Selasa, 12 Juli 2011

249-2011. Bersabarlah, Kesabaran Berbuah Kebajikan


249-2011. Bersabarlah, Kesabaran Berbuah Kebajikan
           Oleh
           Hamdi Akhsan

I
Kuceritakan padamu tentang sebuah kisah.
Tentang anak manusia yang dirundung derita.
Suaminya pergi menghadap Allah.
Anaknya meninggal tak tentu jasadnya.

Hidupnya terlunta-lunta dalam kesendirian.
Hatinya hancur menahan beratnya beban.
Terkadang ia tak perduli perut yang kelaparan.
Sungguh ia hampir kehilangan harapan.
 
II
Dalam keadaan lemah,ia dinista.
Oleh mereka yang punya kuasa ia dianiaya.
Betapa berat dadanya menahan airmata.
Hanya kepada Allah perlindungan ia pinta.

Kasihan mereka yang pertuhankan nafsu.
Sewenang-wenang mereka dalam segala sesuatu.
Mungkin hati nuraninya semakin membatu.
Tak sadar kelak dikubur yatim piatu.

III
Kepadamu yang dizalimi bersabarlah.
Doamu mustajab membuat langit terbelah.
Tahanlah kepedihan dan jangan luapkan amarah.
Adukan ketakdilan padamu kepada Allah.

Jadikan ini sebagai sarana mendidik diri.
Terhadap nikmat yang ada mesti syukuri.
Akan dilipatgandakan kebaikan yang Tuhan beri.
Dan bertambah kuat ketabahan di hati.

V
Sungguh sebahagian manusia dikendalikan syaitan.
Sedikit mendapat kuasa sudah ia sombongkan.
Kepada mereka yang lemah kekuasaan yang ditegakkan.
Seolah tak melihat mereka malaikat Tuhan.

Berhati-hatilah terhadap mereka yang lemah.
Karena akan dikabulkan tangannya yang tertadah.
Melawan kezaliman mereka tak bisa.
Sehingga mereka mengadu hanya pada Allah.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

248-2011. Semua Akan Berakhir Fana


248-2011. Semua Akan Berakhir Fana
            Oleh
            Hamdi Akhsan

I
Adalah ketentuan hidup dalam pergiliran waktu.
Yang tak pernah berubah dari masa lalu.
Tentang kefanaan ciptaan Ilahi Yang Satu.
Yang sampai akhir zaman tetap akan berlaku.

Betapa manusia sering terlalai.
Kesenangan duniawi yang begitu membuai.
Barulah ia sesal kala jasad telah terkulai.
Daging dan tulang pun membusuk tercerai.
 
II
Betapa penting hidup yang memberi makna.
Mendidik jiwa untuk tunduk pada-Nya.
melatih jiwa untuk ikhlas dengan taqdir-Nya.
Jalani hidup sesuai dengan perintah-Nya.

Yang muda kelak akan menjadi tua.
Yang cantik akan tampak keriput di wajahnya.
Yang tampan kehilangan kebanggaannya.
Dan yang kekal hanyalah amalan baiknya.

III
Betapa kekuasaan Ilahi telah ditunjukkan.
Mereka yang ingin berkuasa lama hanya sebentar dihinakan.
Diganti oleh mereka yang dulu ia lecehkan.
Demikianlah kekuasaan Ia pergilirkan.

Dengan begitu, berhati-hatilah mereka yang sedang berkuasa.
Jauhikah sifat sombong dan semena-mena.
Karena tiada yang abadi di dunia.
Kemuliaan dan kehinaan itu hanya sementara.

IV
Kepada mereka yang tergolong duafa.
Jangan bersedih dalam ketiadaan harta.
Karena akan digilirkan yang miskin dan kaya.
Akan dibahagiakan mereka yang sabar dalam tiada.

Miskin bukanlah taqdir yang ditangisi.
Bekerja keraslah banting tulang petang dan pagi.
Tetaplah ikhlas jalani ketentuan Ilahi.
Niscaya kelak kelipatan rezeki akan Tuhan beri.

V
Hidup berkecukupan tak perlu dibanggakan.
Karena nyawa di badan pun hanyalah titipan.
Dalam sekejap semua bisa Tuhan musnahkan.
Bila bersyukur akan Ia lipatgandakan.

Adalah semua kelak akan berakhir fana.
Setiap jiwa akan tinggalkan dunia yang mempesona.
Kembali pada Ilahi bak seorang pengelana.
Dan akan diganjar dengan neraka atau masuk ke jannah.

VI
Berbahagialah mereka yang syukuri karunia Tuhan.
Sabar dan berserah diri pada-Nya dalam cobaan.
Membagi yang dimiliki kala sedang berkecukupan.
Niscata kebaikan yang banyak akan ditambahkan.

Semua akan musnah.

247-2011. L E L A H

247-2011. L E L A H
           Oleh
           Hamdi Akhsan
I
Maafkan daku karena merasa letih.
Jalani hari-hari kehidupan yang begitu perih.
Kadang tak sanggup ungkapkan pilu dan rintih.
Hanya tangisan yang terdengar lirih.

Ingin jalani hidup dengan segenap kekuatan.
Tak peduli cobaan dan segala hambatan.
Apapun yang menghadang tak dihiraukan.
Tapi beratnya hidup kadang runtuhkan ketegaran.
 
II
Adalah doa yang sering diungkapkan.
Tuk meniti hidup di jalan kebenaran.
Namun kehidupan dunia ini begitu banyak godaan.
Kadang iman diri tak mampu dipertuhankan.

Jiwa letih ini harus terus berbuat.
Dalam dosa dan salah hamba mohon bertaubat.
Berharap terhindar dari pedihnya siksaan akhirat.
Dan diberi waktu untuk memperbaiki sifat agar tak jahat.

III
Kadang ingin pergi jauh dalam kesendirian.
Mengembara jauh jalani sendiri kepedihan.
Tinggalkan semua yang menjadi beban.
Dan berkonsentrasi hadapi datangnya kematian.

Diri ini begitu lelah.
Beratnya hidup kadang membuat ingin menyerah.
Tetapi taqdir Ilahi telah pasti arah.
Dan akan dilepaskan kasih sayang-Nya mereka yang menyerah.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

246-2011. Rintihan Jiwa


246-2011. Rintihan Jiwa
         Oleh
         Hamdi Akhsan


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
I
Kutatap awan hitam tutupi cahaya bintang malam hari.
Hati resah dan hendak kemana dibawa lari.
Perjalanan usia membuat banyak yang disadari.
Bahwa semua taqdir dari-Nya Sang Maha Pemberi.

Tak tahu kemana perih akan dibawa.
Mungkin sebentar lagi jasad akan berpisah jiwa.
Akan disimpan rapi semua hikmah dibalik peristiwa.
Dan perihpun akan disembunyikan dibalik tawa.
 
II
Bila kematian lebih dahulu mendatangiku.
Dan jasad rapuh ini kelak telah terbaring kaku.
Ingatlah pesan-pesan kehidupan yang pernah lahir dari mulutku.
Karena ia lahir dari ketulusan dan kasih sayangku.

Tak tahu, apa lagi yang harus dilakukan.
Bila terlalu mudah ikatan yang kuat diputuskan.
Terasa sangat sedih manakala diri dicampakkan.
Dan beratnya diri menahan duka dalam tangisan.

III
Ada hikmah yang disampaikan oleh manusia bijak.
Rindu manusia pada keharuman bunga setelah ia tercampak.
Rindu hati akan datang setelah ikatan retak.
Yang takkan kembali seperti perginya awan berarak.

Mengapa manusia harapkan kesempurnaan.
Dibalik harum mawar ada duri yang membahayakan.
Dibalik indahnya kobra ada bisa yang menyakitkan.
Sungguh dibalik bahagia yang didapat pasti ada kekurangan.

IV
Biarlah duka tersimpan dalam jiwa yang terasing.
Sendiri bagai pasir di tengah gurun nan kering.
Bak batu karang yang hanyut setelah runtuhnya tebing.
Dan hilang dengan datangnya kematian yang beriring.

Tak tahu, kemana diri harus melangkah.
Setiap saat dan tempat mengalir hati yang duka.
Torehkan perih siraman garam di atas luka.
Dan kelak sampai maut datang berakhir sudah.

Al Faqir

Hamdi Akhsan