Minggu, 17 Juli 2011

254-2011. Ramadhan Datang Lagi

254-2011. Ramadhan Datang Lagi

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Hampir setahun sudah usia diri ini berlalu.
Tanpa terasa kehidupan kian dekat akhir waktu.
Jelang sendiri di kubur sunyi dengan jasad yang kaku.
Itulah peristiwa yang  terjadi pada  manusia  sejak dahulu.

Masa berlalu,aktivitas hidup manusia senantiasa berulang.
Torehkan peristiwa yang memalukan atau cemerlang.
Sampai  akhir  hidup  tiba dan  harus  berpulang.
Dan dari bumi Ilahi ia pun pergi menghilang.

II
Jejak  hidup yang  tertoreh tinggal sejarah.
Apakah dirinya menjadi  tangisan setelah tiada.
Ataukah sebagian  gembira setelah  kepergiannya.
Itulah gambaran dari perilaku selama  masa hidupnya.

Harta ditinggal, keluarga  ditinggal, jabatan  ditinggal.
Yang  dibawa kain  putih sederhana  dua  penggal.
Bahkan tak  diizinkan untuk  membawa  sandal.
Dan  berakhir  dengan  syukur  atau sesal.

III
Hampir setahun bulan puasa berlalu sudah.
Sebagian  sahabat telah  pergi dari  dunia fana.
Sebahagian lagi bertambah mengeriput semakin tua.
Dan ada yang terkena penyakit dan hidupnya menderita.

Ada yang makin  keujung waktu, makin dekati jalan iman.
Ada pula yang dengan perbuatan dosa kian nyaman.
Sungguh aneka laku manusia bak bunga ditaman.
Sebagai sunatullah  terjadi sepanjang zaman.

IV
Setahun telah berlalu,kini ramadhan datang lagi.
Bersihkan kotoran dosa yang melekat dalam diri.
Masa untuk  merenungkan  perjalanan  hari-hari.
Serta persiapan  menghadap kepada Ilahi Robbi.

Dalam perenungan diri atas kelemahan insani.
Berharap  rasa lapar  lembutkan  terlenanya diri.
Bergegas persiapkan bekal untuk menghadap Ilahi.
Dan khawatirkan bekal tuk pertanggungjawaban nanti.


Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Jumat, 15 Juli 2011

252-2011. Senandung Pagi (4)

252-2011. Senandung Pagi (4)

                    Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Di kaki langit bagian timur cahaya merah telah datang.
Hewan-hewan pencari makan malam hari beranjak pulang.
Burung-burung berkicau gembira terbang meninggalkan sarang.
Sungguh begitu indah hukum Ilahi di langit dan bumi yang seimbang.

Wajah yang bangun di pagi hari ada yang cerah ada yang mendung.
Ada pula manusia  yang menganggap  hidupnya tak beruntung.
Andaikan di hatinya ada rasa syukur cobalah ia merenung.
Betapa  banyak nikmat  yang sungguh  tak terhitung.

II
Nikmat Ilahi yang  banyak  tak harus  berupa  materi.
Terjaga  kesehatan akan  memberikan  penghematan diri.
Hati  yang dipenuhi  iman  memberi ketenangan  dan tidak iri.
Serta anak yang sholeh adalah harta tak ternilai dari Ilahi Robbi.

Sebagian besar manusia masih mengagungkan kebesaran nama.
Pamerkan hartanya yang banyak  dan tersebar dimana-mana.
Padahal kala jasad telah  dikubur semua itu akan percuma.
Yang akan menolong hanyalah harta yang telah diderma.

III
Adalah  burung yang  meyakini rezeki pasti akan  datang.
Berkicau optimis  pagi hari walau tiada makanan di sarang.
Pergi menjelajahi permukaan bumi Ilahi yang luas terbentang.
Dan  bawa makanan  untuk anaknya  saat pulang dihari petang.

Betap manusia seharusnya malu kepada makhluk hidup lainnya.
Seperti binatang buas  yang berburu  sebatas kebutuhannya.
Jauhi  sifat  serakah  yang  menghabisi dan semena-mena.
Agar  tersisa  bagian  untuk  anak-anak  keturunannya.

IV
Adalah  sebuah  cita tertinggi bagi  orang yang beriman.
Kelak dikaruniai surga yang indah berhiasan taman-taman.
Orang-orang  baik dan  pencinta Ilahi  tiap saat  jadi teman.
Sungguh kehidupan abadi dipenuhi bahagia dan rasa nyaman.

Sungguh hidup ini bagai musafir yang pasti akan pergi kemana.
Kehidupan setiap  insan di bumi ini kelak akan  berakhir fana.
Pembangkangan dan dosa akan membuat dirinya merana.
Dan tiada  guna sesal diri manakala  sudah dialam sana.

Bimbinglah kami dengan rahmat-Mu ya Robbana!


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Rabu, 13 Juli 2011

251-2011. Senandung Pagi (3)


251-2011. Senandung Pagi (3)
        Oleh
        Hamdi Akhsan

I
Kicau burung menembus dingin terdengar merdu beraneka nada.
Embun pagi berarak naik menuju mega.
Seakan pergi bersama malam yang menyimpan rahasia.
Menyambut hari baru dengan optimis dan gembira.

Duka? pergi bersama kegelapan malam.
Ada kesedihan dan kisah yang jadi bagian masa silam.
Ada yang tersimpan di lubuk hati terdalam.
Itulah aneka rasa yang diciptakan Ilahi Sang Penguasa Alam.

II
Malam berlalu, hari baru tiba dengan segenap garisan taqdir-Nya.
Bersyukur manusia ditutupi yang akan terjadi di masa depannya.
Sehingga selalu optimis dan berusaha ubah nasibnya.
Walau sesungguhnya telah ditetapkan ketentuan-Nya.

Dalam pagi tersusun berbagai rencana.
Untuk mencari nafkah atau lakukan pekerjaan dunia.
Tergantung keadaan iman yang berbeda.
Baik-buruknya jalan yang akan ditempuhnya.

III
Di dalam pagi tersimpan harapan.
Setelah bangun pagi masalah hidup jadi lebih ringan.
Rencana baru pun disusun lebih mapan.
Agar hasil yang lebih baik akan didapatkan.

Betapa ruginya sebahagian manusia.
Yang merancang pagi dengan rencana nista.
Yang akan membuat orang lain berduka.
Atau karena dia orang lain menderita.

IV
Ada yang menyambut pagi dengan kesyukuran.
Tatkala sakit dimalam hari telah dihilangkan.
Semula mengerang dan merintih kini telah dipulihkan.
Sungguh berharganya nikmat sehat dari Tuhan.

Adalah rutinitas membuat manusia kurang mensyukuri.
Atas segala nikmat yang telah Tuhan beri.
Berupa kesehatan dan iman atau pun materi.
Yang dinikmati makhluk-Nya sebelum mati.

V
Dari berulangnya pagi ada banyak kejadian didalamnya.
Yang semula muda perlahan-lahan menjadi tua.
Yang tadinya sedih perlahan-lahan menjadi lupa.
Maka hidup pun akan kembali penuh dinamika.

Sungguh banyak nikmat Ilahi.
Sebagai manusia harus selalu syukuri.
Agar ditambah lebih banyak lagi.
Dengan kebaikan kelak setelah mati.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Selasa, 12 Juli 2011

250-2011. Sebuah Renungan (2)


250-2011. Sebuah Renungan (2)
          Oleh
          Hamdi Akhsan

I
Anakku,
Dengarlah kisahku tentang hakekat kehidupan.
Diriku bagai pengembara yang telah letih berjalan.
Mencoba tegar dalam menahan kesakitan.
Dan mencari hikmah dibalik semua cobaan.

Dalam perjalanan yang telah lebihi paruh waktu.
Berpesan daku padamu wahai generasi penggantiku.
Jadikan hidup sebagai perjuangan yang membanggakanku.
Gertakkan langkah dan singsingkan lengan baju.

II
Lihatlah apa yang terjadi di sekelilingmu.
Betapa banyak wajah polos yang menyimpan tipu.
Banyak juga mereka yang beda kata dan perbuatan tak malu.
Ke kiri lain dan ke kanan beda yang mereka seru.

Percayalah, hidup ini adalah perjuangan.
Betapa mudahnya menjadi musuh yang semula teman.
Anggaplah dirimu hanya sendiri agar kau nyaman.
Dan serahkan segalanya pada keadilan Tuhan.

III
Lihatlah seekor ayam kampung tiada ayah bunda.
Mengais sendiri untuk pertahankan hidupnya.
Segala tempat dikunjungi untuk mengisi perutnya.
Mereka pun bisa berbangga dengan perjuangannya.

Betapa banyak yang hidupnya kurang beruntung.