Sabtu, 15 September 2012

61-2012. Itulah Bukti Cinta Kami 2!


61-2012. Itulah Bukti Cinta Kami 2!
              (Kepada penghina Rasulullah)

              Oleh
              Hamdi Akhsan


I
Tidak cukupkah milyaran dolar bunga riba engkau taburkan berselimut beasiswa.
Hingga putra-putri kami yang dididik di negeri berubah jadi singa berjiwa rusa.
Sebagian besar setelah pulang kenegerinya berubah sok kritis pada agama.
Seolah-olah ilmu pengetahuan telah jadi Tuhan baru pengganti berhala.

Tahukah kalian hai pembenci? betapa jahatnya yang tersembunyi.
Otak dan hati yang beriman  sebelum berangkat telah kau cuci.
Yang engkau berikan seolah mutiara untuk kemajuan negeri.
Padahal  yang dibawa hanya  wacana-wacana  sudah basi.

II
Belumlah lagi racun cara berfikir yang kau susupkan.
Agama Ilahi yang mulia dibahas  sebatas  pembicaraan.
Setelah itu makalah diarsipkan dan jauh dari  pengamalan.
Jadilah agama sebatas wacana seperti masalah perdagangan.

Untuk  sebagian  kecil negeri-negeri  lemah caramu  memang  jitu.
Murid para orientalis penghina Islam lantas dianggap sebagai pakar ilmu.
Seolah kajian dan fatwa para  jenius  muslim di masa silam  tidak bermutu.
Padahal ijtihad yang dihasilkan adalah gabungan Iman dan Ilmu yag menyatu.

III
Wahai para pembenci, apakah rasionalitas yang kalian banggakan sudah hilang?
Apakah makna  kebebasan hanya  untuk prilaku syahwat seperti binatang?
Atau kalian kalap, dengan berbagai fitnah ajaran Rasul kian cemerlang?
Dan di  negerimu, orang bersahadat  jumlahnya tak  lagi terbilang.

Makin kalian hina, ajaran laki-laki gurun yatim piatu itu kian diminati.
Karena segala kebaikan dan penghormatan diajarkannya dari kitab suci.
Tidak pernah  beliau memperlakukan  penganut agama lain dengan benci.
Dan para nabi agama langit lainnya beliau muliakan sebagaimana perintah Ilahi.

IV
Betapa kalian tak sadar, generasi  penerus singa  gurun kini mulai  terbangun.
Mereka buka lagi  kebanggaan sejarah dan persiapkan diri dengan tekun.
Mengamalkan kitab suci dan pelan-pelan  kekuatan jiwanya dihimpun.
Menunggu sang pemimpin akhir zaman yang dijanjikan akan turun.

Kami bukanlah burung pipit yang merampok padi disawah petani.
Seperti kalian atas nama saham kuasai minyak dan perkebunan kami.
Keuntungannya kau bangunkan pabrik senjata yang darimu harus dibeli.
Dan untuk membela kepentinganmu itu rakyat negeri sendiripun ditembaki.

V
Berhentilah,  sombong dan congkak menganggap lebih hebat peradabanmu.
Saat negerimu masih agungkan sihir dan anti teknologi, kami sudah maju.
Saat kalian tak mengenal sabun, kami sudah memakainya dari dahulu.
Hanya saja generasi muda  kami malas menggali sejarah masa lalu.

Jangan pernah lagi menghina manusia agung yang kami muliakan.
Karena para pencintanya tak peduli  senjata yang kalian banggakan.
Daripada Rasulnya  terhina mereka  memilih harga  diri dalam kematian.
Karena kemuliaan akherat akan didapatkan sebagaimana janji dari Tuhan.

Ya Rasulullah, hanya bagimu Sholawat dan Salam!


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 30 Agustus 2012

59-2012. Kepada Bangsa Arab


59-2012. Kepada Bangsa Arab

                Oleh
                Hamdi Akhsan


I
Dulu, cahaya Tauhid nan benderang memancar dari Gurun Arabia yang tandus.
Disana ada Imron bin Husain yang berambut merah dan bermata biru datang dari  Rum.
Abdullah bin Salam Yahudi Ahli Taurat yang tersunggur dalam syahadat Tauhid yang getarkan jiwa.
Dan di atas Ka'bah yang mulia Bilal Bin Rabbah Kumandangkan azan proklamasi Kehancuran berhala.

Segala warna kulit dan berbagai bangsa bersatu dibawah panjimu seberangi ganasnya padang pasir.
Rum dan Persia? Sang Maharaja Dunia tunduk dibawah kaki para pengembara surga dalam kehinaan.
Di tanganmu, tergenggam segala kemuliaan dan kejayaan seribu tiga ratus tahun.
Dan memancarlah firman suci-Nya ke empat benua.

II
Tapi segenap keperkasaan itu kini jadi dongeng pengantar tidur saja.
Engkau kembali terpecah dalam kebanggaan kabilah yang dihembuskan racun Yahudi.
Genderang syaitan ditabuh beriring teriakan untuk sombongkan kebanggaan masa lalu.
Sedang musuhmu?mengintai dari berbagai penjuru bak burung nasar menunggu bangkai lezat.

Perlahan harumnya mawar dari kesunyian gurun kehilangan aroma pengguncang dunia.
Puing-puing bisu barak para pengembara surga berganti jadi nyanyian darwis diiringi dentingan senar dawai.
Kubur-kubur diperindah menjadi mesjid-mesjid tempat mengadu dan mencari kemuliaan dunia dari alam kematian.
Dan generasi penerus sibuk dengan pertengkaran-pertengkaran yang sesungguhnya tiada makna.

III
Perlahan, singa-singa gurun berubah jadi kijang betina yang sibuk tunjukkan keelokan lenggak lenggok.
Tertutup sudah naluri  pemburu hebat jadi pemakan rumput di padang nan hijau.
Apatah lagi Universalitas ketauhidan telah tenggelam dalam Arabisme yang sempit.
Dan berlomba dalam kebanggaan semu pertunjukkan kekuatan melalui peperangan sesamamu.

Maka kian hancurlah negerimu, kala bangsa gurun merubah pedang cahaya iman dengan ideologi Baats.
Michael Al-Faq dan Saleh Bitar tebarkan pesona pedang baru yang tidak cocok dibawa pengembara unta Arabia.
Engkau pun teramputasi dalam nasionalisme sempit yang diadu domba.
Terpencar jadi serpih yang dipermainkan singa-singa palsu yang datang dari negeri jauh.

IV
Kian hari, engkau lupa disana terbaring jasad Hawa ibu semua manusia.
Simbol universalitas dan keagungan di bumi tempatmu berada saat ini.
Seharusnya tiada Saudiah, Hasyimiah, dan iah-iah lain yang bermakna tidak untuk semua manusia.
Karena yang ditinggalkan oleh kekasih-Nya adalah Makkah Al Mukarramah dan Madinatul Munawarah.

Betapa sedihnya, di hari ini engkau hanya menjadi pion-pion bangsa yang dahulu begitu biadab.
Di segenap penjuru mereka tak pernah tidur fikirkan cara merampok emas hitam yang mengucur dari bumimu.
Sedang engkau, duduk di singgasana emas dalam kebanggaan dan perhormatan palsu.
Sambil berlomba pertunjukkan jangut dan surban-surban indah bertakhta intan permata.

V
Hari ini Mesjidil Aqshamu dirampas dan diruntuhkan semena-mena dalam diammu.
Tiada lagi Saladin, tiada lagi Qutuz, dan hilang sudah putra-putri Nuruddin Zanki.
Bahkan sebahagian pemimpinmu duduk semeja dengan musuh tertawa terbahak dalam dentingan gelas anggur.
Anggur yang dibeli dari darah rakyat filistin yang tak lebih berharga dari hewan peliharaan.

Ingatlah dulu, Ribuan kilometer Al Mahdi kerahkan ratusan ribu mujahid bela teriakan seorang muslimah di Rum.
Engkau?Ratapan ribuan muslimah Ghaza bak dendang musik indah di telingamu.
Bahkan sumbanganmu untuk kebun binatang di eropa cukup untuk makan rakyat di tanah pendudukan.
Tapi sayang, engkau lebih percaya kalau biaus musuhmu sebagai obat pengangkat kemuliaan.

VI
Wahai putra gurun, pewaris tradisi sebagai penakluk.
Bangunlah, sebelum kehancuran dan penyesalan datang dan engkau lebih terhina lagi.
Hentikan seterumu dengan negeri Salman yang selamatkan kota madinah dengan khandaknya.
Dan berhentilah mempercayai bujuk rayu para penyihir firaun yang susupkan kabbalah.

Kobarkankan lagi samangat badarmu yang rontokkan kesombongan Abu Jahal.
Karena kemuliaanmu terletak pada kekuatan dan harga diri yang terpancar dari cahaya-Nya.
Tinggalkan keindahan-keindahan palsu yang ditawarkan musuhmu, karena itu dulu berasal darimu.
Dan kembalilah pada jati diri sebagai pembawa sinar kebenaran ke seluruh penjuru bumi.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Jumat, 24 Agustus 2012

57-2012. Surat Terbuka Kepada Putra Jazirah Para Nabi


57-2012. Surat Terbuka Kepada Putra Jazirah Para Nabi

                Oleh
                Hamdi Akhsan



I
Hari ini kembali dengan  bergidik kulihat di jazirahmu pemandangan yang begitu mengenaskan.
Para pemburu  berpesta pora tanpa harus  lelah acungkan senjata ke kumpulan rusa di hutan.
Karena tanduk tajammu sedang berlaga menusuk perut sesama memperebutkan kekuasaan.
Dan dengan sabar mereka menunggu bangkaimu yang begitu segar dan nikmat berjatuhan.

Dimana kebanggaan para putra  rajawali gurun yang  perkasa dahulu jadi raja angkasa?
Oh,ia telah pergi bersama perginya sebuah generasi yang pernah getarkan tiga benua.
Kumandang pekik takbirnya tak lagi gentarkan musuh bak auman singa gurun sahara.
Karena sesungguhnya ia tak lebih hanya singa yang meyakini dirinya bangsa domba.

II
Di hari ini ramalan hamba yang paling mulia diantara para hamba-Nya terbukti.
Bukan  kelaparan dan  teriknya  matahari gurun  yang mampu lemahkan nyali.
Tapi kucuran emas hitam  dari  dasar bumi yang bawa  kemakmuran negeri.
Dan limpahan kekayaan minyak pemberian Allah itulah yang tidak disyukuri.

Mana nyalimu yang mudah pecah dihadapan burung nazar yang seram?
Seolah engkau  berhadapan dengan  sekumpulan  srigala yang kejam.
Padahal didasar hatinya mereka takuti  kegagahanmu di masa silam.
Yang dahulu bak serbuan badai pasir membawa  panji-panji hitam.

III
Kini,engkau tak lebih hanya buih yang dipermainkan samudera.
Hanya  untuk  bersatu dalam  kata-kata pun  engkau tak bisa.
Apatah lagi kalau kau diserahi tugas berat memimpin dunia.
Seperti tujuh ratus tahun  lamanya  tegak sebuah khilafah.

Putra  Gurun! lumbung-lumbung  padimu kelak akan habis.
Sedang  kau hanya  terbiasa tadahkan  tangan bak pengemis.
Dan dihari ini pun kau biarkan musuh  mencabikmu dengan sadis.
Sungguh kelak hanya penyesalan yang didapat tatkala berakhir tragis.

IV
Percayalah, tiada srigala yang akan  berbaik-baik kepada mangsa dengan tulus.
Tiada kemuliaan rajawali sebelum ia taklukkan  badai gurun yang  berhembus.
Dengan keberanian, kegagahan, dan keteguhan hati kemuliaan bisa ditebus.
Sebagaimana dahulu  seruan  agung Sang Nabi terakhir tatkala ia di utus.

Putra gurun.Sadarlah musuh-musuhmu kini menari dengan gembira.
Dan jazirah tempat leluhurmu akan jadi lautan derita dan nestapa.
Bangkit dan kembalikan  persatuanmu pada jalan Tauhid Ilallah.
Niscaya engkau akan mampu kembali sebagai umat nan jaya.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Senin, 13 Agustus 2012

48-2012. Enam Belas Ribu Bulan Setelah Itu

48-2012. Enam Belas Ribu Bulan Setelah Itu

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Kekasih, Masa seribu bulan itu bukanlah waktu yang sebentar dalam kurun manusia.
Kalau ia ukiran di batung karang ditengah gurun pasir, tiada lagi catatan yang membekas.
Tenggelam bak airmata adam yang mengalir selama seribu duaratus bulan.
Atau seperti harapan Ibrahim diberi putra penerus Risalah.

Generasi kini bak burung pipit, entah berapa keturunan telah berlalu.
Berapa pula luas tanaman padi yang telah hilang dalam kesedihan petani.
Namun tiada cerita, tiada catatan yang diukir dalam sejarah kehidupan.
Sirna bak lautan debu di tengah samudera gurun.

II
Kekasih, andai api-Mu masih Engkau tampakkan seperti pada Musa di Lembah Tuwa.
Tentu tak akan ada pengkhianatan Samiri yang berbalut logika sihir sains seperti di hari ini.
Tua muda berbondong akan datang pada-Mu dengan wajah berhias sejuta harap.
Walau harus menempuh gelapnya rimba yang dijaga singa pemakan nan buas.

Namun jarak masa hampir duaribu bulan kaburkan kesejatian cinta itu.
Seolah ia hanya pekikan lemah yang hilang dibawa badai nafsu angkara.
Cahaya-Mu? hanya muncul bak damar buram yang menerangi gelap sesaat,
Dan setelah itu sirna terbawa sihir Hammam dalam kecongkakan akal zaman baru.

III
Kini seribu bulan-Mu tak lagi menyedot para musafir hayati indahnya rasa lapar.
Bak ritual kosong Pendeta Majusi kala api tinggal jadi kumpulan arang panas yang dijaga.
Bukan spirit pembakar peradaban iblis yang menipu dengan keindahan surgawi palsu.
Yang jauhkan para mujahid bak jauhnya ikan dari air yang memberinya kehidupan.

Tuba peradaban yang lelah masih begitu menggiurkan para pencintanya.
Rumput-rumput hijau yang baru tumbuh di musim penghujan pun lupa teriknya kemarau.
Seolah zaman ini adalah kebahagiaan puncak dalam supremasi materi.
Dan terhapus ingatan pada indahnya kehidupan akherat yang abadi.

IV
Kekasih, ini kurun yang lelah menuju jurang nestapa kematian.
Dajjal telah bersimaharajalela lebih dari gelombang dendam Hulagu di bumi penuh rahmat dahulu.
Kalau dulu, para syuhada bermandi darah, kini para penerus habiskan waktu bergembira ria.
Dan kehancuran tanpa sadar telah hampir sempurna di depan mata.

Kekasih, sejenak hamba ingin lepaskan lelah ini dalam diam.
Tapi musuh-musuh-Mu tak pernah letih dengan permainan baru.
Benih-benih muda yyang bernas telah terkontaminasi pertisida dajjal berlumur maksiat.
Dan tak akan berhenti sampai menguasai para pencinta-Mu di akhir zaman.

Hampir enamabelas ribu bulan berlalu sudah, dan kini tiba zaman Ghuroba*

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

*Ghuroba : Islam Asing dimata pemeluknya sendiri.

Senin, 30 Juli 2012

39-2012. Syair-Syair Kebangkitan (4)

39-2012. Syair-Syair Kebangkitan (4)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Dihadapanku kini gempuran demi gempuran tentara syaitan tak pernah berhenti.
Membawa berjuta mangkuk racun mematikan yang  beraroma madu surgawi.
Dengan segala rayuan suguhkan bius  yang  berwujud kenikmatan duniawi.
Membuat hancur dan terkapar tiada daya sebuah generasi pencinta Ilahi.

Dimana cahaya surga?yang getarkan semangat syuhada masa silam.
Adakah semua  telah redup ditelan oleh ganasnya pukauan zaman.
Atau ia  tertutup debu gurun yang pancarkan minyak berkilauan.
Dan hanya tertinggal di buku-buku bacaan  sebagai kenangan.

II
Wahai engkau generasi yang bak buih terserak di samudera.
Wahai pemegang pedang damascus yang kuat membelah baja.
Masihkah hidayah dalam jiwamu menjadi sesuatu yang berharga.
Atau telah berganti jadi racun dunia yang disangka keindahan surga.

Kini milyaran penggantimu  tak lebih jadi buruh pabrik demi sesuap nasi.
Nun diujung dunia sana berkacak pinggang para pemilik modal kaum yahudi.
Hembuskan iklan-iklan penuh dusta untuk boroskan pengeluaran sepanjang hari.
Dan tinggallah ruh  perjuangan agama  suci sebagai catatan kecil yang sudah mati.

III
Di hadapan bala tentara kejahatan yang berdasi engkau  tak lebih hanyalah domba.
Yang sangat  takut diputuskan status  sebagai pegawai  yang berprestasi kerja.
Yang didalam kepalamu ditanamkan bahwa hidup hanya sebatas dunia saja.
Dan habiskan umur di padang gembalaan bagaikan hidup seekor domba.

Manakala mereka bosan memelihara dan memerasmu di kandang.
Atas nama PHK dan  resesi  ekonomi  engkau pun akan dibuang.
Tak akan keringat dan airmatamu selama ini akan dipandang.
Karena dimata mereka  engkau hanya seorang pecundang.

IV
Tiada lagi para pejuang penakluk gemparkan penjuru bumi.
Sedikit airmata pengembara surga yang tersedu di malam hari.
Yang dadanya tersedan rindukan pemenuhan janji Ilahi yang pasti.
Terhadap kejayaan yang selama ratusan tahun silam menjadi tradisi.

Kini racun-racun ajaib berwujud angka-angka telah menjadi cita-cita.
Seolah dalam kehidupan yang dikejar hanya prestasi duniawi saja.
Sedangkan kekuatan  ruhani yang begitu mulia menjadi hampa.
Dan kejayaan di bumi sebagai khalifah tinggal mimpi belaka.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 24 Juli 2012

36-2012. Syair-Syair Kebangkitan (3)

36-2012. Syair-Syair Kebangkitan (3)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Engkaukah itu? Sosok rajawali yang terbang tinggi di angkasa sunyi nan luas.
Engkaukah itu?Sang singa gurun dengan tatapan mata dingin nan buas.
Engkaukah itu?Sang Pengembara kehidupan yang tak mudah puas.
Engkaukah itu?Sosok Elang perkasa yang hancurkan padas.

Ataukah engkau hanya sesosok burung pipit hidup dari padi di sawah petani?
Yang tak mampu tegakkan muka dihadapan musuh-musuh yang berani.
Yang hanya bersenandung habiskan masa emasmu sepanjang hari.
Atau engkau  yang dilenakan  permainan-permainan duniawi.

II
Engkaukah itu?Keturunan para pengembara surga yang taklukkan dunia?
Yang mampu hancurkan kekuatan superpower Romawi dan Persia.
Yang taklukkan dataran luas dari Arabiya sampai Ferghana.
Dan mengukir  sejarah tujuh ratus tahun lamanya.

Kini engkau telah menjadi elang yang terbiasa hidup bak anak ayam.
Yang mengais tanah dan takut menerjang tebing-tebing curam.
Yang berlari  terbirit-birit manakala  musuh menggeram.
Yang hanya menangis ditangan musuh yang kejam.

III
Kini, kebanggaan supremasi masa silam hanya sejarah tak bermakna.
Bumi para nabi pun telah bergelimang sumber minyak yang kaya.
Gedung-gedung megah dan kesombongan ilmu merajalela.
Tinggallah kejayaan yang pernah ada jadi nostalgia.

Tiada lagi Singa gurun yang ditakuti musuh di segala penjuru bumi.
Yang pedang kebenarannya menyergap musuh bak kilatan api.
Habis sudah para pemimpin orang beriman yang berani.
Tinggallah pemimpin yang menjual kekayaan negeri.

IV
Engkaukah itu?Putra masa depan yang menjadikan sebuah harapan.
Yang tak mampu digertak dan dibujuk dengan berbagai rayuan.
Yang jadikan kitab suci sebagai satu-satunya landasan iman.
Serta jadikan hidup dan mati mencari keridhoan Tuhan.

Wahai para putra yang muncul dari tengah gurun berdebu nan tandus.
Wahai putra para yang pernah menguasai Eropa dan tanah Hindus.
Wahai para pencinta pernah kuasai dunia bak badai berhembus.
Penuhilah janji-Nya yang berbalas kenikmatan surga Firdaus.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Minggu, 22 Juli 2012

34-2012. Kepada Rakyat Negeri Syiria

34-2012. Kepada Rakyat Negeri Syiria

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Kusampaikan padamu nestapa dan jeritan kepedihan rakyat  negeri  Syam*
Tatkala tangan mengepal sambil lantunkan  takbir gugur ke bumi dalam diam.
Peluru-peluru ditembakkan  pada jasad-jasad tanpa  dosa datang menghantam.
Sebagai pembelaan kalap sebuah rezim jelang masa akhir kekuasaan yang kelam.

Duka negeri? bagai mengoyak  pengkhianatan  seribu empat ratus  tahun yang lalu.
Kala Khilafah yang begitu cemerlang dalam persatuan berhadapan sebagai seteru.
Seolah telah  terlupakan  perintah  Pembawa Risalah  agar umat  selalu bersatu.
'Tuk sebarkan  panji-panji keagungan dan  kebenaran  Ilahi Yang Maha Tahu.

II
Mengapa darah saudara  harus tertumpah dan kurbanan ribuan nyawa?
Demi  kekuasaan  yang kehidupan  duniawi yang  bergelimang  harta.
Demi mempertahankan sebuah rezim berhala agar terus bertakhta.
Butakan mata dan menulikan  telinga atas  rakyat yang teraniaya.

Bersabarlah  wahai saudaraku! tiada sia-sia  darah tertumpah.
Bagaikan gugur biji-bijian yang tumbuhkan ribuan kecambah.
Menjadi  pupuk suburkan  semangat  jihad  lawan penjajah.
Atau lawan boneka musuh yang rapuh tapi berpura gagah.

III
Wahai kaum Alawiyyah Nusairiyah yang kini berkuasa.
Ratusan ribu nyawa muslim engkau  tumpas  disana.
Ratusan ribu umat jiwa manusia hilang tanpa nama.
Demi kekuasaan otoriter agar  bertahan lebih lama.

Mengapa  tiada rasa kasihmu pada yang beriman.
Kalian tumpas mereka bagaikan  rumput di taman.
Kekejamanmu pasti akan diingat sepanjang zaman.
Sebagaimana  kejinya firaun, bal'am  dan  hamman.

IV
Betapa, banyaknya darah para syuhada yang tertumpah.
Penindasan  yang kalian  lakukan akan  bangkitkan ghirah.
Para pencinta surga dan kebenaran Ilahi tak kan menyerah.
Sampai tegaknya  kebenaran tauhud Kalimat La Ilaha Ilallah.

Saudaraku rakyat negeri Syam, hari ini tabahlah hadapi derita.
Tadahkanlah  tanganmu  pada  Ilahi dalam  khusuknya puasa.
Pertolongan-Nya akan datang padamu dengan berbagai cara.
Dan kelak kalian akan bangkit lagi sebagai bangsa yang jaya.

Wahai Allah, tolonglah saudara kami di syiria.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Sabtu, 21 Juli 2012

33-2012. Kepada Generasi Para Penakluk!

33-2012. Kepada Generasi Para Penakluk!

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Hari ini, sebahagian saudaramu yang sedikit dibantai lebih biadab dari hewan.
Bak seekor domba yang dicabik-cabik kawanan singan dalam hutan.
Airmata dan jeritan permohonan mereka hanya jadi tertawan.
Seakan mereka semua hanyalah umat  yang sendirian.

Tiada Muhammad Al Fatih Muda Sang Penakluk.
Tiada sang  pemikul Gandum Umar Al Faruq.
Tiada pula Quttuz Sang Pemimpin Mamluk.
Hanya ada para  pemimpin yang kemaruk.

II
Nasionalisme sang bius kini dianggap obat.
Tiada lagi khilafah  sebagai  pengikat umat.
Rasa persaudaraan iman tak lagi terjalin erat.
Dan  kehormatan umat  pilihan Ilahi pun sekarat.

Dimana pencinta surga yang rindukan Jannatul Ma'wa?
Di bumi khurasan, di Syria, di segala penjuru dianggap hina.
Bahkan ditengah para saudaranya sendiri diberantas bagai hama.
Sebagai  keberhasilan  propaganda media oleh  musuh-musuh agama.

III
Sejarah  ajarkan betapa  agungnya sebuah persekutuan didasari iman.
Kemenangan pertama tentara Quttuz di Filistin menjadi pelajaran.
Kekalahan pertama pasukan Mongol jadi  sebuah kenyataan.
Sehingga bumi mesir yang begitu kaya bisa diselamatkan.

Lantas mengapa di hari ini umat pilihan tidak siaga?
Musuhmu telah membius dengan berbagai cara.
Menjadikan  lemah dan lalai generasi muda.
Yang menjajah cara hidup melalui budaya.

IV
Kejayaan dan supremasi peradaban?
Yang terjadi di masa lalu bukan impian.
Tetapi yang diperoleh dengan perjuangan.
Serta dilandasi niat untuk mencari ridho Tuhan.

Kapan akan lahir kembali Timur Lenk Penakluk terbesar.
Yang dengar  namanya  mengkirik hati para penguasa kuffar.
Yang taklukkan dataran luas dengan iringan takbir menggelegar.
Yang pasukan nya sanggup membuat jiwa prajurit musuh gemetar.

V
Dalam doa kepedihan mendalam melihat kehinaan umat zaman ini.
Hanya menadahkan tangan yang  dapat dilakukan kepada Ilahi.
Semoga segera didatangkan seorang pempimpin Al Mahdi.
Yang akan membuat ajaran Ilahi bersinar lagi di bumi.

Hari-hari kini makin dekat pada akhir zaman.
Kejahatan pun telah  dianggap kebaikan.
Pencinta kebenaran telah  dihinakan.
Dan ajaran Ilahipun dipinggirkan.

Datanglah, wahai pemimpin kebenaran!

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 18 Juli 2012

30-2011. Syair Cinta Seorang Pengembara (7)

30-2011. Syair Cinta Seorang Pengembara (7)

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan



I
Hari-hari  panjang yang letih kini  telah dekati akhir perjalanan.
Bak  rajawali  perkasa tak mampu lagi  terbang tinggi di awan.
Mata yang tua dan letih telah rabun dimakan ganasnya zaman.
Sungguh  pengembaraan  telah ukir sejarah masa  keemasan.

Masa berganti, tuhan-tuhan baru kini telah berwujud teknologi.
Keterasingan dan penghinaan dunia dialami para pencinta Ilahi.
Hanya kepasrahan pada-Nya agar mulia jelang datangnya mati.
Demikianlah takdir Sang Khalik yang harus dijalani setiap insani.

II
Guru, masa kita yang diwarnai senandung zikir malam telah berubah.
Malam sunyi berhias embun diganti gemuruh mesin yang tak kenal lelah.
Senandung doamu, senandung doaku kini telah menjadi kidung yang kalah.
Digilas musik-musik pembangkit syahwat yang didendangkan begitu meriah.

Bibir-bibir  bergetar dalam  sesenggukan rindu  pada  ridho-Nya kian terkucil.
Pusat-pusat kajian iman yang dijaga para guru yang ikhlas kini kian terpencil.
Suara para penyeru  dan  pengembara surga semakin tak membawa hasil.
Tinggallah mereka dalam sendiri  sebagai sebuah kelompok yang kecil.

III
Guru, kini para pendurhaka sejak zaman adam berdiri dengan pongah.
Para penyeru ke  jalan kesesatan  berdiri dengan  kemenangan gagah.
Seakan bak singa yang berdiri  di atas hewan  buruan yang menyerah.
Dan terhina dalam kezaliman terhadap pengikut jalan Ilahi yang Kalah.

Menetes  airmataku  melihat  keterhinaan  terbesar dalam  sejarah ini.
Seakan-akan  pembantaian 800.000 jiwa di baghdad  kini terulang lagi.
Sedang penganut agama Ilahi sekarang menjadi yang terbesar di bumi.
Namun hanya menjadi remah tak berharga bagai terserak sepiring nasi.

IV
Guru, sinar-sinar kebenaran yang terpancar dari Jilan dan Bukhara kini redup.
Suara para penyeru cahaya kebenaran terdengar samar antara mati dan hidup.
Rasa rendah diri dan kalah terus ditanamkan oleh para pembenci yang menyusup.
Dan racun-racun  aqiedah pun bagaikan madu  dan susu tanpa sadar telah dihirup.

Dalam kepedihan jelang  senja kehidupan  muridmu hanya bisa  tadahkan  tangan.
Kelak  datang seorang  pengganti yang sanggup memimpin pembela kebenaran.
Sanggup hadapi kepedihan dan ancaman untuk tegakkan panji-panji keadilan.
Serta bawa  umat manusia untuk  tunduk pada Jalan  yang diridhoi Tuhan.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Selasa, 17 Juli 2012

25-2012. Musyawarah Akbar Kerajaan Syaitan (5)

25-2012. Musyawarah Akbar Kerajaan Syaitan (5)

               Oleh
               Hamdi Akhsan



I
Sang Iblis Penguasa kegelapan jiwa manusia lanjutkan pekikan!

Ribuan tahun luka dendam yang menganga itu tak pernah tersembuhkan.
Bara api amarah dan  kedengkian dalam jiwa sesatnya tak terpadamkan.
Walau ratusan generasi telah dilewati kekalahan tak pernah terlupakan.
Sampai kelak datangnya kepastian janji Ilahi datangnya akhir zaman.

Wahai dengarlah sumpah sang pemilik kemuliaan di masa lalu.
Tiada akan  berhenti sejenak juapun pergerakan tentaraku.
Kemaksiatan dan murka akan kudatangkan ke tiap pintu.
Agar di akherat kelak termasuk kedalam golonganku.

II
Musik para pendendang syahwat akan terus mengalun.
Kekuatan  pengumbar  nafsu di segala  penjuru kuhimpun.
Para pengikut setiaku berbagai golongan akan berduyun-duyun.
Dan bala tentara intiku yang telah  berpengalaman pun akan terjun.

Banyak diantara manusia yang menjual dirinya kepadaku Sang Iblis.
Mereka akan dapatkan kesenangan duniawi yang tak habis-habis.
Kututupi hati nurani  mereka agar keyakinan  akherat menipis.
Tinggallah saat jelang kematiannya kelak sesal dan tangis.

III
Dajjal-dajjal kecil dalam wujud teknologi pun kudatangkan.
Permainan-permainan dunia maya pun makin banyak diciptakan.
Agar waktu yang begitu berharga dalam hidup mereka terbuangkan.
Dan ingatan tentang pertanggungjawaban akherat makin terpinggirkan.

Begitu pula paradigma keberkahan  hidup akan semakin kami jauhkan.
Memelihara orangtua yang sudah tak berdaya akan dianggap beban.
Terhadap kaum duafa dan para yatim rasa jijik akan ditumbuhkan.
Hingga kehidupan umat manusia di bumi makin jauh dari Tuhan.

IV
Begitu pula instrumen lama sejak zaman adam tetap dijaga.
Pakaian para wanita dan laki-laki semakin lama makin terbuka.
Semakin kabur perbedaan antara harta yang halal dan yang riba.
Sungguh tanda-tanda akhir zaman telah memasuki masa Ghuroba*.

Itulah penyesatan yang terus kami lakukan pada manusia akhir zaman.
Agar kelak sebahagian besar penghuni bumi jadi pendurhaka Tuhan.
Seperti  janjiku tatkala diusir dari  surga yang penuh kenikmatan.
Yang  antaraku dan pengikut  Ilahi terbelah  oleh perjanjian.

V
Berbagai ajaran yang menyesatkan terus dikembangkan.
Kaballah, sebagai sihir susupan pendeta Firaun dimunculkan.
Racun-racun yang dimasukkan dalam ajaran agama suci dialirkan.
Agar antara pemikiran dilandasi hawa nafsu dan kebenaran terbaurkan.

Benarlahlah sumpahku dihadapan-Nya tatkala dahulu aku diusir terbukti.
Makin sedikit  diantara manusia yang sanggup ikuti ajaran kitab suci.
Keyakinan dan ibadah pada-Nya makin lama hanya tinggal tradisi.
Dan manusia  tak takut lagi  pada balasan  kelak  setelah mati.

*Ghuroba = asing
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 11 Juli 2012

28-2012. Dengarlah Wahai Kaum Muda!

28-2012.  Dengarlah Wahai Kaum Muda!

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Hari ini umat begitu terhina bak menggigilnya anak ayam dalam incaran sang raja angkasa.
Tiada Quttuz muda Pemegang Panji penghacur duapuluh ribu Tentara Hulagu yang perkasa.
Hanya perasaan rendah diri bak anak kambing yang terkapar lemah karena pagutan ular berbisa.
Menunggu burung nasar akan meluluhlantakkan onggokan dagingnya dalam kesenangan pesta pora.


Mana para singa  muda penerus tradisi  penaklukkan yang datang dari ganasnya gurun pasir Arabiya?
Mana para  pemegang panji  kebenaran yang pekikan  takbirnya hancurkan  penguasa angkara.
Tak lagi terdengar pekikan tunggal yang menggetarkan simbol-simbol syaitan di alam raya.
Tinggallah sejarah dan kenangan masa lalu bahwa mereka  umat yang pernah berjaya.


II
Supremasi dunia masa depan?hanya utopia bak burung pipit yang ingin jadi rajawali.
Takkan muncul taring singa dari seekor kambing yang hidup di ladang-ladang sayur petani.
Masa-masa emas melatih prinsip dan ketegaran dihabiskan dengan permainan semu sampai pagi.
Tanpa sadar bahwa semua telah diatur balatentara syaitan yang menjebak hamba-Nya melalui teknologi.


Ada yang mencibir ketika datang peringatan bahwa ladang sayur bukan tempat latihan singa perkasa.
Karena ia lupa kalau sesungguhnya ia putra singa yang terbiasa memakan makanan domba.
Yang sampai usianya tidak pernah mensyukuri pemberian taring tajam yang berbisa.
Kecuali hanya habiskan waktu untuk makan, tidur, dan bersenda gurau saja.


III
Lihatlah, balatentara  syaitan telah  kerahkan segala  upaya melemahkanmu.
Segala permainan yang menyenangkan telah dibuat untuk habiskan masa waktumu.
Membuat tersia-sia kecemerlangan otak dan ketahanan fisik yang menjadi modal emasmu.
Sehingga hanya mencari sesuap nasi imbalan yang engkau peroleh dari perjuangan masa mudamu.


Sedang mereka, setiap saat fikirkan bagaimana  jadikan engkau kambing gemuk yang lamban dan lemah.
Yang setiap saat bisa dijadikan rombongan srigala sebagai hewan pembantaian untuk pesta pora.
Mereka para musuh berkomplot kuras habis kekayaan bumi di negerimu yang begitu kaya.
Sampai kelak semuanya habis dan engkaupun jadi kelompok pengemis  tak berdaya.


IV
Berhentilah merengek bagaikan bayi yang tak sanggup lepas dari pelukan ibunda.
Hanya dengan sedikit luka, seekor anak rajawali akan mampu terbang jadi raja angkasa.
Hanya dengan sehari lapar, seekor singa akan tegakkan kepala menjadi calon raja rimba raya.
Bukan menjadi burung pemakan padi di sawah yang puas hanya dengan banyaknya jumlah saja.


Pengukir sejarah masa silam adalah mereka yang mampu latih diri tahan penderitaan dan kehinaan.
Yang memiliki cita-cita besar dan semangat yang membaja menghadapi berbagai rintangan.
Yang jiwanya tak pernah menjadi lemah terhadap berbagai  ejekan dan penghinaan.
Dan yang meyakini bahwa jalan yang ditempuhnya senantiasa diridhoi Tuhan.


Bangkitlah, wahai pemegang panji masa depan.




Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Kamis, 08 Desember 2011

299-2011. Syiar Untuk Kekasih (13)

299-2011. Syiar Untuk Kekasih (13)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Hari ini tangisan Qais Sang  Pencinta tak lagi terdengar pilu membelah malam.
segenap kepedihan dikubur dan ditutup rapat dalam dekapan masa silam.
Hari berganti, kehidupan fana sebagai sifat segala yang ada di alam.
Dan jiwa-jiwa  para pembenci  senantiasa  abadi dalam kelam.

Mana kerinduan para pencinta dari gurun pasir arabia?
Negeri  para Nabi kini  bergelimang harta dunia.
Tiada lagi Rabiatul Adawiyah sang pencinta.
Yang menebarkan ajaran penyejuk jiwa.

II
Hadir firaun modern yang begitu kejam.
Bak Drakula yang tertawa saat rakyat dirajam.
Yang pada derita sesama mereka hanya bisa diam.
Sungguh dihati mereka  bertumpuk dosa yang menghitam.

Kemana para pemimpin agung perkasa bak Salahuddin Al Ayyubi.
Yang  pekikkan takbir  menegakkan kembali kemuliaan dan harga diri.
Yang sanggup  taklukkan ribuan kilo gurun pasir bak  Mahmud  Ghaznawi.
Angkat bendera Tauhid  menegakkan panji-panji Ilahi  di seluruh tanah Hindi.

III
Kekasih, kurindukan pemimpin sederhana yang sadari jabatan adalah amanah.
Bukan mereka yang berbangga dengan jabatan sambil tertawah pongah.
Bukan mereka yang habiskan uang negara demi penampilan megah.
Atau yang menghina rakyat jelata dengan pesta-pesta mewah.

Mana pemimpin yang larut dalam tangis waktu malam.
Yang takut pada pengadilan Sang Penguasa Alam.
Yang belajar pada pendurhaka di masa silam.
Yang sadar segala tertulis dengan qolam.

IV
Kekasih, kemana lagi harga diri umat ini.
Bermilyar pencinta-Mu diserak bak sepiring nasi.
Yang dihina para pembenci-Mu di waktu petang dan pagi.
Yang tak sanggup penuhi janji menjadi khalifah di muka bumi.

Kurindukan datangnya hamba-Mu yang memimpin mereka yang beriman.
Yang rindukan surga dan kemuliaan ukhrowi bak generasi dahulu di suatu zaman.
Agar dunia dapatkan rahmat dari-Mu dan segenap penghuninya hidup bahagia dan aman.
Di Akhir zaman ini , berilah kami seoran pemimpin yang taat kepada-Mu wahai Sang Maha Rahman.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 16 November 2011

296-2011. Pesan Untuk Generasi Baru (2)

296-2011. Pesan Untuk Generasi Baru (2)

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Tulip-tulip muda dari kesunyian gurun sinai itu telah bangkit.
Teriakkan takbir yang menggema gentarkan puncak-puncak bukit.
Bergegas bangun dari tidur panjang bak mereka yang sembuh dari sakit.
Dan mencoba kobarkan api cinta di jazirah para Nabi walaupun hanya sedikit.

Kini, Para putra Salahuddin hunuskan pedang untuk sebuah kemuliaaan sejati.
Menghalau berhala firaun dan zionisme yang coba padamkan cahaya Ilahi.
Darah yang tertumpah?itu hanya sebuah wujud transaksi sesuai janji.
Tebarkan harumnya ke berbagai penjuru bak minyak kesturi.

II
Adakah kebangkitan itu kembali bak  Quthuz hancurkan kesombongan Mongol di Ain Jalut?
Ataukah hanya milyaran serpih yang bagaikan buih tak berguna karena takut?
Atau kemenangan itu dicuri lagi karena diantara kita selalu ribut?
Sungguh kebanggaan dan kemuliaan ini telah tercabut.

Bak serpih, tulip muda dibuai permainan semu Tuhan teknologi.
Tanpa terasa masa emas hilang begitu cepat bak malam berganti pagi.
Menyia-nyiakan begitu banyak peluang dan kesempatan yang telah Tuhan beri.
Sehingga menjadi sesal yang panjang saat tubuh dan akal telah lemah dimasa tua nanti.

III
Wahai putra rajawali yang telah diberi panji-panji penguasa angkasa.
Betapa kini musuh-musuhmu duduk congkak diatas kelemahanmu sambil tertawa.
Berbual-bual menceritakan kebodohan milyaran umat yang begitu mudah dipecah belah.
Sehingga mereka bisa digiring kemana saja bagai sekumpulan domba yang tiada berdaya.

Masa muda, kala bunga-bunga mekar yang harumnya dirindukan para penghuni surgawi.
Hari ini adalah masa terbaik yang telah dikaruniakan Tuhan Sang Maha pemberi.
Jangan sia-siakan masa itu untuk bergembira ria dengan alunan kecapi.
Tapi jadikan ia masa untuk melatih segenap kemampuan diri.

IV
Bila dimasa muda engkau telah berlatih sekuat baja.
Kelak Ibarat kuncup itu telah layu dimakan zaman yang fana.
Engkau akan bertransformasi menjadi buah yang ranum dan berguna.
Menjadi sumber inspirasi yang akan selalu diingat oleh generasi selanjutnya.

Tiada waktu untuk berdiam memperbanyak tidur bagai beruang di musim dingin.
Jadilah burung pengembara ke berbagai negeri ikuti arus angin.
Tak pernah berhenti gapai apa pun yang ia ingin.
Sampai kelak bertemu dengan Haqqul Yaqiin.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 31 Juli 2011

269-2011. Sebuah Kesia-siaan

269-2011. Sebuah Kesia-siaan

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Kurenungkan sebuah mekanime sederhana yang sering dilupakan.
Tentang hakekat yang sejati dari sebuah proses kehidupan.
Yang memang dahulu bermula dari sebuah ketiadaan.
Dan kelak akan berakhir pasti dengan kefanaan.

Lantas mengapa  harus ada  tangis di dunia.
Apakah karena insan tak sadar hakekatnya.
Kalau  semua hanya  titipan Ilahi  padanya.
Yang tiap saat  kelak pasti akan diambilnya.

II
Kadang, kesadaran datang begitu terlambat.
Sesal diri baru terasa menjelang dirinya sekarat.
Namun semua  itu tidak  akan  ada lagi  manfaat.
Dan tak  mungkin lagi  diperbaiki  pada hari akherat.

Kelak setiap jiwa akan ditanya pertanggungjawabannya.
Dipergunakan untuk  apa saja harta yang  diberikan  padanya.
Tumpukan emas permata dan uang yang didapat berasal darimana.
Dan hak-hak orang duafa yang harus dikeluarkan telah dilaksanakannya.

III
Adalah sebuah kesia-siaan  bekerja keras tanpa  peduli halal dan haram.
Kelak di dalam kubur akan bernasib malang dan akheratnya suram.
Masa tua akan banyak kepedihan dan jiwa yang tak tentram.
Kehidupan keluarga akan kacau bagai kapal jelang karam.

Adalah takhta bersanding harta membuat insan lupa.
Kalau hidupnya ini hanya  persinggahan sementara.
Kelak sebagai insan faqir kembali  pada Tuhannya.
Dan menikmati balasan ata semua perbuatannya.

IV
Wahai insan yang sering tergoda syaitan dan lalai.
Yang berguna hanya amal kala leher telah terkulai.
Betapa sakitnya  siksa takala dikubur  bagai dibantai.
Dan perihnya  kulit yang terbelah oleh gesekan rantai.

Kebanggaan yang ada di dunia, semua akan berakhir fana.
Hendaklah diri berupaya hindari  jebakan dunia penuh pesona.
Tempat yang membahagiakan sesungguhnya ada di akherat sana.
Wahai, ampuni dan bimbinglah kami istiqamah di jalan-Mu ya Robbana.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 17 Juli 2011

253-2011.Sebuah Renungan (3)

253-2011.Sebuah Renungan (3)

Oleh
Hamdi Akhsan


I
Dalam kian asingnya diri pada peradaban bumi yang pertuhankan teknologi.
Manusia akhir zaman hanya anggap hidup sebagai mekanisme biologi.
Hukum  penciptaan membatasi manusia sebagai wujud materi.
Yang tiada pertanggungjawaban kelak dihadapan Ilahi.

Sungguh mengerikan akibat dari akal dipertuhankan.
Antara anak dan orang tuanya tiada lagi batasan.
Tiada bermakna lagi arti sebuah keberkatan.
Ayah dan bunda yang tua dianggap beban.

II
Peradaban ruhani makin kini sekarat.
Banyaknya manusia makin lalai pada akherat.
Serta dengan bebasnya asyik mengumbar aurat.
Dan semakin menganga jurang si kaya dengan melarat.

Wahai, kemana daku harus pergi uzlah di tengah ketakberdayaan.
Cara-cara para pencinta-Mu masa lalu lebih banyak jadi bahan ejekan.
Yang kurang mengutamakan kehidupan dunia dianggap ketinggalan zaman.
Para penyeru ke jalan-Mu yang jumlahnya sedikit dikucilkan dan dipenjarakan.

III
Hampir setiap hari kulihat pergerakan bintang di cakrawala nan luas terbentang.
Cahayanya tak berubah selama jutaan tahun selalu indah dan cemerlang
Betapa aku ingin cinta pada-Nya bagai mereka para bintang-bintang.
Atau istiqamah bak mentari terbit pagi dan tenggelam petang.

Betapa kurindukan cinta bak taatnya air pada gravitasi.
Yang selalu mengalir ke bawah dari tempat tinggi.
Terhadap pergerakan makhluk lain tak peduli.
Baginya yang penting patuh pada Ilahi.

IV
Andai manusia berfikir sebagai budak-Nya.
Tentulah ia akan berterima kasih pada tuannya.
Berusaha senangkan hati pencipta dan pemiliknya.
Dan menjauhkan diri dari prilaku yang tak disukainya.

Indah, sebuah mekanisme cinta yang dilandasi kepasrahan.
Jalankan keinginan Sang Pemiliknya dengan disiplin dan ketaatan.
Sang budak melakukan berbagai upaya untuk menyenangkan Sang Tuan.
Dan manakala harus berakhir fana ia akan dibalas dengan segenap kecintaan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 10 Juli 2011

240-2011. Kuceritakan Padamu Tentang Siasat Para Pendusta

240-2011. Kuceritakan Padamu Tentang Siasat Para Pendusta

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan



I
di hari ini peradaban bumi demikian banggakan ilmu pengetahuan.
Tak disadari oleh manusia  bahwa teknologi  telah dipertuhankan.
Agama langit sudah  dianggap sepi dan semakin  dikesampingkan.
Dan berbangga-bangga  penghuni bumi dengan  perilaku syaitan.

Adalah  kesadaran ruhani yang  harus dipertajam  para pencinta.
Mampu meniru seekor burung dan lalat terbang tak perlu dibangga.
Apalah lag sampai menjadikan nafsu didada menggelembung jumawa.
Sungguh semua pencapaian itu amatlah kecil dibanding kebesaran Allah.

II
Tak  ada yang dibanggakan dari kehebatan  capaian ilmu pengetahuan.
Tatkala kehebatan teknologi tak mampu membalikkan putihnya uban.
Hentikan metabolisme makhluk sehingga berhenti proses penuaan.
Dan tatkala hanya  mampu  haluskan kulit  wajah sebagai tipuan.

Dimana kebanggaan yang begitu diagungkan para pendusta.
Kalaulah  hanya bisa  menambah  kerusakan  bumi semata.
Membuat semakin rakus nafsu manusia-manusia serakah.
Dan berakhir  dengan  kehancuran  yang  bawa celaka.

III
Tak guna, kehebatan semu dalam bayang kehancuran.
Ketika kaum muda potensi kebangkitan dibuai permainan.
Mereka  sibuk dengan  teknologi informasi yang melenakan.
Membuat mereka lalai pada cita-cita  besar yang ditargetkan.

Para pendusta itu, sibuk habiskan hari-hari dengan mainan palsu.
Melalui berbagai  perlombaan semu seolah diri  menjadi nomor satu.
Habiskan malam-malam yang berharga tanpa mengenal tanda waktu.
Yang dialam nyata sesungguhnya ia tidak bergerak sedikitpun dari situ.

IV
Para pendusta, membuat permainan yang penuhi nafsu akan pengakuan.
Melalui berbagai permainan dicipta  rasa hebat yang menyenangkan.
Yang membuat lupa diri kepada tugas utama yang diembankan.
Dan tak perduli pada peringatan mereka yang tercerahkan.

Waktu, instrumen yang sangat berharga bagi manusia.
Yang untuk  itu Tuhan  telah  bersumpah  dengannya.
Agar setiap orang yang beriman tidak menyiakannya.
Karena  segala  perbuatan baik  buruk  ada padanya.

Al Faqiir

239-2011. Berhati-hatilah Kepada Zaman

239-2011. Berhati-hatilah Kepada Zaman

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Kutatap hari-hari sisa sekaratnya peradaban menjelang kematian.
Bak tercerabutnya pohon perkasa oleh deru badai yang menggentarkan.
Sungguh kini telah terlihat  rapuhnya peradaban yang  dilandasi keserakahan.
Bergerak demikian  cepat bagaikan  kartu tegak  yang jatuh saling  bertumbangan.

Adalah peradaban yang disusun  berlandaskan nafsu duniawi  kini tak lagi perkasa.
Kebenaran demi kebenaran Ilahi kini semakin terang dihadapan umat manusia.
Dari perjalanan sang waktu hati nurani terdalam umat manusia terus bicara.
Tentang nurani  kosong yang membuatnya  rapuh kala  datang nestapa.

II
Apa yang dicari para pemuja akal dan materialisme yang rapuh.
Tatkala usia tua  dan kebingungan jalan yang akan ditempuh.
Kematian yang  datang tak bisa  dikalahkan seperti musuh.
Itulah pertanda  peradaban yang kini  menjelang runtuh.

Lihatlah,kala agama dikesampingkan dalam kehidupan.
Di banyak negara orangtua yang renta dicampakkan.
Di  Panti  jombo lah  hari-hari  yang  sepi  dihabiskan.
Karena memelihara mereka dianggap sebagai beban.

III
Sungguh ironi, anak yang dibesarkan tiada ketika mati.
Putra-putri tercinta  disekolahkan sukses  secara materi.
Agama pengisi  kelembutan dan kasih  sayang tidak diberi.
Hanya tangis  penyesalahan saat mengantar ke kubur nanti.

Di negeri yang mahsyur karena mayoritas beragama mulai terjadi.
Termakan oleh cara  hidup dan ketamakan seperti di negara industri.
Yang dianggap  berguna  adalah  mereka yang  dapat  hasilkan materi.
Sedangkan mereka yang lemah karena tua dan sakit dianggap tak berarti.

IV
Hilangnya pemuliaan dan rasa hormat, membuat hidup hilang keberkatan.
Perjalanan  usia ke masa tua  diangap  mekanisme  ilmu pengetahuan.
Tidak membuat bertambahnya keimanan dalam diri serta kearifan.
Dan tatkala tua perlakuan pada orangtuanya akan dibalaskan.

Betapa, diakhir zaman yang makin rapuh daku berpesan.
Jadikan harta dan kemuliaan dunia sebagai perhiasan.
Yang tatkala menghadap-Nya kelak kan ditinggalkan.
Dan yang akan berguna hanya baiknya perbuatan.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Sabtu, 18 Juni 2011

193-2011. Kepada Bumi Yang Diam Aku Bertanya

193-2011. Kepada Bumi Yang Diam Aku Bertanya

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Kepada bumi yang membisu dalam diam aku bertanya?
Mengapa dari tempat yang sama muncul buah bermacam warna?
Mengapa dari tanah yang hitam muncul daun hijau dan buah yang merah?
Dan mengapa daun yang semula hijau perlahan hancur kala telah gugur ke tanah?

Kepada bumi yang menjadi saksi bangkit dan hancurnya peradaban aku bertanya?
Mengapa dari tanah yang lembut menjadi bata merah yang amat kerasnya.
Mengapa pisang yang dikubur berubah lembut dan masak jadinya.
Mengapa tanah lempung jadi karang setelah waktunya.

II
Kepada bumi yang membisu dalam diam  aku bertanya.
Bagaimana nasib para penguasa yang dahulu zalim dalam kuburnya.
Bagaimana proses detik demi detik dagingnya luluh dimakan cacing tanah.
Bagaimana kecantikan dan kegagahan yang dahulu dibanggakan di tengkoraknya.

Mengapa engkau tak bercerita  tentang nasib para pendurhaka  dialam kuburnya.
Mengapa  tak kau kisahkan ketakberdayaan  penguasa tanpa tentaranya.
Mengapa tak kau sampaikan  cambuk malaikat membelah kulitnya.
Agar manusia  sadar tentang kepastian Mahkamah-Nya.

III
Wahai bumi yang didalamnya menyimpan banyak kisah.
Yang didalammu tersimpan tangis kepedihan manusia yang disiksa.
Yang menjadi asal dan tempat  kembali manusia setelah  jasadnya binasa.
Yang kelak akan dibentangkan sebagai sebuah hamparan kala telah berakhir masa.

Ceritakan pada kami peristiwa demi peristiwa pembunuhan yang darahnya tumpah.
Sampaikan pada kami tentang bayi-bayi tak berayah  dikubur tanpa dosa.
Atau mereka yang  dizalimi dan dibunuh  dengan cara yang aniaya.
atau tentang kebahagiaanmu menerima jasad para syuhada.

IV
Kepada bumi yang  membisu banyak yang ingin kutanyakan.
Mengapa  gunung meletus  sebagai azab namun tak menyadarkan.
Mengapa sejarah pembangkangan umat yang telah terkubur tak dii'tibarkan.
Dan manusia sebagai khalifah Ilahi sebahagian besar asyik hidup dalam kedurhakaan.

Wahai bumi yang diciptakaan sebagai cobaan dan ujian untuk mereka yang beriman.
Betapa segala peristiwa yang terjadi dipermukaanmu adalah suatu gambaran.
Yang menunjukkan bahwa semua yang dicipta kelak  akan dikembalikan.
Dan tak ada yang akan lepas dari janji datangnya sebuah pengadilan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Minggu, 12 Juni 2011

181-2011. Pelita Jelang Padam

181-2011. Pelita Jelang Padam

                Oleh
                Hamdi Akhsan

kekejaman zionis pada anak-anak palestina
I
Betapa senja peradaban telah kaburkan cahaya kebenaran.
Bak pelita menjelang hilangnya sinar dalam keremangan.
Membuat tertatih para pencinta dalam keterasingan.
Dan manusia kini pun telah kehilangan pegangan.

Bagai perjalanan  tanpa arah peradaban berpusar.
Bagaikan umat Musa di lembah Tih 40 tahun tersasar.
Bagai kedurhakaan  putra Nuh kalau  badai menggelegar.
Sungguh sejarah tidak menjadi tempat umat manusia belajar.

II
Adalah kesombongan ilmu arsitektur telah memberi gambaran.
Tatkala awan panas  menyapu umat Nabi Hud diturunkan.
Tatkala kota Pompey sekejap mata dibumi hanguskan.
Dan ketika bala tentara firaun pun ditenggelamkan.

Kepada siapakah lagi umat manusia perlu kesaksian?
Agar mata hati dan telinganya  terbuka pada kebenaran.
Hidup selalu  berusaha  untuk  taat  kepada  perintah Tuhan.
Dan menyadari pertanggungjawaban berat kelak di akhir zaman.

III
Sungguh kebaikan dan kedurhakaan  masa lalu kini  telah hilang.
Tinggalkan jasad-jasad berdebu yang tinggal tulang-belulang.
Kebaikan yang terpancar telah sisakan warisan cemerlang.
Dan kedurhakaan pun  berakhir dengan  nasib malang.

Kini, redup  peradaban  berdasarkan kebaikan  ruhani.
Yang jadi ukuran keberhasilan hanya materi dan teknologi.
Keagungan moralitas dan nilai-nilai agama sudah dianggap sepi.
Bahkan secara mendunia para penegak agama sekarang dimusuhi.

IV
Api Tauhid penerang peradaban akan padam hanya menunggu waktu.
Manakala para penganut dan pencinta-Nya hanya diam terpaku.
Bahkan sebahagian  dengan musuh pun ikut  bersekutu.
Untuk padamkan cahaya agama-Nya Yang Satu.

Dimana engkau wahai para pemuda yang tekun?
Dimana engkau putra-putri pengamal syarat dan rukun.
Tegakkan harga  dirimu agar kemenangan  kelak terhimpun.
Rapatkan shaffmu dalam barisan pejuang yang rapi dan tersusun.

V
Hari-hari yang suram dalam sekaratnya  peradaban kini telah hadir.
Tentara Dajjal dengan berbagai kecanggihan seakan menyihir.
Kedurhakaan dan  kebejatan  seolah menjadi  biasa hadir.
Dan para pencita Ilahi  menjadi  golongan  yang faqir.

Dimana kini  pemegang  panji-panji  suci berada.
Dengarlah panggilan iman bercampur linangan airmata.
Tegakkan kebenaran  dan kekuatan  Ilahiah  dengan izzah.
Dan ikuti tawaran transaksi dengan Ilahi yang berhadiah surga.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Selasa, 07 Juni 2011

185-2011.Tertipu (2)

185-2011.Tertipu (2)

                Oleh
                Hamdi akhsan


I
Anakku,
Dengarlah sebuah petuah tentang peradaban akhir.
Kala permainan demi permainan membuat manusia tersihir.
Suguhan yang tak bermakna  dari waktu ke waktu terus bergulir.
Tak sadar hanya kehampaan perjalanan sejarah panjang yang akan hadir.

Generasi dahulu tinggalkan kenangan yang bermakna selama ribuan tahun.
Dalam bentuk hasil berfikir yang berguna atau keindahan dibangun.
Dengan akal yang tinggi rahasia penciptaan Ilahi dihimpun.
Membentuk peradaban kini yang begitu rapi tersusun.

II
Sedangkan peradaban akhir zaman berkembang gila.
Manusia modern  tersihir  dengan permainan  sepakbola.
Yang tak memberi sumbangan apapun dalam sejarah budaya.
Kecuali kesenangan tak bermakna yang hanya menghabiskan biaya

Itulah  hebatnya tipuan  balatentara  syaitan  bersendikan berhala.
Para pemain, pelatih, dan simbol-simbol banyak dipuja-puja.
Sekedar kesenangan selama sembilanpuluh menit saja.
Orang pun rela habiskan waktu dan uang belanja.

III
Belumlah lagi teknologi maya yang seakan realita.
Telah membuat terpenjara ratusan juta umat manusia.
Seakan ia banyak teman namun hidup dalam kesendirian saja.
Dan silaturahmi yang dianjurkan tinggal pertemanan yang hampa.

Betapa, sendi peradaban ruhani yang berketuhanan telah runtuh.
Para pembenci Ilahi dan teman syaitan tak lagi jadi musuh.
Dijauhi mereka  yang tegakkan  agama secara kukuh.
Dan jiwa cinta kebenaran dan keadilan pun luluh.

IV
Adalah segala permainan yang melenakan dicipta.
Agar trhadap kebusukan syaitan manusia tertipu mata.
Racun yang diberikan nampak seperti madu berlumur cinta.
Tanpa menyadari di alam akherat kelak manusia akan menderita.

Banyak yang tak tahu bila obat-obatan dicampur benda haram.
Agar jiwa manusia terjauh dari Tuhan dan semakin kelam.
Ditolaknya doa-doa yang dipanjatkan di waktu malam.
Dan jiwa akan diliputi oleh rasa sempit dan suram.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan.