Senin, 24 Januari 2011

52-2010. SYAIR CINTA SANG PENGEMBARA II

52-2010. SYAIR CINTA SANG PENGEMBARA II

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Pengantar.
Pada bahagian ini, sang murid telah belajar untuk memahami hakekat cinta sebagaimana yang diuraikan oleh gurunya. Sebuah implementasi dari cinta pada Al-Khalik. Moga bermanfaat!

Kapan Pengembaraan ini akan berakhir

I
Kini rentang waktu kehidupan sang murid telah lampaui masa empat puluh tahun,
Ia telah mengembara mencari hakekat cinta ditengah luasnya padang rumput dan dinginnya malam ditengah gurun,
Badai dan prahara ditengah samudera luas tak bertepi telah mengajarkannya tentang kasih yang tak harus berhimpun,
Sungguh sebuah pencarian yang telah membawanya pergi ke curamnya lembah dan tingginya puncak gunung.

Ada sepi yang menyeruak dalam kehampaan, meratapi masa bagaikan pungguk yang rindukan bulan,
Namun Dia telah tanamkan setetes kesejukan bagaikan tetesan embun pagi yang menyegarkan dedaunan,
Rindu pada-Mu yang tak mungkin, sang Murid takut akan terbakar bak kerinduan Musa di bukit sinai di suatu malam,
ia rindu pada-Mu,tapi tak berharga walau dibanding sebutir debu.

Wajah sang murid yang letih mulai tunjukkan sedikit kearifan,
Kearifan memahami dunia sebagai permainan sebagaimana nasib Yusuf di penjara demi menjaga sebuah kehormatan.
Kearifan yang menyebabkan seorang bayi lahir dan menangisi dunia yang dicintai milyaran Insan,
Sungguh sebuah parodi,mencintai sebuah kefanaan.

II
Dalam suatu kesempatan,ia bertanya lagi pada gurunya yang telah renta.
Guru?mengapa kau biarkan aku menjadi pengembara ke seluruh permukaan bumi dan samudera luas sepanjang mata?
Mengapa tidak engkau perintahkan aku untuk menjadi seirang penyelam yang hanya menuju satu titik untuk mengambil mutiara keagungan-Nya.
Dengan sangat ringan, sang guru menjawab...

Anakku...pencarian cinta tidak melalui jalan tunggal bagaikan sinar sang surya yang jatuh ke bumi,
Ia akan menyusuri dua jalan utama : Jalan seorang penyelam mutiara atau pengembara sejati,
Jalanmu?...adalah jalan Ibrahim yang berpuluh tahun amati bintang,bulan,dan matahari untuk mencari sebuah kebenaran cinta yang hakiki,
Bukan jalan hidayah seorang Umar yang didoakan sang Pribadi Agung agar mendapatkan hidayah Ilahi.

Tak perlu engkau ratapi masa yang hilang,
karena ia bermakna bagimu,bagaikan Musa yang selama empatpuluh hari menghilang,
Di Bukit sinai, Sepuluh Perintah suci yang membekas sampai hari kiamat tiba ia hayati dengan cemerlang,
Atau...bagaikan masa transformasi setahun Sang Raja angkasa yang harus menjalani kesakitan dalam duabelas bulan terbilang.
tiada yang sia-sia, semua karena Tuhanmu Maha penyayang.

III
Muridku...
Dalam pencarianmu yang melelahkan,engkau bisa melihat indahnya ilmu Tuhan pada sebutir debu,
Engkau bisa menangkap kerdipan bintang-bintang di angkasa yang bertabih dari masa awal penciptaan sang waktu,
Dalam kegelapan malam yang sunyi, gerak seekor semut di bumi akan terdengar sebagai dentang tasbih yang tak henti dari masa lalu,
masihkan engkau akan tanyakan lagi padaku?

Sedang setiap tarikan nafasku berpacu dengan datangnya malaikat maut yang telah mengintip dibalik jendela,
aku yang bagaikan debu sebentar lagi akan berjumpa dengan kekasihku, Allah,
daku berharap akan bergulung bersama jutaan debu lainnya menjadi gumpalan humus yang subur danmenjadi  tumbuh di taman-taman-Nya,
bersama para pencinta-Nya.

IV
Kelak,ketika aku telah pergi untuk menemui sang kekasih yang kupuja dan engkau rindu padaku,
Carilah aku ditetesan embun di daun-daun hijau di pagi hari yang bersihkan debu dan memberi kehidupan baru,
atau di cahaya mata bayi yang baru lahir,engkau akan temukan sorot mataku,
Itulah cinta dari sang Pencinta sejati, tak lekang dimakan waktu.

