Sabtu, 12 Februari 2011

50-2011. Kata Ibuku

50-2011. Kata Ibuku

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Di usia duabelas tahun tamat SD
I

Kata ibuku,
Mataku tajam bagaikan mata elang,
tapi hatiku lembut bak putri kembang mayang,
sedikit tergores merajuk dari sore sampai ke siang,
dan suka menyendiri dalam kesedihan yang membayang.

Perjalanan panjang telah menempa halusnya jiwa.
Walau tegar, tapi dingin bagai air dalam rawa,
Ada kepedihan tersembunyi dibalik tawa,
abadi sampai mati akan dibawa.

II
Kata ibuku...
gejolak jiwa dibacanya dari sorot mataku,
dalam mata elang ada cahaya bahagia dan pilu.
Karena kepedihan jarang terungkap lewat mulutku,
atau datang padanyaungkapkan kesusahan dan mengadu.

Bila ingin, hanya tamsil dan sindiran yang terkatakan.
tak sanggup ungkap keinginan menyesakkan.
atau meminta dengan memaksakan,
atau tak peduli kesulitan.

III
Kata ibuku lagi...
Dimasa kecil aku penyendiri,
bila menangis cari tempat sembunyi,
tiada isak yang terdengar bersama airmata ini,
hanya bintang, kegelapan, dan cahaya bulan menemani.

Sifat yang terbawa hingga usia dewasa kini menjelang.
Rasa dan hati yang tajam bagai sebilah pedang.
Rasakan yang tersirat dengan memandang.
Pendam perih sampai maut datang.

IV
Kata ibu...
Kelembutan sebagai  lelaki akan menyakitkan.
membuat hidup  banyak diam dan  menahan.
Segala yang menyesak tak diungkapkan lisan.
Hanya dengan kias dan tercurah lewat tulisan.

Kata Ibu...
Kelak hidupku  akan berguna bagi  orang lain.
Berkurban menutup malu bagai sehelain kain.
Jadikan keikhlasan berbuat diiringi oleh  yakin.
Hindari pula keinginan dipuji sesedikit mungkin.

Kata ibu...
Hiduplah dengan yakin.

Inderalaya, 13/2-2011
Al Faqiir

Hamdi akhsan

Selasa, 08 Februari 2011

47-2011. Mengapa Tiada Lagi Kasih Sayang

47-2011. Mengapa Tiada Lagi Kasih Sayang

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Mujahidin Afghanistan berperang tegakkan agama Allah
I
Cahaya surga itu kini semakin redup di bumi para aulia.
Yang tampak hanya wajah-wajah beringas haus darah.
Atau jeritan takut yang  berlari dari  hebatnya amarah.
Sungguh Dia  telah  mencabut  rahmat yang tercurah.

Mengapa nafsu dan ambisi dibalut  indah dibalik jubah.
Mengapa menerjang  beringas  lebihi ganasnya srigala.
Mengapa atas nama kebaikan darah harus tertumpah.
Mengapa jiwa wanita & anak-anak harus tertoreh luka?

II
Inikah ciri yang  ditunjukkan umat  pencinta akhir zaman?
Yang bersikap keras dan tegas terhadap prilaku kekafiran.
Bersikap lemah lembut pada pada  sesama orang beriman.
Serta tidak lemah dan takut pada ejekan dan penghinaan.

Mengapa rasa kasih dan sayang dan kelembutan harus dibuang,
Tebar salam pada sesama seperti diakhir tiap sembahyang.
Mengajak pada-Nya dengan penuh kasih dan sayang.
jauhkan amarah, benci, dan cara yang garang.

III
Saudaraku...
mengapa engkau tidak berhijad ke Palestina salurkan semangat.
Atau membubarkan pusat-pusat maksiat yang jahat.
Ataupun pergi berdakwah jauh ke negeri barat.
Daripada pukuli saudaramu sampai sekarat.

Kelak setelah tiada engkau ditanya oleh-Nya.
apakah semua yang dilakukan memang karena Dia.
Ataukah amarahmu yang berada diatas iman dan ghirah.
Yang tanpa izin pemilik hidup telah sanggup tumpahkan darah.
Bom Laknat Zionis Penghancur Tulang

IV
Kalaulah engkau lakukan karena Dia,
Semoga dengan amalmu engkau jadi mulia.
Namun bila karena dilakukan untuk mencari bangga.
Kelak diakherat engkau hadapi tuntutan para yatim dan janda.

Sungguh berat dan paanjang perjuangan Rasul tercinta.
Digantinya dengan pandangan kasih pedang Datsur yang jatuh terbata.
Atau bagai Allah memerintah lemah lembutnya Musa pada firaun yang durhaka.
Sedang engkau tidaklah semulia musa dan mereka tidaklah seperti firaun yang dinista.

V
Saudaraku, Betapa pentingnya para pencinta belajar pada perjuangan Rasulullah.
Yang selalu ikhlas dan istiqamah tegakkan panji-panji Agama Allah.
Yang tiada memilki ambisi dunia dan terjauh dari mencela.
Dan tak perduli siapapun yang tertindas akan dibela.

Saudaraku, sadarilah.
Musuh telah berada di jendela.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan
Para Pejuang Iraq usir penjajah

Senin, 07 Februari 2011

45-2011. SYAIR SAKIT GIGI

45-2011. SYAIR SAKIT GIGI

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Adouw,atitnya

I
Inilah kisah sepanjang waktu,
segala golongan tak pilih tentu,
baik yang muda ataupun ortu,
rakyat biasa ataupun ratu.

Wadow...apa pula yang jadi halnya,
sakit gigi nangis jadinya,
cenat cenut sakit rasanya,
bagaikan mau putus nyawanya.

