Rabu, 13 Juni 2012

016-2012. Surat Seorang Anak TKW pada Ibunya

016-2012. Surat Seorang Anak TKW pada Ibunya

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Ibu!Sayup-sayup  teringat olehku kata-kata itu pernah  terucap belasan tahun yang silam.
Kata-kata yang kurengekkan dengan dengan manja dalam pelukanmu ditengah malam.
Tanganmu yang lembut merengkuh membuatku tidur begitu nyenyak dan nyaman.
Itulah  keindahan  yang terekam  kabur  dalam benakku yang  timbul  tenggelam.

Ibu, di hari itu terakhir engkau memelukku begitu erat dan dadamu tersedan.
Engkau tahan airmata mengalir deras membuat sampai terguncang badan.
setelah itu tidak lagi  kurasakan pelukan  hangatmu yang diiringi belaian.
Hanya ada kidung doa nenek menimangku sampai terlelap kecapaian.

II
Hari  berganti  minggu, bertahun sudah berlalu tanpa  terasa.
Terasa aneh diri saat mulai  bermain dengan teman seusia.
Mengapa ayah dan ibunya masih begitu kuat dan muda.
Sedang nenek yang  kupanggil ibu sudah begitu tua.

Sering, nenek berikan telepon genggam ditelingaku.
Aku tidak  mengerti  mengapa ada suara isak  tersedu.
Barulah berbilang tahun aku mengerti bahwa itu suara ibu.
Yang pergi sangat jauh mencari nafkah untuk masa depanku.

III
Sebenarnya anakmu tidak tahu mengapa ibu harus pergi begitu jauh.
Di kanan kiri rumah  anak dan orangtua berkumpul dalam keluarga utuh.
Walau hidup mereka  sederhana dan harus  bekerja keras memeras peluh.
Tapi di malam hari terdengar canda yang diiringi gelak tawa yang begitu riuh.

Sedang aku! sering  merasa ada yang hilang & kosong dari jiwa yang terdalam.
Termenung sendiri hadapi setumpuk mainan yang tiap tahun engkau kirimkan.
Aku ingin  dininibobokkan dan bermain  dengan ibunya  seperti teman-teman.
Tertidur pulas dalam pelukan dan tatatan hangat matamu yang menyejukkan.

IV
Ibu, entah apa yang terjadi  dengan masa kecilku yang  sering  menyendiri.
Menahan  airmata dan menghayalkan bertemu denganmu dalam mimpi.
Rindukan ibundaku yang telah bertahun-tahun bekerja diluar negeri.
Yang kata  nenek padaku  sebentar dan  sebentar lagi  kembali.

Ibu, pulanglah. Cukup  tempe dan tahu asal kita bersama.
Biarlah kita bersama  tinggal di rumah yang sederhana.
Asalkan kita saling berbagi dalam duka dan bahagia.
Ibu kembalilah, Tuhan akan mencukupkan kita.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

0 komentar:

Posting Komentar