Muridku...
Matahari telah senja,
kefanaan untukku telah hadir didepan mata,
aku melihat untaian cahaya hadir berwarna-warni demikian indah,
cahaya-Mu jua.

V
Sang Murid diam membisu,
Namun perlahan,bagaikan air mengalir,kesadaran dan kearifan telah bertransformasi padanya sesuai hukum waktu,
dan ia kini...menjadi guru.


Sang Pengembara

Hamdi Akhsan.

NB : Masih 2 episode lagi dari tetralogi cinta sang pengembara.

51-2010. SYAIR CINTA SANG PENGEMBARA-1

51-2010. SYAIR CINTA SANG PENGEMBARA-1

                Oleh
                Hamdi Akhsan

Kapan pencarian cinta akan bertemu dengan kehakikian?


I
Seorang murid tersipu,
menghadap  sang guru dengan wajah tertunduk malu,
Ia menekur,dadanya berat dihimpit pertanyaan memburu,
Dengan suara nyaris tak terdengar dia berkata :"wahai guru.
Bolehkah daku tanyakan sesuatu yang rampas dan merapuhkan jiwaku?

Dengan mata arif  oleh penderitaan dan usia yang panjang sang guru berkata,
Anakku, perkara apakah yang meruntuhkan kukuhnya menara ketegaran dalam jiwa?
Tanyakanlah apa yang membuat hatimu patah dan batinmu menderita?
Serta jadikan   ibadahmu tak lagi tertata?

II
Dengan suara yang nyaris tak terdengar,sang murid berkata:
"aku ingin bertanya padamu tentang cinta"
yang mampu meruntuhkan takhta,
Membuat majenun laila,

Menumpahkan darah,
Membuat orang rela jadi sengsara,
Membuat orang tegar menahan perihnya duka lara,
Menjadikan seorang Napoleon menjadi panglima pengembara.

III
Sambil tersenyum arif sang guru menjawab,
apakah yang engkau maksud adalah cinta yang berselimut syahwat?
Cinta yang mengharubirukan milyaran manusia menjadi bagaikan seekor hewan yang kuat?
Hari demi hari ,mencari harta sampai jasadnya  dimakan ulat?
Ataukah cinta para malaikat kepada Tuhan yang sepanjang masa  mengenal adanya  syahwat?

Anakku,
Dalam kehidupan Tuhan telah ajarkan kita tentang pilihan bentuk cinta,
Dari lebah jantan yang berkurban untuk generasinya engkau berkaca,
Ataukah bagaikan seekor kera yang memaknai cinta sebagai "bercinta",
Atau pada laba-laba yang rela jasad dimakan hanya demi cinta semata?
Ataukah cinta sesaat bagai cinta seekor ayam yang pandai bermain mata?

IV
Jiwa sang murid bergetar,dadanya tersedan,telinganya berdengung,
tak sanggup ia menjawab   ungkapan-ungkapan  sang   guru agung,
matanya nanar,dihadapkan pada tanya yang membuatnya  bingung,
Sambil tersenyum arif sang guru berkata : Pergilah engkau merenung!



Sang murid pergi undur diri sambil tundukkan kepala menekur.
Ia merenung, mencari jawaban di ujung kuntum bunga-bunga mekar.
Dicarinya jawab pada tetes  hujan yang jatuh bersama dentuman petir menggelegar.
Berhari-hari ia mencari jawaban ditengah gelapnya malam dan tepi samudera yang lebar.

V
Ia berjalan,duduk,berbaring dan bertanya pada alam  tentang sebuah kesejatian.
Cinta yang membuat anak burung menunggu  induknya pulang kala petang menjelang.
Cinta yang membuat Al-Bara bin Malik songsong ribuan  mata pedang demi jalani kesyahidan.
Atau cinta  ibu yang bangun di malam dingin  bujuk bayinya  menangis kelaparan dan ketakutan.


Terbayang ia akan harumnya kisah cinta Rabiatul Adawiyah telah terukir ribuan tahun dalam sejarah.
Ataukah Ibrahim bin Adham yang tinggalkan kemewahan istana,mencari cinta Ilahi sebagai pengembara.
Wujud cinta yang membuat manusia, hewan, tumbuhan rela menanggung kepedihan dan penderitaan demi sebuah kebahagiaan sebagai buah cinta yang menggelora.
Sebuah kesejatian yang berada di atas wilayah nafsu amarah.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

50-2010. Kami Telah Tertipu

50-2010. Kami Telah Tertipu

                Oleh
                Hamdi Akhsan.


Wahai Tuhanku.
Dengarlah ratap seorang hamba-Mu  yang telah tertipu,
yang bekerja keras siang malam tanpa mengenal waktu,
yang  tiada perdulikan tulang-tulang  mulai  terasa ngilu,
serta mengejar ketakpastian harta  dan segala  sesuatu.

