Jumat, 03 Juni 2011

66-2010. Syair Wasiat Pengantin (2)

66-2010.   Syair Wasiat Pengantin (2)


                 Oleh
                 Hamdi Akhsan


I
Bismillah awal pembuka syair,
pada-Nya jua hamba berzikir,
mohon bimbingan dalam berfikir,
sebelum hidup menuju akhir.

Dengan iman syair ditulis,
lepas anakku sebagai gadis,
matapun sulit menahan tangis,
didalam dada rasa teriris.

Syair ini sebagai wasiat,
untuk hidupmu disetiap saat,
sebelum ayah jelang sekarat,
serta pergi ke alam akherat.

II
Anakku...
Hari ini hari bahagiamu,
semua mata pandang dirimu,
karena engkau datanglah tamu,
tuk hadiri akad nikahmu.

Sedangkan ayah serasa mimpi,
bagaikan kilat jalannya hari,
baru sebentar kau kusuapi,
sekarang melepas sebagai wali.

Baru sebentar engkau kugendong,
sambil bermain engkau kubombong,
berjalan dengan kereta dorong,
ambilkan engkau nasi sesentong.

III
Betapa berat rasa jiwaku,
lepaskan engkau wahai anakku,
inginnya diri menangis tersedu,
namun takdir sudah tertentu.

Engkau telah tumbuh dewasa,
tinggi citamu berdamping asa,
dalam dadamu terpaut rasa,
terhadap pemuda gagah perkasa.

Ketika ia datang melamar,
ayah menjadi tersentak sadar,
kalau anakku si bunga mekar,
akan berdamping duduk sejajar.

IV
Sebelum engkau dibawa pergi,
ayahmu ingin menasehati,
ungkapkan segala rasa dihati,
supaya bahagia hidupmu nanti.

Anakku sayang permata ayah,
sumber semangat ayah seraya,
buatlah imanmu selalu kaya,
supaya akherat kelak kan jaya.

Jadilah nikah jalan ibadah,
karena hidup pastikan sudah,
janganlah rugi menjadi ganda,
dunia akherat terkena denda.

V
Kedua ayah ingin sampaikan,
nikah itu sebuah ikatan,
janji yang suci telah diikrarkan,
Manusia dan malaikat semua saksikan.

Janji sucimu akan dicatat,
janganlah mudah menjadi cacat,
jagalah lidah jagalah ilat,
janganlah mudah lepaskan ikat.

Kalaulah ikatan engkau remehkan,
alamat bahagia kan terceraikan,
hidup berkeluarga penderitaan,
ikatan kuat jadi tangisan.

VI
Nasehat ketiga perlu kau ingat,
hargai setiap tetes keringat,
aturlah nafkah dengan hemat,
supaya hidupmu tidak melarat.

Terhadap harta jangan serakah,
karena syaitan sangatlah suka,
iman dirimu akan terluka,
iri dan dengki melekat maka.

Apa yang anda selalu syukuri,
bertambah-tambah kan Allah beri,
Melihat yang lebih tahanlah diri,
pada yang kurang engkau memberi.

VII
Kalaulah engkau diberi putra,
Bimbinglah jangan dengan amarah,
apalagi kalau beranak dara,
marah membuat hatinya lara.

Fikir dahulu sebelum berkata,
karena lidah tiada bermata,
kata yang tajam membuat derita,
akanlah sulit tatkala patah.

Bimbinglah dengan jiwa yang kasih
beri makanlah  harta yang bersih,
ajari menabung jajan disisih,
ketika tiada simpanan masih.

VIII
Terhadap suami berhati-hati,
jangan menuntut terlalu tinggi,
membuat ia terpaksa korupsi,
karena banyaknya tuntutan istri.

Janganlah pula banyak berhutang,
nanti hidupmu kan sering timpang,
jiwa didada tiada lapang,
wajahmu tidak bersinar terang.

Hiduplah dengan cara sahaja,
tekadkan niat sekuat baja,
jalani hidup yang baik saja,
tak perlu mimpi mewah bak raja.

IX
Didalam waktu musim berganti,
begitu pula suami dan istri,
setelah malam kan datang pagi,
asalkan sabarmu tidak terbagi.

Berkata baik buatlah tradisi,
lidah yang manis berkomunikasi,
wajahpun tetap buat berseri,
walau didalam membara besi.

Amarah sesaat membuat sesal,
setelah hilang hati yang mengkal,
ditarik lagi tak bisa bakal,
itu pertanda pendeknya akal.

X
Kalaulah hatimu begitu perih,
tadahkan tangan ratapkan pedih,
minta pada-Nya jiwa yang bersih,
jalan keluar yang penuh kasih.

Kalaulah hati terasa tenang,
yang baik-baik harus dikenang,
supaya adil engkau menimbang,
terjauh dari cara sembarang.

Latihlah diri mudah bersyukur,
harta yang banyak bukan pengukur,
jabatan tinggi jangan ditutur,
tiada maknanya kelak di kubur.

XI
Nasehat ayah cukup dahulu,
dalam dadaku semakin pilu,
anakku sayang akan berlalu,
seperti membawa ibumu dahulu.

Kalaulah nanti engkau terpisah,
tengoklah ayah selagi bisa,
tetapi jangan berkeluh kesah,
sampaikan yang baik saat berkisah.

Pandai-pandailah dengan mertua,
ayah ibumu menjadi dua,
buatlah kenangan baik terbawa,
jauhi sangat sifat jumawa.

PENUTUP
Nasehat ayah cukup disini,
moga bahagia anakku nanti,
bersama hidup istri dan laki,
pada orangtua selalu berbakti.

Agama jadikan kunci utama,
supaya terpancar cahaya rahmah,
surgamu akan terasa dirumah,
malaikat senang kalian bersama.

Kalaulah ayah salah berkata,
maaf tulusmu ayah pun minta,
berdoa semoga Allah pun cinta,
disorga bersama menjadi cita.


Al Faqir


Hamdi Akhsan.

Kamis, 02 Juni 2011

36-2011. Bumi Yang Merana

36-2011. Bumi Yang Merana

                 Oleh
                 Hamdi Akhsan

I
Dengarlah olehmu ratapan sebatang  pohon di rimba.
Yang berkisah tentang apa  yang telah disaksikannya.
Melihat kerakusan tak  tertahankan di dunia manusia.
Yang  memetik banyak  malapetaka  karena  ulahnya.

Ia pun berkisah,dahulu hutan ini segalanya seimbang.
Di pohon-pohon tinggi burung burung bersarang.
Namun  tiba-tiba pohon  menjadi  tumbang.
Karena tanpa dipilih lagi ia pun ditebang.

Ketika pepohonan rimbun tiada.
Burung-burung  berpindah.
Tanah kering merekah.
Dan banjir pun tiba.
Habiskan segala.

II
Kini, tatkala  hujan  datang air mengalir sangat keruh.
Tanpa  penghalang air  bah pun  datang  bergemuruh.
Menjadikan rumah,  sawah, dan ladang  hancur luluh.
Dan alam yang baik pun kini berubah menjadi musuh.

Sungguh rakus.
Rimba  diberangus.
Simetri alam   terputus.
Hilang juga sifat yang halus.
Oleh serakah  yang  membius.

Manakala  keseimbangan  terganggu.
Keindahan  hutan  jadi  bagian  masa lalu.
Suara alam pun hilang dan kini diam membisu.
Menjadi  musuh  manusia  dengan  aturan   kaku.

III
Tinggallah kini generasi yang kehilangan pijakan.
Yang habiskan biaya menata hutan  buatan.
Hutan yang  tersisa pun tak  dilestarikan.
Sungguh keanehan membingungkan.

Petaka  di hari ini  terus terjadi.
Karena alam tak ramah  lagi.
Terjadi petang atau pagi.
Rahmat Ilahi tlah pergi.

IV
Ingatlah!  tatkala  hukum  Ilahi  telah  terganggu.
Akan muncul padang  pasir  dan tanah  berbatu.
Kesejukan dan Kesuburan akan hilang dari situ.
Ampunilah  kami  wahai  Pemelihara Yang Satu.

Bumi  yang  diberkati kini  tinggal  dongengan.
Hutan yang hijau lestari tinggal kenangan.
Binatang liar dihutan tinggal  pajangan.
Sungguh berat akibat keserakahan.

Al Faqiir


Hamdi Akhsan

178-2011. Waspadalah 18 Gejala Penyakit Yang rentan diderita Guru.

178-2011.   Waspadalah 18 Gejala Penyakit Yang rentan diderita Guru.

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan

I
Syairku ini sebagai pengingat,
untuk sendiri serta  sahabat,
supaya jadi guru yang hebat,
terhindar dari penyakit jahat.

Kalau terkena sakit yang berat,
susahlah diri mencari obat,
banyak mencibir orang melihat,
dianggap guru yang tidak sehat.

Sebelum semua kelak terlambat,
kutulis syair sebagai nasehat,
sebagai sarana untuk berbuat,
semoga kita semua sepakat.

II
Penyakit pertama adalah ASMA,
Asal  Masuk  Kelas bernama,
Bahan mengajar yang lama-lama,
waktu pun habis dengan percuma.

Penyakit kedua ASAM URAT,
Asal sampaikan materi,tidak akurat,
ngalor ngidul ke timur barat,
sampai muridnya teler berat.

Haha, DIARE penyakit yang ketiga.
Di kelas Anak-anak  remehkan juga,
Tak pernah senyum supaya gagah,
tapi muridnya sibuk berlaga.

III
Penyakit GINJAL diperhatikan,
Gaji Nihil, Jarak Aktif dan Lamban.
Mau naik gaji lupa kewajiban,
pekerjaan sekolah tak diindahkan.

Awas pula penyakit kelima,
KATARAK ia yang punya nama,
Kurang tanggap dan antraktif lakunya,
disepelekan orang dimana-mana.

Masya Allah, ada pula yang kena KRAM
Kurang terampil banyaklah diam,
tak tahu dunia sudah bersulam,
tentulah kena masa depan suram.

IV
Wah, Ada pula penyakit KURAP
kurang rapi dan kurang mantap,
tak di strika bajunya kerap,
jangan-jangan dikira kain lap?

Penyakit KUDIS banyak melanda,
kurang disiplin ia bermakna,
datang dan pergi semau gua,
kena darah tinggi pimpinannya.

Penyakit KUSTA sering melanda,
kurang strategi itu artinya,
tak pintar-pintar yang diajarnya,
wadooohh, harus bagaimana?

V
Penyebabya karena penyakit LESU,
Lemah sumber jangan ditiru,
buku pegangannya cuma satu,
itupun buku zaman dahulu.

Penyakit MAAG jadi biangnya,
Mengajar Asal-Asalan Gayanya,
tak jelas apa diajarkannya,
berbeda pula contoh soalnya.

Hah, akibat lainnya terkena MUAL,
Mutu Amal Lemah mengajar asal,
tak peduli murid yang nakal,
Yang penting sebulan bertambah modal.

VI
Amit-amit, penyakit ngidam ada pula,
Ngajar Inferior dan Monoton cara,
Murid dah hafal luar kepala,
catatan sama sejal zaman baheula.

Penyakit  PILEK juga penyerang,
Praktek Ilmiah Lemah Evaluasi kurang,
Nilai siswa pun dikarang-karang,
walah...apa nanti kata orang.

Kalaulah sudah begitu parah,
penyakit TIPES  membuat marah,
Tidak punya Energi dan  Selera,
Jadilah loyo tak punya darah

VII
Berhati-hati penyakit BATUK
Banyak Tagihan Utang Keblinger suntuk,
tak semangat ngajar ngantuk-ngantuk,
bawaan stress batuk-batuk.

Ehem, lain pula penyakit KUTIL,
Kurang teliti periksa hasil,
tak beda nilai yang besar kecil,
merata saja angka diambil.