Dimalam hari mengigit-gigit,
rasanya sungguh begitu sakit,
kalaulah bisa diganti cubit,
atau ditinju barang sedikit.

II
Haha, itulah kalau diri tak rajin,
tahinya gigi bagaikan tajin,
karena digosok yang tidak rutin,
atau tak apa rasanya yakin.

Ditambah pula bekas makanan,
terselip disana rasa tak nyaman,
tapi itulah kalau nggak tuman,
dibiar saja kotor semalaman.

Barulah kalau gigi berlubang,
sakitnya bukan alang-kepalang,
orang melihat dibilang nantang,
sedikit masalah sudah meradang.

III
Oho,sabarlah kalau giginya sakit,
terasa lama waktu sedikit,
kepala kayak ditimpa bukit,
melihat orang matanya sipit.

Baru sedikit makanan masuk,
rasa sakitnya sudah menusuk,
nyerinya sampai ke tulang rusuk,
ahai, keparat benar kuman yang busuk.

Terkena air rasanya ngilu,
sakitnya malam membuat pilu,
tak bisa tidur dimalam dalu,
senut-senut bagai dihantam palu.

IV
Kalau sakit sudah menghilang,
cabut segera agar tak ngulang,
kempot sedikit tak apa sayang,
lesung pipitnya akan membayang.

Hai,hai, kalaulah diri boleh memilih,
pastilah malu merintih-rintih,
menangis-nangis seperti sedih,
malu dong dengan kekasih.

Rajin-rajinlah gigi disikat,
janganlah sampai sisa melekat,
ataupun tunggu sampai berkarat,
atau berlubang sampai ke urat.

V
Kalau tak enak giginya ompong,
gigi palsupun bisa dipotong,
isi bagian tempat yang kosong,
pastilah hilang tempat yang bolong.

Kalau tak mau pasang yang tetap,
pakailah jangan dengan ditancap,
bisa bersikat sambil bersantap,
atau dijemur di atas atap.

Kalaulah gigi palsu dipakai,
pastilah muda kayak mempelai,
enak dipamer seperti tupai,
bicara tak perlu memakai tirai.

VI
Inilah syair sakitnya gigi,
tak tentu sore ataupun pagi,
kalaulah bisa jangan tejadi,
alamak!membuat kacau semua segi.

Rajin-rajinlah gigi disikat,
sampai tua pun ia kan sehat,
terhindar dari kuman yang jahat,
ataupun karat yang suka lekat.

Syairku ini sampai disini,
jangan tersinggung Anto dan Ani,
bukan mengejek atau berani,
untuk nasehat anak yang dini.

Inderalaya, 7/2/2011
Al Fagiir

Hamdi Akhsan

Minggu, 06 Februari 2011

44-2011. Harga Diri Yang Hilang

44-2011. Harga Diri Yang Hilang
            
               Oleh
               Hamdi Akhsan

Panglima Salahuddin Al Ayubi
I
Di hari ini...
Gempita teriakan pedih menggelora di jazirah para Nabi.
Di Tunisia, Yaman, Mesir, derita rakyat telah tak tertahankan lagi.
Para penguasa pengecut berlindung dibalik seragam tentara kini ciut hati.
Tunggulah, kehancuran bagimu yang telah lalaikan amanah Tuhan  dekati hari.

Di Palestina, bumi bapak  para Nabi ternoda  dibawah kekejian zionisme Israil.
Kepedihan Ya'kub yang rindukan Yusuf tiada  membuat para Rabi terpanggil.
Dan para Mujahid Gaza pun dengan gagah berani lemparkan batu-batu kerikil.
Sambil berdoa tangan harap pertolongan malaikat dikirim bagai burung ababil.
Sedang pemimpin Arab, terhadap  Israel mereka ketakutan sampai menggigil.
Kepada rakyat dan bangsa sendiri ganas membabi buta melebihi malaikat Izrail.

II
Dimana Mesir yang pernah memiliki panglima perkasa Salahuddin Al-Ayyubi?
Atau Jazirah Afrika Utara yang pernah memiliki Penakluk Ubaidilah Al Mahdi?
Atau engkau syiria yang  dua  ratus tahun menjadi  penyebar  agama Ilahi?
Sungguh semua telah begitu terhina karena telah tinggalkan Alquran Suci.

Kalaulah Para Penakluk masa lalu  bisa bangkit dari kubur.
Tentu Jazirah Arabia  tidak akan terhina dan babak-belur.
Atau dibagi musuh bagai mempermainkan sepiring bubur.
Dan harga diri peradaban para nabi pun kini telah hancur.

III
Ditengah ancaman rakyat palestina setiap hari kehilangan kepala.
Tak malu para pemimpin negeri jazirah sibuk menawar klub sepakbola.
Bahkan hamburkan uang untuk menyumbang ke kebun binatang segala.
Sambil duduk semeja dengan para pembunuh dan saksikan tarian hula-hula.

Sungguh pria arab dengan harga diri yang menjadi tradisi kini telah menghilang.
Gurun Pasir tandus tak lagi membuat mereka perkasa bagaikan sang elang.
Karena kini kekayaan luarbiasa membuat nafsu menjadi begitu jalang.
Dan tak sadar kehancuran harga diri telah datang menjelang.

IV
Diakhir madah,
Beriring sedu sedan hamba didalam dada.
Kami bermohon pada-Mu wahai Yang Maha Ada.
Kembalikanlah harga diri bagai di zaman yang sudah.
Agar peradaban kembali bersinar dengan sejuta cahaya.

Inderalaya, Jelang Malam
Al Faqiir

Hamdi Akhsan