Sungguh harta yang didapat kelak akan diwariskan,
tinggal diri  menghadap-Mu dengan tiga lapis kafan,
Anak istri hanya hantarkan hamba sebatas kuburan,
setelah itu, hamba kelak  akan ditinggal  sendirian.

Didalam kisah muktabar hamba telah mendengar,
tentang himpitan kubur yang membuat tulang terlempar,
daging-daging busukpun hancur dimakan cacing-cacing  lapar,
serta sesal yang tak pernah berakhir sampai kelak di Padang Mahsyar.

Ya Allah.
Walau sudah begitu nyatanya kebenaran-Mu,
tapi hamba belum sepenuhnya patuh pada-Mu,
sedikit berbuat baik tapi banyak meminta dari-Mu,
sedikit bersodaqoh namun banyak mengharap ampunan-Mu.

Akankah?
Engkau masih suka,
Menerima iman hamba yang terluka,
Mengampuni jiwa yang masih berselimut serakah,
Yang mengharap surga, namun masih mengamalkan sifat ahli neraka.

Wahai Ilahi yang segala kemuliaan dan keagungan ada disisi-Mu,
Yang segala makhluk kelak akan tertunduk dihadapan-Mu,
Yang mengharapkan ampunan dan belas kasih-Mu,
Untuk dapatkan debu ridho-Mu,
cinta-Mu.

Wahai Allah Azza wa Jalla.
Pada-Mu Seorang budak bertanya,
Pantaskah ia bertindak sebagai manusia merdeka,
Yang jalani kehidupan sesuai dengan apa yang ia suka,
Padahal tiap helai rambut di kepalanya adalah milik tuannya.

Sedangkan dirinya kurang bersyukur atas semua nikmat-Mu,
yang telah memberi oksigen tanpa harus diramu,
Tapi ya Allah, ia masih jauh darimu,
dan...tidak beserta-Mu.

Wahai Tuhan Sang Pemilik setiap butir debu di semesta alam,
Pengendali segala energi dikala siang ataupun malam,
Yang tahu rahasia ditempat gelap dan suram,
Menerangi hati yang kelam,
yang jauh didalam.

Dalam resah,
mata hamba pun basah,
dihimpit takut dan jiwa yang susah,
namun tersimpan sejuta pinta beriring asa,
Bahwa ampunan-Mu jauh lebih besar dari semua dosa.

Wasalam
Al Faqir

Hamdi Akhsan

49-2010. SYAIR-SYAIR ARMINA (ARAFAH,MUZDALIFAH,MINA)

49-2010. SYAIR-SYAIR ARMINA (ARAFAH,MUZDALIFAH,MINA)



                  Oleh
                  Hamdi Akhsan.

Jamaah haji yang bermunajat saat wujuf di Arafah

Syair-syair Armina ini merupakan perluasan dari SYAIR HAJI (TERDAHULU), berisi pokok-pokok ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina), serta doa-doa wukuf yang dilantun dalam bentuk syair. Penuh ketidaksempurnaan. Moga manfaat untuk diri dan yang mengambil manfaat darinya. Amien!

I
Disaat sunyi merayap malam,
hamba merenung didalam diam,
teringat masa setahun silam,
Menuju Arafah tuk Bersemayam.


Jutaan manusia bagaikan debu,
berjalan menuju padang yang satu,
sepanjang jalan bukit berbatu
tidur ditenda bermalam dalu.

Ditengah padang si Jabal Rahmah,
diam membisu sepanjang masa,
menjadi saksi terurai air mata,
hamba ratapi banyaknya dosa.

II
Terbayang sungguh setelah mati,
pakaian putih tiada bertepi,
rakyat jelata pejabat tinggi,
menangis pilu tiada perduli.

Isak terdengar dimana-mana,
memohon ridho ia karena,
moga selamat kelak disana,
setelah berakhir hidup yang fana.

Jutaan malaikat menjadi saksi,
doa si hamba kan ditulisi,
seperti janji Ilahi Robbi,
setiap doa kan dipenuhi.

III
Ya Allah,Didalam tangis hamba berdoa,
betapa hidup berlumur nista,
hanya ampun-Mu yang hamba pinta,
ampuni segala perbuatan dosa.

Ya Allah...
Jagalah mataku dari tatapan yang menggoda,
jagalah hatiku dari rasa yang tidak Engkau suka,
jagalah pendengaranku dari bisikan yang tidak engkau ridha,
jagalah mulutku dari buruknya dusta.

Ya Allah...
Tuntunlah lisanku untuk selalu katakan yang hikmat,
jagalah hatiku tuk selalu syukuri nikmat,
jagalah syahwatku agar tak sukai maksiat,
jagalah hidupku agar lebih mencintai akherat.

IV
Ya Allah...Jutaan malaikat-Mu hadir menjadi saksi,
atas lantunan doa dan taubat para jamaah haji,
tak malu mereka menangis keras,tersedan meratapi,
atas perbuatan dosa dan salah yang disesali.

Ya Allah,Sungguh kami takut pada keadilan-Mu.
Kami berharap pada kemurahan-Mu,
dirahmati kami dengan kasih sayang-Mu,
agar kelak kami tak malu saat jumpa dengan-Mu.

Hamba-Mu ini bagaikan debu,
bila menadah menangis pilu,
didalam hidup sering keliru,
Ya Allah,ampunilah daku.

V
Ya Allah,
Berilah hamba lisan yang basah tuk selalu sebut asma-Mu.
Hati yang takut tuk ingkar terhadap nikmat-Mu,
Nafsu yang sadar terhadpa kehambaan pada-Mu,
dan cinta yang bertambah dalam ketauhidan atas-Mu.

Ya Allah...
Kami berlindung kepada-Mu dari rezeki yang sempit,
kami berlindung pada-Mu dari kubur yang menghimpit,
lindungi kami dari banyaknya harta yang diiringi sifat pelit,
lindungan kami ya Allah dari ketidaktabahan menahan rasa sakit.

Ya Allah,
Berilah hamba kecintaan pada-Mu melebihi cinta pada yang lain,
Berilah hamba harapan bahwa berjumpa dengan adalah haqqul yaqin,
berilah hamba hati yang tak menistakan orang miskin,
Berilah hamba rizky wahai Robbi khoirun roziqin.

VI
Ya Allah,
Dalam sedan dan dada gemuruh hamba berpinta,
Dengan keagungan-Mu hamba memohon cinta,
Cinta-Mu Robbi yang selalu memberi dan tak pernah meminta,
cinta-Mu yang membuat para pencinta di malam sunyi teteskan airmata.

Ya Allah,
kini para hamba-Mu berkumpul di Arafah,
aimatanya mengalir dan tangannya gemetar tengadah,
berharap sepanjang hidup Engkau ampuni dosa dan salah,
dan Engkau beri rahmat-Mu ketika kelak langit terbelah.

Ya Allah...
Karuniakanlah diwajahku cahaya,
dihatiku cahaya,
dipendengaranku cahaya,
dipenglihatanku cahaya,
didepan dan dibelakangku cahaya.
dikiri dan kananku cahaya,

VII
Ketika wukuf telah berakhir,
berangkat pula para musafir,
ke muzdalifah tempat kan mampir,
setengah malam diam berzikir.


Lewatlah waktu tengah malam,
pergi ke mina dimalam kelam,
jalani laku Ibrahim Alaihis Salam,
yang dicintai Allah semesta Alam.

Batu dilempar duapuluh satu,
Tiga kali tujuh sudahlah tentu,
berharap Ridho Allah Yang Satu.
Supaya diakherat kelak dibantu.

VIII
Ketika pergi melempar jumroh,
kaki berjalan haruslah kokoh,
jarak ditempuh berkilo-kilo,
tak boleh lemah tak boleh loyo.

Tiga hari jalani laku,
betis dan paha terasa kaku,
rapatnya orang bertemu siku,
tak boleh dzalimi hai saudaraku.

Kemah dimina sangatlah sejuk,
banyak pendingin tempatnya empuk,
airnya cukup untuk berwudhuk,
antrian panjang membuat sibuk.

IX
Jangan lupa tujuan ke mina,
melontar jumrah maksud karena,
barang jualan dimana-mana,
dari yang mulia sampai yang hina.

Banyak pula yang tak disiplin,
ambil jatah makan orang lain,
sama seperti fakir dan miskin,
yang sulit dapatkan nasi sepiring.

Bermacam tingkah orang disana,
ada yang aneh ada sempurna,
karena asalnya aneka warna,
bermacam pula tujuan ke mina.

X
Kala Armina sudah selesai,
kembali ke mekkah sudahlah santai,
tawaf ifadah langsung serantai,
sebelum wada' menjelang usai.

Sempurna sudah ibadah haji,
tinggallah mekkah yang amat suci,
air matapun mengucur lagi,
wujud cinta Ilahi Robbi.

Berilah hamba jalan yang yang lapang,
untuk kelak kembali datang,
menjadi tamu-Mu yang Engkau undang,
Wahai Ilahi Yang Maha Penyayang.

Inderalaya, 2011
Al Faqir


Hamdi Akhsan