Kamis, 16 Agustus 2012

51-2012. Syair Mudik (2)

51-2012. Syair Mudik (2)

               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Setahun sudah waktu hampir berlalu,
kudengar dendang kerinduan seorang anak,
mengenang cinta ayah dan bunda dimasa kecil,
Rindu, kicau burung desa menembus embun pagi.

Pergi merantau membawa mimpi sering tak seindah realita.
Kadang hati nurani harus dibunuh agar mampu bertahan.
Ketakutan akan terasing membuat idealisme patah.
Dan tinggallah perjalanan hidup tanpa makna.

II
Mudik, sesaat  melepas letihnya beban hidup.
Mencari setetes ketulusan yang tersisa dalam keluarga.
Berharap senangkan orang tua selama nafas masih ada,
atau menatap kubur sunyi dalam lantunan doa.

Adalah kerinduan kadang tak sesuai harapan.
Rencana berbahagia di kampung jadi penderitaan.
Taqdir menghendaki terjadi kemalangan dalam perjalanan.
Tinggallah air mata yang menetes dari sanak keluarga.

III
andai saja, biaya mudik diinfaqkan untuk kaum duafa.
Mungkin negeri ini telah menjadi negeri yang kaya raya.
Tak ada lagi yang tadahkan tangan jadi peminta-minta.
Sebagai bagian dari upaya jadikan umat bangsa nan jaya.

Tapi harapan itu hanya lintasan kosong dari angan-angan.
Betapa sulit mereka yang berpunya ulurkan tangan.
Apa lagi kebanyakan  manusia takut kemiskinan.
Dan dari kecil sifat memberi tidak dibiasakan.

IV
Lebaran menjelang, BBM habis berjuta liter.
Jalan-jalan penuh sesak berdebu oleh kendaraan.
Uang yang dibelanjakan ratusan milyar untuk makanan.
Setelah itu memulai lagi untuk modal mudik tahun depan.

Lingkaran itu bermakna dalam menggerakkan roda ekonomi.
Namun hanya  pada tingkat terendah berbentuk  konsumsi.
Para pemilik modal mengambil keuntungan genjot produksi.
Dan bangsa ini kembali jadi objek pengusahal luar negeri.

Sebuah kerinduan kampung halaman yang begitu mahal.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar