KEPADA NELAYAN KEHIDUPAN
Oleh
Hamdi Akhsan
Wahai nelayan kehidupan!
Jangan biarkan perahu harga dirimu mengembara sendiri ke tengah samudera.
Sebab disana ada badai nafsu yang sanggup gelapkan mentari.
Niscaya ia 'kan hancur berkeping dipermainkan ombak duniawi yang gemerlap.
Dan akhirnya sirna menghilang tanpa bekas di kedalaman abadi.
Lihatlah, Hiu jalani ribuan kilometer luasnya lautan.
Tak ia takuti gulita malam, karena ia miliki satu keyakinan.
Bahwa Tuhan telah anugrahkan baginya naluri.
"Tuk jadi raja samudera pesaing singa di bumi.
Adapun dirimu?kemana jiwa berhargamu akan kau bawa.
Akankah ia diombang-ambingkan sebutir mutiara dan segenggam emas.
Bak Nuri yang habiskan hari mengagumi keindahan bulunya sendiri.
Dan tadahkan tangan mengharap jelai yang jatuh ke tanah.
Di tanahmu?bebatuan memancarkan emas hitam sebagai rahmat.
Tapi mengapa. Engkau serahkan ia pada sekumpulan srigala pemakan bangkai.
Sedang dirimu di buai dengan permainan-permainan palsu yang menguras pundi-pundi.
Yang tertinggal kelak hanya tulang-tulang sisa yang anjingpun jijik memakannya.
Wahai nelayan, berhentilah termenung sedih di tepi pantai.
Ikan pemberian-Nya tak kan mendatangimu.
Kejarlah perahumu, dengan kemudi iman yang kuat kau akan sanggup hadapi ganasnya samudera kehidupan.
Dan kelak saat layu, diterima dengan Ridho di bumi Tuhan.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan.
Selasa, 16 Oktober 2012
Minggu, 14 Oktober 2012
KELELAWAR MENCARI MATAHARI
Kelelawar Mencari Matahari
Oleh
Hamdi Akhsan
Suatu malam seekor kelelawar terdengar berkata, “Bagaimana kiranya agar aku dapat sejenak saja melihat matahari? Dalam hidupku selama ini aku dalam putus asa sebab tidak sejenak pun aku dapat menenggelamkan diri dalam cahayanya. Berbulan-bulan dan bertahun-tahun aku telah terbang ke sana-sini dengan mata tertutup, dan di sinilah aku!”
Suatu makhluk perenung berkata, “Kau diliputi kesombongan, dan kau masih harus beribu-ribu tahun lagi mengembara. Bagaimana dapat makhluk seperti kau ini menemukan matahari? Dapatkah seekor semut mencapai bulan?” “Meskipun demikian”, kata kelelawar itu, “aku akan terus mencoba.” Dan demikianlah beberapa tahun ia terus mencari hingga ia tak punya kekuatan maupun sayap lagi. Karena ia tak juga menemukan matahari, ia pun berkata, “Mungkin aku telah terbang lebih jauh di atasnya.”
Seekor burung yang bijak, setelah mendengar itu, berkata, “Kau hidup dalam mimpi; kau hanya berputar-putar saja selama ini dan tak maju selangkah pun; dalam kesombonganmu kau katakan bahwa kau telah pergi lebih jauh di atas matahari!” Ini amat mengejutkan si kelelawar yang setelah menginsafi kedaifannya lalu merendahkan diri sama sekali dengan mengatakan, “Kau telah bertemu dengan seekor burung yang punya penglihatan batin, maka jangan teruskan.”
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
Suatu malam seekor kelelawar terdengar berkata, “Bagaimana kiranya agar aku dapat sejenak saja melihat matahari? Dalam hidupku selama ini aku dalam putus asa sebab tidak sejenak pun aku dapat menenggelamkan diri dalam cahayanya. Berbulan-bulan dan bertahun-tahun aku telah terbang ke sana-sini dengan mata tertutup, dan di sinilah aku!”
Suatu makhluk perenung berkata, “Kau diliputi kesombongan, dan kau masih harus beribu-ribu tahun lagi mengembara. Bagaimana dapat makhluk seperti kau ini menemukan matahari? Dapatkah seekor semut mencapai bulan?” “Meskipun demikian”, kata kelelawar itu, “aku akan terus mencoba.” Dan demikianlah beberapa tahun ia terus mencari hingga ia tak punya kekuatan maupun sayap lagi. Karena ia tak juga menemukan matahari, ia pun berkata, “Mungkin aku telah terbang lebih jauh di atasnya.”
Seekor burung yang bijak, setelah mendengar itu, berkata, “Kau hidup dalam mimpi; kau hanya berputar-putar saja selama ini dan tak maju selangkah pun; dalam kesombonganmu kau katakan bahwa kau telah pergi lebih jauh di atas matahari!” Ini amat mengejutkan si kelelawar yang setelah menginsafi kedaifannya lalu merendahkan diri sama sekali dengan mengatakan, “Kau telah bertemu dengan seekor burung yang punya penglihatan batin, maka jangan teruskan.”
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
AIR KEHIDUPAN
AIR KEHIDUPAN
Oleh
Hamdi Akhsan
Air telah terputus dari sungai di dunia ini,
Ternyata gelombang musim penghujan, kembali dan membawa air! -
Dari air memancar keindahan dan keagungan yang tidak pernah terlihat.
Air mancur nan agung , melalui kemegahan yang tercurah
Gelembung air naik dari sumur jiwa.
Ketika air ada, padi tumbuh, tapi air jiwaku tak akan tumbuh dari padi.
Wahai hamba, jangan seperti pengemis yang meneteskan air dari wajah
kemiskinan demi sepotong roti.
Seluruh dunia ini dari ujung ke ujung hanyalah setengah sepotong.
Karena keserakahan untuk setengah sepotong, air pun lenyap.
Bumi dan langit adalah ember dan teko, air di luar bumi dan langit.
Apakah engkau juga bergegas keluar dari langit dan bumi.
Bahwa ikan jiwamu dapat melarikan diri dari wadah ini tinggalkan air dari laut tak terbatas.
Dalam laut ikan yang yang merupakan penguasa tertinggi.
didalam air ikan abadi.
Dari pandangan datang cahaya mata, dari awan air disemburkan;
Dari taman mawar tersenyum merona.
Air yang berasal bukan dari penyebab lain atau sejenisnya.
Jiwa dan roh kemudian akan menjadi benar-benar bahagia,
ketika air mengalir datang ke arahmu dari sini.
Satukanlah dirimu dengar air, agar tak kemarau jiwa demi setengah potong dunia.
Al -Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
Air telah terputus dari sungai di dunia ini,
Ternyata gelombang musim penghujan, kembali dan membawa air! -
Dari air memancar keindahan dan keagungan yang tidak pernah terlihat.
Air mancur nan agung , melalui kemegahan yang tercurah
Gelembung air naik dari sumur jiwa.
Ketika air ada, padi tumbuh, tapi air jiwaku tak akan tumbuh dari padi.
Wahai hamba, jangan seperti pengemis yang meneteskan air dari wajah
kemiskinan demi sepotong roti.
Seluruh dunia ini dari ujung ke ujung hanyalah setengah sepotong.
Karena keserakahan untuk setengah sepotong, air pun lenyap.
Bumi dan langit adalah ember dan teko, air di luar bumi dan langit.
Apakah engkau juga bergegas keluar dari langit dan bumi.
Bahwa ikan jiwamu dapat melarikan diri dari wadah ini tinggalkan air dari laut tak terbatas.
Dalam laut ikan yang yang merupakan penguasa tertinggi.
didalam air ikan abadi.
Dari pandangan datang cahaya mata, dari awan air disemburkan;
Dari taman mawar tersenyum merona.
Air yang berasal bukan dari penyebab lain atau sejenisnya.
Jiwa dan roh kemudian akan menjadi benar-benar bahagia,
ketika air mengalir datang ke arahmu dari sini.
Satukanlah dirimu dengar air, agar tak kemarau jiwa demi setengah potong dunia.
Al -Faqiir
Hamdi Akhsan
NYALAKAN API ITU
NYALAKAN API ITU
Oleh
Hamdi Akhsan
Nyalakan api cinta-Nya yang redup didalam dadamu.
Niscaya panasnya terik mentari akan terasa sejuk sinari kehidupan.
Zikirmu akan menjadi melodi indah ditengah gesekan daun dihembus angin.
Bergelora dan bergerak sepanjang waktru
Dan kesejukan pagi
Mengubah tanah menjadi wanginya bunga hidayah.
Panasnya api cinta pada-Nya getarkan persekutuan iblis
Kecuali engkau takut dan rendah diri tuk serukan mutiara kebenaran
Tidakkah engkau menyadari
Betapa anugrah khalifah telah dipasang dipundakmu.
Sebagai pemimpin di bumi.
Engkau telah dikuasakan-Nya untuk menjadi hakim perbuatan semua bangsa
Sebarkan seruanmu di gurun-gurun, rimba raya, gunung, dan lembah,
Satukan barisan sampaikan amanah agung sang Penghulu segala hamba.
Agar bumi tidak ternoda tipu licik sang pendendam sejarah.
Tebarkan firman suci itu.
Agar bumi bersih dari segala noda.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan.
Oleh
Hamdi Akhsan
Nyalakan api cinta-Nya yang redup didalam dadamu.
Niscaya panasnya terik mentari akan terasa sejuk sinari kehidupan.
Zikirmu akan menjadi melodi indah ditengah gesekan daun dihembus angin.
Bergelora dan bergerak sepanjang waktru
Dan kesejukan pagi
Mengubah tanah menjadi wanginya bunga hidayah.
Panasnya api cinta pada-Nya getarkan persekutuan iblis
Kecuali engkau takut dan rendah diri tuk serukan mutiara kebenaran
Tidakkah engkau menyadari
Betapa anugrah khalifah telah dipasang dipundakmu.
Sebagai pemimpin di bumi.
Engkau telah dikuasakan-Nya untuk menjadi hakim perbuatan semua bangsa
Sebarkan seruanmu di gurun-gurun, rimba raya, gunung, dan lembah,
Satukan barisan sampaikan amanah agung sang Penghulu segala hamba.
Agar bumi tidak ternoda tipu licik sang pendendam sejarah.
Tebarkan firman suci itu.
Agar bumi bersih dari segala noda.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan.
KEPADA GENERASI BARU
KEPADA GENERASI BARU
Melodia Perpisahan pertanda waktu hampir habis telah datang.
Sang fakir akan berlayar ke tempat yang jauh dan asing.
Tak tahu apakah perahu akan membawa ke negeri bahagia.
Ataukah akan bernasib malang bak unta yang terjerambab di ganasnya sahara.
Yang alirkan airmata darah atas kepedihan dan kesendirian.
Wahai tunas tumbuh di awal musim penghujan.
Waspadalah dengan bius-bius permainan duniawi yang seolah pupuk penyubur.
Sebab ia akan membuatmu asing dengan harumnya mawar.
Dan membuatmu bagai elang yang hidup sebagai pemakan gandum.
Tancapkan tiang-tiang kokoh yang datang dari langit.
Baktikan hari pada Sang Penguasa Semesta dan ketaatan pada Pembawa Risalah.
Kemilau darah pencinta surga dengan ratusan gurat darah jadikan cita.
Dan mutiara surgawi disisimu yang telah uzur jangan tersia.
Biarlah, kita berpisah karena memang masaku hampir berakhir.
Tapi pesan-pesan ini akan jadi penyubur tunas baru di zamanmu.
Al-Faqiir
Hamdi Akhsan.
Melodia Perpisahan pertanda waktu hampir habis telah datang.
Sang fakir akan berlayar ke tempat yang jauh dan asing.
Tak tahu apakah perahu akan membawa ke negeri bahagia.
Ataukah akan bernasib malang bak unta yang terjerambab di ganasnya sahara.
Yang alirkan airmata darah atas kepedihan dan kesendirian.
Wahai tunas tumbuh di awal musim penghujan.
Waspadalah dengan bius-bius permainan duniawi yang seolah pupuk penyubur.
Sebab ia akan membuatmu asing dengan harumnya mawar.
Dan membuatmu bagai elang yang hidup sebagai pemakan gandum.
Tancapkan tiang-tiang kokoh yang datang dari langit.
Baktikan hari pada Sang Penguasa Semesta dan ketaatan pada Pembawa Risalah.
Kemilau darah pencinta surga dengan ratusan gurat darah jadikan cita.
Dan mutiara surgawi disisimu yang telah uzur jangan tersia.
Biarlah, kita berpisah karena memang masaku hampir berakhir.
Tapi pesan-pesan ini akan jadi penyubur tunas baru di zamanmu.
Al-Faqiir
Hamdi Akhsan.
GANDUM, SEKAM, DAN SEMUT
GANDUM, SEKAM, DAN SEMUT
Matahari bangkit dari tepi lautan, mendengar kalimat tauhid bergema dari dasar samudera.
Mengapa berbicara tentang kedalaman samudera?
Ketika matahari jiwa tiba, mereka dirampok dengan menghalangi cahaya itu dengan jubah dan topi.
Bulan seperti Jantung Adam telah muncul dari air dan tanah liat,
Serta seratus matahari seperti Yusuf akan turun ke sumur.
Angkatlah kepalamu dari bumi, kau temukan dirimu tak lebih berharga dari seekor semut;
Ia membawa kabar dari tanah basah dan gudang gandum.
Semut puas dengan gandum membusuk karena ia tidak menyadari hijaunya ladang jagung.
Katakanlah kepada semut, "Ini adalah musim semi, dan engkau memiliki tangan dan kaki;
Mengapa engkau tak membuat jalan dari dalam tanah ke lahan terbuka? "
Agar kebenaran akhirat dapat dilalui lewat jalan itu
dan kepalsuan dapat dipisahkan dari kebenaran sebagaimana terpisahnya gandum dari sekam.
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
Senin, 08 Oktober 2012
TENTANG CINTA DAN LUKA
TENTANG CINTA DAN LUKA
Oleh
Hamdi Akhsan
Seorang lelaki dengan rendah hati mohon perkenan untuk bersembahyang di atas permadani nan halus lembut, tapi Rasul menolaknya dan mengatakan, “Tanah dan pasir panas terbakar. Bersujudlah di atas pasir yang panas terbakar dan di atas tanah jalanan itu, sebab mereka yang luka karena cinta harus punya bekas di wajahnya, dan bekas luka itu harus terlihat.
Biarlah bekas luka hatimu terlihat, karena orang-orang yang ada di jalan cinta dikenal dari bekas lukanya.”
Al - FAqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
Seorang lelaki dengan rendah hati mohon perkenan untuk bersembahyang di atas permadani nan halus lembut, tapi Rasul menolaknya dan mengatakan, “Tanah dan pasir panas terbakar. Bersujudlah di atas pasir yang panas terbakar dan di atas tanah jalanan itu, sebab mereka yang luka karena cinta harus punya bekas di wajahnya, dan bekas luka itu harus terlihat.
Biarlah bekas luka hatimu terlihat, karena orang-orang yang ada di jalan cinta dikenal dari bekas lukanya.”
Al - FAqiir
Hamdi Akhsan
CINTA DAN KEPUASAN
CINTA DAN KEPUASAAN
Oleh
Hamdi Akhsan
Seseorang bertanya pada Pencinta Tuhan , “Orang yang menjadi hamba Allah namun bebas, katakan padaku bagaimana agar dapat mencapai kepuasan itu?” Ia menjawab, “Bila seseorang telah belajar menerima, dengan cinta.”
Zarrah hanya memiliki kecermerlangan semu. Pada dasarnya ia hanya sebuah zarrah, tetapi bila ia menyatukan dirinya dalam cahaya matahari, maka dengan demikian ia akan memiliki pula sifat matahari itu senantiasa.
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
Seseorang bertanya pada Pencinta Tuhan , “Orang yang menjadi hamba Allah namun bebas, katakan padaku bagaimana agar dapat mencapai kepuasan itu?” Ia menjawab, “Bila seseorang telah belajar menerima, dengan cinta.”
Zarrah hanya memiliki kecermerlangan semu. Pada dasarnya ia hanya sebuah zarrah, tetapi bila ia menyatukan dirinya dalam cahaya matahari, maka dengan demikian ia akan memiliki pula sifat matahari itu senantiasa.
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
LEBAH DAN BUNGA
LEBAH DAN BUNGA
Oleh
Hamdi Akhsan
Sang lebah berkata dengan nada sendu :"Maafkan aku yang tega melukai keindahanmu dengan tusukan tajam belalai penghisap maduku ini.
Aku tahu, engkau akan layu dan luruh ke bumi, namun cintamu telah hidupkan dua generasi, generasimu dan generasiku.
Kelak kau akan bangga tatkala ribuan kuntum bunga bermekaran dan ribuan lebah hasilkan madu.
Demi cinta yang memberi, Biarlah kelopak indahmu layu jatuh ke bumi.
Demi cinta pada-Nya ribuan sayatan luka terasa nikmat di jasad pencinta surgawi.
Tiada transaksi cinta tanpa airmata, darah, dan pengorbanan.
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
Sang lebah berkata dengan nada sendu :"Maafkan aku yang tega melukai keindahanmu dengan tusukan tajam belalai penghisap maduku ini.
Aku tahu, engkau akan layu dan luruh ke bumi, namun cintamu telah hidupkan dua generasi, generasimu dan generasiku.
Kelak kau akan bangga tatkala ribuan kuntum bunga bermekaran dan ribuan lebah hasilkan madu.
Demi cinta yang memberi, Biarlah kelopak indahmu layu jatuh ke bumi.
Demi cinta pada-Nya ribuan sayatan luka terasa nikmat di jasad pencinta surgawi.
Tiada transaksi cinta tanpa airmata, darah, dan pengorbanan.
Al - Faqiir
Hamdi Akhsan
KEPADA PENCINTA
KEPADA PENCINTA
Oleh
Hamdi Akhsan
Mawar telah memerah, tunas baru telah tumbuh,
Kumbang dan lebah pun beterbangan dalam bahagia.
Wahai para pencinta surgawi kini musim kemarau telah berlalu
Katakan pada dunia, bahwa ia hanya wanita tua yang berbedak tebal
Di depan pintunya berbaris para budak membawa gelas kosong dengan sejuta angan.
Mereka mabuk bak kelelawar yang ingin menjangkau matahari.
Yakinlah semua kesempurnaan kelahiran fana
Dan kebesaran makhluk akan berakhir.
Bagai gagahnya kuda perang yang jatuh terkulai di gurun yang berdebu.
Menuju kefanaan diiringi derai airmata.
Akhirnya segala bahagia dan kepedihan lenyap dimakan waktu.
Bak kepedihan yang berlalu tatkala mata terpejam.
Yang ada?hanya ketiadaan dan kegelapan.
Tiada bahagia, tiada nestapa.
Karena bermula dari tiada dan akan kembali tiada.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
Mawar telah memerah, tunas baru telah tumbuh,
Kumbang dan lebah pun beterbangan dalam bahagia.
Wahai para pencinta surgawi kini musim kemarau telah berlalu
Katakan pada dunia, bahwa ia hanya wanita tua yang berbedak tebal
Di depan pintunya berbaris para budak membawa gelas kosong dengan sejuta angan.
Mereka mabuk bak kelelawar yang ingin menjangkau matahari.
Yakinlah semua kesempurnaan kelahiran fana
Dan kebesaran makhluk akan berakhir.
Bagai gagahnya kuda perang yang jatuh terkulai di gurun yang berdebu.
Menuju kefanaan diiringi derai airmata.
Akhirnya segala bahagia dan kepedihan lenyap dimakan waktu.
Bak kepedihan yang berlalu tatkala mata terpejam.
Yang ada?hanya ketiadaan dan kegelapan.
Tiada bahagia, tiada nestapa.
Karena bermula dari tiada dan akan kembali tiada.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Kunci yang Hilang
Kunci yang Hilang
Oleh
Hamdi Akhsan
Seorang Pencinta Tuhan mendengar orang berseru, “Adakah yang menemukan kunci? Pintuku terkunci dan aku berdiri di debu jalanan. Bila pintuku tinggal tertutup, apa yang mesti kulakukan?”
Pencinta Tuhan itu berkata padanya, “Mengapa kau risau? Karena pintu itu pintumu, tinggal saja di dekatnya, meskipun tertutup. Bila kau punya kesabaran untuk menunggu cukup lama tentulah seseorang akan membukakan pintu itu bagimu. Keadaanmu lebih baik dari keadaanku, sebab aku tak punya pintu maupun kunci. Doakan saja pada Tuhan semoga aku dapat menemukan pintu, yang terbuka ataupun tertutup.
Orang selalu hidup dalam angan-angan, dalam mimpi; tiada yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Kepada dia yang mengatakan padamu, “Apa yang mesti kulakukan?” katakanlah padanya, “Jangan lakukan apa yang sudah biasa kau lakukan selama ini; jangan berbuat apa yang sudah biasa kau perbuat selama ini.”
Ia yang memasuki Lembah Keheranan ini cukup sedih memikirkan seratus dunia. Bagi diriku, aku bingung dan tersesat. Ke mana aku akan melangkah? Doakan pada Tuhan semoga aku tahu! Tetapi ingat, ratapan insan akan menurunkan kasih sayang-Nya.
Al - Faqiir
Oleh
Hamdi Akhsan
Seorang Pencinta Tuhan mendengar orang berseru, “Adakah yang menemukan kunci? Pintuku terkunci dan aku berdiri di debu jalanan. Bila pintuku tinggal tertutup, apa yang mesti kulakukan?”
Pencinta Tuhan itu berkata padanya, “Mengapa kau risau? Karena pintu itu pintumu, tinggal saja di dekatnya, meskipun tertutup. Bila kau punya kesabaran untuk menunggu cukup lama tentulah seseorang akan membukakan pintu itu bagimu. Keadaanmu lebih baik dari keadaanku, sebab aku tak punya pintu maupun kunci. Doakan saja pada Tuhan semoga aku dapat menemukan pintu, yang terbuka ataupun tertutup.
Orang selalu hidup dalam angan-angan, dalam mimpi; tiada yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Kepada dia yang mengatakan padamu, “Apa yang mesti kulakukan?” katakanlah padanya, “Jangan lakukan apa yang sudah biasa kau lakukan selama ini; jangan berbuat apa yang sudah biasa kau perbuat selama ini.”
Ia yang memasuki Lembah Keheranan ini cukup sedih memikirkan seratus dunia. Bagi diriku, aku bingung dan tersesat. Ke mana aku akan melangkah? Doakan pada Tuhan semoga aku tahu! Tetapi ingat, ratapan insan akan menurunkan kasih sayang-Nya.
Al - Faqiir
Mawar
Mawar
Oleh
Hamdi Akhsan
Inginnya daku tersenyum seperti mawar dengan semua kelopaknya yang begitu indah.
Datang pada-Mu dengan cahaya di saat fajar membawa kemesraan hatiku,
Hadapkan jiwa dan hati yang bersih bak setetes embun bening di keheningan subuh.
Bukannya datang pada-Mu membawah amarah dan iri hati yang membuat jiwaku asing.
Inginnya hamba serasikan jantung dan hati agar indah dalam sujud ruhani pada-Mu.
Al Faqiir
Oleh
Hamdi Akhsan
Inginnya daku tersenyum seperti mawar dengan semua kelopaknya yang begitu indah.
Datang pada-Mu dengan cahaya di saat fajar membawa kemesraan hatiku,
Hadapkan jiwa dan hati yang bersih bak setetes embun bening di keheningan subuh.
Bukannya datang pada-Mu membawah amarah dan iri hati yang membuat jiwaku asing.
Inginnya hamba serasikan jantung dan hati agar indah dalam sujud ruhani pada-Mu.
Al Faqiir
Minggu, 07 Oktober 2012
Kepada Permata Hatiku
Kepada Permata Hatiku.
Oleh
Hamdi Akhsan

Ketulusan kasih ibumu ajarkan bagaimana tebarkan harumnya mawar tanpa duri.
Keajaiban rahasia rahim yang Ia titipkan merubah kesakitan jadi tawa bahagia.
Cinta, yang akan membelah kukuhnya pintu langit bagi doa dalam sedan.
Bak indahnya kerlip milyaran bintang di kesunyian sahara ribunan tahun.
Asahlah ketajaman akalmu agar mampu fahami hakekat tersembunyi.
Jangan hindari jalan kerikil, karena kerikil membuat kakimu perkasa.
Jangan takuti lolongan anjing yang sejatinya karena ia takut kesunyian.
Jadilah pengembara kehidupan, agar mutiara dalam dadamu akan bersinar.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan.
Sabtu, 15 September 2012
61-2012. Itulah Bukti Cinta Kami 2!
61-2012. Itulah Bukti Cinta Kami 2!
(Kepada penghina Rasulullah)
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Tidak cukupkah milyaran dolar bunga riba engkau taburkan berselimut beasiswa.
Hingga putra-putri kami yang dididik di negeri berubah jadi singa berjiwa rusa.
Sebagian besar setelah pulang kenegerinya berubah sok kritis pada agama.
Seolah-olah ilmu pengetahuan telah jadi Tuhan baru pengganti berhala.
Tahukah kalian hai pembenci? betapa jahatnya yang tersembunyi.
Otak dan hati yang beriman sebelum berangkat telah kau cuci.
Yang engkau berikan seolah mutiara untuk kemajuan negeri.
Padahal yang dibawa hanya wacana-wacana sudah basi.
II
Belumlah lagi racun cara berfikir yang kau susupkan.
Agama Ilahi yang mulia dibahas sebatas pembicaraan.
Setelah itu makalah diarsipkan dan jauh dari pengamalan.
Jadilah agama sebatas wacana seperti masalah perdagangan.
Untuk sebagian kecil negeri-negeri lemah caramu memang jitu.
Murid para orientalis penghina Islam lantas dianggap sebagai pakar ilmu.
Seolah kajian dan fatwa para jenius muslim di masa silam tidak bermutu.
Padahal ijtihad yang dihasilkan adalah gabungan Iman dan Ilmu yag menyatu.
III
Wahai para pembenci, apakah rasionalitas yang kalian banggakan sudah hilang?
Apakah makna kebebasan hanya untuk prilaku syahwat seperti binatang?
Atau kalian kalap, dengan berbagai fitnah ajaran Rasul kian cemerlang?
Dan di negerimu, orang bersahadat jumlahnya tak lagi terbilang.
Makin kalian hina, ajaran laki-laki gurun yatim piatu itu kian diminati.
Karena segala kebaikan dan penghormatan diajarkannya dari kitab suci.
Tidak pernah beliau memperlakukan penganut agama lain dengan benci.
Dan para nabi agama langit lainnya beliau muliakan sebagaimana perintah Ilahi.
IV
Betapa kalian tak sadar, generasi penerus singa gurun kini mulai terbangun.
Mereka buka lagi kebanggaan sejarah dan persiapkan diri dengan tekun.
Mengamalkan kitab suci dan pelan-pelan kekuatan jiwanya dihimpun.
Menunggu sang pemimpin akhir zaman yang dijanjikan akan turun.
Kami bukanlah burung pipit yang merampok padi disawah petani.
Seperti kalian atas nama saham kuasai minyak dan perkebunan kami.
Keuntungannya kau bangunkan pabrik senjata yang darimu harus dibeli.
Dan untuk membela kepentinganmu itu rakyat negeri sendiripun ditembaki.
V
Berhentilah, sombong dan congkak menganggap lebih hebat peradabanmu.
Saat negerimu masih agungkan sihir dan anti teknologi, kami sudah maju.
Saat kalian tak mengenal sabun, kami sudah memakainya dari dahulu.
Hanya saja generasi muda kami malas menggali sejarah masa lalu.
Jangan pernah lagi menghina manusia agung yang kami muliakan.
Karena para pencintanya tak peduli senjata yang kalian banggakan.
Daripada Rasulnya terhina mereka memilih harga diri dalam kematian.
Karena kemuliaan akherat akan didapatkan sebagaimana janji dari Tuhan.
Ya Rasulullah, hanya bagimu Sholawat dan Salam!
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
60-2012. Itulah Bukti Cinta Kami !
60-2012. Itulah Bukti Cinta Kami !
(Kepada penghina Rasulullah)
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Hari-hari ini lautan kemurkaan para pencinta menggelegar getarkan angkasa.
Wajah-wajah yang disinari cahaya iman siap syahid menyambut janji surga.
Mereka tak peduli mimpi-mimpi kejayaan dan kesenangan hidup di dunia.
Karena tahu semua kesenangan sementara ini kelak akan berakhir fana.
Mereka tak peduli berondongan peluru antek-antek dajjal yang dilaknat.
Tak seorang pun penghina Rasul akan lepas dari pembalasan yang hebat.
Mungkin kalian amat heran, mengapa beliau begitu dicinta oleh seluruh umat.
Sehingga demi kemuliaannya saja jutaan pencinta rela hadapi penderitaan berat.
II
Itulah Izzah wahai para pembenci! harga diri yang diberikan sebagai karunia Ilahi.
Rasul-Nya dihina, berarti telah kalian persatukan golongan syiah dengan sunni.
Karena syiah bermuara pada Hasan dan Husen dari keponakannya Imam Ali.
Yang tiada seorang muslim pun selama ada iman dalam dada mengingkari.
Hari ini, kalian perolok-olokkan manusia yang mulia dari nasab yang mulia.
Ratusan Juta umat berqunut doakan laknat bagi engkau para pendusta.
Karena kalian telah berani memfitnah manusia yang musuhnya pun percaya.
Sungguh apapun agama kalian, sebenarnya imanmu hanya seonggok sampah.
III
Dengarlah wahai pendusta kebenaran wahyu telak merasuk ke dalam diri kami.
Tumbuh subur menghujam dalam taburkan aroma bak mawar di musim semi.
Kelezatan ajaran yang dibawanya membuat kaum muslimin rela untuk mati.
Karena kesenangan yang sesungguhnya bukan dalam kehidupan di bumi.
Karena Izzah, Al-Mu'tasim kirim ratusan ribu tentara bela seorang muslimah.
Karena-Nya duapuluh lima ribu pasukan Qutuz hancurkan mongol yang pongah.
Karena seruan Rasul-Nya Al Fatih taklukkan konstantinopel yang berdinding baja.
Dan untuk membela Rasul-Nya kami semua siap berangkat jadi pengembara surga.
IV
Berhentilah bermain-main dengan kekuatan cinta pada lelaki gurun yang terpilih itu.
Kalian akan rasakan perihnya luka tersobek-sobek sebagaimana pasukan Hulagu.
Kalian akan gentar pada mujahid yang kumandangkan takbir seperti masa lalu.
Kelak jutaan singa Ilahi yang kini tertidur akan bangun dan bersatu padu.
Kemenangan dan kekalahan akan dipergilirkan dalam kehidupan manusia.
Di zaman keemasan kami negeri dan bangsa kalian begitu biadab dan terhina.
Diakhir zaman ini akan lahir Al Mahdi pemimpin yang membawa kami kuasai dunia.
Dan Izzul Islam wal Muslimin akan kembali sinari bumi dalam kedamaian yang bahagia.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Kamis, 30 Agustus 2012
59-2012. Kepada Bangsa Arab
59-2012. Kepada Bangsa Arab
Oleh
Hamdi Akhsan

I
Dulu, cahaya Tauhid nan benderang memancar dari Gurun Arabia yang tandus.
Disana ada Imron bin Husain yang berambut merah dan bermata biru datang dari Rum.
Abdullah bin Salam Yahudi Ahli Taurat yang tersunggur dalam syahadat Tauhid yang getarkan jiwa.
Dan di atas Ka'bah yang mulia Bilal Bin Rabbah Kumandangkan azan proklamasi Kehancuran berhala.
Segala warna kulit dan berbagai bangsa bersatu dibawah panjimu seberangi ganasnya padang pasir.
Rum dan Persia? Sang Maharaja Dunia tunduk dibawah kaki para pengembara surga dalam kehinaan.
Di tanganmu, tergenggam segala kemuliaan dan kejayaan seribu tiga ratus tahun.
Dan memancarlah firman suci-Nya ke empat benua.
II
Tapi segenap keperkasaan itu kini jadi dongeng pengantar tidur saja.
Engkau kembali terpecah dalam kebanggaan kabilah yang dihembuskan racun Yahudi.
Genderang syaitan ditabuh beriring teriakan untuk sombongkan kebanggaan masa lalu.
Sedang musuhmu?mengintai dari berbagai penjuru bak burung nasar menunggu bangkai lezat.
Perlahan harumnya mawar dari kesunyian gurun kehilangan aroma pengguncang dunia.
Puing-puing bisu barak para pengembara surga berganti jadi nyanyian darwis diiringi dentingan senar dawai.
Kubur-kubur diperindah menjadi mesjid-mesjid tempat mengadu dan mencari kemuliaan dunia dari alam kematian.
Dan generasi penerus sibuk dengan pertengkaran-pertengkaran yang sesungguhnya tiada makna.
III
Perlahan, singa-singa gurun berubah jadi kijang betina yang sibuk tunjukkan keelokan lenggak lenggok.
Tertutup sudah naluri pemburu hebat jadi pemakan rumput di padang nan hijau.
Apatah lagi Universalitas ketauhidan telah tenggelam dalam Arabisme yang sempit.
Dan berlomba dalam kebanggaan semu pertunjukkan kekuatan melalui peperangan sesamamu.
Maka kian hancurlah negerimu, kala bangsa gurun merubah pedang cahaya iman dengan ideologi Baats.
Michael Al-Faq dan Saleh Bitar tebarkan pesona pedang baru yang tidak cocok dibawa pengembara unta Arabia.
Engkau pun teramputasi dalam nasionalisme sempit yang diadu domba.
Terpencar jadi serpih yang dipermainkan singa-singa palsu yang datang dari negeri jauh.
IV
Kian hari, engkau lupa disana terbaring jasad Hawa ibu semua manusia.
Simbol universalitas dan keagungan di bumi tempatmu berada saat ini.
Seharusnya tiada Saudiah, Hasyimiah, dan iah-iah lain yang bermakna tidak untuk semua manusia.
Karena yang ditinggalkan oleh kekasih-Nya adalah Makkah Al Mukarramah dan Madinatul Munawarah.
Betapa sedihnya, di hari ini engkau hanya menjadi pion-pion bangsa yang dahulu begitu biadab.
Di segenap penjuru mereka tak pernah tidur fikirkan cara merampok emas hitam yang mengucur dari bumimu.
Sedang engkau, duduk di singgasana emas dalam kebanggaan dan perhormatan palsu.
Sambil berlomba pertunjukkan jangut dan surban-surban indah bertakhta intan permata.
V
Hari ini Mesjidil Aqshamu dirampas dan diruntuhkan semena-mena dalam diammu.
Tiada lagi Saladin, tiada lagi Qutuz, dan hilang sudah putra-putri Nuruddin Zanki.
Bahkan sebahagian pemimpinmu duduk semeja dengan musuh tertawa terbahak dalam dentingan gelas anggur.
Anggur yang dibeli dari darah rakyat filistin yang tak lebih berharga dari hewan peliharaan.
Ingatlah dulu, Ribuan kilometer Al Mahdi kerahkan ratusan ribu mujahid bela teriakan seorang muslimah di Rum.
Engkau?Ratapan ribuan muslimah Ghaza bak dendang musik indah di telingamu.
Bahkan sumbanganmu untuk kebun binatang di eropa cukup untuk makan rakyat di tanah pendudukan.
Tapi sayang, engkau lebih percaya kalau biaus musuhmu sebagai obat pengangkat kemuliaan.
VI
Wahai putra gurun, pewaris tradisi sebagai penakluk.
Bangunlah, sebelum kehancuran dan penyesalan datang dan engkau lebih terhina lagi.
Hentikan seterumu dengan negeri Salman yang selamatkan kota madinah dengan khandaknya.
Dan berhentilah mempercayai bujuk rayu para penyihir firaun yang susupkan kabbalah.
Kobarkankan lagi samangat badarmu yang rontokkan kesombongan Abu Jahal.
Karena kemuliaanmu terletak pada kekuatan dan harga diri yang terpancar dari cahaya-Nya.
Tinggalkan keindahan-keindahan palsu yang ditawarkan musuhmu, karena itu dulu berasal darimu.
Dan kembalilah pada jati diri sebagai pembawa sinar kebenaran ke seluruh penjuru bumi.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Dulu, cahaya Tauhid nan benderang memancar dari Gurun Arabia yang tandus.
Disana ada Imron bin Husain yang berambut merah dan bermata biru datang dari Rum.
Abdullah bin Salam Yahudi Ahli Taurat yang tersunggur dalam syahadat Tauhid yang getarkan jiwa.
Dan di atas Ka'bah yang mulia Bilal Bin Rabbah Kumandangkan azan proklamasi Kehancuran berhala.
Segala warna kulit dan berbagai bangsa bersatu dibawah panjimu seberangi ganasnya padang pasir.
Rum dan Persia? Sang Maharaja Dunia tunduk dibawah kaki para pengembara surga dalam kehinaan.
Di tanganmu, tergenggam segala kemuliaan dan kejayaan seribu tiga ratus tahun.
Dan memancarlah firman suci-Nya ke empat benua.
II
Tapi segenap keperkasaan itu kini jadi dongeng pengantar tidur saja.
Engkau kembali terpecah dalam kebanggaan kabilah yang dihembuskan racun Yahudi.
Genderang syaitan ditabuh beriring teriakan untuk sombongkan kebanggaan masa lalu.
Sedang musuhmu?mengintai dari berbagai penjuru bak burung nasar menunggu bangkai lezat.
Perlahan harumnya mawar dari kesunyian gurun kehilangan aroma pengguncang dunia.
Puing-puing bisu barak para pengembara surga berganti jadi nyanyian darwis diiringi dentingan senar dawai.
Kubur-kubur diperindah menjadi mesjid-mesjid tempat mengadu dan mencari kemuliaan dunia dari alam kematian.
Dan generasi penerus sibuk dengan pertengkaran-pertengkaran yang sesungguhnya tiada makna.
III
Perlahan, singa-singa gurun berubah jadi kijang betina yang sibuk tunjukkan keelokan lenggak lenggok.
Tertutup sudah naluri pemburu hebat jadi pemakan rumput di padang nan hijau.
Apatah lagi Universalitas ketauhidan telah tenggelam dalam Arabisme yang sempit.
Dan berlomba dalam kebanggaan semu pertunjukkan kekuatan melalui peperangan sesamamu.
Maka kian hancurlah negerimu, kala bangsa gurun merubah pedang cahaya iman dengan ideologi Baats.
Michael Al-Faq dan Saleh Bitar tebarkan pesona pedang baru yang tidak cocok dibawa pengembara unta Arabia.
Engkau pun teramputasi dalam nasionalisme sempit yang diadu domba.
Terpencar jadi serpih yang dipermainkan singa-singa palsu yang datang dari negeri jauh.
IV
Kian hari, engkau lupa disana terbaring jasad Hawa ibu semua manusia.
Simbol universalitas dan keagungan di bumi tempatmu berada saat ini.
Seharusnya tiada Saudiah, Hasyimiah, dan iah-iah lain yang bermakna tidak untuk semua manusia.
Karena yang ditinggalkan oleh kekasih-Nya adalah Makkah Al Mukarramah dan Madinatul Munawarah.
Betapa sedihnya, di hari ini engkau hanya menjadi pion-pion bangsa yang dahulu begitu biadab.
Di segenap penjuru mereka tak pernah tidur fikirkan cara merampok emas hitam yang mengucur dari bumimu.
Sedang engkau, duduk di singgasana emas dalam kebanggaan dan perhormatan palsu.
Sambil berlomba pertunjukkan jangut dan surban-surban indah bertakhta intan permata.
V
Hari ini Mesjidil Aqshamu dirampas dan diruntuhkan semena-mena dalam diammu.
Tiada lagi Saladin, tiada lagi Qutuz, dan hilang sudah putra-putri Nuruddin Zanki.
Bahkan sebahagian pemimpinmu duduk semeja dengan musuh tertawa terbahak dalam dentingan gelas anggur.
Anggur yang dibeli dari darah rakyat filistin yang tak lebih berharga dari hewan peliharaan.
Ingatlah dulu, Ribuan kilometer Al Mahdi kerahkan ratusan ribu mujahid bela teriakan seorang muslimah di Rum.
Engkau?Ratapan ribuan muslimah Ghaza bak dendang musik indah di telingamu.
Bahkan sumbanganmu untuk kebun binatang di eropa cukup untuk makan rakyat di tanah pendudukan.
Tapi sayang, engkau lebih percaya kalau biaus musuhmu sebagai obat pengangkat kemuliaan.
VI
Wahai putra gurun, pewaris tradisi sebagai penakluk.
Bangunlah, sebelum kehancuran dan penyesalan datang dan engkau lebih terhina lagi.
Hentikan seterumu dengan negeri Salman yang selamatkan kota madinah dengan khandaknya.
Dan berhentilah mempercayai bujuk rayu para penyihir firaun yang susupkan kabbalah.
Kobarkankan lagi samangat badarmu yang rontokkan kesombongan Abu Jahal.
Karena kemuliaanmu terletak pada kekuatan dan harga diri yang terpancar dari cahaya-Nya.
Tinggalkan keindahan-keindahan palsu yang ditawarkan musuhmu, karena itu dulu berasal darimu.
Dan kembalilah pada jati diri sebagai pembawa sinar kebenaran ke seluruh penjuru bumi.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Selasa, 28 Agustus 2012
58-2012. Kepadamu Yang Tak Mencintai Keluarga Rasulullah*
58-2012. Kepadamu Yang Tak Mencintai Keluarga Rasulullah*
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Hari-hari terakhir kudengar sekelompok manusia mengaku sebagai pemilik kebenaran.
Dengan bangganya pekikkan takbir hancurkan makam seorang hamba Tuhan.
Atas nama amarah berkata bahwa itu adalah sumber kemusyrikan.
Tanpa diikuti oleh kebijaksaaan yang jadi ciri orang beriman.
Tahukah engkau hai saudaraku?jasad siapakah di kubur itu?
Disitu terbaring jasad IMAM ABDUSSALAM AL AHMAR Radiyallahu anhu.
Cucu dari cucu seorang hamba yang paling dicintai Allah sejak 800 tahun yang lalu.
Dia lah, cucu Imam Hasan bin Ali, sang cucu kecintaan Rasulullah yang telah kalian ganggu.
II
Mengapa penghancuran Makam Kakeknya Hassan kalian Ulangi lagi setelah 86 tahun masa*
Tidak cukupkah Hadits sesungguhnya keduanya pemuka para pemuda ahli syurga.
Tidak cukupkah nasab mulia mereka melembutkan amarahmu didalam dada.
Sampai kepada jasad mereka yang terbujur kaku kalian semena-mena.
Terhadap Firaun yang Zhalim pun Allah berpesan kepada Musa yang mulia.
Agar bersikap baik dan lembut dalam menyampaikan kebenaran lewat kata-kata.
Saudaraku, adakah engkau lebih mulia dari Musa sehingga pada Cicit Rasul kalian tega.
Ataukah keyakinan nafsu sebagai pemilik kebenaran sejati yang telah terpatri didalam jiwa.
III
Saudaraku, tengoklah jauh ke masa silam dalam relung waktu sejarah keemasan peradaban.
Para Mujahid Besar Pembela adalah sufi yang hidup dalam iman dan kesederhanaan.
Salahuddin Al Ayubi menghadap Ilahi tanpa uang untuk biaya penguburan.
Sedang kalian saat ini hidup dalam limpahan minyak karunia Tuhan.
Belajarlah dari sisi hitam Dinasti Abassiyah yang di awal pendirian.
Tatkala Makam-makam Penguasa Daulah Umayah di Syiria dihancurkan.
Dan dalam perjalanan akhir dinasti mereka pun dihinakan dan dipermalukan.
Itulah bagian proses sejarah yang melalui berbagai kejadian telah Tuhan ajarkan.
IV
Saudaraku, bacalah lembaran sejarah tentang Imam Sanusi, Al Mahdi, dan lainnya.
Ikuti kisah perjalanan Mujahid Agung Ibnu Taimiyah dan ulama sesudahnya.
Mereka itu pencinta malam yang senantiasa berzikir cucurkan airmata.
Bersikap tegas terhadap kekufuran dan kasih sayang pada sesama.
Berhentilah bangga dengan pemahaman sepihak tentang kebenaran.
Karena kebenaran hakiki dan mutlak kesempurnaannya hanya milik Tuhan.
Kecerdasan dan kemampuan yang kita miliki semuanya hanyalah sebuah titipan.
Dan kelak saat menghadap-Nya semua hamba akan diminta pertanggungjawaban.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
* Syair ini dibuat atas keperihatinan terhadap penghancuran makam Imam Abdus Salam Al Ahmar,
cicit Rasulullah di Libiya, dihari penghancuran makam Imam Hasan di Baqi 86 tahun yang silam.
http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/di-hari-penghancuran-kuburan-baqi-wahabi-ratakan-kuburan-cucu-imam-hasan-as-di-libya?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-1%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_m7UK&p_p_lifecycle=0&p_p_state=normal&p_p_mode=view&p_p_col_id=column-1&p_p_col_count=3
Jumat, 24 Agustus 2012
57-2012. Surat Terbuka Kepada Putra Jazirah Para Nabi
57-2012. Surat Terbuka Kepada Putra Jazirah Para Nabi
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Hari ini kembali dengan bergidik kulihat di jazirahmu pemandangan yang begitu mengenaskan.
Para pemburu berpesta pora tanpa harus lelah acungkan senjata ke kumpulan rusa di hutan.
Karena tanduk tajammu sedang berlaga menusuk perut sesama memperebutkan kekuasaan.
Dan dengan sabar mereka menunggu bangkaimu yang begitu segar dan nikmat berjatuhan.
Dimana kebanggaan para putra rajawali gurun yang perkasa dahulu jadi raja angkasa?
Oh,ia telah pergi bersama perginya sebuah generasi yang pernah getarkan tiga benua.
Kumandang pekik takbirnya tak lagi gentarkan musuh bak auman singa gurun sahara.
Karena sesungguhnya ia tak lebih hanya singa yang meyakini dirinya bangsa domba.
II
Di hari ini ramalan hamba yang paling mulia diantara para hamba-Nya terbukti.
Bukan kelaparan dan teriknya matahari gurun yang mampu lemahkan nyali.
Tapi kucuran emas hitam dari dasar bumi yang bawa kemakmuran negeri.
Dan limpahan kekayaan minyak pemberian Allah itulah yang tidak disyukuri.
Mana nyalimu yang mudah pecah dihadapan burung nazar yang seram?
Seolah engkau berhadapan dengan sekumpulan srigala yang kejam.
Padahal didasar hatinya mereka takuti kegagahanmu di masa silam.
Yang dahulu bak serbuan badai pasir membawa panji-panji hitam.
III
Kini,engkau tak lebih hanya buih yang dipermainkan samudera.
Hanya untuk bersatu dalam kata-kata pun engkau tak bisa.
Apatah lagi kalau kau diserahi tugas berat memimpin dunia.
Seperti tujuh ratus tahun lamanya tegak sebuah khilafah.
Putra Gurun! lumbung-lumbung padimu kelak akan habis.
Sedang kau hanya terbiasa tadahkan tangan bak pengemis.
Dan dihari ini pun kau biarkan musuh mencabikmu dengan sadis.
Sungguh kelak hanya penyesalan yang didapat tatkala berakhir tragis.
IV
Percayalah, tiada srigala yang akan berbaik-baik kepada mangsa dengan tulus.
Tiada kemuliaan rajawali sebelum ia taklukkan badai gurun yang berhembus.
Dengan keberanian, kegagahan, dan keteguhan hati kemuliaan bisa ditebus.
Sebagaimana dahulu seruan agung Sang Nabi terakhir tatkala ia di utus.
Putra gurun.Sadarlah musuh-musuhmu kini menari dengan gembira.
Dan jazirah tempat leluhurmu akan jadi lautan derita dan nestapa.
Bangkit dan kembalikan persatuanmu pada jalan Tauhid Ilallah.
Niscaya engkau akan mampu kembali sebagai umat nan jaya.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Sabtu, 18 Agustus 2012
53-2012. Selamat Idhul Fitri 1433 H
53-2012. Selamat Idhul Fitri 1433 H
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Besok adalah hari nan fitri,
berharap puasa kan dibalasi,
diberi ampunan setelah mati,
Selama hidup dijalan Ilahi.
29 hari kita berpuasa,
menahan lapar serta dahaga,
menjaga lidah dalam berkata,
menjaga hati terjauh dosa.
Kepada sahabat dan handai taulan,
setulus hati daku ucapkan,
maafkan diri atas kesalahan,
ampuni segala yang terlalaikan.
II
Berharap diri hidup bermakna,
menjadi satu kata dan amalnya,
jadi teladan anak-anaknya,
dapat di contoh masyarakatnya.
Kepada diri hamba berpesan,
sadarlah diri sebagai insan,
amal yang baik mari kumpulkan,
yang salah-salah mari jauhkan.
Dunia ini hanya hiasan,
kelak sendiri menghadap Tuhan,
hanya berbungkus kain kafan,
yang kan berguna hanya amalan.
III
bulan ramadhan telah berakhir,
segala amal moga terukir,
menjadi modal saat berakhir,
tatkala datang masanya taqdir.
Hidup di dunia tidaklah lama,
Amalan baik harus dijaga,
nafsu diatur sekuat tenaga,
supaya kelak berbuah surga.
Wahai diri, kelak akan berakhir fana,
kumpulkan bekal oleh karena,
supaya bahagia di alam sana,
di akherat kelak tidak merana.
IV
Kepada sahabat hamba ucapkan,
selamat idhul fitri hamba sampaikan,
semoga rahmat Allah berikan,
menjadi baik kita ke depan.
Anak dan keluarga diperhatikan,
sholat yang wajid diutamakan,
akhlak yang baik diteladankan,
yang buruk-buruk mari jauhkan.
Pada Ilahi hamba meminta,
jauhkan diri dari derita,
jauhkan juga maksiat dosa,
berilah ridho nikmatnya surga.
al Faqiir
Hamdi Akhsan
Jumat, 17 Agustus 2012
52-2012. Syair Lebaran (2)
52-2012. Syair Lebaran (2)
Oleh
Hamdi Akhsan

I
Inilah syair tentang lebaran,
yang akan datang habis ramadhan,
ditunggu-tunggu orang beriman,
setelah puasa selama sebulan.
Hari ini hari bahagia,
setelah jalani masa puasa,
terdengar banyak canda dan tawa,
serta maaf ucapan kata.
Banyak orang merasa menang,
lapar dan haus menjadi hilang,
anak dirantau berangkat pulang,
senagnya hati bukan kepalang.
II
Tetapi terbalik hakekat puasa,
harusnya bertambah iman didada,
bertambah pula sifat sederhana,
sebagai wujud meningkat taqwa.
Kasihan sungguh apa terlihat,
sebagian lebaran campur maksiat,
yang tidak boleh tetap dilihat,
yang dilarang-Nya tetap dibuat.
Ada pula yang pamer harta,
untuk belalakkan semua mata,
segala perhiasan dibawa serta,
seakan malaikat sudah buta.
III
Kasihan sungguh yatim piatu,
sedih hatinya sudahlah tentu,
tiada berayah tiada beribu,
tiada pula orang membantu.
Menetes air mata mereka,
melihat sebaya gembira ria,
kian kemari di hari raya,
seperti hidup tiada derita.
Alangkah baik bila teringat,
berilah mereka infak dan zakat,
terhibur tentu akan terlihat,
dicacat pahala oleh malaikat.
IV
Rezeki dibagi pada yang miskin,
dilipatgandakan pastilah yakin,
bertambah kelak harta semakin,
itulah janji Robbul Alamien.
Setelah ramadhan datanglah sawal,
Puasa sebulan jadikan bekal,
'tuk kendalikan nafsu dan akal,
modal menghadap Yang Maha Kekal.
Ibadah wajib mari tingkatkan,
yang sunnah-sunah mari kerjakan,
amal yang buruk mari tinggalkan,
supaya bahagia menghadap Tuhan.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan
Oleh
Hamdi Akhsan
I
Inilah syair tentang lebaran,
yang akan datang habis ramadhan,
ditunggu-tunggu orang beriman,
setelah puasa selama sebulan.
Hari ini hari bahagia,
setelah jalani masa puasa,
terdengar banyak canda dan tawa,
serta maaf ucapan kata.
Banyak orang merasa menang,
lapar dan haus menjadi hilang,
anak dirantau berangkat pulang,
senagnya hati bukan kepalang.
II
Tetapi terbalik hakekat puasa,
harusnya bertambah iman didada,
bertambah pula sifat sederhana,
sebagai wujud meningkat taqwa.
Kasihan sungguh apa terlihat,
sebagian lebaran campur maksiat,
yang tidak boleh tetap dilihat,
yang dilarang-Nya tetap dibuat.
Ada pula yang pamer harta,
untuk belalakkan semua mata,
segala perhiasan dibawa serta,
seakan malaikat sudah buta.
III
Kasihan sungguh yatim piatu,
sedih hatinya sudahlah tentu,
tiada berayah tiada beribu,
tiada pula orang membantu.
Menetes air mata mereka,
melihat sebaya gembira ria,
kian kemari di hari raya,
seperti hidup tiada derita.
Alangkah baik bila teringat,
berilah mereka infak dan zakat,
terhibur tentu akan terlihat,
dicacat pahala oleh malaikat.
IV
Rezeki dibagi pada yang miskin,
dilipatgandakan pastilah yakin,
bertambah kelak harta semakin,
itulah janji Robbul Alamien.
Setelah ramadhan datanglah sawal,
Puasa sebulan jadikan bekal,
'tuk kendalikan nafsu dan akal,
modal menghadap Yang Maha Kekal.
Ibadah wajib mari tingkatkan,
yang sunnah-sunah mari kerjakan,
amal yang buruk mari tinggalkan,
supaya bahagia menghadap Tuhan.
Al Faqiir
Hamdi Akhsan