Terakhir, semoga TBC tidak menyerang,
Tidak Bisa Komputer kata orang,
diolok teman jangan berang,
belajarlah supaya tahu itu barang.


VIII
Tak ada maksud lecehkan guru,
banyak mereka bikin terharu,
bahan ajarnya selalu baru,
inilah mereka layak ditiru.

Haha, syair ini cuma guyonan,
jangan tersinggung atau marahan,
cuma sebagai bahan sentilan,
supaya mutu kita tingkatkan.

Menjadi guru profesi mulia,
selain uang dapat pahala,
asalkan sadar siapa dirinya,
sebagai panutan masyaraktnya.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

NB :
16 GEJALA PENYAKIT YANG RENTAN DIDERITA GURU
• ASMA (Asal Masuk Kelas)
• ASAM URAT (Asal Sampaikan Materi, Urutan Kurang Akurat)
• DIARE (Di Kelas Anak-anak Remehkan)
• GINJAL (Gaji Nihil, Jarang Aktif dan Lamban)
• KATARAK (Kurang Tanggap dan Atraktif )
• KRAM (Kurang Terampil)
• KURAP (Kurang Rapi)
• KUDIS (Kurang Disiplin)
• KUSTA (Kurang Strategi)
• LESU (Lemah Sumber)
• MAAG (Mengajar Asal-asalan Gayanya)
• MUAL (Mutu Amat Lemah)
• NGIDAM (Ngajarnya Inferior dan Monoton)
• PILEK (Praktek Ilmiah Lemah, Evaluasi Kurang)
• TIPES (Tidak Punya Energi dan Selera)
• TBC (Tidak Bisa Computer)
• BATUK:Banyak Angsuran Tagihan Utang Keblinger!
• KUTIL:Kurang Teliti!

Rabu, 01 Juni 2011

177-2011. Dari Seorang anak kecil pada ibunya.

177-2011. Dari Seorang anak kecil pada ibunya.

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan

I
Ibu, betapa kutahu dihatimu ada sejuta cinta.
Aku pun tahu kalau ibu tak ingin diriku menderita.
Aku juga khawatir bila ibu sampai cucurkan air mata.
Aku juga sadar bahwa  dihatimu diriku adalah permata.

Tapi ibunda, betapa  alam bicara  tentang perjuangan.
Mereka yang  lemah  jalani  hidup  akan tersisihkan.
Bagai anak   belajar  berjalan  harus dikejamkan.
Karena setelah perjuangan ada keberhasilan.

II
Ibu, maafkan bila tangisku membuatmu sedih.
Maafkan bila kemanjaanku membuat hatimu pedih.
Maafkan kalau  sikapku membuat telah goreskan perih.
Karena bagi anakmu kehidupan dunia ini masih hitam putih.

Kumohon jangan  salahkan dirimu  atas sebuah  kegagalan.
Karena sesungguhnya nasib manusia telah  digariskan.
Apa yang telah terjadi jangan menjadi penyesalan.
Baik dan buruk itu ada dalam sebuah keputusan.

III
Ibu, jangan sesali semua yang telah terjadi.
Sekuat apapun upaya yang berlaku taqdir Ilahi.
Jalan kehidupan  kita telah ditetapkan di alam azali.
Tinggallah  kita berjuang  agar disisi-Nya  tidak merugi.

Ibu, ajarkan pada anakmu tentang sebuah ketegaran.
Tentang  kesabaran  dalam hadapi  suatu cobaan.
Tentang kekukuhan tatkala jalani penderitaan.
Sebuah kebahagiaan setelah  perjuangan.

IV
Ibu, kumohon buatlah anakmu bangga.
Tatkala  dapatkan  bahagia  setelah  derita.
Tatkala mampu tunjukkan pada sesama manusia.
Tentang keberhasilan perjuangan wujudkan cita-cita.

Ibu, kelak aku akan kuat  sepertimu jalani kehidupan.
Tatkala  cara jalani semua itu engkau teladankan.
Bersama kita akan raih indahnya kebahagiaan.
Hidup  dalam  bimbingan  dan  ridho Tuhan.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan