Sabtu, 10 Desember 2011

302-2011. Senandung Musim Penghujan

302-2011. Senandung Musim Penghujan

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan



I
Awan tebal bergelayut tebal  menghadang cakrawala.
Simpan kerinduan pada hijaunya daun yang hiasi lebatnya rimba.
Sebentar lagi, hujan  turun sirami dataran dan penuhi luasnya samudera.
Sungguh itulah hukum dan curahan rahmat Ilahi Sang Pemelihara Alam Semesta.

Sebagian hamba-Nya memandang ke langit dengan cahaya mata yang bersyukur.
Berharap dengan  siraman hujan padi-padi di sawah  akan tumbuh subur.
Lahan tanam yang mengering saat kemarau berubah jadi lumpur.
Betapa banyaknya nikmat Ilahi yangsulit untuk  diukur.

II
Penghuni air ungkap  kebahagiaan  menyambut hujan.
Sepanjang malam tak letih senandungkan berbagai nyanyian.
Sebagai manifestasi rasa  syukur atas segala  nikmat yang diberikan.
Itulah ketaatan sebagian makhluk yang pasrah dengan hukum-hukum Tuhan.

Air, hujan, sungai, dan danau menjadi bagian nikmat yang tak terpisahkan.
Dengan pemberian ini  makhluk Allah dapat melanjutkan kehidupan.
Dengannya masa aktif dan istirahat penghuni bumi digilirkan.
Itulah hak hidup untuk hamba-Nya  diseimbangkan.

III
Namun sebahagian manusia lupa untuk mensyukuri.
Yang menjadi ukuran baginya hanyalah kepentingan pribadi.
Nikmat hujan yang diberikan-Nya dianggap kesusahan menghalangi.
Sehingga mereka pun terjauh dari ketenangan dan ketajaman mata hati.

Bahkan ada yang sebahagian menganggap hujan adalah sumber malapetaka.
Memunculkan genangan dan banjir yang hadirkan banyak duka lara.
Padahal karena dihalanginya jalan resapan air ke dalam tanah.
Dan banyaknya manusia menimbun sawah dan rawa.

IV
Sungguh betapa perlu manusia banyak merenung.
Betapa telah terjadi kerusakan hebat di laut dan gunung.
Ketak seimbangan  alam membuat air bah datang  menggulung.
Lahirkan duka dan air mata bagi mereka yang hidupnya tak beruntung.

Datangnya hujan, membawa rahmat dan kebaikan di bumi sejak dahulu.
Namun bisa pula lahirkan musibah yang tanamkan kenangan pilu.
Musibah dan rahmat berdampingan dalam kejadian itu.
Sebagai wujud kuasa dari Ilahi Yang Satu.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar