahnya jiwa.
Diranting-ranting pohon berlompatan burung cucakrawa.
Kotoran sapi dan kerbau menjadi penyubur utama disawah-sawah.
Dan hewan-hewan piaraan itu modal pensiun untuk bekal hidup dihari tua.

II
Anakku,
Dimasa itu orang bertanam  durian dimasa tua  untuk anak  cucunya kelak.
Pohon-pohon dihutan ditebang pilih agar alam tidak bergolak.
Generasi itu malu kalau disebut sebagai pembalak.
Dan orang serakah terkucil dan ditolak.

Berbeda dengan gaya hidup zamanmu.
Pohon durian tua peninggalan dijual oleh sang cucu.
Orang tak punya memaksa diri berhutang agar dianggap mampu.
Serta peringatan Ilahi melalui kitab dan peristiwa alam dianggap angin lalu.

III
Kini,
Kicauan burung iringi datangnya sinar mentari pagi telah menghilang.
Diangkasa biru tidak lagi terlihat burung-burun terbang.
Sungai-sungai kecil pun telah kering kerontang.
Dan bumi pun panas bukan kepalang.

Segala cara dipakai meraih keuntungan bisnis.
Sogokan uang ataupun rayuan dari si manis.
Belumlah lagi  prilaku hidup yang  hedonis.
Membuat bumi yang tua punmenangis.
Karena  peradaban dikendalikan iblis.

IV
Anakku,
Tahukah engkau bahwa alam dan manusia harus harmoni?
Keserasian diantara mereka membuat semuanya serasi.
Tatkala satu jenis ciptaan Allah menhilang  dan pergi.
Maka akan rusaklah hukum alam yang interdepensi.

Sapi dan kerbau yang memberi manfaat pupuk dan investasi kini menghilang.
Digantikan oleh mesin-mesin traktor yang dengan rakusnya menghisap minyak di kilang.
Di negerinya, para pemilik pabrik tersenyum sinis melihat kebodohan yang alang kepalang.
Atas ketergantungan pada teknologi suku cadang,pupuk, dan minyak yang menguras uang.

V
Mana pemimpin yang sadar seperti Mahatma Gandhi.
Bangkitkan revolusi hijau agar rakyat tak hilang harga diri.
Yang bawa kemakmuran merata bagi rakyat di seluruh negeri.
Dan berkata tidak pada perampas alam atas nama liberalisasi  industri.

Anakku, negerimu adalah kumpulan pulau yang dikelilingi oleh lautan.
Betapa melimpah kekayaan yang telah Tuhan berikan.
Dilemparkan kayu pun akan tumbuh jadi tanaman.
Tapi manusianya lupa kalau itu karunia Tuhan.

VI
Karunia Ilahi yang melimpah hendaknya kita pelihara.
Kelalaian dan kedurhakaan pada-Nya akan munculkan murka.
Bencana Tsunami dan gempa akan didatangkan dari dasar Samudera.
Gunung meletus pun akan dengan mudah habiskan rumah, ladang dan sawah.

Anakku, Bangkitkanlah  generasimu dalam kesadaran hidup yang disukai Tuhan.
Kami yang tak bersyukur pada-Nya harus segera engkau gantikan.
Agar selamat bangsa ini dalam perjuangan dimasa depan.
Dan terpandang didunia disegala aspek kehidupan.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan