Sabtu, 11 Agustus 2012

47-2012. Wahai Dunia

47-2012.    Wahai Dunia

                  Oleh
                  Hamdi Akhsan


I
Kekasih,
Daku tak tahu mengapa indahnya mentari tak lagi menyentuh relung hati.
Daku tak tahu mengapa keindahan jiwa ini layu bak  layunya bunga melati.
Daku juga tak tahu mengapa kepekaan dalam  jiwa ini bagaikan telah mati.
Dan mengapa curahan kata  penyejuk jiwa  dari relung  terdalam berhenti.

Kini masa kemarau panjang telah berlalu dan musim hujan pun telah tiba.
Tapi kemana  kemarau jiwa ini akan  kusampaikan  dengan menghiba.
Keindahan dan  ketajaman datang dan pergi bak zaman ghuroba*.
Sungguh terhadap semua keadaan ini ingin menangis hamba.

II
Ingin aku pergi bak elang  gurun di kesunyian  tebing karang.
Akrab dengan bintang-bintang di angkasa luas yang menerawang.
Berjalan jauh bak sang musafir yang tak pernah rindukan jalan pulang.
Bagai seekor burung  pengembara yang pergi  kemana ia ingin terbang.

Kurindukan hidup  yang fahami hakekat dibalik realitas ciptaan perasaan.
Jauh dari keterombang-ambingan  rasa inginkan  mulianya kejayaan.
Tiada terjebak  pemainan ciptaan yang haru birukan perasaan.
Karena semua tidak bermakna bagi kebaikan masa depan.

III
Betapa banyak jiwa yang tertipu oleh permainan palsu.
Pabila menang bertabur puji dan dianggap pahlawan tentu.
Bila kalah tak sesuai keinginan akan dapat serapah dan gerutu.
Betapa tipisnya garis dalam penilaian manusia bila telah seperti itu.

Ingat tatkala rambut putih mulai tumbuh di kepala seorang hamba.
Pertanda hari-hari hidup yang dijalani  mulai masuk masa senja.
Diikuti oleh rontoknya gigi dan rabunnya pandangan mata.
Pertanda masa datangnya kematian hampir pula tiba.

IV
Apalah lagi yang akan dibanggakan seorang insan?
Kala tubuh dingin telah terbukur kaku diikat kain kafan.
Bersiap hadapkan diri pada Ilahi untuk pertanggungjawaban.
Terdiam sendiri dikubur nan sunyi sampai datangnya akhir zaman.

Begitu banyak manusia tertipu dalam panggung kehidupan semu.
Mengejar  kekuasaan dan harta serta  melupakan Ilahi Yang Satu.
Sampai sesal  terlambat dan jasad yang  mendingin terbujur kaku.
Sepanjang masa tinggallah dia dalam sesal serta tangisan nan pilu.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar